
" Tuan pukul 20.46 kita akan berangkat " ucap Reza yang baru saja masuk kedalam ruangan kerja Daniel , tanpa menjawab Daniel hanya melihat ke arah arloji di tangannya dan melihat jarum jam yang sudah menunjukan pukul 16.11 waktu Amerika.
" Ternyata sudah sore " gumamnya , " anda masih mempunyai waktu untuk istirahat Tuan , dan saya akan memberitahukan jika sudah waktunya kita berangkat " lanjut Reza dan Daniel mengangguk.
" Aku akan pergi sebentar dan siapkan segala keperluanku " perintah Daniel tanpa melihat ke arah Reza , karena sedang di sibukan dengan benda pipih yang kini berada di tangannya.
" Naik tuan " jawab Reza.
" Apa ada lagi yang anda butuhkan ? " tanyanya lagi ,
" tidak , pergilah " ucap Daniel.
Reza mengundurkan langkahnya dan pergi meninggalkan ruang kerja Daniel , sedangkan Daniel terlihat mengerutkan kedua sisi alisnya dengan tatapan mata yang begitu serius pada layar handphone.
" Kemana dia ? " gumam Daniel dengan nada sedikit kecewa dan kemudian mengarahkan benda pipih miliknya ke telinga ,
berulang kali dan ia terlihat kembali mengarahkan hanphone pada telinganya dengan wajah yang sudah berubah menjadi gelisah ,
ia tidak bisa lagi menunggu untuk tahu keadaan Elin hanya lewat pesan atau panggilan telepon yang sudah berulang kali ia coba namun kembali tidak tersambung.
Daniel menyimpan handphonenya ke dalam saku celana dan segera mengambil jas yang tergantung di sisi kursi dan kemudian meninggalkan ruang kerjanya.
" Tuan ada apa ? " tanya Reza yang masih berdiri di sisi pintu ruang kerja Daniel ,
" Aku harus memastikan sesuatu " jelas Daniel yang terlihat begitu tergesa gesa,
" apa anda membutuhkan bantuan ? "
" tidak , kau hanya perlu menyiapkan segala keperluan kita nanti dengan benar " kata Daniel begitu tidak sabar untuk kembali melanjutkan langkahnya.
" Tuan saya belum menyiapkan mobil untuk anda " kata Reza sedikit panik ,
" tidak perlu saya bisa menyetir sendiri " sahut Daniel.
" Apa anda tidak ingin saya temani ? " tanya Reza lagi.
Daniel mengerang tanpa suara dan mengepalkan kedua tangannya menahan kesal pada Reza yang berulang kali membuatnya berhenti melanjutkan langkahnya , " Reza apa kau bisa diam , waktuku tidak banyak dan ini bukan urusan kantor yang kau harus ikut " bentak Daniel tanpa sadar.
" Maafkan saya Tuan " ucap Reza dengan menundukkan wajahnya , Daniel tidak lagi peduli ia segera bergegas melanjutkan kembali langkahnya dengan sedikit lebih cepat.
" Awas saja kalau dia kembali merepotkan aku " gumam Reza sedikit kesal , namun langkah besar Daniel tiba tiba kembali terdengar , " Reza berikan kunci mobilmu " pinta Daniel sambil terus berjalan mendekat.
" ini Tuan " kata Reza sambil memberikan kunci mobilnya pada Daniel.
" Terimakasih , aku pinjam mobilmu " ucap Daniel dan kembali meninggalkan Reza.
" Aku berbicara seperti berdoa " gumam Reza sambil menghela nafasnya.
****
" Apa kau akan pergi ? " tanya Elin pada Meili yang baru saja selesai menerima panggilan telepon ,
" ya , kita sudah lebih dari tiga jam berada di sini " sahut Meili tertawa.
" Katakan jika kau membutuhkan bantuanku " sambungnya sambil beranjak dari kursi yang mereka tempati sejak tadi , Elin menganggukkan kepala,. " sampai jumpa " ucap Meili sambil mencium pipi Elin dan bergegas pergi karena Viona sudah menunggunya dirumah.
Drrttt drrrrtt
Elin terkesiap saat merasakan getaran pada tangannya dengan handphone yang berdering karena panggilan telepon yang masuk.
" Hallo " jawab Elin begitu lembut.
" Apa kabar kamu ? , sedang apa ?, apa sudah makan ? " tanya beruntun dari balik telepon.
" Nanyanya satu satu ayah " kata Elin dengan tertawa kecil , " emElin baik baik saja yah dan sekarang sedang berada di kampus dan juga sudah makan " jelasnya.
" Ayah dan ibu apa kabar ? " tanya balik Elin.
" Baik , ayah dan ibu baik di sini " jelas Bimo yang terdengar begitu semangat.
" Apa kau begitu sibuk ? , dari kemarin kami sudah menunggu kabar darimu " lanjut Bimo.
" Maafkan Elin yah , akhir akhir ini Elin memang sedikit sibuk dengan tugas kuliah " jelas Elin dengan perasaan bersalah.
" Apa begitu berat "
" tidak ayah , ini ke inginanku " jawab Elin.
" Baiklah tapi jangan sampai melupakan waktu istirahatmu "
" Iya ayah , doakan semoga semua berjalan lancar , Elin sedang berusaha untuk mengambil semester magang lebih cepat "
" Kenapa begitu ? " tanya Bimo.
" Kau tidak perlu melakukan itu nak , jangan mengambil keputusan dengan alasan yang begitu sepeleh , kau sudah menginginkan ini sejak lama , ini impianmu maka bekerja keraslah dan manfaatkan sesuatu yang akan membuat mimpimu berhasil "
" dan sesuatu yang besar tidak di lakukan dengan waktu yang begitu singkat " lanjut Bimo yang membuat Elin terdiam.
" Jangan tergesa gesa nak , lakukan sewajarnya , ini rumahmu dan sampai kapan pun disinilah kau akan kembali " lanjut Bimo ,
Tanpa sadar Elin menyeka air matanya yang sudah terjatuh karena perkataan Bimo ,
" Terimakasih Ayah " ucap Elin dengan berusaha menormalkan kembali suaranya.
" Elin akan melakukan yang terbaik " katanya lagi ,
" itu harus , ayah akan sangat bangga untuk kesuksesanmu nanti " kata Bimo dengan begitu senang , " ayah dan ibu harus tetap sehat sampai Elin sukses dan memiliki keluarga " ucap Elin begitu terharu.
" Akan ayah usahakan " sahut Bimo bercanda.
" Itu harus " kata Elin begitu serius ,
"doakan saja , Ayah tidak bisa berjanji untuk itu , tapi yang pasti ayah akan selalu bangga untuk apapun yang kamu lalukan terlebih untuk kesuksesanmu " jelas Bimo.
" Terima kasih ayah " ucap Elin ,
" Kau terlalu sering mengucapkan terima kasih dan itu membuat ayah merasa seperti orang asing "
" Bukan seperti itu ayah , aku hanya... "
" Katakan itu pada orang lain tapi jangan pada ayah karena apa yang ayah lakukan itu sudah menjadi kewajiban seorang ayah pada anaknya " jelas Bimo yang memotong bicara Elin.
" Baiklah ayah " kata Elin mengalah ,
" lanjutkan kegiatanmu ayah akan menutup telepon karena sudah masuk waktu subuh " kata Bimo karena di tempatnya sekarang sedang berada di waktu menuju pagi.
" Iya ayah , salam pada ibu dan semua , dan jaga kesehatan kalian " balas Elin dan memeriksa handphonenya karena suara yang tiba tiba senyap,
" ya mati " katanya setelah menyadari hapenya yang tidak kembali menyalah,
" Kenapa aku selalu lupa untuk mencharger handphoneku ? " geramnya lalu segera beranjak membawa tugas desain yang harus kembali ia perbaiki.
" Ini benar benar sial , bagaimana bisa aku menghubungi taksi online kalau handphoneku mati " gerutu Elin semakin kesal karena memikirkan harus berjalan lebih jauh lagi untuk menemukan kendaraan umum , karena Parsons School tidak memperbolehkan sembarang kendaraan untuk masuk ke khawasannya , terkecuali taksi online yang sudah di pesan oleh pengguna yang terdaftar sebagai bagian dari Parsons School dan itu sudah menjadi kebijakan yang harus di patuhi demi keamanan bersama .
Tetttt teeettt " suara klakson yang membuat Elin terkejut dan ingin mengumpat karena membuatnya semakin kesal.
" Hay " sapa seseorang di balik kaca mobil yang sudah di turunkan.
" Mike , hampir saja aku memakimu " kata Elin tanpa sadar, " Why ? " tanya Mike tertawa.
" Kau mengejutkan aku " jelas Elin.
" Sorry , masuklah " ucap Mike dan meminta Elin untuk masuk kedalam mobilnya , Elin tidak bergerak tiba tiba saja ia teringat perjanjinya pada Daniel.
" Terimakasih Mike tapi ada sesuatu yang harus aku kerjakan " kata Elin berbohong ,
" Apa yang harus kau kerjakan Nona , ini sudah sore dan sebentar lagi hujan akan turun " jelas Mike , spontan mata Elin melihat ke atas dan menemukan tumpukan awan yang sudah menghitam.
" Kau terlalu lama berpikir " kata Mike yang keluar dari dalam mobil dan membawa tubuh Elin untuk masuk ke dalam mobilnya.
" Tapi sungguh ada sesuatu yang harus aku kerjakan Mike " kata Elin yang berusaha untuk kembali menolak ajakan Mike ,
" ya kau bisa melakukan pekerjaanmu itu dan aku akan mengantarnya " jelas Mike yang sudah kembali duduk di kursi kemudi.
" Jangan lagi menolak Nona , aku sudah melakukan kewajibanku sebagai teman dan tetangga yang baik " ujar Mike tertawa.
" dan kau tidak lihat hujan akan segera turun " lanjutnya sambil menunjuk pada kearah gumpalan awan gelap.
" Terimakasih Mike " ucap Elin merasa legah karena ajakan Mike benar benar membantunya , karena kalau tidak ada Mike sudah di pastikan ia akan kehujanan sebelum menemukan taksi ,
namun wajahnya kembali gelisah saat menyadari bahwa ia sudah melanggar janjinya pada Daniel , " Maafkan aku , ini sungguh mendesak " gumam Elin dengan perasaan bersalah.
" Kau mengatakan apa ? " tanya Mike dan Elin menggelengkan kepalanya.
" Jadi sekarang kemana dulu kita akan pergi ? tanya Mike lagi ,
" pulang saja Mike , aku bisa melakukan itu nanti " kata Elin barusaha tersenyum.
" Baiklah " kata Mike tanpa membantah dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan khawasan Parsons School .
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚