
Keluarga Vernandes, sudah lebih dulu tiba di bandara, bersama Viona, Reymond dan Meili.
Dan semua dari mereka langsung tersenyum ketika dua mobil yang membawa keluarga kini telah tiba. Viona langsung berjalan mendekat, menyambut besannya yang baru saja datang, " harusnya aku yang melakukan seperti ini", ujar Mala tersenyum dan Viona hanya tertawa. Mereka berjalan beriringan menuju tempat semua orang.
Saat itu, Naina yang berada di gendongan Nathan, langsung meminta turun dan berlari ke arah Elin, " mama.. " panggilnya manja, dengan kedua tangan kecil yang merentang.Dan tanpa menunggu, Elin membawanya ke dalam pelukan. Dan mereka menjadi pusat perhatian semua orang.
" Mama mau pergi ? " tanya gadis kecil Naina. Matanya menatap pada mata Elin, seolah gadis kecil itu ingin memastikan, bahwa tidak ada kebohongan dari jawaban, pertanyaannya.
Elin mengangguk.
" Lama ? " tanyanya lagi. Saat itu, semua orang langsung menghening.
Elin terdiam, lidahnya tercekat untuk menjawab pertanyaan gadis kecil itu, " mama perginya lama ? ", tanyanya kembali. Elin tidak bisa menahan air matanya untuk kembali terjatuh. Menatap mata coklat mungil yang seolah menyiratkan desakan jawaban darinya, membuat hatinya kembali tersayat. Di rengkuhnya tubuh mungil dalam gendongannya itu, " Mama akan pergi lama ", katanya serak.
" Kenapa lama ? ", tanya Naina tak terima. Ia menarik tubuh kecilnya dari pelukan Elin,dan memaksa untuk melihat wajah perempuan itu, " kenapa lama mama? ", katanya membentak, dahinya berkerut, menandakan dia tidak menyukai apa yang baru saja ia dengar.
" Ayah ", panggilnya tiba-tiba pada Alfin, yang memang berdiri paling dekat dengannya dan Elin. Tangannya merentang pada lelaki itu, meminta tubuhnya untuk di ambil, " kenapa ? ", tanya Alfin heran. Gadis kecil itu tak pernah seperti itu jika berada dalam gendongan Elin.
" Naina tidak suka mama ", katanya, wajah mungilnya kini cemberut. Air mata Elin semakin mengalir deras mendengar ucapan itu.
" Naina tidak boleh begitu. Nanti, Naina akan rindu dengan mama... ", kata Amel menegur. Tapi gadis kecil itu menggeleng, " Naina tidak akan rindu. Mama jahat, Naina tidak suka orang jahat ".
" Mama jahat kenapa nak... ", kata Elin mendekat dengan menyeka air matanya. Tangannya bergerak, ingin menyentuh tubuh gadis itu, tapi belum sempat terjadi, karena tangan kecil Naina lebih dulu menepisnya, " Pergi, jangan dekat-dekat Naina. Mama pergi saja ", katanya marah. Green mendekat," Naina tidak boleh seperti itu ", katanya memberitahu, namun salahnya nadanya membentak, dan bukannya mengerti, gadis kecil itu malah menangis, dengan membenamkan wajahnya di dada Alfin.
Dan bersamaan, Reza datang bergabung, " selamat pagi Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya ", katanya menyapa semua orang.
" Apa sudah akan berangkat ? " tanya Wilna ,dan laki-laki itu mengangguk, " kita hanya di beri waktu tiga puluh menit ", katanya menjelaskan situasi. Setelah mendengar itu, hampir semua orang menghela nafas.
Viona langsung memeluk Mala, yang memang berada di sampingnya, " sampai bertemu lagi Ibu ", ucapnya pada wanita itu, " jangan khawatir, putri kalian akan baik-baik saja bersama kami ", katanya meyakinkan. Mala mengangguk, lidahnya terkecat untuk bicara saat itu. Bendungan, yang ia tahan sepanjang pagi, akhirnya meleleh pada menit itu.
" Jangan khawatir, kami akan menjaganya dengan baik ", kata Viona sekali lagi sambil mengusap lembut punggung wanita itu, lalu kemudian ia melepas pelukan mereka.
Semua orang saling berpelukan pada menit-menit terakhir itu. Nathan menjadi orang pertama yang merengkuh Daniel lebih dulu, " jaga adik kami dude ", titahnya, di dalam pelukan erat yang ia berikan, " sampai bertemu lagi ", sambungnya, sebelum Daniel mengiyakan kalimatnya pertama, lalu pelukan itu berpindah pada Alfin, dengan masih menggendong Naina yang masih menangis, " Sampai bertemu Rem ", ucap lelaki itu. Nadanya tidak selantang seperti biasanya, " jaga baik-baik adik kami ", sambungnya. Sungguh tidak ada kalimat candaan yang keluar dari mulutnya pada saat itu, mungkin ia memang tidak punya cukup gairah untuk melakukannya, suasana hatinya sedang tidak sebaik biasanya.
" Tentu, bahkan tanpa kalian minta ", balas Daniel. Pelukan mereka tidak erat, karena terhalang tubuh kecil Naina. Tapi selepas pelukan itu, Alfin tak berhenti menepuk lembut pundak Daniel, " jaga baik-baik rumah tangga kalian ", ucapnya lagi, dan Daniel mengangguk.
" Naina tidak ingin gendong papa.. ?", pintanya begitu lembut, tapi putri Green, bahkan tidak ingin menengok padanya.
" Sepertinya dia sangat marah ", katanya lagi, dan Alfin mengangguk, " tapi setelah kalian pergi, dia pasti akan menangis ", ucap Alfin, sambil memandang pada wajah kecil yang bersandar di bahunya.
" Ingat belajar yang benar, dan jangan lupa bantu Ibu ", ucap Elin ketika memeluk adik bungsunya, " Seni harus membantu kakak, untuk memperhatikan Ibu ya ", pintanya lagi, dan gadis remaja itu mengangguk, " belajar yang rajin ", katanya sekali lagi, sebelum menyudahi pelukannya.
Kemudian ia berpindah pada Tama. Saat itu, ia tidak langsung bergerak memeluk. di pandanginya dengan tajam wajah adiknya itu," kau harus menepati janjimu ", titahnya dan Tama mengangguk dengan tersenyum, " awas saja kalau kau tidak menepati janjimu ", katanya lagi, dan setelah itu baru dia memeluk. Ia tidak lagi mengucapkan apapun disana, hanya memeluk erat, memeluk adik yang selama ini menjadi teman bertengkarnya di rumah, saat itu matanya mulai berkaca-kaca dan ia melepas pelukannya, tapi tiba-tiba Tama menyentak gerakannya, membuatnya kembali memeluk, " kau juga harus jaga diri disana ", ucap lelaki itu, " kau juga harus memberi kabar apa saja yang terjadi padamu", katanya begitu dewasa. Elin terkesiap oleh ucapan itu, " kau sungguh bisa mengandalkan aku ", katanya lagi. Elin merasakan rasa emosional dari ucapan itu. Mulutnya tidak bisa menjawab, ia hanya mengangguk dan melepas pelukan mereka, " kau juga harus jaga diri, dan jaga semuanya ", pinta Elin terakhir, sebelum ia berpindah dari hadapan lelaki itu.
" Meil" panggil Green.
" Meil ", panggilnya sekali lagi dan sedikit berteriak karena panggilannya yang pertama, perempuan itu tidak merespon, " huh, apa ? " balas Meili terkejut. Dan Green tertawa melihat wajahnya, " apa yang kau lamunkan huh ! ", seru Green, yang kemudian langsung memeluk tubuh Nona muda di keluarga Remkez itu, " sampai bertemu lagi Meil ", ucapnya, tangannya menepuk lembut punggung perempuan itu, " sampai bertemu lagi Green. Semoga secepatnya kita kembali bertemu lagi ", balas Meili dan memeluk tak kalah erat, " jaga kakak iparmu Meil. Dia sungguh perempuan yang lugu ", pinta Green.
" itu pasti, tapi kekuatanku untuk menjaganya, tidak lebih kuat dari suaminya. Jadi kalian tak usah ragu disini. Aku pastikan setiap langkah kakinya akan aman.. " sahut Meili tersenyum. Green dengan mata sembabnya ikut tersenyum, " jaga dirimu juga ", ucapnya, sebelum melepas pelukannya. Kemudian ia menyeringai dan Meili menatapnya heran, " ada apa ? ".
" Tapi sepertinya kita akan cepat bertemu ", ucap Green dengan mati tersenyum penuh arti.
" Senyummu membuatku takut Green ", balas Meili. Dan Green akhirnya benar-benar tertawa.
Sementara Elin kini sedang memeluk Bimo, setelah pria paruh baya itu menyudahi pelukannya bersama Reymond, Begitu lama ia memeluk Ayahnya itu, tanpa mengucapkan apapun. Disana ia memang tidak menangis, tapi bulir kristal sudah menumpuk di mata bulatnya.
Beberapa detik kemudian ia melepas pelukan itu, dan berpindah dengan menggengam lembut kedua tangan Bimo, " Ayah baik baik ya. Ayah harus sehat-sehat ya. Ayah jangan kecapekan, Ayah harus tidur dengan teratur, dan jangan lupa setiap bulan, Ayah harus chek kesehatan. Aku akan menyuruh Tama untuk meminta dokter yang datang ke rumah.. ".
Saat itu Tama yang memang berada tidak jauh dari tempat mereka, menoleh, " aku lagi ", gumamnya.
" Tidak perlu nak ", sahut Bimo, " Ayah masih bisa pergi menemui dokter ", sambungnya tersenyum. Tapi Elin menggeleng, " jangan membantah Ayah. Aku akan mengurusnya ", ucapnya tegas, dan Bimo hanya tersenyum, tanpa bisa menolak.
" Jangan lupa makan yang teratur ya. Ayah harus terus sehat ".
" Tentu, Ayah harus sehat. Ayah belum melihat cucu Ayah ", sahut Bimo tertawa kecil. Mendengar itu Elin memandang panik, " berdoa saja, supaya keinginan ayah cepat terwujud ", balasnya.
" Itu pasti ", sahut Bimo cepat, dan kemudian tertawa, dan di waktu itu, Elin kembali memeluk tubuhnya, " pokoknya Ayah harus jaga diri baik-baik. Sampai Elin nanti kembali, sampai Ayah nanti punya cucu, punya menantu lagi dan sampai seterusnya ", ucapnya.
" Do'akan saja Ayahmu ini panjang umur. Ayah tidak yakin umur Ayah masih akan selama itu ".
" Ayah ! ", pekik Elin dan Bimo langsung tertawa, " kau juga harus jaga diri. Beri selalu kami kabar.. ", pinta bersungguh-sungguh, sembari melepas pelukannya Elin mengangguk, " sehat-sehat Ayah", katanya sekali lagi, seraya mencium pipi lelaki paruh baya itu.
Kini pelukannya berpindah pada Mala. Dan belum sempat mengucapkan apapun, wanita paruh baya itu sudah menangis, " jaga dirimu baik-baik. Jangan teledor, jaga makanmu. Kalau rindu makanan disini, katakan pada Ibu, ibu akan mengirimnya ", cercahnya, Elin hanya bisa mengangguk dalam pelukan itu. Ia tidak bisa mengucapkan apapun, selain memeluk wanita itu begitu erat, " Kau elergi dingin, jadi jangan lupa pakai jaket tebal jika malam hari ", ucap Mala dan Elin kembali mengangguk, " jangan sering makan, makanan yang banyak bubuk lada, perutmu tidak menerima itu ", katanya lagi. Mendengar rentetan peringatan itu, membuat Elin semakin mengeratkan pelukannya, " jangan terlalu mengkhawatirkan aku bu. Ibu sendiri disini juga harus jaga kesehatan. Istirahat yang cukup. Aku akan menambah orang yang akan membantu di rumah, biar ibu bisa istirahat dengan cukup... ".
Saat itu Mala ingin bicara, tapi Elin langsung memotongnya dengan melanjutkan bicaranya, " Makan tepat waktu, dan jangan terlalu memikirkan apapun, aku akan baik-baik saja. Begitu pun Tama dan Seni. Aku tidak akan membiarkan mereka, jadi Ibu jangan khawatir. Cukup tidur yang nyaman, makan tepat waktu dan istirahat yang cukup. dan Obat diabetes ibu jangan lupa di minum, dan chek up kesehatan bulanan ", ucap Elin merentetkan peringatannya . Mala yang semula menangis kini tersenyum, " jaga dirimu baik-baik ", ucapnya.
" Ibu juga ", balas Elin, lalu kemudian ia mencium kedua pipi wanita itu, lalu pada dahinya, dan di bagian itu, ia meletakan bibirnya lebih lama, " jaga ibuku selalu Tuhan", gumamnya berdoa, dan Mala masih mendengar kalimat itu. dan Matanya kembali berkaca-kaca.
" Nak ", panggil Wilna serak, saat tubuh Elin kini berada di hadapannya dan saat itu bersamaan, Daniel sedang memeluk Banyu.
" Terimakasih Bunda ", ucap Elin, yang tidak menunggu untuk memeluk erat wanita itu, " selalu sehat Bunda ".
" Kau juga nak ".
" Sampai bertemu lagi ", sambung Wilna, dan pelukan itu mereka akhiri. " Tunggu nak ", panggil Wilna, menghentikan Elin yang hendak berpindah pada Banyu, " Semalam kita terlalu larut, jadi Bunda lupa memberikannya ", katanya dengan mengeluarkan kotak hadiah yang semalam tertunda di berikan.
" untukku Bunda ? " tanya Elin ragu, sambil menerima kotak itu ke tangannya.
" Hadiah pernikahanmu ", ucap Wilna.
" Boleh aku buka sekarang ? ".
" Silahkan ".
" Ini khusus untuk istrimu ", sergah Viona pada Daniel yang baru saja mendekat pada istrinya, " kenapa Bunda tidak adil ? ", balasnya merajuk.
" Hartamu lebih banyak dari Bunda ", ucap Wilna tertawa, " jadi sepertinya, Bunda tidak perlu memberikanmu hadiah", sambungnya. Bibir Daniel mengerucut, lalu kemudian dia tertawa.
" Hadiahnya memang tak seberapa... "
" Tak seberapa dari mananya Bunda ", potong Elin. Dan Wilna tertawa, " simpan dengan baik nak, anggap saja ini pemberian yang berhar... ".
" Terimakasih Bunda ", ucap Elin penuh haru, yang langsung menyergah tubuh Wilna, tanpa menunggu wanita itu selesai bicara, " terimakasih kembali nak. Periksa lagi kotak itu, disana masih ada hadiah yang lain ", kata Wilna memberitahu.
" Masih ada ? ", balas Elin terkejut, dan dengan cepat ia kembali melihat ke dalam isi kotak dan menemukan secarik kertas disana. Kemudian ia mengangkatnya, " itu hadiah dari Ayahmu ", ucap Wilna, memberitahu, bahwa hadiah itu khusus di berikan oleh suaminya.
" Wall Street.. "
" Manhattan ", sambung Elin dengan dahi yang berkerut. Daniel mendekat saat itu, " bukankah ini alamat di tengah kota New York ", katanya lagi. Membenarkan apa yang baru saja ia lihat di dalam kertas.
Wilna mengangguk, " besok pergilah ke alamat itu ". katanya memberitahukan.
Dahi Elin masih berkerut, " jangan tanyakan ada apa disana. Kau akan tahu kalau sudah melihatnya nanti", kata Wilna, yang langsung berbicara sebelum istri Daniel Remkez itu bicara.
" Jadi simpan kertas itu ", sambungnya. Mendengar itu, Elin melipat kertas itu dengan sangat rapi, lalu memasukannya ke dalam tasnya, " terimakasih Ayah ", ucapnya pada Banyu, dan melayangkan pelukan pada lelaki paruh baya itu, " Ayah juga harus selalu sehat. Sampai bertemu lagi nanti ", katanya lagi.
"Ya, kau juga nak, jaga dirimu baik-baik ", balas Banyu, lalu pelukan mereka di akhiri.
" Kak ", panggil Elin, sebelum tubuhnya tepat berhadapan dengan Nathan, lelaki itu tersenyum, " kali ini jangan membuatku menangis ",katanya memperingati.
" Sampai bertemu lagi", ucapnya, dengan langsung memeluk tubuh Elin, " jaga dirimu baik-baik ", katanya lagi. Elin mengangguk, " kakak juga", balasnya, lalu mereka saling melepas pelukan.
Dan kemudian Elin berpindah pada Alfin, " kak " panggilnya lemah, " maafkan aku", ucapnya, setelah mengingat tangisan lelaki itu tadi malam, bahkan sampai kini, laki-laki itu belum tersenyum sekali pun, " jaga dirimu baik-baik ", ucap Alfin, yang seperti Nathan, yang langsung memeluk dirinya, " aku merasa bersalah melihat kakak seperti ini ", kata Elin penuh sesal. Dan akhirnya Alfin tersenyum, meski terlihat hambar, " jadi jangan coba lagi membuatnya", katanya dan Elin langsung mengangguk, " aku kapok ", balasnya.
" Sampai bertemu lagi ", ucap Alfin sekali lagi, sebelum pelukan mereka berakhir.
Kini Elin sampai pada pelukan terakhirnya.
Pelukan yang juga di nantikan semua orang. Pelukan dari tiga sahabat yang tadi malam berhasil membuat semua orang menangis. Kakinya bergerak perlahan, untuk menghadap dua orang yang kini menunduk, bahkan Amel sudah menyeka matanya saat itu.
Elin tiba-tiba membungkuk, mencondongkan tubuhnya pada perut Amel, " sehat-sehat di perut mama ya nak, sampai bertemu nanti ", ucapnya pelan, sambil mengelus perut yang terlihat mulai membuncit. dan kemudian ia kembali bangun, lalu menghela begitu dalam nafasnya, " kalian orang-orang kaya, harusnya tak masalah dengan jarak kita ini ", katanya ingin bergurau, tapi dua perempuan di hadapannya tidak bergeming.
Green sempat menyeka matanya, sebelum akhirnya mengangkat kepalanya, " jaga dirimu baik-baik",katanya sambil memeluk tubuh Elin, saat itu suaranya bukan hanya terdengar serak tapi juga bergetar.
Tapi yang berusaha sedang ia tahan akhirnya pecah, ketika tubuhnya menyentuh sumber kesedihannya itu. Ia kembali menangis sejadi-jadinya, dan Amel tak menunggu gilirannya. Ia langsung menimpa kedua tubuh yang sedang berpelukan itu, dan dia juga menangis sejadi-jadinya disana.
Saat itu mereka tak bicara apapun, tak lagi memberikan wejangan apapun, hanya menangis, menangis tersedu-sedu, sampai suara mereka tercekat untuk bicara.
" Tuan sepuluh menit lagi ", kata Reza kembali memberitahu.
Tangis Amel semakin pecah saat mendengar itu, " tidak bisakah kau tinggal disini saja ", katanya terbata-bata. Mendengar itu Elin hanya bisa mendekap kedua matanya, air matanya mengalir deras, ia tidak bisa memenuhi permintaan sahabatnya itu.
" Sudah waktunya kau pergi ", kata Green berbicara, ia terlihat berusaha untuk tegar, dan melepas pelukannya, namun kemudian tangisnya pecah lagi, dan kembali memeluk erat tubuh Elin, " jaga dirimu ", pintanya dengan bibir yang bergetar, " ingat selalu ini, selamanya kami akan ada untukmu, jadi jangan memendam apapun, ceritakan semuanya walau kita berjauhan. Jarak ini tidak akan merubah persahabatan kita. Kami akan selamanya ada untukmu ", cercahnya, lalu kembali ia melepas pelukannya, " lepas pelukanmu Mel, sudah waktunya dia pergi", katanya pada Amel. Dan saat itu ia kembali berusaha untuk tegar, berusaha melepas dengan ikhlas kepergian perempuan itu, " sampai bertemu Elin ", ucap serak Amel, yang akhirnya ikut melepas pelukannya.
Daniel mendekat pada istrinya, " ayo, sudah waktunya kita masuk kepesawat", katanya memberitahu, dengan nada yang sangat lembut. Elin masih mendekap matanya, tangis semakin pilu terdengar.
" Berhenti menangis Elin ", pinta Amel, padahal ia sendiri masih menangis, " kita akan segera bertemu ", katanya lagi.
Elin mengangkat wajahnya dengan air mata yang berlinang, lalu menarik tangan Amel dan Green, lalu menggenggamnya dengan erat. Ia kembali tertunduk, dan air matanya menetes tepat di atas punggung kedua tangan perempuan itu, " tolong jangan gantikan tempatku dengan siapapun ", ucapnya tersendat.
" Tidak akan pernah", sahut Amel, dan ia mengarahkan tubuh mereka untuk kembali berpelukan, " kita selamanya ", ucapnya. Saat itu Green tidak lagi bisa mengucapkan apapun, ia kembali menangis dengan tersendat.
" sayang ayo ", kata Daniel kembali memberitahu, bahwa sudah saatnya mereka pergi.
" Pergilah" ucap Green, dan pelukan itu di akhiri saat itu.
" Jaga dirimu baik-baik Elin ", ucap Amel, " pulanglah saat aku melahirkan nanti", pintanya, dengan masih menangis Elin mengangguk, " sampai bertemu ", katanya lemah, lalu ia memutar tubuhnya.
" Sampai jumpa ", seru Viona, dan semua orang yang pergi hari itu, mereka melambaikan tangan, sebelum menghilang dari balik ruang kecuali Elin. Ia bahkan tak lagi menoleh sekali pun. Tapi semua orang mengerti keadaannya.
Tangis Naina pecah, saat tubuh Elin tidak lagi terlihat, " mama... " serunya menangis.
" Mama hanya pergi sebentar nak. mama akan secepatnya kembali ", ucap Green, tapi kali ini gadis kecil itu seperti tak ingin mengerti. Ia meronta-ronta dalam pelukan Nathan, " mama hanya pergi sebentar", ucap Nathan berusaha menenangkannya.
Dan saat itu, langkah dari kaki yang berlari terdengar, semua orang menoleh, " Jerry ", seru Green terkejut, sambil menyeka air sisa air mata di pipinya.
" Mereka sudah pergi ? ", tanya lelaki itu dengan nafas yang tersengal.
Saat itu Alfin langsung berlari menuju pintu dimana keluarga Remkez masuk, dan Jerry dengan cepat menyusulnya.
" Meili " panggil Alfin berteriak. Semua orang yang baru saja ingin menuruni eskalator menoleh termasuk sang pemilik nama. Sesaat semua orang terkejut, karena teriakan Alfin, bahkan Elin yang tak ingin menoleh, melakukannya karena itu. Dan mereka semakin terkejut, ketika menemukan seseorang yang baru saja datang dari balik tubuh Alfin.
" Temui dia ", ucap Viona, bahkan sebelum perkataannya selesai, putrinya sudah berlari menuju lelaki itu. dan langsung memeluknya, " kenapa kau baru datang sekarang ", ucapnya serak.
Jerry tidak bisa menahan diri untuk tidak merengkuh perempuan yang kini memeluknya, " maafkan aku ", ucapnya.
" Aku yang harusnya meminta maaf padamu. Maafkan aku ".
" Meil, apa kau akan tetap tinggal ? ", seru Daniel, dan sungguh ia akan mengijinkan jika perempuan itu akan memilih hal itu.
" Aku akan menyelesaikannya Jerry. Tunggu aku kembali ", pintanya, ia mengatakannya dengan menatap pada mata lelaki itu, " tunggu aku ", katanya sekali lagi. Jerry tidak menjawab dengan perkataan, tapi ia mengangguk, dan melayangkan kecupan di dahi perempuan itu, " pegang janjimu untuk kembali ", balasnya. dan bergantian Meili yang kini mengangguk. Lalu melepas pelukannya, " sampai bertemu lagi ", ucapnya dengan kedua tangan mereka yang masih saling bertaut.
" Beri aku kabar setelah kau tiba ", pinta Jerry, dan Sekali lagi Meili mengangguk, lalu kemudian ia kembali pada semua orang. Saat itu Viona terlihat sangat senang, " sampai jumpa Jerry ", serunya dengan melambaikan tangan.
Jerry tersenyum dan ikut melambaikan tangan. Ia menundukkan kepalanya saat melihat pada Reymond, begitu pun pada Daniel, " sampai jumpa Elin ", ucapnya. Perempuan itu yang semulanya menunduk, kini mengangkat kepalanya, hanya seutas senyum hambar yang ia perlihatkan dari bibirnya saat itu.
Meili kembali menoleh, sebelum tubuhnya benar-benar tidak lagi terlihat, " sampai jumpa", ucapnya tanpa suara. Dan Jerry mengangguk dengan tersenyum.
Semua orang, kini mulai beranjak pergi. Dan saat itu gadis kecil Naina masih menangis, " mama pasti akan kembali nak ", ucap Green berusaha menenangkan putrinya, di tengah kehancuran hatinya sendiri oleh kepergian orang yang tengah di tangisi oleh putrinya itu, " mama pasti akan kembali ", katanya sekali lagi, kata-kata itu bukan hanya untuk meyakinkan putrinya tapi menyakinkan dirinya sendiri.
Hal terhebat dari perpisahan ini adalah, bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang mengucapkan kata SELAMAT TINGGAL.