
Sepanjang penerbangan menuju New York , berulang kali Daniel mengechek handphonenya dengan wajah ke bingungan , dan itu tidak luput dari perhatian Reza asistennya.
" Maafkan saya karena mengganggu liburan anda Tuan " ucap Reza dengan merasa bersalah dan penuh penyesalan.
" Iya , aku kecewa padamu " ucap Daniel namun dengan bibir yang tersenyum , melihat itu tentu membuat Reza semakin bingung , sejak kapan bossnya bisa tersenyum dalam pembicaraan serius seperti ini.
" Maaf tuan , ini sungguh sangat mendesak dan kalau saja saya bisa mewakilkannya .. " jelas Reza menggantung karena Daniel lebih dulu mengangkat tangannya menandakan kalau tidak apa apa.
" Kamu terlalu panik Reza "ujar Daniel sambil terus tersenyum.
" Aku ingin istirahat sebentar dan untuk kali ini jangan coba coba mengangguku lagi " sambungnya dan Reza segera menganggukkan kepala..
" huh , mengapa pertemuan ini begitu singkat " gumam Daniel dengan bibir yang terus tersenyum sambil mengeratkan jas yang ia pakai pada tubuhnya.
" oh ya Reza , segera bangunkan aku jika kita sudah tiba di New York " pinta Daniel yang kemudian sudah memejamkan matanya ,
Reza masih terus terdiam menatap bingung pada wajah Daniel yang tiba tiba begitu cerah dengan senyum yang hampir tidak pernah pudar dari bibirnya.
****
" Apa aku melakukan sesuatu yang buruk tadi malam " gumam Elin berbicara pada dirinya sendiri , dan masih terus mencoba mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam.
" Mengapa dia tidak pamit padaku " lanjutnya lagi
" ah sudahlah , mengapa aku harus repot repot memikirkan tentang dia yang pergi tanpa pamit " ucap Elin yang langsung berdiri dari duduknya di pinggiran tempat tidur.
" Tapi aku sungguh tidak menyukai kepergian yang tiba tiba dan tanpa pamit seperti ini " katanya lagi dengan raut wajah yang berubah menjadi murung ,
kepergian Gery yang begitu mendadak sungguh menyisakan rasa trauma pada dirinya,
tok tok tok " suara ketukan pintu.
" lin , apa kau sudah selesai ? " teriak Green dari luar kamar dan Elin segera tersadar dari lamunannya , ia segera beranjak untuk mengambil koper dan keluar dari dalam kamar hotel yang ia tempati tadi malam.
"Apa kalian sedang menungguku ? " tanya Elin pada Green.
" Iya kami semua khawatir , takut kau begitu terpuruk karena tinggal pergi oleh kak Daniel " goda gGeen tertawa , Elin menarik nafas kesal yang kemudian berjalan mendahului langkah Green.
" Hey , apa kau marah ? " tanya Green tertawa dan mensejajarkan langkahnya pada Elin.
" Berhenti menggodaku Green " sahut Elin dan Green mengulum bibirnya yang masih ingin tertawa.
" Baiklah maafkan aku , tapi kak Daniel sangat tampan kan lin ? "
" Green " teriak Elin semakin kesal , dan Green sudah berlari lebih dulu meninggalkan Elin dengan tertawa.
****
" Lin sungguh kau akan pulang besok ? " tanya Amel ketika mereka berlima sudah berada di dalam mobil di tambah Naina yang ikut bersama mommy dan daddynya.
" Iya mel , aku sudah libur terlalu lama dan sudah banyak tugas yang menantiku disana " jelas Elin , Amel menghela nafas karena merasa begitu berat untuk mereka kembali berpisah.
" kau bisa menyusulku nanti mel " ujar Elin sambil menggenggam lembut tangan Amel.
" Apa kalian akan meninggalkan aku disini sendiri ? " sambung Green yang duduk di kursi depan di samping Nathan yang melajukan mobil.
" Tidak ada yang melarangmu ikut Green " kata Elin tertawa.
" Kak Alfin , kapan kalian akan honeymoon ? " tanyanya lagi.
" Ntahlah , perkerjaan di kantor masih menumpuk dan aku masih belum bisa meninggalkannya lin" jelas Alfin dengan begitu berat karena merasa begitu kasian pada Amel.
" Maafkan aku ya, nanti kalau semua perkerjaan sudah selesai kita akan liburan dan honeymoon , dan kau bisa memilih tempatnya dimana pun yang kamu mau " ucap Alfin sambil mencium ujung kepala Amel karena begitu merasa bersalah.
" Aku ingin kita ke New York " ujar Amel.
"Iya sayang "
" dan kami juga akan ikut , iya kan sayang ? " sambung Green yang menoleh pada Nathan yang sedang fokus mengendarai mobil.
" iya tentu "
" Sungguh ? "
" Everything to you honey " ujar Nathan sambil mengusap lembut ujung kepala Green.
" yeeaay ,i love you daddy " ucap Green kegirangan dengan gigi yang menyeringai karena bahagia.
" Apa kalian sungguh tidak ingin berpisah denganku ? " ujar Elin sambil tertawa karena tingkah kedua sahabatnya.
" Awas saja kalau kalian menganggu waktu honeymoonku nanti " timpal Alfin.
" dan awas saja kalau kau tidak segera memberi adik pada Naina " timpal Nathan sambil tertawa.
" Sayang jangan lupa " ucap Green pada Nathan , dan Nathan langsung mengangguk mengerti.
" Apa kita akan membeli bunga dulu ? " tanya Nathan dan semua mengangguk.
~
Elin menarik nafasnya begitu dalam saat keluar dari dalam mobil , dan menatap mawar merah yang berada di tangannya.
Elin tersenyum dan menyambut tangan kecil Naina " kau memang moodboster mama " ucap Elin pada putri kecil Green.
" Mama yin ayo " ajak Naina yang tidak sabar dan segera menarik tangan Elin.
" Apa naina tahu kita akan pergi kemana ? " tanya Elin sambil menyusuri jalan setapak bersama Naina.
" Ke rumah om Gerry " jawab naina,
" Ingatanmu memang sungguh luar biasa nak"
" Kita sampai mama " ucap Naina sambil menunjuk satu gundukan tanah , sungguh luar biasa ingatan gadis kecil itu , padahal hanya satu kali Naina pernah di bawa ke tempat makam Gery , namun gadis kecil itu masih bisa mengingatnya dengan sangat baik.
Elin sudah lebih dulu berjongkok di hadapan makam Gery di ikuti Naina yang dengan lucunya mengikuti Elin , kemudian Green dan Nathan , Amel dan Alfin juga ikut bergabung dan berjongkok di hadapan makam laki laki yang sampai kapanpun tidak akan pernah mereka lupakan.
" Hey , aku datang menyapamu " ucap Elin dengan tersenyum begitu manis dan meletakkan mawar merah di atas makam Gery.
" Hay kak , sekarang Amel dan kak Alfin datang dengan status yang baru , Amel tahu kakak pasti bahagia disana " kata Amel yang ikut meletakkan bunga , tapi untuk kali ini ia membawa mawar berwarna pink.
" Aku sudah menetapi janjiku ger , dan sekarang yang harus aku lakukan adalah membahagiakannya dan memberikanmu ponakan yang lucu " ucap Alfin dengan tersenyum.
" Tidak ada yang baru dari kami ger , istriku masih Green dan aku belum menambah ponakan untukmu " sambung Nathan dengan sedikit tertawa dan di ikuti semua orang.
"Kami hanya datang untuk menyapamu , aku yakin kau sudah sangat nyaman di tempatmu sekarang ,
maafkan aku karena tidak bisa untuk lebih sering datang kemari, kau pasti tahu , aku masih jadi Jonathan yang penuh dengan kesibukan , tapi sungguh sedikit pun aku tidak pernah melupakanmu" lanjut Nathan dengan bibir yang masih terus tersenyum.
" Maaf karena warnanya yang mencolok , aku sengaja , supaya rumah kakak lebih berwarna " ucap Green sambil meletakan mawar berwarna kuning di atas makam Gery.
" Naina sapa om Gery " pinta Green pada putri kecilnya.
" Hay om Gery , Naina pasti akan menjaga mama yin " ucapNnaina dengan bicara lucunya , semua orang langsung tersenyum mendengar ucapan Naina yang begitu pintar , dan Elin segera memeluk gadis kecil kesayangannya itu.
" Anakku terlalu pintar Ger " ucap Nathan tertawa.
Mereka terdiam sesaat dengan kedua tangan yang saling mangadah untuk berdoa ,
" Maaf telah menganggu waktumu brother , doakan semuanya lancar supaya nanti kami bisa datang kemari bersama ponakanmu barumu " ujar Alfin sambil mengusap ujung nisan
" Aku pulang kak , bahagialah di tempatmu" ucap Amel yang kemudian beranjak dari jongkoknya bersama Alfin.
" Ger kita pulang dulu , dan nanti kita pasti akan datang lagi kemari , dan kau tidak perlu khawatir tempatmu tidak akan pernah terlupakan dalam hidup kami " sambung Nathan.
" Beristirahatlah sahabat , aku sungguh merindukan tingkah konyolmu " lanjut Nathan dengan mata yang sudah berair namun segera ia hapus dan kembali tersenyum.
" Beristirahatlah " ucap Nathan lagi dan kemudian ikut beranjak bersama Green dan Naina.
" Kita menunggu di mobil" ucap Green memegang pundak Elin , dan Elin menganguk..
" Hay , aku tahu kau pasti sudah sangat bahagia sekarang " ucap Elin saat semua orang sudah pergi , dengan tangan yang membenarkan posisi bunga mawar di atas makam " besok aku akan kembali ke New York dan ntah kapan lagi aku bisa menyapamu " lanjutnya dengan wajah yang menunduk.
" emm.. aku bingung harus mengatakan apalagi " katanya dengan senyum yang ia paksakan dari bibirnya.
.
" Sudah tiga tahun , rasanya begitu cepat ya , dan kau tahu tiga tahun ini aku melaluinya dengan susah paya " lanjutnya lagi dengan bibir yang masih tersenyum.
" Tapi kau tidak perlu khawatir , aku sudah terlihat sangat kuat bukan , bahkan sekarang aku sudah bisa menyapamu tanpa menangis "
" Kita harus sama sama bahagia , kau di tempatmu yang abadi dan aku yang harus tetap melanjutkan hidupku di sini ,
Beristirahatlah dalam bahagia Geryku, kau tidak perlu khawatir kau masih punya tempat sendiri di dalam di hatiku , dan jangan memaksakan aku untuk melupakanmu karena itu kesalahanmu sendiri telah meninggalkan aku dengan kenangan yang begitu indah "
" huh , kau pasti kesal karena aku terlalu banyak bicara " ucap Elin dengan bibir yang bergetar dan kembali menegakkan wajahnya.
" Aku rasa hari ini sudah cukup untuk aku menganggu waktumu ,
bye Gery , aku pergi dulu dan sampai bertemu kembali nanti " pamit Elin dengan tangan yang masih berpegang pada nisan makam Gery.
" Aku rindu kamu " lanjutnya dengan senyum yang begitu teduh , walau di dadanya begitu sesak tapi hari ini ia berhasil datang tanpa air mata , dan memang harus begitu , semua sudah terjadi , dan dengan menangisi tidak akan membuat semuanya kembali , yang perlu di lakukan sekarang adalah melanjutkan tanpa harus melupakan ,
karena apapun yang terjadi di hari kemaren sudah menjadi sebuah kenangan di hari ini ,
semua sudah mempunyai takdirnya , Gery yang sudah bahagia di tempatnya dan Elin yang tetap harus melanjutkan hidupnya di sini.
" Bye " ucapnya sekali lagi , sebelum ia benar benar beranjak dari makam laki laki yang mempunyai tempat di hatinya.
" Terimakasih Tuhan , untuk semua kekuatannya hari ini , dan semoga akan seterusnya seperti ini , tidak ada lagi tangisan dan tidak lagi kesedihan"
" ingat kau juga harus bahagia di sini Elin , dan dia juga pasti menginginkannya" gumamnya pada diri sendiri.
" Aku harus bahagia " ucapnya lagi dengan tersenyum.
" Bye Gery " teriak Elin sambil melambaikan tangannya dan berlari menyusul semua sahabatnya yang sudah menunggunya di mobil.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚