Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Wanita Murahan


Elin bernafas legah setelah tiga laki-laki paruh baya keluar dari ruangan yang gelap dan berdebu itu , ia menatap kearah Daniel yang masih belum bersuara sejak tadi , " ada apa ? " tanyanya dan laki-laki itu hanya tersenyum.


" Ayo " ajak Daniel menarik tangan kekasihnya.


" Tunggu Daniel , aku penasaran apa yang ada di balik lemari besar itu " ucap Elin , sesaat Daniel terdiam dan ikut melihat kearah benda yang begitu mencurigakan , ia tidak kembali berbicara namun langkahnya bergerak menuju benda itu.


" Pintunya terkunci " ucap Daniel setelah menarik pintu itu lemari besar itu , namun ternyata tidak bisa di buka.


" Oh benar , aku melihat salah satu dari mereka menguncinya "


" Ayo " ajak Daniel lagi.


" Apa kau tidak penasaran apa isi di dalam itu "


" Aku akan mengurusnya nanti " sahut Daniel , lalu menarik tangan kekasihnya untuk pergi dari dalam ruang gelap itu.


" Keluarlah dulu" pintanya saat mereka kembali berada di lorong tangga.


" Kenapa ? "


" Apa kau ingin kita keluar berdua , lalu semua orang melihatnya "


" Oh ya kau benar " sahut Elin yang langsung mengerti.


" Baiklah aku akan keluar lebih dulu " tambahnya dengan langsung beranjak , namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan memutar tubuhnya untuk kembali mendekat pada Daniel yang masih berdiri ," apa kau masih marah ? " tanyanya tiba-tiba.


Mata Daniel mengercap , berusaha untuk mengingat apa yang sedang terjadi antara mereka sebelum kedatangan tiga laki-laki paruh baya itu , " emm ya aku masih marah " sahutnya setelah kembali teringat dengan permasalahan mereka berdua , " kau berbohong " ujar Elin sambil tersenyum.


" Tidak ,aku sungguh masih marah "


" Tapi bibirmu melengkung " sergah Elin sambil mencolek ujung bibir kekasihnya.


" Tidak , kau mungkin salah melihat "


" Tidak tidak , kau tidak bisa membohongiku Daniel , aku tahu bagaimana tatapan matamu jika kau benar-benar masih marah " ujarnya , membuat Daniel harus mengulum menahan untuk tidak tersenyum , namun tentu perempuan itu mengetahuinya , " kau tidak pintar berbohong " tambah Elin tertawa.


" Jadi bagaimana kue itu ? " tanya Daniel menggoda.


" Buang " sahutnya dengan begitu kesal dan itu sedikit membuat Daniel terkejut , karena kekasihnya adalah manusia yang paling menghargai pemberian orang lain , " eh tapi jangan ,kau bisa memberikannya pada Reza" sambungnya , membuat Daniel tidak lagi bisa menahan untuk tersenyum.


" jadi aku tidak boleh menerimanya "


" Tidak , aku akan membuatkan kue yang lebih enak dari itu " sahutnya begitu percaya diri ,padahal yang ia bisa hanya memasak nasi goreng.


" Aku anggap itu hutang " ujar Daniel yang masih terus tersenyum.


" Hutang ? "


" Hemm.. jadi kau harus membayarnya "


" Oh tentu aku pasti akan menepatinya , jadi kau tidak perlu khawatir " sahut Elin dengan wajah sombongnya.


" Baiklah calon istri " ucap Daniel , membuat pupil mata perempuan itu membesar , " kenapa ? "


" Tidak , aku hanya merasa kalimat itu sedikit berlebihan " sahutnya dengan pipi yang sudah merona.


" Calon istri " ulang Daniel yang sengaja membuat kekasihnya semakin malu , karena menurutnya sangat menggemaskan melihat rona pipi perempuan itu.


" Ceh , hentikan Daniel " ucapnya tanpa berani menatap ke arah kekasihnya.


" Baiklah , sekarang keluarlah "


" Kau mengusirku "


" Sayang " ucap Daniel begitu lembut , dan Elin langsung tersenyum , " aku hanya bercanda sayang " ucapnya sambil bergelayut di lengan kekasihnya , " sepertinya kau ingin kita tetap disini " ujar Daniel , membuat Elin segera tersadar dan langsung beranjak menuju pintu ,


" tunggu aku pulang " ucapnya lagi.


" Oke " sahut Elin sambil menggerakkan tangannya.


Setelah tinggal dirinya sendiri , Daniel kembali bergerak menuju lemari besar dan kembali berusaha untuk membukanya , namun pintu lemari itu terkunci dengan begitu kuat , " apa yang mereka sembunyikan disini " gumamnya dengan perasaan yang begitu kesal.


ia kembali mengambil benda pipih di saku celananya dan segera mencari nomor kontak Reza ,


Selang beberapa lama panggilan telepon yang ia kirim sudah tersambung , " hallo tuan " jawab Reza dari seberang.


" Tuan dimana ? " tanyanya lagi.


" emm..tolong ke gudang lorong tangga darurat sekarang " perintah Daniel yang terdengar sangat tidak santai , " dan sekalian bawa alat yang bisa di gunakan untuk membuka pintu lemari yang terkunci " tambahnya.


" Anda berada di gudang lorong tangga darurat tuan ? " tanya Reza yang sedikit bingung karena dia baru saja kembali dari sana ,


" cepat kemari Reza "


" Baik tuan " jawab Reza cepat.


" Dan pastikan tidak ada yang mengetahui kau kemari " tambah Daniel sebelum menutup panggilan itu.


~


" Tuan , kenapa anda disini ? " tanya Reza yang baru saja datang menyusul.


Lelaki itu terlihat masih diam dan terus menatap pada lemari besar di hadapannya , " kemarikan benda itu " pintanya menunjuk kunci L yang berada di tangan Reza.


" Tuan " ucapnya terkejut saat lemari terbuka dan menemukan keberadaan pintu besar di dalamnya ,


Daniel menghela nafas sebelum melihat lebih lanjut apa yang ada di balik pintu itu , " buka lagi pintu ini " perintahnya pada Reza.


Pintu misterius itu telah berhasil di buka dan tanpa menunggu Daniel segera masuk ke dalam di bantu oleh sinar handphone miliknya karena ruang itu nampak gelap , Reza pun segera ikut menyusul , lalu mencari stop kontak lampu yang pasti ada disana.


" Oh My God " ucap Reza dengan mata yang membesar saat melihat hamparan gulungan kain berada di sana dan itu terlihat jelas dari tempat meraka yang berada lebih tinggi.


" Tuan , siapa yang meletakan ini disini ? " tanya Reza yang tidak henti-hentinya terkejut , Daniel bergerak menuruni anak tangga , untuk memastikan semakin jauh apa yang sudah di lakukan tiga lelaki paruh baya itu di belakangnya ,


Reza menggelengkan kepalanya dan begitu merasa bingung kenapa bisa gulungan kain dari berbagai bahan mahal itu bisa berada disana , " tuan bukankah ini Sutra mulberry " tunjuknya pada kain berwarna ungu tua di hadapannya.


" Reza " panggil Daniel pelan sambil memejamkan singkat matanya.


" Ya tuan "


" Jangan bocorkan pada siapapun tentang ini " ucapnya lagi , Reza hanya mengangguk dengan pikiran yang di penuhi dengan tanda tanya , " dan pasangkan cctv di semua ruangan ini " perintahnya lagi , lalu kembali memutar langkahnya untuk meninggalkan ruangan itu.


~


" Kau dari mana saja ? " tanya Kasih saat Elin kembali ke dalam ruang kerjanya.


" emm.. dari toilet " sahutnya berkilah.


" Hampir tiga jam " ujar Kasih sambil tertawa.


" Oh sebelum ke toilet , aku di minta untuk datang ke ruang kerja Miss.Laurent " jelasnya lagi.


" Teruslah berkilah Elin , aku tetap akan percaya " ujar perempuan itu dengan terus tertawa.


~


" Ayo kita pulang " ajak Kasih bersemangat ,saat jam kerja mereka sudah berakhir.


Semua orang ikut beranjak termasuk Elin, namun ia sengaja memperlambat geraknya untuk membiarkan orang lain pergi lebih dulu , " ayo Elin " ajak Bimo dan perempuan itu mengangguk.


" Kalian duluan saja , aku masih harus menyelesaikan sedikit pekerjaanku "


" Kalau begitu kami akan menunggu " timpal Kasih


" Tidak Kas , emm..maksudku pulanglah lebih dulu " ujarnya sedikit gugup karena ia memang tidak pintar berbohong dan beruntung orang-orang itu bukanlah Green dan Amel , yang akan langsung mengetahui raut wajahnya , " baiklah nona ,aku sangat mengerti " ujar Kasih kembali tersenyum ke arahnya.


" Ayo " ajaknya pada semua orang.


" Kau sungguh tidak ingin di temani disini ? " tanya David menghampiri.


" Ya David , ini hanya sebentar " sahut Elin tersenyum.


Semua orang baru saja menghilang dari balik pintu dan secara bersamaan handphone Elin tiba-tiba berdering , " Hai " jawabnya tanpa menunggu.


" Kau terdengar seperti sudah menunggu panggilanku " ujar Daniel dari seberang telepon.


" Ya memang seperti itu "


" Ceh , kenapa kau menjadi begitu genit huh "


" Genit ? , kata itu tidak masuk akal Daniel , aku hanya sedang terbuka untuk mengungkapkan perasaanku pada calon suamiku sendiri " katanya tidak terima , mendengar itu bibir Daniel melengkung dengan sempurna, perempuan itu benar-benar selalu bisa menyenangkan hatinya , " aku hanya bercanda sayang " ucapnya dengan begitu lembut.


" Kemarilah " tambahnya lagi.


" Apa kau sudah berada di parkir mobil ? , aku akan segera kesana " ujar Elin sambil merapikan peralatan kantornya , " tidak, aku masih di ruanganku "


" Maksudmu , kau memintaku kesana ? "


" Kau begitu pintar sayang "


" Jangan gila Daniel , bagaimana jika ada orang yang.melihat "


" Semua orang sudah pulang sayang " sahut Daniel , Elin terdiam sambil melihat ke alroji di tangannya , " baiklah aku akan kesana "


" Tapi kau harus bertanggung jawab jika ada yang melihat aku nanti " tambahnya.


" Itu pasti sayang " sahut Daniel yang terdengar begitu senang.


" Baiklah tutup teleponnya "


" Kenapa harus di tutup "


" Aku harus membereskan meja kerjaku Daniel " geram Elin dan laki-laki itu terdengar tertawa di balik telepon.


" Oke , dan cepatlah aku sungguh tidak sabar ingin melihat wajah calon istriku ".


" Kau memang sudah gila Daniel " ucap Elin merasa geli.


" Ya , tergila-gila padamu "


" Astaga Daniel , itu benar-benar menggelikan " teriak Elin dengan tubuh yang bergidik dan Daniel tertawa lebih keras dari seberang , " baiklah sampai bertemu disini sayang "


" emmm .. " sahut Elin yang tidak lagi peduli pada sambungan teleponnya , saat tiba-tiba menemukan secarik kertas di balik tumpukan Binder di atas meja , ia membuka pelan lembaran itu dan tatapan matanya terperanjat saat melihat tulisan yang begitu menyakitkan untuk di baca , " WANITA MURAHAN ".