Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Jangan Egois ( Mike )


Daniel nampak tidak bisa duduk dengan tenang , wajahnya terlihat begitu gusar dengan berulang kali memeriksa jarum jam pada alroji di tangannya.


" Pemisi " ucap Daniel pada perempuan yang sedang melewatinya " ya tuan , apa ada yang bisa saya bantu ? " jawab perempuan berparas cantik yang bertugas sebagai pramugari di pesawat pribadi miliknya itu.


" Jam berapa kita akan mendarat ? " tanya Daniel " lima jam lagi tuan " jawab pramugari yang baru saja menghitung lewat alroji di tangannya " apa bisa lebih cepat lagi " kata Daniel tanpa berpikir karena otaknya sudah di penuhi pikiran tentang Elin.


" Kecepatan kita sudah mencapai maksimum tuan " jelas singkat perempuan cantik itu.


" Baiklah , silahkan lanjutkan pekerjaanmu " ujar Daniel dengan menghela nafas , dirinya sudah begitu gusar memikirkan tentang Elin dan ingin segera bertemu dengan wanitanya.


" Apa ada lagi yang anda butuhkan ? "


" Tidak , terimakasih "


" Baik , permisi tuan " pamit pramugari itu beranjak meninggalkan Daniel.


****


Mike kembali kerumah sakit membawa begitu banyak bawaan , pelan pelan ia melangkahkan kakinya karena melihat Meili yang sudah tertidur di sisi ranjang dan Hannah yang tertidur di sofa.


Bruukkkk


" shiiittt " umpat Mike pada kotak pizza yang jatuh , tubuh Hannah menggeliat mungkin karena tidur nyenyaknya terganggu , matanya yang baru saja terbuka langsung menatap pada Mike , ia sedikit terkejut namun kembali teringat jika sekarang dirinya sedang berada di rumah sakit tempat Elin di rawat.


" Aku membawakan Kuah Kerang Manhattan kesukaanmu " ucap Daniel tanpa menatap pada Hannah dan perempuan itu masih terdiam.


" Makanlah , aku tahu kau sedang lapar sekarang " lanjut Mike.


Tubuh Meili ikut menggeliat karena tidurnya yang terganggu dengan suara Mike atau karena posisi tidurnya yang memang kurang nyaman


"Oh kau datang Mike , apa kau membawa makanan , perutku terasa lapar " ujar Meili dengan suara serak bangun tidur.


" Aku membawa pizza untukmu " sahut Mike sambil meletakannya di atas meja" Kau saudaraku yang terbaik " ucap Meili senang dan segera beranjak dari tempatnya menuju letak pizza " cuci wajahmu Meil " ucap Mike namun gadis itu terlihat tidak peduli , ia begitu tidak sabar untuk membuka kotak pizza dengan aroma yang membuat perutnya semakin lapar " Kau juga harus makan Hannah " Ajak Meili yang sudah begitu rakus memasukan potongan pizza ke dalam mulutnya yang kecil.


Untuk kali ini Hannah menurunkan harga dirinya karena cacing di perut yang sudah meronta sejak tadi , ia membuka kotak makanan yang di bawakan oleh Mike " Apa itu ? " tanya Meili karena melihat makanan Hannah berbeda " Kuah kerang Manhattan , cobalah ini sangat enak ? " kata Hannah sedikit malu dan Mike tersenyum dari balik tubuhnya yang membelakangi Meili dan Hannah.


" Kapan kau pergi membeli ini ? " tanya Meili dan Hannah menggelengkan kepalanya " tidak , Mike yang membawa ini " jelas Hannah yang kembali merasa begitu malu saat mengucapkan nama laki laki itu.


" Kau curang Mike , kenapa hanya Hannah yang kau bawakan " ujar Meili kesal pada sepupunya " Aku tidak tahu kalau kau juga menyukai itu " jelas Mike.


" Memang kau tahu kalau Hannah menyukai ini ? " tanya Meili , membuat Hannah sedikit terbatuk " emm.. tidak , aku hanya membeli makanan yang berbeda , karena yang aku tahu kau begitu menyukai pizza makanya aku membelikan itu untukmu " jelas Mike berkilah yang sesekali matanya mencuri pandangan pada Hannah yang sedang terbatuk.


" ceh , kau menyebalkan Mike , ini sangat enak "


" Makanlah Meili , kau bisa menghabiskannya " ucap Hannah yang langsung menggeser kotak makannya di hadapan Meili.


" Kau makanlah itu punyamu , untuk Meili aku akan membelinya lagi " ujar Mike , " tidak perlu kami bisa berbagi , ini terlalu banyak untuk perutku "


" Berhenti memikirkan berat badanmu Hannah , tubuhmu juga butuh makanan " ucap Mike dengan sedikit meninggikan nada bicaranya , membuat Meili terkejut bukan karena nada bicara Mike tapi karena Mike yang tiba tiba menjadi begitu perhatian pada Hannah.


" Aku rasa ini bukan urusanmu " ucap Hannah dingin , membuat Mike terdiam dengan perasaan yang bercampur kesal.


" Kita makan bersama Hannah , Mike benar kau harus banyak makan karena menurutku tubuhmu terlalu kurus " ucap Meili tertawa untuk mengalihkan keadaan yang mulai terasa dingin , " beginilah seorang model Meili , apa kau lupa sainganku Kendal Jenner dan Gigi Hadid " kata Hannah ikut tertawa.


" Bahkan jika menuruti aturan makan yang sebenarnya , aku hanya boleh makan buah , sayuran dan rebusan daging tanpa rasa dan itu benar benar membuatku menderita " lanjut Hannah menghela nafas yang tanpa sadar ia mengeluh.


" Astaga , apa itu benar Hannah , aku rasa aku tidak akan kuat jika harus hidup sepertimu " ujar Meili begitu terkejut namun tangannya tak berhenti menyendokkan kuah kerang dan pizza yang bergantian masuk ke dalam mulutnya " Sebenarnya aku juga tidak kuat , tapi mau bagaimana lagi " sahut Hannah tersenyum.


" Mike , apa kau tidak mau ? " tanya Meili dan laki laki itu segera menggelengkan kepalanya


" Aku sudah makan , kau harus habiskan semua itu Meil " ujar Mike tertawa.


" Apa kau pikir aku sapi "


" Mendekati "


" Kau benar benar ingin aku bunuh " geram Meili kesal dan Hannah ikut tertawa melihat tingkah dua saudara itu , namun tawanya langsung terhenti saat matanya mendapati Mike menatap ke arahnya.


" Apa dia pernah terbangun ? " tanya Mike beralih menatap ke arah Elin , dan Meili menggelengkan kepalanya " apa kita perlu memanggil dokter ? " ucap Meili yang kembali cemas , Hannah mendekat pada tubuh Elin yang masih terbaring , di tekannya pelan pergelangan tangan elin dengan ibu jarinya , kemudian ia mendekatkan wajahnya pada dada lalu wajah Elin " Aku rasa itu tidak perlu, nadinya masih berdenyut dengan baik , begitu pun dengan jantungnya " jelas Hannah yang kembali berdiri " kita harus menunggu selama 8 jam , kalau besok pagi dia masih belum terbangun barulah kita memanggil dokter " lanjut Hannah.


" Kau terlihat seperti Dokter Hannah " ujar Meili tertawa " Ya , itu impianku " kata Hannah seraya kembali berjalan menuju sofa.


" Lalu kenapa tidak kau wujudkan ? " tanya Meili begitu penasaran , " Waktu itu aku tidak memiliki biaya untuk masuk ke fakultas kedokteran , padahal aku sangat menginginkannya " jelas Hannah menghela nafas.


" Maafkan aku " ucap Meili merasa bersalah atas pertanyaannya.


" Sepertinya kau sudah tertular dengan tingkah Elin yang selalu meminta maaf dan mengucapkan terimakasih tanpa alasan yang jelas " ujar Hannah memaksakan tawanya.


" Benarkah "


" Ya kau benar , aku juga merasa seperti itu " lanjut Meili tertawa , matanya kembali menatap pada Elin " Ayo lah bangun , kau hanya mempunyai waktu dua hari untuk menyelesaikan tugasmu , kalau kau terus seperti ini bagaimana bisa selesai " gumam Meili seolah sedang berbicara pada Elin.


" Kalian bisa kembali tidur , biar sekarang aku yang menjaganya " kata Mike tiba tiba ,


" Kau benar rasanya mataku kembali mengantuk mungkin karena perutku yang sudah di penuhi makanan " racau Meili dengan kedua mata yang sayu karena menahan kantuk " bangunkan aku jika kau ingin tidur Mike , kita bisa bergantian menjaganya " katanya lagi dengan mengambil posisi tidur yang nyaman di atas sofa.


" Tidurlah , biar aku yang menjaganya " ucap Hannah tiba tiba dan tanpa menjawab Mike hanya menatap sedikit lama ke arah perempuan itu " Tidak , aku tidak mengantuk "


" Kau selalu memaksakan diri , matamu tidak bisa berbohong Mike , cepatlah tidur " ujar Hannah memaksa , " ya kau benar , aku memang tidak bisa berbohong " kata Mike menggantung namun Hannah mengerti maksud dari perkataan laki laki bertubuh tinggi itu , Mike beranjak dari sisi ranjang menuju tas besar yang di letakan di atas meja kecil , " Pakai ini " ucap Mike dengan memberikan syal berbahan sutra pada Hannah " tidak perlu " ucap Hannah menolak , namun nampaknya Mike tidak peduli , ia langsung memasangkan syal pada leher Hannah tanpa permisi "jangan egois , di luar sangat dingin " ucap Mike , setelah selesai ia beranjak menuju sofa tanpa peduli pada Hannah yang masih terdiam mematung dan menatap kearahnya ,


" Aku hanya tidur sebentar " ucapnya dengan mata yang sudah terpejam.


Tangan Hannah sudah begitu tidak sabar ingin melepas Scarf yang terpasang pada lehernya , namun kemudian ia batalkan " Aku memang butuh ini " gumamnya pelan karena merasa tubuhnya hampir menggigil , ia selalu kalah pada cuaca dingin walau sudah berada di dalam ruangan , padahal ini belum memasuki musim salju,


Hannah mengeratkan outer tebal yang ia gunakan di tubuhnya dan duduk di sisi ranjang Elin yang tertidur " Cepatlah bangun , kau benar benar membuatku merasa bersalah " gumam Hannah begitu lirih dan menatap begitu dalam pada wajah Elin.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚