
" Mam " ucap Meili saat melihat mata wanita paruh baya itu telah terbuka , dan Daniel ikut mendekat dengan langkah yang begitu pelan kearah Viona yang masih terbaring.
" Panggilkan dokter " ucapnya pada pelayan yang berdiri di sisi ruangan.
" Bagaimana keadaanmu ? " tanyanya pada Viona , " Dimana ayah kalian ? " tanya balik wanita itu saat tidak lagi menemukan seseorang yang dia cari.
" Apa kau lupa mam , kami tidak memiliki ayah " sahut Meili.
" Hentikan Meili " sambung Daniel dan perempuan itu kembali terdiam dengan menghela nafasnya begitu kasar.
" Aku memintanya untuk pergi " kata Daniel menjelaskan , dan air mata Viona langsung menetes dari sela matanya , " kenapa kau begitu jahat Daniel , padahal dia begitu mengkhawatirkan keadaanmu "
" Berhenti membelanya mam , aku sudah cukup muak dengan permasalahan ini "
" Kalian tidak bisa membencinya " ucap Viona dengan terbata-bata.
" Kenapa , apa yang semua dia lakukan tak cukup untuk menyakiti kami " kata Meili menyambung ,
" Dia tidak pernah menyakiti kalian "
" Tapi dia menyakitimu " potong Daniel.
" Nak , aku sudah mema..."
" Aku bilang berhenti membelanya " potongnya lagi dengan nada suara begitu tinggi.
" Apa yang kau lakukan Daniel ? " teriak Elin yang baru saja kembali dan melemparkan tatapan tajam kearah kekasihnya , " aku tidak tahu seperti apa sebenarnya masalah kalian , tapi berhenti berkata kasar kepada orang tua kalian " ucapnya dengan jantung yang berdebar.
" Aku benar-benar sudah jengah melihat kalian seperti ini " lanjutnya lagi , dengan nafas menderu karena emosi.
" Kami melakukan itu karena dia memang pantas menerimanya " ucap Meili membela , " dan kau tidak tahu seperti apa dia telah menyakiti kami Elin " lanjutnya.
" Aku sudah bilang dia tidak pernah menyakiti kalian , aku yang memintanya untuk pergi.. " sambung Viona berusaha untuk menjelaskan ke salah pahaman antara anak dan ayahnya itu , " Aku tidak lagi peduli dengan semua itu mam , yang aku ingat hanya perempuan itu telah begitu jahat untuk membuat semua orang merundungmu dan itu terjadi karena dia , apa kau sudah lupa akan hal itu ? " ucap Daniel yang kembali mengingat kejadian yang sudah terjadi begitu lama , namun rasa sakitnya masih teringat dengan baik sampai saat ini.
" Aku sudah memaafkannya Daniel , cobalah untuk menerimanya kembali , karena tidak ada alasan untuk kalian membencinya .. "
" Mam hentikan .. " ucap Daniel.
" Kau yang berhenti Daniel " potong Elin dengan lebih meninggikan suaranya.
" Setelah ini aku tak peduli kau akan membenciku atau tidak , tapi dengarkan perkataanku dengan baik "
" Apa kau sudah yakin suatu hari nanti kau tidak akan memiliki kesalahan ? , apa kau juga sudah yakin bahwa sikapmu tidak pernah menyakiti orang lain Daniel ? , jawab aku " tanyanya dengan begitu mendesak.
" Setiap orang memiliki kesalahan Daniel dan itu termasuk dirimu sendiri , dengan kau berkata kasar dan tidak menerimanya , apa semuanya sudah selesai ? , tidak , yang ada itu akan berakhir dengan penyesalanmu sendiri " ucapnya tanpa ampun membuat semua orang yang berada di dalam ruangan menjadi terdiam , termasuk Meili yang tidak lagi bisa membela dirinya.
" Apa yang terjadi pada kalian jauh lebih beruntung dari pada kehidupanku " ucapnya dengan begitu lemah.
" Maafkan aku , tapi untuk memaafkannya sungguh tidak mudah sayang " kata Daniel yang ikut melemah dan itu benar-benar membuat Viona menjadi takjub pada kehadiran Elin.
" Setidaknya jangan menyakitinya dengan ucapan kasarmu Daniel , karena bagaimana pun dia ayahmu dan suatu hari kau akan menjadi seorang ayah "
" dan kau pikirkan dengan baik , apa selama menjadi seorang ayah dia pernah menyakiti kalian ? " tanyanya dan Daniel hanya bisa terdiam, karena Reymond memang tidak pernah menyakiti dirinya dan Meili , karena sebenarnya yang tersakiti dalam masalah ini adalah Viona dan mereka hanya tidak bisa menerima kejadian menyakitkan itu dengan begitu saja.
" Kau tidak bisa menjawabnya bukan , itu berarti selama ini dia sudah menjadi ayah yang baik untukmu dan Meili , dan sebagai anak kau tidak berhak begitu membencinya Daniel, atau setidaknya jangan kembali menyakitinya dengan ucapan kasarmu " lanjutnya dengan merapatkan tubuhnya pada Daniel.
" Aku hanya tidak ingin kau menyesal " ucapnya begitu pelan dan menatap dalam pada bola mata berwarna abu-abu yang juga sedang menatap kearahnya.
" Istirahatlah di ruanganmu , biar aku yang menjaga ibumu disini " ucapnya lagi.
" Lalu siapa yang akan menjagaku " sahut Daniel , yang membuat semua orang yang terdiam menjadi tertawa geli karena tingkahnya.
" Biar aku yang menjaga mami disini Elin , kau ikutlah bersama bayimu " sambung Meili , membuat Daniel membesarkan matanya karena kesal.
" Tidak , kau juga perlu menenangkan dirimu Meili , biar aku yang tetap disini "
" dan maafkan aku telah begitu lancang " sambungnya.
" Terimakasih kakak , kau sungguh perempuan yang bijaksana " ucapnya dengan memeluk tubuh Elin begitu erat.
" Kakak " kata Elin mengulang dengan bola mata yang sedikit membesar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Ya , aku rasa ibuku sudah menyetujui hubunganmu bersama kakakku , bukankah begitu mam ? " tanyanya pada Viona dan perempuan itu hanya menganggukan pelan kepalanya dengan tersenyum.
" Ayo sayang " ajak Daniel menarik tangan Elin yang masih terdiam dengan wajah yang memerah karena malu , " pergilah , aku masih tetap harus disini "
" Tidak Elin , aku sudah bilang kau harus menemani bayimu , biar mami aku yang menjaganya "
" Aku bukan bayi Meili " potong Daniel.
" Tapi tingkahmu tak ubah dari itu "
" Apa kau sedang memulai pertengkaran huh"
" Aku tidak pernah takut padamu "
" Bisakah kalian berhenti , ibu kalian semakin pusing karena tingkah kekanakan kalian berdua " ucap Elin , membuat Meili dan Daniel terdiam seketika.
" Istirahatlah nyonya , setelah mengurus putramu aku akan datang lagi nanti " ucapnya mendekat pada Viona ,
" Terimakasih " ucap Viona dengan tatapan dan senyuman yang begitu teduh.
" Kau benar-benar seperti malaikat yang hadir dalam keluarga kami " sambung lagi.
" Anda berlebihan nyonya , aku sungguh tidak sesempurna itu " sahut Elin tersenyum.
" Aku benar-benar senang setelah mengetahui putraku telah bersama wanita sepertimu , dan aku sungguh begitu menyukaimu nona " ucap Viona lagi.
" Istirahatlah , aku akan kembali mengunjungimu " kata Elin dengan memegang lembut pundak Viona , lalu kembali berjalan menuju Daniel yang masih berdiri.
" Ayo " ajaknya pada Daniel.
" Aku begitu bangga padamu " ucap Daniel di sela langkah mereka ,
" Benarkah ?, dan kau memang sudah seharusnya bersyukur karena telah memiliki hati perempuan sepertiku " sahut Elin tertawa.
" Tentu , bahkan aku sangat bersyukur untuk hal ini " ucap Daniel sambil mencium punggung tangan Elin yang tergenggam erat pada tangannya.
" Ceh , menggelikan "
" Apa kau meragukan aku ? "
" tidak , aku justru mencintaimu " sahut Elin tertawa.
" Kenapa , kau menjadi semakin menggemaskan huh " ujar Daniel dengan menarik ujung hidung Elin.
" Aku sudah menggemaskan sejak dulu Daniel , kau saja yang baru menyadarinya " sahut Elin kesal dengan tangan yang memegang pada hidung yang sedikit memerah.
" Aku mencintaimu " ucap Daniel dan kembali menarik tangan Elin.
" Aku tahu "
" Hanya itu ? " tanya Daniel yang tidak terima dengan jawaban cuek kekasihnya.
" Apa kau ingin mendengar ini " ucap Elin pelan.
" Aku lebih mencintaimu " bisiknya , lalu segera berlari dan tidak lama kembali lagi setelah menyadari kekasihnya tidak bisa berjalan dengan cepat.
" aku akan membantumu " ucapnya dengan gemas sambil memeluk erat lengan Daniel , membuat laki-laki itu tidak berhenti tersenyum karena tingkahnya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚