Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tubuh Elin Ambruk


Elin terdiam dengan semua perkataan Green. Hatinya saat ini memang hancur, tapi mendengar apa yang sedang terjadi, ia seperti lupa dengan apa yang di rasakannya saat ini. Kecewanya seolah meredah seiring kabar buruk yang ia dengar.


Perlahan ia bergerak kembali ke kamarnya, dengan pintu yang tetap terbuka.


" Nak, makan ya ? " seru Mala di ambang pintu.


" Sedikit saja bu " sahutnya lemah.


Bibir Green dan Amel melengkung mendengar itu, dengan mereka yang saling bertatapan.


" Tunggu sebentar. Ibu akan kembali " ujar Mala.


" Biar aku yang membawanya kemari bu. Ibu istirahat saja dulu " timpal Amel, sambil menyusul langkah wanita paruh baya itu.


" Terimakasih nak. Berkat kalian akhirnya dia mau keluar " ucap Mala sedikit legah.


" Itu memang tugas kami sebagai sahabatnya. Sekarang ibu istirahatlah. Ibu pasti juga terjaga sepanjang malam karena memikirkan ini " ujar Amel di sela langkah mereka menuju dapur, " ibu jangan lagi khawatir, semua pasti akan baik baik lagi " tambahnya dan Mala mengangguk lemah. Namun, juga terlihat begitu yakin.


~


Elin kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meninggalkan Green yang kini menatap sendu padanya.


" Apa kau tidak ingin meluapkan perasaanmu ? " ucap Green. Hanya terdengar helaan nafas disana, lalu matanya menemukan tangan Elin yang kini mengusap pada bagian matanya.


Green bergerak. Di dekatinya tubuh lemah yang terbaring itu, " menangislah Elin, kau memang harus menangis supaya hatimu lebih baik " ucapnya penuh emosi. Bahkan hatinya sangat hancur melihat sahabatnya yang ceria kini terbaring dengan isak tangan yang tak terdengar. Dan itu adalah tangisan yang paling menyakitkan.


" Kenapa takdir hidupku seperti tidak adil ya Green " ucap serak Elin.


Green terdiam tanpa bisa mengatakan apapun. Ia hanya bisa mengusap lembut kepala sahabatnya dan saat itu ia menyadari kondisi sahabatnya tengah tidak baik baik saja, " Lin kau sakit ? " tanya panik.


Perempuan itu hanya mengangguk lemah. " tidak Elin kau sakit. Suhu tubuhmu sangat panas ".


" Tidak Green aku baik baik saja " ucap Elin membantah. membuat Green hanya bisa menghela nafas, " jangan sakiti dirimu sendiri Elin. Aku mungkin terdengar sangat jahat. Tapi semua sudah berlalu. Dan kami semua ingin melihat kau baik baik saja. Ingin melihat kau bahagia " ucapnya dengan sedikit emosi.


" Bahagia sepertinya mustahil di hidupku Green " sahut Elin serak, dengan ucapan yang tersendat oleh tangisan yang ia paksa untuk berhenti, " kau sendiri melihat bukan. Setiap aku ingin bahagia, selalu saja kebahagiaan itu di ambil dariku " sambungnya.


Green tertegun, lidahnya tercekat untuk menepis ucapan Elin. Walau ia tak setuju tapi perkataan wanita itu juga tidak salah. Bahkan jika mungkin dirinya menjadi Elin. Mungkin saat ini keadaannya akan lebih terpuruk dari wanita itu.


" Liin aku mengenalmu sebagai orang yang kuat. Kau tidak serapuh itu.. "


" Tapi ini lah aku Green " potong Elin, " seperti inilah aku sebenarnya. Aku hanya sering terlihat baik baik saja, bukan baik baik saja yang sesungguhnya ".


" Aku rapuh. Dan aku hanya manusia biasa " ucapnya kembali menangis. " Melihat jelas kedua orang tuamu merenggang nyawa di hadapanmu sendiri. Lalu mendapati dirimu berada di keluarga orang lain. Lalu kau harus menutup kupingmu setiap kali orang membicarakan statusmu yang hanya sebagai anak angkat. Dan saat kau menemukan seseorang yang kau cintai. Lalu dalam sekejap saja orang itu di ambil darimu..., Aku rasa kalian tidak akan bisa berbicara seperti ini jika kalian menjadi aku Green " cercahnya dengan tangis yang kembali terisak.


Mulut Green terkunci, dengan ucapan Elin yang seperti belati untuknya. Kini tidak ada yang bisa ia ucapkan selain menatap sendu pada perempuan itu, dengan air mata yang mulai ikut menetes, " maafkan aku " ucapnya serak.


" Maaf karena tidak mengetahui betul bagaimana perasaanmu. Aku hanya tidak ingin kau terus terpuruk seperti ini Elin " sambungnya dengan terisak.


Di peluknya tubuh lemah sahabatnya itu, " aku mungkin memang tidak mengerti apa yang kau rasakan Elin. Tapi aku disini ada untukmu. Kami ada untuk kau meluapkan semua perasaanmu. Aku sungguh tidak bisa tenang melihat kau seperti ini Elin. kau sudah menjadi bagian terbesar dalam hidupku Elin. Kesedihanmu menjadi kesedihan untukku. Begitu pun bahagiamu adalah sesuatu yang paling aku inginkan ".


" Sungguh. Aku hanya ingin melihat kau terus bahagia " sambungnya lemah. Dengan air mata yang menetes dengan pilu.


Amel yang baru saja kembali dengan nampan di tangannya, menjadi tersentak saat melihat kedua sahabatnya kini tengah terisak dengan pilu. Di letakkannya dengan cepat nampan di tangannya ke atas meja di ruang itu. Lalu ikut mendekap dua tubuh yang kini tengah menangis.


" Tolong jangan seperti ini. Aku benar benar hancur dengan keadaan ini " ucapnya ikut menangis.


Sesaat ruang tidur itu menghening. Hanya isak tangis pilu yang saling beradu oleh ketiga sahabat di dalam ruang itu.


" Aku akan kuat. Tapi saat ini aku tidak kuat jika harus menopang tubuh kalian berdua " ucap Elin tiba tiba yang membuat tangisan pilu itu pecah menjadi tawa.


" Akhirnya Elin kami mulai kembali " seru Amel gemas dengan air mata yang masih mengalir. Namun kali ini air mata itu terlihat lebih cerah karena rasa bahagia.


Ia kembali merengkuh gemas tubuh lemah Elin. Di ikut Green yang kembali memeluk.


" Kau harus pulih Elin. Dengan begitu kami semua akan bahagia. Kami akan lebih bahagia saat kau bahagia " ucap Dalam Green di dalam pelukannya.


" Green benar Elin. Kami pun ikut terpuruk saat kau seperti ini. Seperti yang kau lihat, dunia kami seperti ikut kacau seiring kekecewaanmu " sambung Amel.


" Apa saat ini kalian sedang menyalahkan aku huh " balas Elin tertawa, dengan tenaga yang masih tersisa di tubuhnya.


" Buang pikiran jahatmu " cercah Amel. seraya menoyor tubuh tak berdaya Elin.


" Intinya kami semua hanya ingin kau bahagia Elin. Dengan kau bahagia maka kehidupan kami juga akan baik biak saja " timpal Green. Seraya melepas pelukannya, begitu pun Amel.


Namun tiba tiba saja tubuh lemah Elin ambruk di pangkuan mereka. " Eliiin " Teriak Amel begitu panik dan mereka menyadari jika tubuh lemah itu tidak lagi sadarkan diri.


" Green Elin pingsan, Green " teriak Amel . " Apa ini karena aku menoyor kepalanya Green " katanya semakin panik dengan kembali menangis.


" Cepat panggil ibu Mel " teriak Green panik. Sambil menepuk-nepuk pipi Elin yang kini terlihat memucat, " lin tolong sadar lin. Jangan membuat kami takut " racau Green cemas bercampur takut.


~


Tubuh pingsan Elin sudah di bopong oleh Tama ke dalam mobil Green. Semua orang terlihat panik. Dengan Mala yang tidak henti hentinya menangis.


" Tama bawa mobilnya " seru Green sambil melepar kunci mobilnya.


Baru saja mobil itu ingin di lajukan tiba tiba saja satpam rumah mereka datang menghampiri dengan langkah tergesah-gesah.


" Bu bu.., Tuan " panggilnya panik, membuat Tama menghentikan sementara gerak mobil Green, " ada apa pak ? " tanyanya pada lelaki paruh baya itu.


" Iii..tu Tuan. Calon suami Nona Elin sepertinya demam ".


Mendengar itu Green dengan cepat ikut membuka kaca mobilnya. Menyimak apa yang sebenarnya di katakan lelaki paruh baya itu, " calon suami Elin ? " ulang Tama dengan dahi yang berkerut.


" Iya tuan. Tubuh Tuan Daniel mengigil disana " tunjuknya menuju bangku taman.


Mata Green dan Amel membesar. Lalu dengan cepat keluar dari dalam mobil, " Elin tunggu sebentar " seru Green pada tubuh yang tidak sadarkan diri, lalu berlari menuju tempat yang di maksud oleh satpam di rumah itu.


" Kak daniel " teriak Amel dan Green bersamaan dan benar saja mereka menemukan tubuh lelaki itu tengah menggigil dengan suhu tubuh yang panas.


" Pak ,Tama tolong bawa tubuh kak Daniel ke dalam mobil. Dia juga harus di bawa ke rumah sakit " serunya panik.


Tubuh Daniel, sudah di bawa oleh Tama dan pak satpam menuju mobil. meninggalkan Green dan Amel yang kini masih berdiri sesaat untuk mengatur sisa nafas mereka.


Dan saat mata mereka berdua bertemu. Gelak tawa tiba tiba pecah disana.


Amel sampai mengusap matanya yang berair karena tidak berhenti tertawa. Bagaimana bisa di tengah keadaan menyedihkan ini ada sebuah kisah yang begitu konyol, " di saat semua orang rumah panik mencarinya, ternyata dia disini " ucap Green dan Amel mengangguk dengan masih terus tertawa. Sampai akhirnya tawa itu berhenti saat menyadari kalau mereka harus pergi ke rumah sakit sekarang.