
" Capucinno , sesuai janjiku " ucap Elin sambil meletakkan segelas capucinno panas di atas meja , " Terimakasih " jawab Daniel tersenyum menatap Elin , dan untuk kesekian kalinya jantung Elin kembali berdebar setiap melihat senyum manis dari wajah Daniel , dan segera ia mengalihkan tatapannya .
" Ah aku begitu kenyang " ujar Meili yang sudah duduk tersandar di sofa dengan tangan yang terus mengelus perutnya yang terlihat buncit karena kenyang.
Daniel meihat sekilas ke arah Meili dengan menggelengkan kepalanya.
" Kau benar benar seperti orang yang tidak pernah makan selama satu bulan Meili " ujar Daniel namun dengan mata yang terus menatap pada layar handphonenya.
" Dasar bodoh , mana ada orang bisa hidup jika tidak makan satu bulan " sahut Meili kesal pada Daniel yang mengatainya , Elin tersenyum melihat tingkah kakak beradik di hadapannya ini.
" oh ya meil , apa kau tahu kalau Mike juga tinggal di sini ? " ucap Elin membuka pembicaraan , Daniel langsung mendongakkan kepalanya " Apa kau juga mengenal Mike? " tanya Daniel namun dengan raut wajah yang tiba tiba berubah menjadi dingin , Elin mengangguk pelan dengan kebingungan saat melihat perubahan wajah Daniel .
" Sunnguh , aku sama sekali tidak mengetahuinya lin , dan juga dia tidak pernah mengatakannya padaku " sahut Meili yang tidak menyadarii kalau situasi tiba tiba menjadi dingin , " emm.. aku tahu karena kami pernah bertemu sebelum aku pulang ke Indonesia meil , " jelas Elin sambil sesekali matanya melirik kearah Daniel .
" Apa kau tahu kak ? , ternyata Mike pindah ke New York , dan sekolah di tempat yang sama dengan kami , dan aku baru tahu setelah kami bertemu di kampus " ujar Meili pada Daniel.
Daniel masih terus diam dengan rahang yang sudah mengeras saat dua perempuan dihadapannya ini terus menceritakan tentang Mike , yang tidak lain adalah saudara sepupunya sendiri.
" Apa yang dia inginkan lagi " gumam Daniel dengan menyunggingkan ujung bibirnya.
" Capucinnomu sudah hampir dingin , segera habiskan dan jangan membuatku kecewa " ujar Elin , mengalihkan Daniel dari wajah yang tiba tiba menjadi dingin , " Maaf " ucapnya dengan senyum yang di paksakan pada Elin dan segera mengambil gelas capucinno dan meminumnya sampai habis , " aku mungkin membuatmu kecewa " ucap Daniel sambil meletakkan kembali gelas yang sudah kosong di atas meja.
" Istirahatlah " ucap Daniel lembut pada Elin , " iya nanti , tubuhku tidak begitu lelah " jelas Elin.
" Meil , sebaiknya kita pulang , Elin harus segera isitirahat " ajak daniel pada adiknya " astaga maafkan aku , aku lupa kalau kau baru saja pulang dari perjalanan yang begitu lama " ujar Meili yang merasa bersalah
" Aku sungguh tidak apa apa meil , kakakmu terlalu berlebihan "
" Tidak tidak , dia benar , kau harus istirahat " kata meili sambil beranjak mengambil tasnya.
" Kamu tidak apa apa sendiri ? " tanya Daniel dan Elin menganggukkan kepala.
" Hubungi aku jika kau menginginkan sesuatu dan sampai bertemu besok " pamit Meili sambil mencium pipi Elin lalu berjalan menuju pintu " bye Meili " balas Elin tersenyum.
" Maaf merepotkanmu , dan terimakasih untuk capucinno enaknya " ucap Daniel dan Elin kembali mengangguk dengan tersenyum " dan satu lagi , jika kamu sendiri jangan menerima siapapun disini , terlebih jika itu laki laki " peringat Daniel , yang membuat Elin terdiam dengan mulut yang tiba tiba tidak bisa membantah " istirahatlah " ucapnya tanpa memudarkan senyumannya.
" Astaga Daniel , apa kau sungguh ingin pulang ? " teriak Meili yang sedang menunggu di depan pintu.
" Tunggu sebentar Meili , dan jangan berteriak " sahut Daniel.
" Ternyata seperti ini kalau dia jatuh cinta " geram Meili kesal.
" Bye " ucap Daniel , yang kemudian berjalan menyusul Meili yang sudah lebih dulu keluar , " ingat jangan menerima orang yang tidak kamu kenal baik " ucap Daniel lagi dan Elin kemballi menganggukkan kepalanya tanpa sadar.
" Bye " pamit Daniel sekali lagi , batinnya merasa begitu berat untuk meninggalkan Elin sendiri , terlebih karena dia harus menyudahi pertemuan ini.
" Bye " balas Elin sambil menutup kembali pintu apartemennya , " siapa dia , kenapa dia mengaturku , dan kenapa akku begitu saja menurutinya " gumamnya, yang masih berdiri di balik pintu " astaga , hari ini benar benar membuatku gila "
" Kenapa harus kembali bertemu di sini ? "lanjutnya lagi yang masih terus berbicara sendiri.
" Sepertinya tubuhku memang lelah dan harus segera istirahat sebelum aku menjadi benar benar gila karena memikirkan hari yang penuh keajaiban ini " ujarnya lagi sambil menggelengkan kepala untuk membuyarkan segala pikiran pikiran aneh di otaknya , dan kemudian ia kembali menuju kamar tidurnya .
****
" Apa aku boleh tidur di tempatmu ? " tanya Meili pada Daniel , mereka sedang berada di dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai utama apartemen , " aku tidak akan bisa beristirahat dengan tenang jika ada kamu " jawab Daniel.
" Please " mohon Meili dengan menyimpukan ke dua tangannya .
" Mami akan mencarimu nanti "
" Aku akan bilang tidur di tempatmu " jawab Meili tersenyum , Daniel menghela nafas , dan membiarkan Meili melakukan keinginannya.
" Ingat , jangan mengangguku " peringat Daniel.
" Siap boss " jawab Meili bahagia , lalu bergelayut di lengan Daniel.
ting " pintu lift terbuka.
" Oh hay Meil " balas Mike , dengan menyunggingkan sedikit senyumnya , namun pandangannya menunduk saat melihat Daniel.
" Kenapa kau tidak bilang , kalau kau juga tinggal di sini Mike " ujar Meili menghampiri Mike.
" emm .. aku baru saja pindah Meil " jelas Mike kaku.
" Kau harus mengundang kami makan di apartemenmu nanti, iya kan kak " lanjut Meili , yang kemudian berbicara pada Daniel , namun laki laki itu telah berjalan lebih dulu meninggalkannya , " astaga , kenapa dia pergi " gumam Meili yang menjadi bingung pada tingkah dingin Daniel dan Mike , tak biasanya Daniel atau Mike tidak saling menyapa , bahkan mereka terlihat seperti tidak saling mengenal .
" Mike , selamat untuk tempat tinggal barumu , emmm.. aku harus pergi " ucap Meili memeluk Mike , " terimakasih meil " balas Mike.
" Kau harus mengundangku untuk merayakannya " ujarnya sambil tertawa sebelum pergi meninggalkan Mike , dan segera menyusul Daniel yang terlihat sudah menunggu di depan pintu lobby utama.
" Silahkan Tuan " ucap sopir sambil membukakan pintu mobil untuk Daniel dan Meili.
" Ada apa? , apa yang terjadi antara kau dan Mike ? " tanya Meili yang sudah tidak mampu menahan rasa penasarannya , namun Daniel tidak menjawab , bahkan ia terlihat seperti tidak peduli dengan pertanyaan adiknya.
" oke , kalau kau tidak ingin menceritakannya padaku , aku akan mencari tahunya sendiri " ujar Meili yang sedikit merasa kesal karena di abaikan oleh Daniel.
Meili masih terus menatap ke wajah Daniel yang masih terdiam dengan menatap keluar jendela mobil , Daniel memang tidak menjawab apa yang terjadi padanya dan Mike , namun Meili cukup paham dengan wajah kakaknya , wajah yang menyembunyikan rasa kecewa.
" Sebaiknya kau pulang Meili , jangan biarkan mami sendiri dirumah " ucap Daniel tiba tiba.
" Untuk kali ini saja aku tidur di tempatmu , atau kau yang pulang kerumah " sahut Meili.
" Mami juga merindukanmu kak " lanjutnya dengan menatap kembali wajah Daniel.
" Aku membenci keadaan seperti ini , walau tak lagi bisa sama , tapi aku juga menginginkan kita yang dulu " ucap Meili begitu dalam.
Daniel menoleh dan melihat Meili yang menatap kosong kearah luar jendela , perasaan rasa bersalah kembali muncul , walau ia bukan penyebab dari semua kejadian pahit ini , tapi meninggalkan mami dan Meili berdua , cukup membuatnya merasa bersalah.
" Pak , kita pulang kerumah utama " pinta Daniel pada sopir , Meili segera menoleh dan menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Aku tahu kau tidak sekeras itu " ucap Meili yang langsung memeluk lengan Daniel dan menyenderkan kepalanya , Daniel tersenyum melihatdengan tingkah meili dan dengan hati yang sedikit menghangat.
****
" Hannah , ada apa dengan wajahmu ? , kenapa kau begitu tidak bisa di atur , aku sudah mengatakan berulang kali untuk menjaga makanmu " teriak seorang perempuan yang begitu marah pada perempuan yang duduk dengan wajah yang sedang di rias dengan make up.
" Aku tidak mau tahu , besok kau harus segera menemui dokter perawatanmu , dan buat wajahmu kembali seperti semula " lanjutnya lagi , Hannah masih diam tanpa menjawab sepatah kata pun .
" Apa kau mendengar Hannah ? " tanya perempuan yang berprofesi sebagai managernya itu , " tidak akan ada perusahaan yang akan mengontrakmu jika kamu tidak bisa menjaga tubuhmu , aku sudah bersusah paya untuk membuatmu seperti ini , dan kau harus mempertahankannya , kalau kau tidak ingin kembali ke flat kumuhmu itu " bentaknya lagi yang kemudian berjalan keluar dari ruangan .
tes " Air mata Hannah jatuh tanpa tertahan .
" Maaf aku karena merusak riasanmu Vale" ucap Hannah dan segera menghapus air matanya.
" Tidak perlu meminta maaf Hannah , aku sangat mengerti dengan perasaanmu " kata Vale yang menatap empati pada Hannah.
" Maafkan aku Hannah , aku tidak bisa berbuat apa apa setiap dia membentakmu " lanjut Vale dengan wajah yang menunduk.
" Tidak apa apa Vale , ini memang salahku , harusnya aku tahu diri tidak ada yang aku miliki , termasuk tubuhku sendiri , dan dia sudah bersusah paya untuk membuatku seperti ini " ujar Hannah dengan bibir yang ia paksakan untuk melengkung.
" Aku harap kau kuat Hannah " ucap Vale dengan memeluk tubuh Hannah dengan mata yang berkaca kaca , rasanya dia sendiri tidak akan kuat jika berada di posisi perempuan ini , yang hidup dengan aturan orang lain , termasuk untuk tubuhnya sendiri.
" Lanjutkan riasanmu , sebelum Alien itu kembali lagi dan mendapati kita seperti ini " ujar Hannah tertawa .
" Ceh , kau masih saja bisa tertawa setelah orang lain menyakiti perasaanmu " ucap Vale sambil menghapus sisa air matanya di pipinya.
" karena hanya itu yang bisa aku lakukan Vale" jawab Hannah lemah dengan menghela nafasnya pelan.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚