
Elin terlihat begitu gusar dan berulang kali melihat ke layar handphone dan kembali menutupnya lagi.
" Ada apa ? " tanya Meili , dan Elin dengan cepat menggelengkan kepalanya " kau berbohong Elin "ucap Elin tidak percaya.
" Aku hanya khawatir tentang desainku Meil , karena hari ini aku harus menyerahkannya " jelas Elin walau bukan itu alasan di balik ke gelisahan Elin yang sebenarnya .
" Benarkah ? , Mengapa begitu cepat ? "
" Aku yang menginginkannya , aku memilih untuk mengambil semester magangku lebih awal dan yang membuatku pusing sampai hari ini , aku masih belum memiliki tujuan di perusahaan mana aku harus mengajukan proposal magangku nanti " jelas Elin ,
Meili terdiam sesaat dengan otak yang berpikir " serahkan itu padaku , kau hanya perlu membuat proposal dengan benar dan kirimkan lampirannya padaku jika sudah selesai " ucap Meili dengan senyuman penuh arti.
" Benarkah ? , kau sedang tidak bercandakan Meil " kata Elin begitu senang " tentu tidak nona , percayakan semua padaku , kau hanya perlu menunggu pesan pemberitahuannya saja nanti "
" Kau memang terbaik Meili , tapi aku harus menunggu karena hasil desain ini yang akan menentukannya "ucap Elin yang kembali gusar karena kembali memikirkan hasil nilai desain ajuannya.
" Kau pasti bisa " ucap Meili tersenyum.
****
tok tok tok " suara ketukan pintu.
" Masuk " jawab Daniel yang terlihat begitu sibuk dengan layar computer di hadapannya.
" Selamat siang Tuan " ucap Reza seraya berjalan masuk kedalam ruang kerja Daniel.
Daniel melirik sebentar ke arah Reza dan kembali teringat kejadian memalukannya tadi malam " ada apa ? " tanyanya , dengan berusaha untuk tetap terlihat biasa saja di hadapan Reza , meski harus menahan rasa malu yang luar biasa.
" Ini profil orang orang yang anda butuhkan Tuan " kata Reza sambil memperlihatkan layar ipad ke pada Daniel " apa ini yang terbaik ? " tanya Daniel dan Reza mengangguk ,
" bawa mereka menemuiku " ucap Daniel setelah melihat satu persatu biodata orang orang yang akan bekerja dengannya.
" Baik Tuan "
" dan saya juga sudah mengerjakan semua yang anda minta tadi malam " jelasnya lagi,
" Apa ada kendala ? " tanya Daniel.
" Tidak tuan , hanya sedikit kewalahan dalam menanganinya karena terlalu banyak orang yang mengunggah berita itu di media , tapi anda tidak perlu khawatir , saya pastikan semua akan terselesaikan dengan cepat"
" Lakukan secepat yang kau bisa " ucap Daniel.
" dan saya sudah mengirim file penting yang harus anda baca untuk meeting kita nanti di Jepang " jelasnya lagi.
" Jepang " ulang Daniel dan Reza kembali mengangguk " itu sudah ada di jadwal anda Tuan " jelas Reza sambil menunjuk pada bagian ipad miliknya dan memperlihatkannya pada Daniel.
" Dua hari lagi " kata Daniel yang terlihat begitu terkejut,
" dan kita akan berangkat pada besok malam Tuan " jelas Reza.
" Kenapa begitu mendadak ? " tanyanya lagi , Reza menautkan kedua alisnya karena merasa bingung dengan sikap Daniel , sejak kapan bossnya ini begitu peduli dengan jadwal kerjanya , biasanya dia hanya akan mengikuti apa saja yang sudah di jadwalkan oleh Reza tanpa kembali bertanya seperti hari ini.
" Ini sudah terjadwal sejak satu bulan yang lalu Tuan "
" Kalau begitu pertemukan dengan cepat orang orang tadi padaku "
" Baik Tuan "
" Apa masih ada yang anda butuhkan ? " tanya Reza lagi.
" Tidak , pergilah " ucap Daniel dan Reza segera beranjak dari ruang kerja Daniel .
" Ini benar benar akan membuatku cemas , kenapa harus ada jadwal keberangkatan pada saat seperti ini " gumam Daniel begitu kesal.
****
" Apa dia begitu sibuk ? " gumam Elin yang sedang menatap layar handphonenya , tidak ada pesan Daniel yang masuk setelah terakhir kali berbicara lewat telepon tadi pagi.
" Apa Hannah sudah selesai dengan pekerjaannya ? " gumamnya lagi , ia sudah kembali ke apartemen dan merasa begitu bosan karena tidak tahu apa yang harus di lakukannya.
Berulang kali Elin mencoba menghubungi nomor telepon Hannah , namun tidak kunjung ada jawaban.
" Hannah kamu dimana ? ,
aku sudah menyelesaikan tugas kampusku lebih awal , sepertinya hari ini kita bisa jalan jalan tapi itu jika kau bisa " tulis pesan Elin yang di kirim pada Hannah.
Sambil menunggu pesan balasan dari Hannah , di rebahkan tubuhnya dan beberapa menit kemudian matanya sudah ikut terpejam di sertai suara dengkuran halus yang terdengar dari hembusan nafasnya.
****
" Hallo kak " jawab Meili pada panggilan telepon Daniel , " kau dimana Meili ? , apa Elin bersamamu ? " tanya Daniel yang terdengar begitu panik.
" Tidak , setelah mengantarnya pulang , aku langsung kembali kerumah , ada apa ? " tanya balik Meili yang ikut merasa cemas.
" Keadaan seperti ini , mana mungkin aku bisa tenang Meili "
" Baiklah aku akan ke apartemennya sekarang " kata Meili yang langsung beranjak dari aktifitas tidurannya " tidak perlu Meili , biar aku yang kesana , aku tidak akan bisa tenang sebelum aku sendiri yang memastikan keadaannya"
" Benarkah ? , apa itu tidak membahayakan " tanya Meili ,
" tidak , percayakan padaku "
" Baiklah , hubungi aku jika kau membutuhkan bantuan " ucap Meili sebelum sambungan telepon itu di akhiri oleh Daniel.
****
Mata Elin mengercap dan melihat keadaan yang begitu gelap dengan biasan sinar lampu yang menembus sela gorden kamarnya.
" apa sudah malam ? " gumamnya sambil menekan tombol on pada lampu yang berada di sisi tempat tidur.
" Ternyata aku sudah tertidur begitu lama " gumamnya lagi , setelah melihat jarum jam yang sudah menunjukan pukul delapan malam waktu Amerika , karena terakhir sebelum tertidur ia melihat jam masih menunjukan pukul tiga sore .
Drrrttt drttt " handphone Elin berdering , dan bibirnya tersenyum saat melihat nama contact pada panggilan video yang masuk.
" Hay " sapa Elin tersenyum dan mengarahkan camera handphone pada wajahnya.
" Apa kau sangat sibuk huh ? atau kau sudah melupakan kami di sini ? " cerca Green di balik panggilan video " kau sangat berlebihan Nyonya Senior " sahut Elin tertawa.
" Lalu apa yang membuat kau tidak menghubungi kami akhir akhir ini ? " timpal Amel yang baru saja bergabung bersama Green.
" wawwww , aku di keroyok oleh Nyonya Bernandes " kata Elin yang tidak berhenti tertawa , ia selalu saja merasa bahagia setiap melihat wajah dua manusia menyebalkan di balik panggilan videonya ini " maaf , setelah kembali dari Indonesia , aku benar benar sudah di sibukan dengan tugas desainku " jelasnya kepada dua sahabatnya ini.
" Ceh , kau begitu menyebalkan , mulai hari ini kau harus mengatur waktumu dengan benar dan masukan kami pada bagian jadwalmu , supaya setiap hari kau tidak lupa kalau harus menghubungi kami di sini " kata Green mengatur dan di ikuti anggukan oleh Amel.
" Akan aku coba lakukan , ternyata kalian lebih posesif dari yang aku bayangkan " ucap Elin kembali tertawa.
" ya itu karena kami sangat penting untuk hidupmu " jelas Amel percaya diri.
" Sedikit penting " ucap Elin ,
" oke fine , matikan panggilannya mel , dan blockir nomor teleponnya " kata Green kesal dan Elin semakin tidak bisa menahan ketawanya setelah melihat wajah kesal dari kedua sahabatnya ini " kalian tidak akan melakukan itu " katanya sambil berusaha untuk berhenti tawanya.
" Kau terlalu percaya diri "
" Itu tidak akan mungkin , aku sangat tahu kalau kalian berdua begitu menyayangiku " katanya begitu percaya diri.
" Itu dulu sebelum kau menjadi menyebalkan " sahut Amel.
" Aku tidak percaya " ucap Elin sambil mencebir bagian bawah bibirnya.
" Apa yang sedang kau lakukan ? , apa kau sudah makan ? " tanya Green.
" Aku baru saja bangun tidur , dan kalian harus menemaniku untuk menyiapkan makan malam " kata Elin sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur membawa serta handphone dengan panggilan video yang masih tersambung pada kedua sahabatnya.
" Hallo mama yin " sapa Naina yang menerobos masuk kedalam sorotan camera.
" Hay nak , astaga mama benar benar merindukanmu " ucap Elin yang begitu gemas saat melihat wajah cantik Naina " benarkah ? , tapi mama yin tidak pernah menelepon Naina " kata Naina begitu lucu.
" Bagus nak , marahin saja mamamu " kata Amel mengompori.
Elin menajamkan indera pendengarannya saat samar samar terdengar suara bel pintu " sepertinya ada yang datang " kata Elin pada Green dan Amel " siapa ? " tanya Green.
" Aku juga tidak tahu , tunggu sebentar , aku harus melihatnya " kata Elin dan meletakan handphonenya di atas meja.
" Tunggu sebentar " teriak Elin karena suara bel pintu yang berulang kali terdengar.
" Siapa yang datang ? " gumamnya sambil terus berjalan menuju pintu.
" Kenapa begitu tidak sabar " katanya lagi karena bel pintu terus berbunyi ,
Ia berjalan begitu cepat dan segera membuka pintu apartemennya.
" Kau benar benar membuatku khawatir " ucap seseorang yang langsung memeluk tubuh Elin.
" Jangan melakukan ini lagi , aku mohon , aku benar benar tidak bisa bernafas legah karena begitu khawatir padamu " katanya lagi dan memeluk Elin semakin erat.
Elin terdiam dengan tubuhnya sudah terkurung dalam pelukan seorang laki laki.
Namun bibirnya tersenyum dan tanpa sadar tangannya membalas pelukan Daniel , rasanya begitu legah, kalau sekarang ada seseorang yang begitu khawatir tentang keadaannya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚