Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Gugup


Mobil Green baru saja berhenti di sebuah butik ternama di Jakarta , dan tanpa menunggu ketiga perempuan itu segera masuk ke dalam melewati pintu kaca besar yang baru saja di buka kan untuk mereka , " selamat datang nona nona cantik " sapa laki-laki dengan tangan yang bergerak gemulai.


" Apa yang bisa kami bantu ? " tanyanya lagi.


" Kami ingin mencari satu kebaya untuk sebuah acara lamaran dan dua kebaya untuk pengiring calon mempelai " jelas Green.


" Boleh aku tahu warna apa yang di inginkan ? "


" Warna apa Lin ? "


" Emmm.. warna biru muda , ya sepertinya warna itu cukup cocok untuk malam ini " sahut Elin.


" Good aku juga setuju " timpal Amel di sertai kepala yang ikut mengangguk , sementara laki-laki di hadapannya sudah berjalan mencari kebaya yang sesuai dengan keinginan mereka , " Apa ibumu sudah mempunyai kebaya untuk nanti malam ? " tanya Green di sela tatapannnya pada kebaya-kebaya cantik yang terpajang di hadapan mereka ,


" Tentu sudah Green , bahkan dia sudah menyiapkan itu saat aku masih berada di New York "


" Benarkah , sepertinya ibu yang paling tidak sabar menunggu hari lamaranmu "


" Itu benar sekali " sahut Elin tertawa.


" Hallo nona , aku membawa tiga contoh kebaya yang mungkin anda suka " ucap laki-laki gemulai yang kini sudah kembali dengan menenteng kebaya berwarna biru muda , dan ia berbicara menghadap pada Green , " maaf bukan aku calon pengantinnya " kata Green sedikit menghindar.


" Oh maaf aku kira anda , jadi siapa calon pengantinnya ? "


" Saya " sahut Elin sedikit mendekat.


" Aku memang sudah yakin dari awal kalau calon pengantinnya adalah anda , tapi karena teman anda yang tadi berbicara jadi aku pikir itu dia " kata laki-laki itu tersenyum.


" Benarkah ? " timpal Amel , " dari mana anda tahu kalau calon pengantinnya adalah dia ? "


" Tentu saya tahu nona , ada banyak calon pengantin yang datang kemari dan aku cukup mahir melihat aura mereka " jelas laki-laki itu dengan jari jemari lentik yang ikut bergerak.


" Emm.. anda sedikit terdengar seperti para normal " balas Amel , membuat Green dan Elin langsung saja tertawa " berhenti menggodanya Mel " ucap Elin lalu berjalan mendekat pada lelaki di hadapannya , " boleh tahu nama anda ? " tanyanya sambil mengulurkan tangan.


" Jesi , panggil aku jesi nona "


" Oh baiklah Jesi , aku Elin dan ini dua sahabatku Amel dan Green " kata Elin sambil memperkenalkan kedua sahabatnya , " mohon bantuanmu " ucapnya lagi.


" Tentu nona "


" Kalau begitu beri saran kepadaku Jesi , di antara ini kebaya mana yang cocok untukku " pintanya dan laki-laki gemulai itu dengan cepat melihat pada kebaya yang ia pegang lalu kembali melihat pada Elin.


" Ini , sepertinya ini cocok di tubuh anda dan begitu sangat anggun saat anda menggunakannya nanti " katanya sambil menunjuk pada kebaya modern dengan model atas yang sedikit terbuka untuk memperlihatkan kedua sisi bahu bersama payet-payet cristal yang membuatnya tampak elegant.


" Pilihanmu tepat Jesi , aku juga menyukai yang ini " ucap Elin setuju.


" Kalau begitu cobalah Nona , supaya kau bisa memastikan kalau kebaya itu memang pilihan yang tepat untuk acaramu nanti malam "


" Lisa , tolong temani nona ini untuk mencoba kebayanya " ucap Jesi pada salah satu pelayan yang berada di dalam tokoh.


" Lalu bagaimana dengan kami Jesi , apa kau punya saran ? " tanya Green dan laki-laki itu mengangguk


" Tentu , tunggu sebentar " ucap Jesi yang tidak lama telah kembali dengan dua contoh kebaya di tangannya , " aku punya dua pilihan untuk kalian tapi jika kalian menyukai pilihanku , aku memilih kebaya ini " tunjuknya pada satu kebaya dengan warna yang senada dengan kebaya Elin dan bentuk leher yang sama , yang berbeda hiasan mereka hanya sedikit lebih sederhana dari kebaya yang akan di gunakan Elin nanti


" Kebaya ini begitu manis untuk kalian berdua yang akan berada di sisi sahabat kalian nanti "


" Ya , aku setuju " kata Green dan Amel juga ikut mengangguk.


" Kalau begitu cobalah " kata Jesi dan dua perempuan itu tentu tidak akan menolak.


~


Mobil Green kini telah kembali ke dalam pekarangan rumah Elin , dan mereka turun dengan beberapa tentengan di tangan mereka masing-masing.


" Melakukan ini saja rasanya begitu lelah " keluh Elin dengan sedikit menghela nafas.


" Ya padahal kau bisa hanya duduk di rumah dan membiarkan desainer yang datang dan memberi saran padamu " ucap Green tertawa , " bukan Elin namanya kalau tidak menyusahkan dirinya sendiri Green " sambung Amel , membuat sang pemilik nama langsung mencebir bibir bawanya.


" Aku bukan menyusahkan diri , hanya saja pasti sangat menyenangkan saat memilih baju lamaran ini bersama kalian " jelas Elin dengan sedikit membuat wajahnya cemberut


" Ceh , ya ya kami juga tentu sangat senang turut andil dalam hal ini , sekarang istirahatlah malam nanti kami akan kembali "


" Hemm.. "


" Kau memang selalu berlebihan , pergilah Nyonya nonya muda dan sampaikan salam rinduku pada calon suamiku " balas Elin tertawa.


" Ceh " desis kedua sahabatnya.


" Katakan maaf pada Ayah dan Ibu karena kami tidak bisa lagi mampir "


" Hemm.. "


" Bye Elin , sampai bertemu nanti malam " ucap Amel.


" Bye , berhati-hatilah " balasnya.


" Telepon kami jika kau membutuhkan sesuatu " teriak Amel dengan mobil yang kembali berjalan.


" Ya "


" Jangan gugup " teriaknya lagi.


" Ya cerewet " sahut Elin tertawa sambil tetap menunggu sampai mobil yang membawa kedua sahabatnya itu menghilang dari pekarangan rumahnya.


~


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Elin sudah terlihat begitu cantik dengan


wajah yang sudah di rias dengan sebegitu indahnya ,


kebaya yang ia pilih siang tadi menjadi pilihan yang tepat untuk tubuh langsingnya dengan pilihan warna yang begitu cocok.


Ia nampak begitu gusar sambil menatap wajahnya di hadapan cermin , rambut yang di bentuk dengan begitu indah membuatnya nampak jauh berbeda malam ini , " kenapa tubuhku rasanya bergetar " gumamnya begitu nervous.


" Kemana mereka ? " lanjutnya menanyakan dimana keberadaan dua sahabatnya yang belum kunjung datang.


Klek " pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Elin segera melihat ke arah suara , " Ibu " panggilnya saat melihat Mala yang masuk dari balik pintu.


" Kau begitu cantik nak " ucap Mala tersenyum.


" Benarkah ? , tapi rasanya aku sulit bernafas bu "


" Kenapa ? apa bajunya terlalu sempit hemm "


" Tidak bu , tapi rasanya aku sulit bernafas " jelas Elin yang akhirnya membuat Mala tertawa , " kau hanya begitu gugup nak " katanya menjelaskan , lalu tangannya memegang jari jemari putrinya , " jangan gugup semua pasti akan berjalan lancar " ucapnya tersenyum dan Elin mengangguk.


" Ibu mau kemana ? " tanya Elin saat melihat Mala terlihat ingin beranjak dari dalam kamar , " tentu ibu harus berada di bawah untuk menyambut keluarga calon suamimu nak "


" Lalu bagaimana dengan aku bu "


" Tetaplah disini , dan duduk dengan manis sampai calon suamimu datang "


" bu aku benar-benar gugup "


" Tenanglah nak , apa yang harus kau khawatirkan hemm , wajahmu sudah sangat cantik dan bajumu juga sangat bagus , apa lagi yang membuatmu gunda "


" Sepertinya aku tidak sabar ingin melihat calon suamiku bu " sahutnya sedikit tertawa , membuat Mala sedikit terkejut , " Ibu juga tidak sabar ingin bertemu dengan calon mantu ibu itu " katanya ikut tertawa , lalu kembali bergerak untuk beranjak.


" Bu " panggil Elin yang membuat wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya , " ada apalagi nak , sabarlah sebentar lagi calon suamimu akan datang "


" Bukan itu bu.. "


" Lalu ? "


" emm.. ibu sangat cantik malam ini " puji Elin ,membuat Mala langsung tersipu , " tentu ibu juga harus cantik untuk berada disisi anak ibu yang cantik " balas Mala tertawa.


" Sudah ya jangan lagi membuat ibu tetap disini , duduklah dengan tenang sebentar lagi Green dan Amel juga akan datang disini untuk menemanimu nanti "


" Ya ibu "


" Ingat jangan gugup , nanti kau terlihat jelek " ucap Mala sebelum benar-benar meninggalkan putrinya.


Elin menghela nafas begitu dalam , " astaga kenapa jantungku menjadi berdegub seperti ini " katanya sambil memegang pada bagian dada kirinya , "baru acara lamaran saja aku sudah gugup seperti ini bagaimana di hari pernikahan nanti " keluhnya sambil menggenggam erat kedua tangannya yang sedikit bergetar.


" Ini lagi kemana dua perempuan itu , tidak tahu kah kalau sahabatnya ini sudah hampir pingsan " geramnya sedikit kesal karena kedua sahabatnya yang belum juga datang menemaninya.