Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Terimakasih Tuhan ( Viona )


Pagi ini, Viona hampir saja menangis, kalau saja tidak ia tahan setengah mati.


Di tengah, kedua tangannya yang saling bergandengan dengan dua perempuan kesayangannya. Mereka berjalan menelusuri lorong menuju pintu depan.


Meili dengan celotehannya, begitu pun Elin. ia terlalu begitu senang. Pagi ini, tidak pernah menjadi harapannya, meski ingin. Ia tidak bermimpi, Tuhan memberikannya lagi kehidupan yang indah. Sungguh puluhan tahun yang ia lewati, ia hanya sekedar bertahan. Demi, hal-hal sederhana. Seperti, ingin melihat putranya menikah, dan itu sudah terjadi. Dan kini, demi melihat putrinya. Tapi, di tengah penantian itu, Tuhan, memberikan hadiah kesabaran yang luar biasa. Contohnya pagi ini. ia tidak pernah bermimpi bisa saling bergandengan tangan dengan putri, dan menantu kesayangannya. Sementara Daniel dan Reymond. Saling bicara serius di belakang mereka, dengan menggunakan pakaian Jas warna senada, Biru Coral. Padahal itu tidak pernah di rencanakan. Mereka saling terkejut, ketika bertemu di meja makan pagi ini. Lalu semua orang tertawa. Bahkan Meili, tak henti menggoda dua laki-laki gagah di rumah mereka itu. Katanya, seperti buah manggis di belah dua, tapi bagian Reymond isinya sedikit busuk. Ujarnya, membuat semua orang kembali tertawa, begitu pun Reymond. Dan beberapa pelayan, yang selalu berdiri di sisi meja makan besar mereka.


Dan pagi ini. Elin tak henti mengatakan, suami dan Ayah mertuanya begitu mirip. Kalimat itu, tercetus lebih dari lima kali, dari bibirnya. Ia benar-benar baru menyadari pagi ini. Kalau Daniel menuruni hampir sembilan puluh lima persen dari wajah Ayahnya. Lima persennya, hanya perbedaan dari besar cuping hidung yang mereka miliki. Hidung Reymond, lebih ramping dari milik Daniel. Sementara sisanya tak ada perbedaan sama sekali. Mata biru kelabu yang sama, hanya saja sinar milik Reymond lebih sedikit meredup karena usia. Mereka memiliki cekung bola mata yang sama. Dan garis senyum yang sama. Benar-benar sama. Elin menyadarinya pagi ini, di meja sarapan. Dua laki-laki itu duduk bersisihan di sana. Awalnya ia berpikir, mungkin kesamaan itu karena warna baju yang sama. Atau mungkin karena dua laki-laki itu, sama-sama memangkas jambang lebatnya pagi ini. Seperti itu di pikirannya. Tapi setelah mendengar ucapan Meili, yang menggoda dua laki-laki itu. Dirinya menjadi memandang lekat pada keduanya, dan tidak menemukan perbedaan yang mencolok. Tawa mereka sama, bahkan gerakan tangan mereka ketika membawa makanan ke dalam mulut pun sama. Dan matanya membesar saat itu, seperti menemukan bagian fuzzle yang hilang. " Mam, kenapa mereka begitu mirip ? ", pekiknya tanpa sadar. Viona langsung tertawa. " Kau pasti baru menyadarinya ya. Mereka memang sangat mirip.. ".


" Perbedaan mereka hanya di kerut saja", kata Meili menimpali, sebelum Viona selesai bicara. Dan semua orang mengulum bibirnya untuk tidak tertawa, agar tidak membuat Tuan besar di rumah itu kesal karena pasal sedikit garis kerut di wajahnya. Meski kenyataannya, Reymond selalu tersenyum, ketika putrinya mengungkit satu-satunya kekurangan di wajahnya itu." Mami tidak kebagian apa-apa di wajah suamimu ", katanya, sambil memandang ke wajah Daniel.


" Aku menuruni kebaikan hati, dari Mami ", kata Daniel menyambung. Dan saat itu juga bibir Meili bergerak mencebir. " Dusta. Seratus persen dari tubuhmu menuruni Papi. Baik hati katanya. Kau itu pria yang arogan, setelah bertemu Elin baru kau berubah ", katanya. Mata Daniel sudah membesar padanya. Saat di kira Elin akan terkejut, tapi semua orang salah. Perempuan itu justru mengangguk-angguk. " Kau tidak terkejut ? ", celetuk Meili padanya. Dan dia menggeleng. " Dia lelaki yang dingin saat pertama kali aku bertemu dengannya ", katanya mengulas masa lalu.


" Hei jangan lupa. Aku yang pertama kali menyapamu saat itu ", pekik Daniel menepis. Elin terdiam sejenak, bepikir. ", tidak, kau tidak ada menyapaku. Kita di perkenalkan saat itu ".


" Bukan saat itu. Tapi saat pertama kalinya kita bertemu ".


" Di Lombok ", tambahnya, agar istrinya lebih cepat mengingat maksudnya. " oh iya, benar. Dia yang mengajakku berkenalan ", kata Elin setelah teringat hari itu. Ia semula tertawa, lalu perlahan garis bibirnya meredup, ketika mengenang bagian lebih dari hari itu. Beruntungnya Meili, cepat menimpali obrolan lain. Sehingga kenangan sekelibat yang masuk dalam pikirannya, membuyar.


" Kau itu jangan mengelak Daniel. Seratus persen tubuhmu itu copy paste Papi ", kata Meili, " iyakan Mami ", sambungnya mencari pembenaran. Dan Viona mengangguk.


" Siapa yang mengelak. Jauh lebih baik wajah aku yang menuruni papi. Dari pada kau, setengah Papi setengah Mami ". Kata Daniel tak mau kalah.


" Mam ", pekik Meili tidak terima. Tapi Viona justru tertawa. Wajah Meili memang unik. Hidung dan Matanya sama seperti Reymond. Tapi, bibir dan bentuk wajahnya seperti Viona. Kalau kata keluarga Viona. Bule Jawa, tapi Meili sangat manis dengan wajah uniknya.


" Ya ya, kau beruntung mirip Papi. Asal jangan perselingkuhannya juga kau turuni ", kata Meili tanpa sadar. Dan saat itu, suasana meja makan menegang, dan Meli menyesali ucapannya. Viona mendapati wajah Reymond yang langsung seketika meredup. Namun, sekejap kembali tersenyum. Viona mengetahui, lelaki itu pasti setengah mati, menahan untuk tidak marah saat itu. Dan meredam kemarahannya dengan sangat baik.


" Maaf papi. Aku sungguh tidak bermaksud ", ucap Meili.


" Kau benar ", katanya menjeda, " sifat itu memang tidak boleh di turuni ", katanya lagi, seraya tersenyum. Dan senyumnya berhasil membuyarkan ketegangan sementara di meja makan. Saat itu, Viona sangat takut, kalau lelaki itu akan meneriaki putri mereka. Tapi itu tidak terjadi, dan berhasil membuat relung hatinya menghangat. Reymond berhasil membuatnya terpukau. Seperti awal-awal mereka bertemu puluhan tahun yang lalu. Pembicaraan yang kaku, dan saling malu untuk mulai bicara, persis seperti saat dulu, saat perasaan cinta baru mulai tumbuh di antara mereka.


" Mam kami berangkat dulu ", pamit Elin. Dan ia orang pertama yang mencium punggung tangan wanita itu, lalu bergantian pada Reymond. " Papi, kami pergi dulu ", katanya, sambil mengambil tangan lelaki itu, lalu mencium punggungnya. Reymond masih terkesiap. " sampai bertemu nanti Mam, pi ", katanya lagi, seraya mulai bergerak menuruni bagian akhir dari anak tangga, sebelum sampai di mobil yang sudah di siapkan untuknya dan Daniel.


" Sayang kau tidak menungguku ", pekik Daniel. Seraya bergegas mencium punggung tangan Reymond dan Viona. Dua manusia itu masih terhenyak oleh sikap sopan menantunya, dan kini Daniel menambahkannya lagi. Dan saat itu, bibir Viona semakin merekah oleh senyuman senang. Begitu senang karena mendapatkan menantu yang begitu sopan, yang akhirnya di ikuti oleh putranya. Meili benar, lelaki itu banyak berubah, semenjak bertemu Elin


Dan Viona tak pernah menyangkalnya. Sikap lembut Daniel ada, semenjak perempuan itu ada.


" Sekarang aku tahu sebabnya, kenapa kau begitu menyukai menantu kita itu ", kata Reymond tersenyum, dan Viona tersenyum.


" Kalian tidak menungguku huh ", pekik Meili, sambil ikut bergegas. Dan mengikuti sikap Elin pagi ini. Mencium punggung tangan Viona dan Reymond bergantian, sebelum berlari menuju mobilnya, yang juga sudah di siapkan.


" Arah kita berbeda ", balas Daniel berseru.


" Tetap tunggu aku. Kita berpisah di gerbang depan sana ", kata Meili bersikukuh. " Kami berangkat Mam, Pi ", pamitnya. Yang lagi-lagi mengikuti gaya bicara sopan Elin. Perempuan itu seperti dewi di keluarga Remkez. Mengajarkan banyak kebaikan.


" Siap ", balas Meili, sambil mengangkat tangannya ke bagian pelipis. Lalu tertawa, " bye Mam. Pi ", serunya lagi, sebelum masuk ke dalam mobil. Dan berpamitan seperti gayanya.


Elin masih melambaikan tangan pada Viona. dan Daniel mengikutinya. Viona dan Reymond mengangguk seraya tersenyum. Begitu lucu melihat Daniel, mengikuti sikap sopan istrinya.


Mereka masih berdiri di ujung tangga,sampai mobil yang membawa Meili dan sepasang pengantin baru, menghilang dari penglihatan mereka. " Kau tidak apa sendiri ? ", kata Reymond tiba-tiba. Viona yang masih memperhatikan punggung mobil anak-anaknya terkesiap. " aku biasa sendiri ", katanya menyahut. Wajah Reymond sedikit layu saat itu. " maaf karena membiarkannya ", katanya penuh sesal. Terlihat dari pancaran matanya, dan ia menunduk sesaat.


Viona membenarkan dasi yang melingkar di kera kemeja lelaki itu. Meski saat itu, tangannya bergerak kaku, dan ia memberanikan diri melakukannya. " Kau pulang jam berapa ? ", tanyanya hampir terbata-bata. Tapi ia buat senormal mungkin. Hatinya berdegub kencang. Lucu memang, di umur yang tak muda, tapi ia merasakan jantung yang berdegub, seperti pertama jatuh cinta dulu.


" Belum tahu Sayang ".


Deg


Jantung Viona seperti mau meloncat dari tempatnya. Kata sayang untuknya dari mulut lelaki itu, terlalu lama tidak pernah ia dengar. " Nanti siang, aku dan Daniel akan meeting bersama ", kata Reymond melanjutkan, dan Viona terkesiap karena hal itu. Pagi ini seperti hari yang baru untuknya. Semua kejadian seperti pertama kalinya terjadi, dan pertemuan Reymond dan Daniel di meja meeting, pertama kali terjadi. Setelah perseteruan dingin yang selama ini terjadi di antara mereka. Dan lagi-lagi relung hati Viona menghangat. " benarkah ? ", tanyanya berseru. Bibir Reymond ikut tersenyum, melihat bibirnya merekah. " Kau pasti sangat senang hari ini ",katanya. Viona tak menjawab, juga tak menangguk. Tapi senyumnya semakin merekah.


" Kalau aku tidak pulang terlalu malam. Bagaimana kalau kita Dinner nanti malam ", ucap Reymond ragu. Bukan ragu atas ajakannya, tapi ia ragu bicara, dan di tolak mentah-mentah oleh Viona. Tapi nyatanya, wanita itu mengangguk. " jika tidak buru-buru ", katanya.


" Tapi kalau aku terlambat pulang. Kau tidak akan marah ? ".


Viona menggeleng. " asal beri kabar padaku ".


" Pasti ", balas Reymond mengangguk dengan tegas. " walau terlambat aku pasti akan pulang ", katanya sambil mengecup puncak kepala Viona tanpa pamit. Dan sejenak tubuh Viona kaku.


" Sampai bertemu nanti ", pamitnya, dan saat itu, Viona hanya bisa tersenyum, tubuhnya masih kaku, karena ciuman di dahinya.


Tubuh Viona masih berada di tempatnya, meski mobil yang membawa Reymond sudah menghilang dari pekarangan rumah. Kalau bukan karena Jamie menyapanya, mungkin dia masih akan berada disana sepanjang hari.


Pagi ini terlalu mengejutkan untuknya. Suasana kebahagiaan yang terjadi, belum bisa ia anggap kenyataan. Semuanya masih seperti mimpi. Kembalinya Kehadiran Reymond di tengah mereka, sesuatu hal yang masih sulit di percaya. Dan ia lebih tak percaya akan kembali mengalami pagi ini. Mengantar kedua anaknya ke ujung pintu depan, sebelum mereka berangkat. Dan mendengar ucapan Sampai bertemu nanti* dari Reymond, sebelum dia pergi ke kantor. Dan Kecupan di dahinya, benar-benar bonus tak terduga. Dulu, sebelum cobaan besar itu terjadi di antara mereka. Reymond bukan juga orang yang romantis. Setiap pagi, ia selalu pergi dengan tergesa-gesa. Sangat jarang, untuk sempat mengecup ujung kepala Viona, karena di himpit oleh waktu meeting. hanya kata sampai bertemu nanti, yang selalu ia layangkan pada Viona, sebelum mobilnya bergerak, dan menghilang dari hadapan wanita itu. Jadi ciuman pagi ini, sesuatu bonus yang luar biasa untuknya.


" Terimakasih Tuhan ", katanya tersenyum. Dan air mata yang ia tahan sejak tadi. Menetes saat itu. Ia terlalu bahagia, pada kejutan yang Tuhan berikan padanya pagi ini.


Hello My Readers. Maaf baru bisa menyapa🤗


Berhubung lagi suasana lebaran, mohon maaf lahir dan batin ya☺️. Maafkan author yang penuh dosa ini, karena sering hiatus hihihi🙏 semoga kalian selalu sehat dimana pun. Dan terimakasih, karena tetap setia dengan cerita Merlinda. i love you all🤗


Sary Bhieltha❤️


Yuk follow ig author @Sarybhieltha.


Besok malam, pukul 20.00 author mau bikin QnA, nanti kita obrolin tentang dua novel Author yang sedang on going di Noveltoon ya. Kalian bisa ngelimpahan unek-unek kalian disana 😌, sekalian kita silahturahmi, see you🤗