
" Ini kotak makan anda Nona " kata Emily pada perempuan yang sedang berjalan kesana kemari dengan tergesa-gesa , " Terimakasih Emily , kau benar benar sangat membantu " ucapnya seraya mengambil kotak makanan , " tas anda Nona " tanya Jordan dan Elin memutar cepat langkahnya menuju meja hias dimana ia meletakan tas yang membawa perlengkapan kerjanya.
" Aku pergi dulu " pamitnya lagi.
" Pastikan tidak ada yang anda lupakan nona " sambung Jordan dan Elin membuka tasnya memastikan tidak ada benda yang ia lupakan.
Drrrrttt drrrrttt " suara dering handphone di atas meja , " untung kau berbunyi , kalau tidak aku akan lupa membawanya " kata Elin berjalan cepat menuju letak benda pipihnya yang masih berdering , " Aku pergi dulu " pamitnya lagi dan kembali berjalan menuju pintu sambil mengarahkan handphone di telinganya , " Hallo " jawabnya sambil melangkah setengah berlari menuju pintu lift , sebenarnya ia belum terlambat namun untuk hari pertama ia ingin memberikan kesan yang baik untuk datang lebih awal , namun waktu yang tersisa tinggal 45 menit menuju jam masuk kerjanya dan ia harus bergerak lebih cepat mengingat waktu yang akan berkurang di perjalanannya nanti.
" Kau dimana ? " tanya seseorang di balik telepon , dan seperti kebiasaan Elin , ia selalu menjawab telepon tanpa melihat siapa nama kontak yang tertera di layar handphonenya ,
" aku sedang berada di lift sayang " jawabnya tanpa harus kembali memastikan siapa yang menghubunginya , karena ia sangat mengenali suara berat yang sedang berbicara di balik telepon , " Mau kemana sepagi ini ? " tanya Daniel dengan kedua alis yang bertautan , " apa aku belum cerita padamu kalau hari ini hari pertamaku mulai magang "
" Tidak , bahkan kau sangat sibuk sejak kemarin " jawab Daniel menyindir , karena setelah pulang dari perkenalannya bersama Laurent , Elin sudah begitu sibuk untuk mempersiapkan apa yang akan ia bawa dan ia gunakan untuk di hari pertama ia magang , dan itu cukup membuatnya tidak tenang seharian sehingga sedikit mengabaikan Daniel yang terus menunggu kabar darinya.
" Maafkan aku sayang , aku benar benar begitu sibuk " jelasnya.
" Terimakasih " ucapnya lagi.
" Untuk apa ? " tanya Daniel ketus , " kehadiran Jordan dan Emily benar benar membantuku " jelasnya , " Ya , memang untuk itu aku memperkerjakannya " sahut Daniel.
" Apa kau marah ? " tanya Elin karena mendengar jawaban Daniel begitu dingin , " Tidak , aku hanya kecewa karena ternyata aku bukan prioritasmu " ucap Daniel.
" Sayang bukan begitu , baiklah maafkan aku karena kemarin tidak memberi kabar padamu , tapi aku sungguh gugup untuk hari ini " katanya mencoba menjelaskan walau ia tahu kekasihnya itu akan tidak mengerti maksudnya , " apa susahnya sisakan waktumu untuk satu menit saja menghubungiku dan jelaskan kalau kau sedang begitu sibuk , dengan begitu aku tidak akan menunggu "
" Baiklah aku salah dan aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya " kata Elin melemah karena jika ia membela diri makan perdebatan itu tidak akan pernah berakhir dan sekarang gadis manja ini benar benar sudah menjelma menjadi wanita yang dewasa , " harus berjanji " ucap Daniel.
" Sayang , sebuah perjanjian harus di tepati dan aku takut suatu saat akan mengingkarinya dan kau akan kembali kecewa , jadi yang bisa aku lakukan hanya berusaha untuk tidak mengulanginya " .
" Kau memang tidak mengerti siapa kekasihmu dan tidak akan mengerti seberapa penting kabarmu untukku " ucap Daniel yang berbicara dengan nada kecewa , Elin menghentikan langkahnya sejenak , bahkan ia lupa dengan tujuannya dan berdiri di tengah Lobby yang di penuhi para pengunjung dan penghuni apartemen , " sayang aku sudah meminta maaf , tolong jangan menghancurkan moodku pagi ini " ucap Elin menarik nafas , " Baiklah maaf karena telah mengganggu pagimu " ucap Daniel dengan sambungan telepon yang langsung di hentikan secara sepihak olehnya , Elin kembali menghela nafas dan menyadari kalau ia sudah salah berucap , " Sayang , please maafkan aku dan bukan seperti itu maksudku , kau salah mengerti " tulis Elin dalam pesan yang langsung ia kirim pada Daniel.
" Kenapa aku berada di sini " ucapnya sambil memperhatikan sebagian orang yang melihat ke arahnya , " Ada yang bisa kami bantu Nona ? " tanya pelayan apartemen yang menghampiri karena melihat Elin kebingungan , " tidak , terimakasih " ucapnya , lalu segera memutar langkah kakinya menuju pintu lift yang akan membawanya menuju area parkir.
Ia masih terdiam sesaat menatap mobil pemberian kekasihnya dengan wajah penuh kebingungan , " apa tidak akan berlebihan jika aku membawa ini ? " gumamnya , " sebaiknya aku menggunakan taksi " katanya lagi , lalu segera berjalan ke arah luar area parkir menuju jalanan umum.
****
" Selamat pagi Ms.Laurent , maaf aku sedikit terlambat " ucap Elin begitu sungkan walau jam masih menunjukan 13 menit menuju jam masuk kerja , " Santai Nona Elin , untuk hari pertama saya maafkan " ucap Laurent tersenyum , " tapi besok anda harus datang 15 menit sebelum jam masuk kerja kita , untuk dua menit hari ini saya maafkan " ucapnya lagi tanpa memudarkan senyumannya , " duduklah sebentar disini , setelah itu kita akan berkenalan dengan rekan rekan kerja anda nanti " jelas Laurent dan Elin mengangguk.
Elin dan Laurent baru saja tiba di sebuah ruangan berukuran 12x8meter yang di penuhi empat meja kerja yang saling berhadapan , namun hari ini menjadi lima meja karena satu penambahan yang baru di letakan pagi ini dan ruang meeting kecil yang di pisahkan oleh dinding kaca , semua orang terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya masing masing tanpa menyadari kalau ada dua perempuan yang sedang berdiri di ujung ruangan.
" Kalian tentu sudah melihat kalau pagi ini ada penambahan meja kerja di ruangan kalian .. "
" Apa wanita cantik ini yang akan menjadi rekan kerja kami Ms. Laurent ? " sambung seorang laki laki yang tersenyum semuringah ke arah Elin .
" Bisakah kau menahan diri saat melihat perempuan cantik " sambung teman perempuannya dengan begitu kesal , " hentikan " teriak Laurent .
" Nona Merlinda silahkan memperkenalkan diri anda pada empat orang yang akan menjadi rekan kerja anda nanti " perintah Laurent dan Elin melangkah dengan begitu gugup , " panggil saja aku Elin " ucapnya pada satu perempuan yang berdiri paling dekat dengannya " Kasih " balas perempuan bertubuh tinggi dengan potongan rambut Bob , " akhirnya aku memiliki teman disini " ucapnya dengan tersenyum begitu senang menyambut Elin , " Semoga kita menjadi rekan kerja yang baik " ucap Elin dan membalasnya dengan senyuman yang tak kalah hangat , " tentu Nona Elin " .
" Frans " ucap laki laki yang kini sedang menyambut uluran tangan Elin dengan tersenyum , ia laki laki yang biasa saja , tidak berlebihan dalam apapun , dari mulai wajah hingga dalam pekerjaannya , yang tidak pernah menonjol namun tidak pula mengecewakan.
" Bimo kau bisa memanggilku Bimbim " ucap tidak sabar laki laki saat tangan Elin beralih kearahnya , ia laki laki dengan mulut perempuan , begitu cerewet namun bisa tegas selayaknya laki laki , ia memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi namun wajahnya cukup tampan dengan kumis tipis di atas bibirnya , " Senang bertemu dengan anda Nona cantik " katanya lagi , dan satu lagi kebiasaanya adalah suka menggoda perempuan perempuan cantik yang berada di kantornya , terkecuali Kasih , teman dekatnya dan sekaligus musuhnya.
Elin hanya tersenyum menanggapi godaan Bimo , lali melepas tangannya yang masih di rengkuh begitu erat oleh laki laki itu , " lepaskan tangannya Bim " ucap tajam Kasih , sambil menepuk pelan tangan Bimo.
Elin menelan ludah saat ingin mengulurkan tangannya pada laki laki yang berdiri paling akhir , " David " ucap laki laki itu dan tanpa tersenyum ke arahnya , begitu dingin namun membuatnya sangat mempesona , walau pesonanya tidak akan pernah mengalahkan seorang Daniel Remkez , namun selama berada di kantor cabang , Elin belum menemukan laki laki yang lebih tampan dari David.
" Mohon bantuannya " ucap Elin saat kembali berdiri di sisi Laurent.
" Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik , dan Nona Elin anda bisa bertanya jika memang ada yang tidak di mengerti " jelas Laurent dan Elin kembali mengangguk.
" Aku seperti pernah bertemu denganmu " ucap Kasih pada Elin setelah Laurent pergi dari ruangan mereka .
" Ya kau benar , wajahnya seperti tidak asing " sambung Bimo "
" Mungkin wajahku mempunyai banyak duplikat " sahut Elin bercanda dan berjalan menuju meja kerjanya.
" Ya , aku pernah mendengar Mitos kalau di dunia ini ada tujuh wajah yang sama dengan wajah kita , mungkin kau benar aku pernah melihat duplikat wajahmu di belahan tempat lain " sambung Bimo , " tapi aku merasa seperti baru saja bertemu denganmu " ucap Kasih yang masih menatap lekat wajah Elin.
" Kita memang baru saja bertemu Nona Kasih " ucap Elin tertawa , " ya kau benar " sambung Kasih tertawa di ikuti semua orang yang berada di dalam ruangan , terkecuali David yang terlihat sudah fokus dengan pekerjaannya , " aku begitu senang kau ada , karena akhirnya aku memiliki teman " ucap Kasih lagi , " apa kau tak menganggap kami temanmu Kasih " sambung Bimo tidak terima , " aku akan menampar mulutmu jika kau kembali berbicara " ucap Kasih kesal membuat Elin tertawa karena tingkah dua manusia yang baru saja menjadi teman kerjanya itu.
" Bisakah kalian diam ? " ucap David begitu dingin , membuat semua orang membungkam mulutnya termasuk Elin , namun saling melempar pandangan dengan menahan mulutnya untuk tertawa.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚