Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Jodoh Siapa Yang Tahu


• Di dalam kamar Meili


" Taraaaaaa " pekik Green dan Elin bersamaan.


" Kau sangat cantik Meili " lanjut Elin, wanita itu hanya berdelik sesaat ke arahnya lalu tersenyum.


" Ya kau benar-benar sangat cantik Meili " ulang Green.


" Jangan membuatku senang. Moodku tidak akan terlalu membaik hanya karena pujian berlebihan kalian ini " sahut Meili sedikit ketus, Namun lengkung bibirnya belum berakhir.


Di tatapnya kini, dirinya di hadapan cermin. Di dalam hatinya ia benar-benar memuji hasil tangan Green dan Elin yang membuat wajahnya terlihat berbeda malam ini, hiasan sederhana. Namun begitu manis di wajah indo miliknya.


" Kau suka ? " tanya Elin tiba-tiba, membuat Meili tersentak dari hadapan cermin.


" Hemmm.., sepertinya penampilan ini terlalu bagus untuk aku menghadap keluarga itu " balasnya sedikit tertawa.


" Tidak ada salahnya meninggalkan kesan terbaik, bukan " ucap Elin, sambil membenarkan rambutnya yang tergerai. Dress panjang berwarna Salem membuat dirinya benar-benar terlihat manis hari ini.


" Siapa tahu yang di jodohkan denganmu adalah lelaki yang sangat tampan Meili " timpal Green dengan tertawa kecil.


" Bukan masalah tampannya saat ini. Tapi aku sungguh belum ingin menikah Green dan aku ingin memilih jodohku sendiri " balas Meili, dengan menatap begitu serius.


" Berarti tidak ada salahnya kau menemui dia hari ini. Mungkin dia bisa menjadi salah satu pilihanmu nanti "


" Ceh " decih Meili dengan sedikit tertawa, lalu kembali menatap dirinya di hadapannya cermin.


" Terimakasih kakak ipar, Green " ucapnya bersungguh-sungguh, " aku seperti orang lain hari ini " lanjutnya.


" Seperti orang lain ? " ulang Elin dengan dahi yang sedikit mengerut.


" Hemmm.., Begitu cantik " jelasnya.


" Meili jangan membuatku ingin beralih profesi menjadi penata rias ya " pekik Elin tertawa, membuat kamar tidur yang semula begitu senyap kini di penuhi oleh gelak tawa mereka.


Ting


Sebuah pesan masuk ke dalam handphone Green. Dengan cepat ia menggapai benda pipihnya yang di letakkan di atas nakas.


" Mereka sudah datang, apa kalian sudah selesai ? " tulis pesan yang di kirim oleh Amel.


" Tepat waktu " seru Green tersenyum setelah membaca pesan singkat di dalam handphonenya.


" Apanya ? " sambung Elin penasaran.


" Mereka sudah datang " jelas Green dan sekejap kalimat itu berhasil merubah wajah Meili.


" Done. Katakan jika sudah waktunya kami turun " balas Green pada pesan Amel.


" Kau gugup Meili ? " tanya Elin yang kini menyadari perubahan wajah dari adik iparnya.


" Sedikit " sahut Meili, " ternyata tidak semudah yang aku bayangkan " tambahnya dengan tersenyum hambar.


Elin mendekat, lalu memegang lembut pundak calon adik iparnya, " Itu sangat wajar Meili, aku saja yang sudah begitu mengenal kakakmu, di hari lamaran kemarin masih saja aku gugup. Apa lagi kau yang belum pernah bertemu, jadi jangan khawatir itu sangat wajar " ucapnya, mencoba menenangkan wanita itu.


Ting


Pesan kembali masuk ke dalam hape Green.


" Kalian bisa turun sekarang " isi pesan yang masuk.


" Amel mengatakan kita untuk turun sekarang " ucap Green memberitahu, lalu mendekat ke sisi Meili, " jangan terlalu gugup, anggap saja ini hanya bertemu dengan orang biasa yang besok kau tak perlu mengingatnya lagi " katanya pada Meili dan perempuan itu sedikit mengangguk. Namun tanpa suara.


" Ayo " ajaknya lagi sambil berjalan menuju pintu lalu membukanya.


" Silahkan Nona Muda " ucapnya mempersilahkan Meili lewat lebih dulu, dengan tubuh yang sedikit membungkuk seperti yang biasa di lakukan oleh pelayan di rumahnya, dan hal itu membuat wajah gugup Meili sedikit mencair berganti dengan tawa kecil, " Kau memang tidak cocok menjadi pelayan Green. Wajahmu terlalu angkuh dan cantik " ucapnya, membuat mereka kembali tertawa.


" Ya aku juga merasa begitu " sahut Green, sambil menutup pintu lalu bergerak ke sisi kanan Meili. Sementara Elin sudah mengambil tempat di sisi kirinya, " ingat jangan terlalu gugup " ulangnya pada Meili.


Elin dapat merasakan tangan Meili yang semakin terasa dingin saat menuruni anak tangga, bagaimana tidak kini bersamaan semua mata yang berada di lantai bawah rumah itu, kini menatap ke arah mereka, " Tidak begitu ramai Meili jadi kau tidak perlu terlalu gugup " ucapnya kembali mencoba menenangkan.


Padangan Green tiba-tiba terkesiap oleh wajah yang tidak asing di matanya.


" Tunggu, Elin coba kau perhatikan ! " ucapnya yang membuat perempuan itu sedikit tersentak. Sementara Meili yang tengah menunduk, ikut mengangkat wajahnya.


" Apa Green ? "


" Apa aku tidak salah melihat bukan. Aku melihat Jerry di sana " jelasnya dan Elin dengan cepat mengamati wajah para tamu, di sela langkahnya menuruni tangga, " ya kau benar Green itu Jerry " ucapnya dengan mata yang membesar, " ada apa dia kemari ? " lanjutnya begitu penasaran. Sementara Meili kini tidak bersuara sambil perlahan matanya melirik ke arah para tamu.


" Oh My God " pekik Green tertahan, dengan Meili yang kini menatap lekat padanya.


" Ada apa ? " tanya Elin semakin panik.


" Tidak tidak , kita akan sama-sama tahu nanti " sahutnya dengan bibir yang tertahan untuk tidak tertawa.


" Jika tebakan ku itu benar. Memang sangat lucu takdir keluarga kita ini " ucapnya menggantung.


Kini mereka semakin dekat dengan orang-orang yang memang sudah menanti kedatangan mereka.


" Kemari nak " ajak Viona pada Meili, mengajaknya duduk di antara dirinya dan Reymond.


Sementara Green dan Elin tidak berhenti menatap pada laki-laki yang kini tersenyum penuh arti ke arah mereka.


" Mel ! " panggil Green mendekat, sambil memandang penuh tanya.


" Yap, apa yang kalian pikirkan itu benar " ucap Amel yang memang langsung menebak arti dari pandangan kedua sahabatnya.


" Huh " pekik Elin dan Green bersamaan, dan suara mereka cukup membuat semua orang melihat ke arah mereka.


" Kecilkan suara kalian " cercah Amel.


" Maaf maaf " ucap Elin sambil menutup mulutnya, berbeda dengan Green yang semakin penasaran, " kau yakin Mel ? ".


" Kita akan tahu nanti Green, tapi kau sendiri bisa melihat tidak ada laki-laki mudah disana kecuali Jerry " jelas Amel, " tidak mungkin Meili akan di jodohkan dengan lelaki tidak berambut itu " sambungnya berbisik sambil menunjuk laki-laki paruh baya yang berada di dalam rombongan tamu yang datang.


Dan itu membuat mereka hampir tertawa ngakak. Namun segera urung saat menyadari jika semua orang akan kembali melihat kearah mereka.


" Ingat kau sedang hamil Mel " ucap Elin menahan tawa.


" Amit amit cabang baby " ucapnya cepat sambil mengelus perutnya.


Tawa Elin langsung memudar saat kembali menyadari jika lelaki yang di jodohkan pada Meili ada Jerry, " jadi yang di jodohkan dengan Meili itu Jerry " tanyanya tak ingin percaya, " kita dengarkan saja ini. Tapi aku sangat yakin iya " sahut Amel. Mendengar itu tentu saja membuat Elin menarik nafas begitu dalam, karena tidak bisa di pungkiri, tidak ada alasan lagi untuk mengelak kebenaran di hadapannya, " ini gila " pekiknya tertahan, sementara Green semakin tertawa dengan mendekap mulutnya, " benar benar kocak takdir keluarga ini " ucapnya.


" Perkenalkan Karin, ini Meili putri aku dan Reymond " ucap Viona memberitahukan Meili kepada sahabat lamanya.


" dan Meili, ini Jerry..... "


Deg


Jantung Meili berpacu begitu cepat, bahkan sebelum Viona melanjutkan bicaranya, " putra tante Karin yang ingin kami jodohkan denganmu " lanjut Viona


Glek " Meili menelan paksa ludahnya, bahkan ia tidak punya keberanian untuk mengangkat wajahnya saat ini, " bagaimana bisa dunia sesempit ini huh " pekiknya di dalam hati.


Sementara dari arah tempat Elin, Green dan Amel, kini sudah mulai terdengar berisik bercampur suara tawa yang tertahan.


" Jerry dan nak Meili silahkan berjabat tangan " ucap Karin ibu Jerry dan itu membuat suasana semakin riuh.


" Selamat Jerry dan Meili " seru Green sengaja, membuat orang yang mengetahui langsung tersenyum, termasuk Viona, " Ternyata ini yang dinamakan Kalau Jodoh siapa yang tahu " tambahnya lagi, dengan setengah mati menahan tawanya.


Sementara dua orang yang kini menjadi pusat perhatian semua orang, hanya bisa terdiam kaku.


" Ayo Jerry " ucap Karin, yang kembali menyuruh anaknya memulai berjabat tangan.


" Kita bertemu lagi " ucap Jerry tersenyum, dengan tangan yang terulur kehadapan Meili.