
" Morning Vale , Morning Billy " sapa Hannah sambil menuruni anak tangga menuju meja makan , " Morning " sahut Billy dan Vale bersamaan.
" Kau terlihat begitu segar akhir akhir ini " ujar Vale menggoda Hannah.
" Ya , seperti menuju musim semi " sambung Billy , membuat Hannah yang mendengar menjadi tertawa , " sepertinya makanan ini belum membuat perut kalian kenyang " ujar Hannah berdelik.
" Lalu bagaimana dengan hubungan kalian , apa sudah berada di musim semi ? " balasnya tersenyum , Vale dan Billy hanya tersenyum dengan saling melempar tatapan , " makan , makananmu " ucap Vale meletakan piring berisikan roti coklat panas di hadapan Hannah.
" Apa kau mau menutupinya dariku ? " ucap Hannah menatap Vale.
" Jika aku menutupinya , dia tidak akan berada disini sepagi ini " sahut Vale tersenyum.
" Oh My God " teriak Hannah tiba tiba , " Jangan bilang kau sudah melamarnya ? " lanjutnya sambil memegang tangan kiri Vale dengan cincin yang terlihat begitu manis tepat di jari manisnya , " Kau terlalu peka " ucap Billy tertawa.
" Oh My God " ucapnya semakin tidak percaya , " Congratulation Vale " sambungnya memberi ucapan dan memeluk hangat tubuh perempuan itu ," aku benar benar terkejut dan sangat bahagia untukmu " ucapnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca karena merasa begitu terharu.
" Tunggu , apa kau hamil ? " ucap Hannah karena merasa ini begitu cepat terjadi , " tidak Hannah " jawab cepat Vale namun dengan senyum yang mengembang , " aku juga tidak percaya ini begitu cepat terjadi , tapi.. tapi aku tidak bisa untuk mengatakan tidak " jelas Vale begitu gugup , " Aku sungguh bahagia untukmu kakak " ucap Hannah kembali memeluk tubuh Vale , " Kakak " ulang Vale tersenyum.
" Ya , kau satu satunya saudara yang aku miliki "sahut Hannah sambil terlihat mengusap air mata terharunya , " apa itu berarti aku akan menjadi kakak iparmu " sambung Billy , membuat Hannah tertawa di balik tubuh Vale.
" Apa yang sudah kau janjikan kepadanya , hingga dia tidak bisa menolakmu ? " tanya Hannah begitu serius , " hidup bersama dan kebahagiaan " sahut Billy dengan penuh keyakinan.
" Ceh , kau memang selalu bisa membuat jawaban untuk mengalahkan aku "
" Apa itu berarti kau memberi restu ? "
" Apa restuku sangat penting ? "
" Sebenarnya tidak , tapi kakakmu begitu ingin mendengar jawabanmu , makanya di tidak memberitahumu dari sejak awal "
" Apa aku sespecial itu ? " tanya Hannah melihat pada Vale ," tentu kau sendiri yang mengatakan kalau aku kakakmu , bukankah itu berarti kau adikku " kata Vale menjelaskan dan Hannah kembali memeluk tubuh itu begitu erat , " aku sungguh tidak bisa mengucapkan apapun tapi untuk segalanya terimakasih Vale , kau membuatku merasa tidak sendiri " ucapnya dengan menangis.
" Tangisanmu merusak kebahagian pagi ini " ucap Vale tersenyum , " maafkan aku , aku sungguh tidak bisa menahannya " ucap Hannah.
" Aku hanya bercanda , menangislah asal ingusmu tidak membasahi pakaianku " sahut Vale dengan terus tersenyum dan memeluk begitu erat tubuh Hannah.
" Itu berarti aku harus kembali hidup sendiri " kata Hannah setelah menghentikan tangisannya , " tidak , dia sudah memutuskan untuk tidak akan pernah meninggalkanmu " timpal Billy yang langsung mengerti arah bicara Hannah , " sungguh ? "
" Ya , itu sudah menjadi keputusanku sejak awal , aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun " jelas Vale , " kau membuatku seperti ingin menikahi single parents " ujar Billy , membuat Hannah tertawa .
" Apa mulai sekarang aku mengubah panggilanku pada kepada kalian menjadi Mom and Dad "
" itu sungguh sangat buruk , orang akan mengira aku menikahi janda " kata Billy membuat ruangan itu terus di penuhi dengan canda tawa dan tangisan haru.
" Sayang , bisakah kau lihat siapa yang datang " kata Vale saat mendengar bel pintu berbunyi berulang kali , " sayang " kata Hannah yang sengaja menirukan cara Vale memanggil Billy untuk menggodanya, " aku masih tidak percaya ini begitu cepat terjadi " lanjutnya lagi.
" Sayang " panggil Billy yang tiba tiba kembali dengan wajah yang sedikit pucat , " bisa kau kemari " katanya lagi kepada Vale dan menatap begitu panik pada Hannah.
" Ada apa ? " tanya Vale sambil beranjak dari duduknya , " Hannah tetaplah di sini " pinta Billy dan menarik tangan Vale menuju pintu.
" Ada apa ini ? " tanya Vale begitu terkejut saat melihat beberapa orang polisi telah berdiri di depan pintu rumahnya , " selamat pagi nona " ucap salah satu laki-laki berseragam itu.
" Ada apa ini ? " tanyanya lagi.
" Apa ada Nona Hannah disini ? "
" Untuk apa kalian mencarinya ? " bentak Hannab yang tidak peduli dengan siapa ia berhadapan , " maaf telah mengganggu waktu anda nona , tapi kami membawa surat perintah untuk membawa nona Hannah ke kantor polisi sekarang "
" Tidak , atas tuduhan apa kalian ingin membawanya huh " teriak Vale.
" Sayang tenanglah " ucap Billy dengan memegang pinggang perempuan itu , " ada apa ini ? " tanya Hannah yang tiba tiba mendekat ," Hannah masuk " teriak Vale.
" Anda tidak bisa melakukan itu nona , kami bisa memberikan hukuman kepada anda atas tuduhan dengan sengaja menyembunyikan tahanan "
" Dia bukan tahanan " teriak Vale.
" Vale tenanglah , aku tidak apa apa " ucap Hannah , dan tanpa takut untuk melanjutkan langkahnya menuju pintu , " ada apa pak ? "
" Maaf nona , ini surat perintah kami " kata salah satu polisi sambil memberikan selembar kertas putih kepada Hannah.
****
" Sebagai ucapan terimakasih aku akan mentraktirmu nanti " kata Elin kepada David , sebelum di kejutkan dengan suara dering handphonenya yang tiba tiba berbunyi.
" Kau seperti penyihir Daniel " gumam Elin dengan mata yang sedikit membulat menatap ke arah layar Handphonenya yang terus berdering dengan panggilan telepon Daniel , " tunggu sejak kapan nama kontak ini berubah " lanjutnya menatap lekat pada nama kontak Daniel yang sudah berubah menjadi " Honey" dengan emoticon love , " oh my God , apa dia sendiri yang merubahnya " kata Elin tidak percaya.
" Maaf aku harus menerima panggilan teleponku " ucapnya kepada semua orang yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Hallo " jawab Elin sambil berjalan keluar dari ruangannya , " sedang apa ? " tanya Daniel dari balik telepon.
" Kau sangat tahu kalau sekarang kekasihmu sedang berada di kantor di tempatnya magang " jelasnya tersenyum.
" Ya aku tahu, aku hanya merasa sedikit khawatir tentangmu " jelas Daniel yang membuat Elin sedikit terkejut , " apa kau penyihir ? " tanya Elin tidak sengaja.
" Kau mengatakan apa sayang , penyihir ? " ulang Daniel.
" Tidak , kau salah mendengar sayang " katanya bekilah dengan jantung yang bergetar karena begitu takut , ia seperti merasa di curigai walau tidak melakukan apapun.
" Aku mencintaimu " ucap Daniel tiba tiba , yang membuat Elin semakin ketakutan dan merasa bersalah bersamaan.
" Aku juga mencintaimu , ada apa tiba tiba kau mengatakan ini ? "
" Bukankah ini sangat wajar untuk sepasang kekasih "
" Ya , hanya saja bukan di waktu yang tepat " sahut Elin tertawa.
" Biar kau tahu , dimana pun dan sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu "
" Kau menyadarkanku dan membuatku benar benar merasa bersalah " batin Elin dan beruntungnya itu tidak terdengar di telinga Daniel.
" Aku juga mencintaimu , bahkan sangat mencintaimu " ucapnya .
" Mendengar ini sungguh membuatku begitu tenang "
" Kau seperti benar benar tidak ingin kehilanganku " kata Elin tertawa.
" Memang seperti itu kebenarannya " sahut Daniel penuh keyakinan.
" Maafkan aku " ucap Elin.
" untuk apa , kau tidak memiliki kesalahan "
" Terkadang aku masih tergiur saat melihat laki laki tampan , padahal aku sudah memiliki semuanya darimu " jelas Elin begitu polos.
" itu masih manusiawi , asal tidak berlebihan dan hatimu tidak berpindah "
" itu tidak mungkin , aku sungguh mencintaimu , ya aku benar benar menyadari kalau aku sungguh mencintaimu " kata Elin yang membuat Daniel tersenyum begitu lebar dari balik telepon ," apa kau baru menyadarinya hari ini ? "
" Tidak , namun hari ini aku benar benar sangat yakin , tidak ada yang lebih mencintaiku darimu "
" Tentu , bahkan segalanya , makanya aku tidak khawatir saat kau bertemu dengan lelaki tampan karena aku tidak akan pernah kalah dengan hal itu "
" ya kau benar " sahut Elin menyetujui , walau terdengar sombong tapi itu memang kebenarannya.
" lanjutkan pekerjaanmu dan jangan lupa makan siangmu nanti "
" Kau juga "
" Aku akan menjemputmu nanti " katanya lagi , " kau membuatku tidak sabar untuk menunggu waktu pulang " sahut Elin.
" Aku mencintaimu " ucap Daniel tersenyum.
" Begitu pun aku , sampai bertemu nanti sore " balas Elin ,
ia masih tersenyum menatap layar handphone dengan panggilan telepon yang baru saja berakhir , ia belum menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dari walpaper handphonenya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚