Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tatapan Dingin


" Mi " teriak Meili yang berjalan masuk kedalam rumah megah keluarga Remkez , berulang kali Meili memanggil maminya dengan senyuman bahagia.


" Jangan berisik Meili " ujar Daniel yang sangat terganggu dengan teriakan adiknya.


" Ada apa nona ?, Nyonya besar mungkin sedang mandi " kata pelayan menghampiri Meili.


" Tuan Muda " sapa pelayan dengan senyum yang begitu senang karena melihat Daniel tiba tiba berada di rumah utama , Daniel menundukkan kepala menanggapi sapaan pelayan , " Apa ada yang ingin kami siapkan Tuan ? "


" Bersihkan tempat tidurnya , malam ini kak Daniel akan tidur di sini " jelas Meili dan pelayan segera beranjak untuk menuruti perintah Nona mudahnya .


" Meili , ada apa ? " tanya seorang perempuan paruh baya , dengan rambut bergelombang yang tertata begitu rapi , Viona menuruni anak tangga menghampiri Meili yang masih berdiri di ujung lorong besar menuju ruang utama , atau ruang yang biasa di pakai untuk menerima tamu penting.


" Mam " panggil Meili dengan tersenyum.


" Apa yang ingin kau lakukan Meili ? " gumam Daniel yang berdiri di belakang adiknya namun tertutup oleh tembok besar .


" Diam disitu " kata Meili pelan dan Daniel menghela nafas pasrah menunggu apa yang akan di lakukan Meili sebenarnya.


" Ada apa Meili ?, kenapa berteriak , dan dari mana saja kamu ? " cercah Viona yang terus berjalan menuju Meili.


" Mam , aku punya kejutan " ucapnya saat vVona sudah berada lebih dekat dengannya , Meili segera menarik tangan Daniel membuat tubuh  laki laki itu terhuyung kedepan .


" Daniel " ucap Viona pelan dengan tatapan yang begitu dalam pada anak sulungnya.


" Kau pulang " katanya lagi dengan masih tidak percaya melihat keberadaan Daniel di rumahnya.


" Iya mam " jawab Daniel kaku , ia bingung apa yang harus di lakukannnya sekarang , semua terasa begitu canggung , " harusnya kau lakukan ini dari dulu , kenapa kau begitu tega meninggalkan mami " ujar Viona yang langsung memeluk Daniel dengan terisak.


" Maafkan Daniel mam , dan mami sangat tahu alasannya kenapa Daniel tidak pernah ingin pulang "


" Jangan terlalu membencinya Daniel , biar bagaimanapun dia ayahmu , dan mami sudah menerimanya , mami baik baik saja Daniel " ujar Viona yang tidak berhenti terisak dalam pelukan Daniel , " mami sangat merindukanmu " ucapnya lagi dengan mempererat pelukannya , Meili menyekah air mata yang hampir menetes di wajahnya , hatinya begitu senang melihat Viona yang begitu bahagia karena kepulangan Daniel hari ini.


" Aku lapar mam " ucap Meili.


" Apa kalian belum makan ? " tanya Viona sambil melepas pelukkannya pada Daniel.


" Sudah mam " jawab Daniel.


" Tapi aku masih lapar " rengek Meili.


" Baiklah , sekarang mandilah , mami akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan , dan setelah itu kita makan bersama " jelas Viona dengan senyuman yang tidak pudar dari bibirnya.


kemudian segera ia menuju dapur , untuk meminta pelayan menyediakan makanan , terutama makanan kesukaan Daniel .


" Kau memang seperti sapi Meili " kata Daniel pada adiknya.


" Ceh , aku ini adikmu Daniel , jangan mengatai dirimu sendiri , karena sapi bersaudara dengan sapi , tidak ada sapi yang bersaudara dengan manusia " ujar Meili tertawa , " ternyata kau tidak begitu pintar " lanjutynyayang tertawa puas karena sudah membalas ejekan Daniel ,


****


Masih setengah mengantuk pagi ini Elin sudah berdiri di sisi pintu lobby untuk menunggu jemputan taxi online yang akan membawanya menuju Pearson School.


" Andai saja mata kuliah pagi ini tidak penting , aku akan lebih memilih untuk melanjutkan tidurku " gerutu Elin dengan mulut yang terus terbuka karena menguap.


Teeetttttt " suara klakson yang begitu panjang mengejutkan Elin.


" Siapa manusia yang menyebalkan ini " gumam Elin kesal , dengan mata yang menatap pada mobil sport yang berhenti tepat di hadapannya , " Hay Elin " sapa seorang laki laki yang tersenyum di balik kaca mobil yang terbuka.


" Astaga Mike , aku pikir siapa manusia yang menyebalkan ini " ujar Elin dengan menghela nafas.


" Sepertinya pagiku sedikit mengecewakan karena mendapat umpatan darimu " ujar Mike tertawa , " kau mengejutkanku Mike " jelas elin.


" Baiklah maafkan aku , apa kau ingin pergi ke Parson? " tanya Mike dan Elin menganggukkan kepalanya , " masuklah " ajak Mike.


" emm .. terimakasih Mike , tapi aku sudah memesan taksi dan sebentar lagi mobilnya akan sampai " jelas Elin menolak ajakan Mike.


" Tujuan kita sama nona , kau hanya perlu meminta maaf dan membatalkan pesananmu , dan lagi ini tinggal beberapa menit dari jam mata kuliah pertama "


Elin masih diam , dengan otak yang terus berpikir harus menerima ajakan Mike atau tidak , tapi jam memang sudah menunjukkan waktu yang sudah hampir terlambat menuju Parson School jika dia harus menunggu lagi.


" Kau terlalu banyak berpikir " ujar Mike, kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju Elin , " masuklah , waktu semakin berjalan dan kau akan benar benar terlambat " kata Mike sambil membuka pintu mobil yang berada di sisi Elin , " ini sedikit pemaksaan Mike " ucap Elin tertawa yang akhirnya memilih masuk kedalam mobil .


" Jangan lupa membatalkan pesananmu " kata Mike lalu menutup kembali pintu mobilnya  dan kembali berjalan menuju kursi kemudi untuk segera melajukankan mobilnya menuju tempat tujuan mereka.


****


Hari ini Viona begitu bersemangat menunggu waktu sarapan , bahkan ia sendiri yang turun tangan menyiapkan menu makanan pagi ini , walau hanya dengan menu sederhana seperti Sandwich dan roti coklat panggang namun itu menjadi menu favorit sarapan ke dua anaknya .


" Roti bakar buatan mami " teriak Meili sambil berlari menuruni anak tangga menuju meja makan.


" Meili jangan berlari , kau bukan lagi anak kecil " teriak Viona yang begitu khawatir Meili terjatuh dari tangga , " Morning , mam " sapanya sambil mencium pipi Viona yang masih menatapnya geram " What is wrong mam ? " tanyanya santai , kemudian langsung duduk di salah satu kursi meja makan.


" Jangan pernah menuruni tangga dengan berlari seperti tadi , bagaimana kalau kau terjatuh Meili , kau selalu saja membuat mami khawatir " omel Viona , " Thank you mam " sahut Meili tersenyum , " Thank you " ulang Viona yang bingung dan meili menganggukkan kepala dengan tangan yang tidak sabar ingin mengambil roti coklat panas di hadapannya.


" Why thank you ? , mami sedang memarahimu bukan memberimu uang "


" Terimakasih , karena dengan mami marah berarti mami masih peduli pada Meili " jelas Meili tanpa melihat pada Viona , Viona tertegun sesaat mendengar perkataan Meili yang begitu santai namun mampu membuat hatinya merasa bersalah , semenjak Daniel pergi dari rumah dan memilih untuk tinggal sendiri , membuat Viona menjadi tertekan , yang akhirnya sering lupa kalau masih ada Meili yang berada di sisinya , bahkan Viona sering membiarkan Meili sarapan atau makan sendiri di meja makan tanpa ia temani.


" Maafkan mami , karena telah mengabaikanmu " ucap Viona lirih dengan perasaan yang begitu merasa bersalah.


" ah , rasanya ingin ku habiskan semua roti coklat ini " katanya lagi sammbil menatap gemas pada roti coklat di hadapannya , sebenarnya ia sedang mengalihkan matanya yang sudah mulai berkaca kaca karena permintaan maaf dari Viona.


" Ntah kapan lagi aku bisa makan roti coklat ini " lanjut Meili yang membuat hati Viona kembali merasa bersalah , " kau hanya perlu memintanya pada mami , jika menginginkannya lagi "


" Sungguh mam ? " tanya Meili dengan mata yang berbinar dan Viona menganggukkan kepalanya tersenyum.


" Roti coklat mami yang terbaik di dunia " ucapnya bahagia , " kau memang selalu berlebihan Meili " ujar Viona yang tertawa sambil menggelengkan kepala karena tingkah anak bungsunya.


" Apa kakakmu sudah bangun ? " tanya Viona dan Meili mengangkat bahunya tidak tahu ,


" Makanlah , mami mau melihat kakakmu dulu " kata Viona yang sudah beranjak dari duduknya , namun orang yang sedang di tunggu tunggu sudah lebih dulu tiba di meja makan " mami baru saja ingin membangunkan mu " ucap Viona , dan Daniel segera duduk di kursi yang sudah di bukakan oleh pelayan.


" Apa hari ini kamu tidak ke kantor ?" tanya Viona karena melihat Daniel masih menggunakan pakaian santai , bukan jas yang selalu ia gunakan saat akan pergi ke kantor.


" Igtu tidak munkin mam , aku tidak mungkin libur dan siang ini ada meeting penting yang sudah menanti , " jelas Daniel.


" Pakaianmu ? "


" Di sini sudah tidak ada lagi pakaian kerjaku mam , makanya sebelum ke kantor aku harus mampir ke apartemenku terlebih dahulu "


" Apa ini sandwich buatan mami ?  " tanya daniel dan Viona mengangguk , " makanlah , mami membuat ini khusus untuk kalian " ucap Viona dan Daniel dengan semangat menggigit satu persatu sandwich di hadapannya , karena ia memang sangat merindukan makanan buatan maminya ini.


" Kak , aku ikut mobilmu dan antar aku ke Parson School " pinta Meili.


" Kau memang selalu merepotkan , dimana mobil mu ? "


" Mobilku masih bocor dan belum di perbaiki " jelas Meili .


" Segera habiskan makananmu , aku sudah hampir terlambat " lanjut Daniel.


" Mam , aku ingin membawa sisa roti coklatku ke kampus " pinta Meili , dan Viona segera meminta pelayan untuk memasukan sisa roti coklat ke dalam kotak bekal.


" Nanti aku akan membaginya pada Elin " ucap Meili dengan mata yang berbinar menatap kotak makan di hadapannya , " berikan juga ini padanya " kata Daniel yang memberikan berapa potong sandwich pada Meili , " ceh , selama ini kau tidak pernah rela membagi Sandwichmu untukku"


" Karena dia berbeda " jelas Daniel singkat.


" Tapi aku adikmu "


" Baiklah , kau boleh makan satu "


" Ceh " Meili kembali berdesis yang kemudian ikut memasukan beberapa potong Sandwich ke dalam kotak makanan.


" Katakan padanya kalau ini Sandwich yang sangat special " ujar Daniel dengan tersenyum.


Viona menatap penasaran pada kedua anaknya , siapa teman Meili yang sepertinya juga dekat dengan Daniel.


" Iya , kau harus mengatakan pada temanmu , bahwa itu makanan yang sangat special , yang di buat sendiri oleh tangan Nyonya Remkez " timpal Viona tertawa.


" Dia akan lebih senang jika aku bilang kalau roti ini buatan ibuku " kata Meili tersenyum ," temanku itu memang sangat sederhana mam , dan sampai hari ini dia tidak mengetahui siapa status keluarga kita di New York " lanjutnya.


" Benarkah ? , kau membuat mami begitu penasaran pada temanmu Meil "


" Nanti akan aku perkenalkan pada mami , dan mami tahu dia juga berasal dari Indonesia , negara asal mami " jelas Meili lagi.


" Pastikan kau akan memperkenalkannya pada mami " kata Viona , dengan mata yang menatap heran karena melihat Daniel terus tersenyum semuringah saat Meili menceritakan tentang temannya itu.


~


Mobil yang membawa Daniel dan Meili sudah tiba di depan pintu gerbang besar Parson School.


" Terimakasih Brother " ucap Meili sambil mencium pipi Daniel.


" Sekolah dengan benar Meili , nanti kau harus membantuku mengurus perusahaan " ucap Daniel serius , " jangan limpahkan tugasmu kak , nanti aku hanya ingin menjadi Nyonya Besar seperti mami " sahut Meili tertawa.


" oh itu Elin " kata Meili dan Daniel ikut menoleh kearah mata Meili melihat.


" Dia datang dengan siapa ? " gumam Meili yang bingung melihat Elin keluar dari mobil sport , yang pasti itu bukan miliknya karena setahu Meili , Elin belum mempunyai banyak teman di sini.


" Mike " gumam lagi dengan sedikit terkejut , saat melihat Mike keluar dari dalam mobil untuk memberikan barang Elin yang sepertinya tertinggal.


Daniel menatap tidak berkedip pada Elin yang terlihat sedang berbincang pada Mike.


" Elin " panggil Meili , sambil membuka kaca mobil yang berada di sisi Daniel.


Elin menoleh dan mendapati asal suara orang yang memanggil namanya , dan matanya membulat saat melihat Daniel sedang menatap tajam kearahnya dengan tanpa senyuman sedikit pun.


" Aku pergi , bye kak " pamit Meili sambil membuka pintu mobil dari sisinya , dan kaca mobil yang berada di sisi Daniel masih terbuka begitu lebar , yang memperlihatkan begitu jelas tatapan wajah tidak bersahabat Daniel pada Mike dan Elin .


Mike hanya menoleh sebentar saat tahu ada Daniel bersama Meili.


Elin masih terus kebingunang saat melihat Daniel tidak menyapanya , bahkan sampai kaca mobil itu kembali tertutup dan pergi melewatinya.


" ada apa  ?, kenapa dia menatapku seperti itu? " gumam Elin bingung dengan mata yang masih melihat pada belakang mobil yang hampir menghilang.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚