Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Mantan Kekasihmu Temanku


" Shiitt " umpat seorang laki laki dengan telepon yang mengarah pada telinganya ,


" Apa kau bisa lebih cepat " ucapnya pada sopir yang membawa mobil menuju Bellevue Hospital.


" Maaf tuan , kita sudah melaju dengan kecepatan tinggi dan jalanan sangat ramai " jelas sopir begitu hati hati ,


Daniel menghela nafas , ia merasa geram dengan keadaan yang seperti sengaja memperlambat dirinya bertemu Elin.


" Ayolah Meili , angkat teleponmu " katanya semakin geram karena sejak tadi teleponnya yang terus di abaikan oleh adiknya.


~


Mobil baru saja tiba di pintu depan Bellevue namun pemuda yang berada di kursi kemudi belakang sudah begitu tidak sabar untuk keluar dari dalam mobil.


Semua mata tertuju pada laki laki yang berlari menuju meja resepsionis dan pihak pelayanan yang sedang bertugas pun cukup terkejut melihat kedatangan Daniel Remkez yang kini sedang berjalan menuju meja mereka , " ini keberuntungan " ucap perempuan yang sudah berdiri dengan rapi menyambut pemuda tampan dan kaya raya itu.


" Apa ada yang bisa saya bantu tuan ? "


" Bisa anda chek dimana ruang rawat Nona Merlinda "


" Mohon menunggu sebentar tuan " ucap perempuan yang bertugas di meja resepsionis , kemudian ia meminta kepada teman kerja untuk mencari nama orang yang di cari oleh Daniel .


Drrrttt drrtttt " Handphone di genggaman tangan Daniel berdering.


" Darimana saja kau ? " tanya Daniel setelah menjawab sambungan telepon yang masuk ke dalam hapenya " aku baru membuka handphoneku , kau dimana" jelas Meili di balik telepon.


" Di meja resepsionis " jelas Daniel singkat.


" Tunggu disana , aku akan segera turun menjemputmu "


" Tidak , katakan saja di ruangan mana dia di rawat "


Daniel segera menutup sambungan teleponnya bersama Meili setelah adiknya menjelaskan dimana letak kamar tempat Elin di rawat.


" Tuan , Nona.. " Kata resepsionis menggantung.


" Terimakasih saya sudah menemukannya " potong Daniel dan segera bergegas meninggalkan meja resepsionis ,


" Apa sangat mustahil jika pemuda tampan dan kaya raya mencintai gadis resepsionis" gumam perempuan yang terus menatap pada punggung Daniel yang sudah pergi " Sebaiknya kau tidur supaya kau bisa bermimpi " sambung teman kerjanya dengan tertawa.


****


Bruukkkk" pintu terbuka sedikit keras.


" Bagaimana keadaanya ? " tanya Daniel yang langsung mendekat pada ranjang Elin yang masih belum sadarkan diri " Dokter mengatakan dia baik baik saja dan masih tertidur karena pengaruh obat " jelas Meili.


Daniel menarik nafas legah namun tatapan matanya tidak beranjak dari wajah terpejam Elin , ia memposisikan tubuhnya untuk duduk di tepian ranjang , tangannya mengusap lembut pada wajah halus Elin dan sesekali mengibas anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik wanitanya itu.


" Apa dia pernah terbangun ? " tanya Daniel dan Meili menggelengkan kepalanya " Dokter baru saja selesai mengechek keadaanya dan dia menjelaskan kalau Elin masih tertidur mungkin karena akhir akhir ini dia banyak bergadang dan tubuhnya kelelahan jadi sekarang tubuhnya mendetox dengan membuatnya tidur lebih lama tapi selebihnya keadaanya baik baik saja " jelas Meili begitu detail supaya Daniel tidak menjadi panik .


" Jika 3 jam lagi dia belum sadarkan diri , aku akan memindahkannya ke rumah sakit yang lebih bagus " ucap Daniel dan Meili hanya bisa menghela nafasnya tanpa membantah.


Krekk " pintu kembali terbuka dan mata Daniel ikut melihat ke arah suara , namun tubuhnya mendadak beranjak dari tempat tidur dan berjalan begitu cepat menuju Mike yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


Buukkk " satu pukulan mendarat pada wajah Mike.


" Apa yang kau lakukan Daniel " teriak Meili begitu terkejut dan berlari menarik tubuh kakaknya.


" Apa yang kau lakukan padanya huh " teriak Daniel pada Mike yang sudah tersungkur di lantai.


" Kau gila , dia yang menyelamatkan Elin " teriak Meili , namun emosi Daniel terlihat tidak meredah dia terus menatap begitu tajam pada Mike " berhenti Daniel , kau jangan gila , kalau bukan karena Mike mungkin kita tidak akan tahu seperti apa keadaan Elin sekarang " jelas Meili.


" Kakakmu memang sudah tidak bisa berpikir jernih Meili " ujar Mike sambil berusaha bangun dari lantai " Kau yang tidak bisa di percaya " teriak Daniel.


" Jangan hanya bisa menyalahkan orang lain Daniel , seharusnya setelah apa yang terjadi kau bisa menyadari kesalahanmu "


" Apa kau sedang menantangku " geram Daniel yang kembali ingin melayangkan pukulannya pada Mike.


" Elin " teriak seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi , semua mata menoleh ke arah suara dan bersamaan melihat ke arah ranjang.


Elin tidak menjawab matanya menatap pada orang orang yang berada disana secara bergantian , tapi lebih lama menatap pada Daniel , Hannah dan Mike ,


Dan tanpa bicara di kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Daniel baru menyadari keadaan yang aneh antara mereka , matanya menoleh pada kebaradaan Hannah yang baru ia sadari


" Hannah" ucapnya tanpa sadar , Hannah hanya tersenyum kecut pada Daniel yang menatap ke arahnya.


" Sedang apa kau disini ? " tanya Daniel yang tidak bisa menahan rasa penasarannya dan matanya kembali menatap pada Mike dengan senyum dingin yang tersungging dari bibirnya.


" Dia temannku " jelas Elin mendahului Hannah , dan masih terbaring di balik selimut yang menutupi tubuhnya " Apa kau sedang bercanda sayang ? " tanya Daniel tidak percaya.


" Kenapa , apa kau begitu terkejut saat tahu kalau mantan kekasihmu adalah temanku " ujar Elin yang langsung duduk dan menatap begitu tajam pada Daniel .


" Elin aku bisa jelaskan " timpal Hannah.


" Hubungan kami sudah lama berakhir lin " lanjutnya


" Apa ini alasan kau mengabaikan aku akhir akhir ini Hannah ? " tanya Elin dingin dan Hannah terdiam tanpa bisa menjawab.


" Maafkan aku " kata Hannah , hanya kata itu yang bisa terucap dari mulutnya.


" Aku pikir kita sungguh berteman " ucap Elin lirih , " maafkan aku lin , bukan maksudku seperti itu , aku hanya butuh waktu untuk menerima segalanya "jelas Hannah yang semakin merasa bersalah dengan perkataan Elin.


" Sayang " panggil Daniel pelan.


" Kau diam , sekarang bukan waktumu untuk berbicara " teriak Elin tegas , Meili mengulum bibirnya merasa sangat lucu melihat wajah kakanya yang terdiam karena teriakan Elin.


" Ya aku tidak menyalahkanmu , tentu tidak mudah berada di posisimu Hannah " lanjut Elin , " tapi kau tidak perlu merasa tidak nyaman padaku , hubunganku dan Daniel sudah berakhir " jelas Hannah.


" Tapi perasaanmu belum berakhir Hannah " ucap Elin , membuat Hannah benar benar terdiam begitu pun semua orang yang berada di dalam ruangan " Sayang please jangan seperti ini , aku dan Hannah sungguh tidak memiliki hubungan apapun lagi , semua sudah berakhir " jelas Daniel.


Hati Hannah benar benar di buat hancur mendengar penjelasan Daniel pada Elin.


" Apa yang di katakan Daniel benar Elin , hubungan kami sudah berakhir dan kau tidak perlu memikirkan perasaanku " ucap Hannah dengan menahan rasa sesak di hatinya.


" Meili , tolong bawa aku pergi dari sini " pinta Elin tiba tiba , membuat meili menjadi bingung apa yang harus di lakukannya " Kau masih harus di sini lin , dokter belum memberikan surat ijin untuk kau pulang "


" Aku sudah tidak sakit meil , please "


" Sayang kau masih harus istirahat " ucap Daniel.


" Apa kau marah padaku " sambung Hannah lagi.


" Mike tolong bantu aku pergi dari sini " pintanya lagi karena Meili tidak menggubris permintaannya , " Meili akan menemanimu " sambung Daniel lebih cepat sebelum Mike , ia akan sangat tidak rela jika harus Mike yang akan membantu Elin.


" Lin keadaanmu belum benar benar pulih dan kau harus tetap di sini sebelum dokter memberi ijin kau untuk pulang " ujar Meili " Dan kalian semua bisa pergi sekarang , Elin ingin pergi karena ada kalian di sini " lanjutnya pada ketiga orang selain dirinya dan Elin.


" Tolong hubungi aku jika kau sudah bisa memaafkan aku " ucap Hannah menatap pada Elin dan kemudian beranjak dari dalam ruangan , " Aku tidak memiliki kesalahan padamu , jadi kau tidak perlu merasa sungkan dan hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu " ucap Mike yang kemudian ikut keluar.


" Apa kau benar benar ingin aku pergi ? " tanya daniel , namun Elin masih diam tanpa menanggapi perkataan Daniel.


" Pergilah Daniel , Dia butuh waktu untuk menerima kalau kau adalah mantan kekasih temannya sendiri " ujar Meili pada kakaknya


" tapi Meil "


" Pergilah kalau kau ingin semuanya baik baik saja " ucap Meili , Daniel menghela nafas karena merasa begitu berat untuk meninggalkan Elin


" baiklah aku pergi " pamit Daniel , namun Elin tetap terlihat tidak peduli.


" Segera hubungi aku jika dia menginginkan sesuatu " ucap Daniel pada adiknya dan Meili menganguk.


Daniel masih terdiam sesaat , menatap pada Elin , berharap perempuan itu berubah pikiran untuk memintanya pergi , namun sekali lagi Elin terlihat tidak peduli dan ia beranjak dari ruangan dengan perasaan yang bercampur aduk.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚