
Elin memejamkan matanya dengan kepala yang tersandar pada pundak Daniel , duduk di kursi taman dengan lampu yang bersinar terang dan suara ranting yang saling beradu karena angin adalah suatu hal yang menyenangkan untuk suasana hati yang membutuhkan ketenangan ,
Ia masih tidak menyadari saat Daniel mengeluarkan suatu benda dari saku celananya , bahkan sampai membuka dan mengenakan pada jari manisnya, namun perlahan matanya terbuka saat menyadari ada sesuatu yang asing pada jarinya , " Apa ini ? " tanyanya begitu terkejut saat melihat jari manis miliknya sudah di lingkari oleh cincin dengan satu permata yang menonjol dan itu nampak semakin berkilau saat di terpa oleh sinar lampu.
" Apa kau sedang melamarku ? " tanyanya dan melihat begitu malu pada Daniel.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya , " aku masih butuh kesiapan yang lebih untuk melakukan itu , walau suatu hari aku pasti melakukannya , namun sekarang belum saatnya " jelasnya ,
" lalu apa maksudnya cincin ini ? " tanya Elin yang membutuhkan penjelasan dari arti benda yang membuat perasaannya begitu senang dan ia tidak menampik kalau laki-laki di hadapannya mampu membuatnya untuk merasakan jatuh cinta berulang kali.
" Ini hadiah "
" Hadiah ? " kata Elin mengulang , " selama menjadi kekasihmu , aku tidak pernah memberikan apapun " jelasnya.
" Tidak pernah " sahut Elin dengan membesarkan matanya " lalu mobil sport yang berada di garasi apartementku sekarang itu apa ? , kalau bukan hadiah darimu dan kau sudah memberiku begitu banyak hadiah "
" Tapi ini sedikit berbeda " jelasnya lagi dan Elin menyimak untuk menunggu penjelasan lebih , " ini hadiah yang akan membuat kau benar-benar tidak berpaling " lanjutnya dengan tertawa kecil.
" aaaahhhh sekarang aku mengerti niat jahatmu , kau sengaja memberi cincin di jari manisku supaya orang lain mengira kalau aku sudah memiliki tunangan "
" Dan aku memang benar-benar tidak akan berpaling , karena tidak akan ada laki-laki yang mau mendekati tunangan orang lain , kau memang begitu licik Daniel " ucapnya dengan wajah kesal namun dengan hati yang begitu senang , " dan kau begitu pintar karena mampu menebak pikiranku " timpal Daniel tertawa.
" Terimakasih " ucap Elin yang membuat Daniel segera melihat kearahnya , " untuk ? " tanyanya.
" Karena kau benar-benar membuat malam ini sempurna " jelas Elin tersenyum dan menatap mata Daniel dengan begitu dalam.
" Ini begitu sederhana sayang , tidak ada dinner dan lilin-lilin romantis saat ini "
" Ini jauh lebih mengagumkan " sahut Elin " dan aku sungguh sangat menyukainya " lanjutnya.
" Kau benar benar membuatku merasa beruntung , di saat perempuan di luar sana menginginkan dinner yang romantis dan barang-barang mewah , namun kau hanya menyukai hal yang begitu sederhana seperti ini "
" kau sungguh membuatku kagum " lanjut Daniel dengan membalas tatapan mata kekekasihnya dan berakhir pada bibir yang saling bertemu untuk ******* dengan lembut , " Aku mencintamu Daniel " ucap Elin setelah bibir yang saling berpagutan itu terlepas , " aku juga sangat mencintaimu nona Merlinda " balas Daniel tersenyum bahkan senyumnya terlihat jauh lebih manis dari yang biasa ia perlihatkan , mungkin senyum itu benar-benar mencerminkan kondisi hatinya saat ini.
" Aaahh , aku begitu tidak sabar untuk mendengar semua orang memanggilmu dengan Mrs.Remkez "
" Mrs.Remkez " ulang Elin.
" Ya , supaya semua orang tahu kalau kau Nyonya Daniel Remkez "
" Aku rasa orang tidak akan peduli dengan hal itu karena kau tidak seterkenal itu Daniel " sahut Elin tertawa , " bukan aku yang tidak terkenal , tapi karena kau yang begitu cuek dengan latar belakang kehidupanku " sahut Daniel pelan.
" Karena aku tidak membutuhkan itu , yang terpenting kau mencintaiku dan aku mencintaimu "
" Benarkah ? , bagaimana kalau ternyata aku seorang pembunuh atau mafia besar kota ini "
" Ntahlah , tapi sepertinya perasaanku tetap tidak akan peduli dengan hal itu , karena memang seperti itu kodratnya cinta , tidak bisa memilih dimana ia akan menempatkan hati pemiliknya "
" Kau begitu polos " ucap Daniel tersenyum dan berulang kali mencium gemas kepala kekasihnya.
" Ayo kita pulang , angin malam tidak terlalu biak untukmu " lanjutnya dengan langsung beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Elin , " kau bicara seolah aku yang baru saja keluar dari rumah sakit " ujar Elin tertawa dan tentunya dengan menyambut uluran tangan kekasihnyaitu ,
dan tanpa menunggu Daniel segera menggosok kedua tangan Elin bahkan sesekali meniupnya untuk menberikan lebih kehangatan , lalu memasukan sebelah tangan itu ke dalam kantong hoodie yang ia gunakan.
" Semenjak bersamamu itu sudah menjadi keahlianku " sahut Daniel tertawa.
" Ayo " ajaknya lagi sambil berjalan dengan tangan Elin yang terus berada pada kantong jaketnya, " sepertinya kita tidak akan punya waktu untuk bertemu " ucap Elin di sela langkah mereka menuju letak mobil.
Daniel menghentikan langkahnya dan menatap begitu lekat , " aku hanya akan sedikit sibuk akhir-akhir ini " jelasnya karena begitu mengerti dengan maksud tatapan kekasihnya itu " ada pekerjaan tambahan yang harus aku kerjakan , dan aku yakin kau juga demikian karena sudah tidak bekerja beberapa hari ini "lanjutnya.
" Pekerjaan tambahan ? " kata Daniel mengulang dengan dahi yang sedikit bekerut , " ya , kami harus menyediakan dokumen untuk meeting besar yang di adakan oleh perusahaan setiap tahunnya , dan aku di libatkan dalam hal ini " kata Elin menjelaskan dan kerut di dahi Daniel perlahan menghilang bersamaan dengan bibir yang ia lipat karena menahan untuk tersenyum , " Meeting besar ? " tanyanya lagi.
" Aku juga tidak paham , tapi yang aku dengar semua pimpinan cabang dan perusahaan utama akan hadir disana "
" Ah , ini benar-benar mendebarkan untukku Daniel " lanjut Elin dan mencekram sedikit lebih kuat pada tangan Daniel yang masih menggenggam erat tangannya , " apa kau sedang gugup ? "
" Bahkan aku sangat gugup , karena ini untuk pertama kalinya aku akan berada di tempat formal seperti itu " jelasnya dengan sinar mata yang sendu , " kau tidak perlu khawatir , semua akan baik-baik saja dan aku sangat yakin kau bisa mengatasinya " ucap Daniel memberi semangat , namun helaaan nafas karena kegugupan masih terlihat pada kekasihnya , " aku masih merinding , saat mendengar cerita kalau pimpinan utama perusahaan itu adalah orang yang dingin " lanjutnya , membuat Daniel benar-benar hampir tersedak.
" Siapa yang bergosip tentang itu ? " tanyanya dengan nada yang sedikit tinggi , namun sesaat ia langsung menyadari nada bicaranya , " emm..maksudku , jangan mendengarkan orang lain , mungkin tidak seperti itu sebenarnya " lanjutnya dengan begitu lembut.
" Ya , aku sangat berharap seperti itu "
" Kau tentu tahu bukan , aku perempuan yang ceroboh dan aku sangat takut akan melakukan kesalahan saat berhadapan dengannya nanti "
" itu tidak akan terjadi " ucap Daniel dengan mengusap lembut tangan kekasihnya , membuat perempuan itu kembali menyenderkan kepala pada lengan yang berotot di balik hoodie yang di gunakan , " akan jauh lebih menenangkan jika kau juga berada disana bersamaku " ucap Elin pelan, yang nampak begitu nyaman dengan memeluk lengan Daniel sambil terus berjalan menuju tempat mobil mereka terparkir.
" Kalau begitu aku akan berada disana " sahut Daniel.
" Kau selalu saja tidak bisa serius " ujar Elin menghela nafas dengan Daniel yang kembali menahan bibirnya untuk tersenyum.
" Jangan lagi gugup , berada disana tidak seseram seperti yang kau bayangkan dan aku yakin boss dingin yang temanmu bicarakan adalah laki-laki yang dermawan "
" Ini untuk pertama kalinya kau membela laki-laki yang sedang aku bicarakan " ujar Elin dengan menatap curiga , " emmm..benarkah ? "
" Iya , dan itu membuatku lebih takut dari seseorang yang sedang kita bicarakan "
" Why ? , aku hanya sedang bertingkah sebagai pendengar yang normal " jelasnya tertawa , " tapi tingkahmu seperti ini benar-benar membuatku takut "
" Apa yang salah ? "
" Yang salah, itu tidak cocok untukmu dan begitu aneh " jelas Elin.
" Baiklah lupakan , sekarang kita pulang dan aku kembali mempercayakan kau yang membawanya " ucap Daniel sambil kembali memberikan Smart Key pada Elin.
" Bukankah kau sudah baik-baik saja ? " kata Elin yang masih bediri dengan kunci mobil yang berada di telapak tangannya , " ya , tapi sekarang tubuhku kembali lemah dan seperti kata dokter Albert , aku tidak boleh kelelahan "
" Kau memang manusia yang licik Daniel " gerutu Elin sambil melangkah menuju pintu kemudi , sedangkan Daniel tersenyum dengan begitu puas sambil ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping kemudi dengan begitu nyaman , " kau terlihat begitu keren sayang " ucap Daniel.
" Jangan merayuku " sahut Elin dan mendelikkan kesal matanya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚