
* Sore sebelum acara lamaran
Viona kini tengah duduk terdiam di sebuah bangku taman yang berada di halaman rumah keluarga Vernandes , " disaat seperti ini kenapa dia harus begini " gumamnya bersamaan dengan helaan nafas.
Dirinya begitu gusar menanti kabar suaminya yang tak kunjung ada kabar , bahkan kini nomor teleponnya sudah tidak bisa lagi di hubungi.
" Jangan salahkan aku jika kali ini anakmu kembali membencimu " katanya begitu kecewa.
" Ada apa ? " tanya Wilna yang tiba-tiba sudah berada begitu dekat dengannya , " ntahlah Wil aku begitu bingung apa yang harus aku katakan pada Daniel " .katanya begitu prustasi.
" Kenapa , apa yang terjadi ? "
" Kau lihat sampai jam segini Reymond juga belum datang , bahkan nomor teleponnya sudah tidak bisa lagi di hubungi "
" Daniel pasti akan sangat kecewa Wil " katanya lirih.
" Mam , apa Papi tidak akan datang ? " sebuah tanya yang membuat Wilna dan Viona menjadi begitu terkejut , ternyata tanpa mereka sadari kini Daniel sudah berada disana.
Sementara Viona telah terdiam tak berkutik , lidahnya terasa keluh untuk menjawab pertanyaan dari putra sulungnya , " Emmm.. dia hanya belum datang bukan tidak datang Daniel " ucap Wilna dengan begitu tenang , namun kalimat itu tak merubah apapun dan raut wajah Daniel terlihat begitu kecewa.
" Setelah ini untuk hal apapun jangan pernah melibatkan dia lagi " ucapnya.
" Daniel jangan bicara seperti itu " pungkas Viona.
" Ceh , jangan terus membelanya Mam , kau lihat sampai saat seperti ini pun dia tidak ada untuk mengambil perannya sebagai seorang ayah yang baik " ucap Daniel lalu tanpa kembali bicara ia segera pergi meninggalkan Viona dan Wilna.
" Jangan rusak hari ini hanya dengan masalah seperti ini , mungkin dia punya alasan kenapa tidak bisa datang " ucap Wilna , " tenanglah Hemm... wajahmu terlihat begitu kusut karena memikirkan hal ini , kau harus terlihat cantik malam ini jadi tersenyumlah dan pergi bersiap " lanjutnya dan itu sedikit membuat garis bibir Viona kembali melengkung.
~
" Sekarang waktunya kedua mempelai untuk saling bertukar cincin " pinta pembawa acara , membuat Daniel dan Elin kini beranjak dari tempat duduknya masing-masing dan di ikuti oleh Green dan Meili yang malam ini bertugas sebagai pemegang kotak cincin dari masing-masing pihak.
" Akhirnya malam ini terjadi " bisik Daniel saat dirinya dan Elin telah berdiri berdampingan , mendengar itu bibir Elin hanya tersenyum dengan mata yang berdelik ke arahnya.
" Masukkan cincinnya " ucap Elin pada Daniel yang masih terus menatapnya.
" Huh ? "
" Masukkan cincinnya di jari ku Daniel " ulang Elin dengan mata yang sedikit membesar.
" Kak kenapa kau menjadi linglung " timpal Meili , sementara semua orang kini kembali tertawa oleh tingkah Daniel yang terlihat begitu terpukau pada wajah calon istrinya.
" Maaf " ucapnya dengan salah tingkah , lalu mengambil cincin yang berada di tangan Meili dan menyelipkan di jari manis tangan Elin.
" Sekarang giliranmu Elin " ucap Green , dan Elin segera melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Daniel padanya.
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan seiring pertukaran cincin itu berakhir , wajah semua orang di liputi oleh senyum kebahagian tak terkecuali Viona yang terlihat menangis dari tempatnya , namun bibirnya terus tersenyum menatap penuh bahagia pada putranya.
" Aku mencintaimu " ucap Daniel pelan.
" Kau sudah mengatakan itu tadi " protes Elin.
" Tapi kau belum menjawabnya "
" Tidak mungkin lamaran ini terjadi jika aku tidak mencintaimu Daniel "
" Apa susahnya hanya menjawab Aku juga mencintaimu " keluh Daniel sedikit kecewa.
" Aku mencintaimu Daniel bahkan sangat mencintaimu , apa masih kurang hemm... "
" Apa kau bahagia ? " tanyanya lagi dan kali ini ia mengucapkannya dengan begitu lembut di telinga Elin ,
Bibir Elin tersenyum dan menatap pada bola mata biru milik lelaki di hadapannya , " jangan tanyakan lagi hal itu , tentu aku sangat bahagia bahkan rasanya tak pernah aku sebahagia hari ini " ucapnya bersungguh-sungguh dengan garis bibir yang merekah.
" Tapi kalau pun boleh aku tidak akan menolaknya " sambungnya dengan masih terus tertawa , sementara Elin tidak berhenti berdelik padanya.
" Apa ada yang ingin di ucapkan oleh kedua mempelai ini? " tanya pembawa acara , membuat sepasang manusia itu menghentikan tingkahnya dan kembali fokus pada semua orang.
Suasana kembali menghening dan Elin terlihat terdiam sejenak lalu sedikit menarik nafas sebelum mulai berbicara , " tidak banyak yang ingin aku katakan , tapi di kesempatan ini aku ingin mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tuaku , terimakasih Ayah , Ibu terimakasih telah menyayangiku dan membesarkanku dengan baik "
" Terimakasih untuk semua rasa cintanya yang sampai kapan pun mungkin aku tidak akan bisa membalasnnya " ucapnya dengan begitu lirih , ia terdiam sesaat dengan wajah yang mulai tertunduk , " maaf belum bisa membuat kalian bangga " sambungnya dengan air mata yang sudah mengalir dari pipinya.
" Kau sudah membuat kami bangga nak " ucap Mala dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" Aku hanya bisa berjanji satu hal Ayah Ibu , aku berjanji akan tetap menjadi anak baik sampai akhir "
" Dan tolong tetap sayangi aku selama itu " tambahnya dengan air mata yang sudah mengalir tanpa tertahan.
Kini ruangan itu benar-benar di penuhi oleh suasana haru oleh air mata Elin , semua kini terdiam dengan mata yang ikut berkaca-kaca tak terkecuali Green dan Amel yang justru sudah menangis tersedu-sedu dari tempatnya , " tangismu terlalu berlebihan Mel " bisik Green.
" Ini benar-benar mengharukan Green , perasaanku begitu perih mendengar kata-kata Elin " jelas Amel dengan air mata yang begitu deras mengalir , " tapi tangisanmu terlihat paling berlebihan dari pada Elin sendiri " tambah Green , membuat Amel segera menghentikan tangisannya dengan begitu kesal , " kau ini , kenapa selalu saja protes " pungkasnya.
" Dan terimakasih untuk Mami yang mau menerima Elin dengan baik " ucap Elin sambil menunduk ke arah Viona dan mengakhiri air mata haru yang mengalir di wajah cantiknya , " Aku sungguh akan berusaha menjadi menantu yang baik untuk mami dan papi dan juga menjadi saudara ipar yang baik untuk Meili " katanya kembali tersenyum , dan Viona mengangguk dengan tersenyum dari tempat duduknya.
" Dan tolong sayangi aku seperti anakmu sendiri Mam " tambahnya dan meminta dengan bersungguh-sungguh.
" Itu pasti nak " balas Viona.
" Dan untukmu " lanjutnya , sambil menghadap pada laki-laki yang berada di sampingnya , " terimakasih telah mencintaiku dan menerima segala kekuranganku "
" Aku tidak menjanjikan apapun selain berusaha untuk terus mencintaimu sampai akhir " ucapnya dengan tatapan bersungguh-sungguh pada Daniel dan itu berhasil membuat semua orang berteriak gemas , terlebih untuk suara Green, Amel dan juga Meili , sementara Hannah sedikit terlambat mengerti karena terkendala oleh bahasa yang belum bisa ia pahami.
" Apa mempelai laki-laki juga ingin menyampaikan sesuatu ? " tanya pembawa acara setelah Elin mengakhiri bicaranya.
" Ya " sahut Daniel.
" Aku tidak pintar bicara " ucapnya dengan microphone yang sudah berada di tangannya , " Terimakasih Ayah Ibu karena telah menerima lamaranku malam ini dan menyambut dengan baik kedatangan kami "
" Dan juga emmm... terimakasih karena telah membesarkan calon istriku dengan sangat baik dan cantik " sambungnya dengan bibir yang terlipat menahan senyuman , " sebenarnya beberapa hari ini aku tidak bisa tertidur nyenyak karena menanti malam ini , dan untuk pertama kalinya aku merasakan begitu gugup ... " ucapnya , lalu berhenti sesaat , " setiap malam aku selalu berpikir bagaimana jika orang tua Elin menolak lamaranku atau tidak memberi restu pada hubungan kami , sementara aku begitu mencintai putrinya " sambungnya membuat ruangan itu kembali riuh oleh teriakan beberapa orang yang tidak lain adalah Nathan , Alfin dan Mike.
" Good job Rem " teriak Alfin begitu bersemangat.
" Ternyata CEO perusahaan besar juga bisa mengucapkan kalimat yang begitu romantis " sambung Nathan.
" Lihat dulu siapa Gurunya " pungkas Alfin dengan begitu bangga.
" Ternyata semuanya tidak sesulit yang aku bayangkan " sambung Daniel.
" Sekali lagi terimakasih Ayah Ibu karena telah mau merelakan Elin untuk menjadi istriku " ucapnya dengan begitu serius.
" Dan untuk Ibuku tercinta " lanjutnya menatap pada Viona.
" I love you somuch Mam , kau ibu yang begitu luar biasa " ucapnya singkat namun berhasil membuat air mata Viona kembali menetes.
" Dan untukmu " katanya pada Elin.
" tolong tepati janjimu untuk mencintaiku sampai akhir karena aku juga akan melakukan hal yang demikian padamu " ucapnya begitu romantis dan itu berhasil membuat ruangan itu kembali riuh oleh teriakan gemas dari dua kubu yang telah bergabung , " ingat Elin hukumnya adalah wanita selalu benar " sorak Amel di tengah keriuhan.
" walau hukumnya wanita selalu benar tapi yang harus di ingat adalah , kodrat seorang istri adalah harus tunduk pada Suaminya " sambung Alfin tak mau kalah , dan itu benar-benar berhasil membuat ruangan itu kian riuh oleh suara tawa semua orang.
" Maaf , apa kedatanganku begitu terlambat " ucap tiba-tiba dari seseorang yang baru saja tiba ke dalam ruangan , dan itu cukup membuat semua orang terdiam dengan menatap sedikit terkejut.
Berbeda dengan Viona yang langsung tersenyum , " aku selalu yakin bahwa kau ayah yang baik ".