Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Welcome To Hot Papa


" Sayang " panggil Alfin dari luar kamar mandi. Sementara Amel telah berada di dalam ruang itu cukup lama, " sayang, apapun hasilnya jangan di pikirkan. Tidak apa-apa jika negatif " ujarnya menjadi panik, karena Amel tak kunjung keluar sejak tadi.


" Kita masih bisa mencobanya lagi dan jangan khawatirkan orang-orang. Mereka pasti akan mengerti. Keluarlah sayang " pintanya semakin cemas.


Klek


Pintu itu terbuka, bersama Amel yang terlihat sendu.


" Jangan khawatir, tidak apa-apa. Kita masih bisa mencobanya " ucap Alfin yang langung bergerak memeluk tubuh istrinya.


Sementara Amel kini sudah sesegukan di dalam pelukannya, " bagaimana ini " racaunya di dalam tangisannya.


" Jangan khawatir sayang, semua orang pasti mengerti. Sabar oke, mungkin memang belum saatnya.. "


" Bagaimana ini. Aku masih tidak percaya " potong Amel.


" Kau harus percaya pada sang Pemberi sayang. Jangan sedih oke, kita akan coba lagi nanti " ucap Alfin sambil mengusap lembut punggung istrinya.


" Aku tidak percaya. Kalau ternyata aku benar hamil Alfin " seru Amel, bersama tangisnya yang semakin pecah.


Sekejap mata Alfin membesar sesaat, mencerna setiap perkataan istrinya. Lalu melepas pelukannya, untuk melihat ekpresi wajah istrinya saat ini, " sayang...jadi kau be be naar ha..mil huh " tanyanya terbata-bata, dan Amel mengangguk bersama air mata yang semakin deras mengalir, " aku positif " ucapnya sambil menunjukkan testpack di tangannya.


" Ya Tuhan " seru Alfin begitu lantang, di dekapnya kembali tubuh Amel dan mereka menangis sejadi-jadinya disana, " akhirnya aku hamil lagi sayang " seru Amel di tengah tangis bahagianya.


" Tuhan memberi kesempatan lagi pada kita untuk menjadi orang tua sayang " tambahnya begitu terharu.


Sementara Alfin kini hanya bisa mengangguk dengan air mata yang ikut berderai, " terimakasih Tuhan, Terimakasih untuk kepercayaannya lagi " ucapnya sambil memeluk erat tubuh Amel, sembari terus mengecup puncak kepala istrinya.


" Bunda dan Mama harus tahu berita bahagia ini. Mereka pasti sudah menunggu " lanjutnya sambil mengajak tubuh Amel beranjak.


~


" Morning " sapa Green pada semua orang yang berada di meja makan.


" Morning " balas semua orang, dengan Viona yang merentangkan kedua tangannya, meminta Naina yang berada di gendongan Nathan untuk berada di pangkuannya, " kemari cucuku " pintanya.


Sambil berlari gadis kecil itu melangkah menuju Viona.


" Apa Naina pusing, memiliki banyak Nenek ? " tanya Viona tertawa, tapi gadis kecil itu menggelengkan kepala, " tidak, Naina suka punya banyak nenek " sahutnya begitu polos dan semua orang tertawa.


Green dan Nathan ikut bergabung ke meja makan. Mengambil posisi di tempat biasa mereka duduk di meja makan besar itu, " Kak Daniel tidak ikut sarapan ? " tanya Green pada Viona dan memang tidak melihat keberadaan lelaki itu disana.


" Emmm.., sepertinya dia sedang sibuk dengan pekerjaannya " sahut Viona dan Green mengangguk mengerti. Karena hal itu memang sesuatu hal yang sangat wajar di dengar dari laki-laki sukses kota New York.


Ia kembali terdiam sesaat, menyadari masih ada kursi yang masih belum terisi di antara mereka, " Bun, apa belum ada kabar ? " tanyanya lagi pada Wilna. Dan wanita paruh baya itu menggeleng lemah, " belum, Bunda sudah menunggu sejak tadi tapi mereka belum juga datang kemari ".


" Tunggu saja bun " timpal Banyu, " dan jangan menanyakannya, jika mereka sendiri tidak mengatakannya " tambahnya.


Wilna mengangguk. Ia paham, maksud dari perkataan suaminya, " saat ini Bunda justru khawatir kalau mereka tengah terbeban Ayah " ucapnya lemah.


" Oleh sebab itu jangan ada yang menanyakan tentang itu, sampai mereka sendiri yang mulai mengatakannya " ucap Banyu, dan kali ini ia tunjukan untuk semua orang.


Dan bersamaan suara langkah kaki beriringan terdengar.


" Itu mereka " seru Nathan pelan.


" Ingat jangan ada yang mengungkit hal itu " ucap Banyu dan semua orang mengangguk mengerti.


Deg


Jantung Green sedikit berdebar, saat melihat mata Amel yang kini memerah dan ia sangat tahu kalau hal itu di sebabkan oleh tangisan.


" Mel.. " serunya lemah, sambil beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke arah perempuan itu.


" Tidak apa-apa oke. Jangan terbeban pada kami " ucapnya seraya merangkul tubuh Amel, dan karena sikapnya seperti iti, kini tangis Amel kembali pecah. Membuat semua orang yang berada di meja makan ikut panik dan ikut beranjak


Green mengusap air matanya, ia tak mampu menahan kesedihan melihat Amel yang menangis di dalam pelukannya, " jangan khawatir, mungkin sekarang belum waktunya. Dia pasti akan ada di tengah kita di waktu yang tepat Mel. Jangan menangis, aku mohon " cercahnya.


Tapi Amel tidak berhenti terisak.


Bahkan kini ia ikut menangis karena tak kuasa melihat tangisan menantunya.


" Mel jangan menangis. Please " pinta Green. Namun air matanya sendiri tidak berhenti mengalir.


" Green " panggil serak Amel.


" Hemmm.. Jangan terlalu di pikirkan oke. Secepatnya dia pasti akan ada lagi di tengah kita Mel. Yang terpenting kalian tidak berhenti berusaha dan berdoa "


" Ya Green benar nak. Jadi jangan terlalu khawatir, mungkin Tuhan memang ingin kalian berpacaran dulu saat ini " sambung Wilna.


Nathan menepuk lembut pundak Alfin, " Jangan khawatir, kau hanya perlu sering mencobanya lagi dan jangan putus asa " ucapnya sedikit tertawa, dan itu dia lakukan demi mencairkan suasana kesedihan di tengah mereka, meski tak menampik di dalam lubuk hatinya, ia ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh saudaranya.


" Green.. " Ulang Amel.


" Aku positif " lanjutnya lemah.


Suasana menghening sesaat, di tengah tangisan mereka untuk mencerna ucapan Amel.


" Aku hamil Green " ucap Amel memperjelas.


Semua mata di sana membesar seketika.


" Mel kau serius " tanya Green tak percaya, bahkan ia menarik tubuhnya dari pelukan Amel, dan menatap dengan lamat, wajah perempuan itu.


" Mel katakan, kau serius ? " ulangnya begitu lantang dan perlahan Amel mengangguk, sambil mengangkat tangannya memperlihatkan testpack yang berada di genggamannya.


" Ya Tuhan " pekik Green tak percaya. Tangis kesedihannya kini hilang oleh raut wajah yang begitu bahagia, " Bunda, Amel positif " teriaknya pada Wilna, sambil menyodorkan hasil testpack Amel.


" Ya ampun nak. Kenapa kau tidak bilang dari tadi huh " timpal Wilna begitu senang.


Green kembali memeluk Amel, bahkan dengan begitu erat, " selamat Mel, akhirnya kau jadi Ibu. Ah aku benar-benar bahagia saat ini " ucapnya begitu senang.


" Apalagi aku Green " balas Amel yang kini kembali menangis karena terharu dan rasa bahagia yang tidak bisa hanya di ungkapkan dengan kata-kata.


" Naina, Naina sebentar lagi akan punya adik nak " Seru Green pada putrinya.


" Adik ? " ulang gadis kecil itu tak mengerti.


" Hemm.., sekarang di perut Bunda sudah ada dedek bayi " jelas Green sambil mengelus perut Amel.


" Disini " tunjuk Naina pada perut Amel.


" Iya, jadi mulai sekarang Naina enggak boleh minta gendong sama Bunda ya. Nanti dedek bayinya sakit " jelas Green dan gadis kecil itu mengangguk, " Kenapa dedek bayinya di dalam perut Bunda Mam " ucapnya tidak mengerti dan itu membuat semua orang tertawa.


Wilna kini berhamburan memeluk Alfin, " selamat putraku " ucapnya begitu bahagia, di peluknya erat tubuh putra keduanya itu.


" Sebentar lagi aku akan jadi ayah, Bunda " ucap Alfin serak, dan itu terdengar begitu emosional di hati semua orang.


Bahkan Wilna kini ikut kembali menangis, " jaga dengan baik nak. Sekarang Tuhan kembali percaya untuk menjadikanmu seorang ayah " ucapnya sambil mencium.


" Tentu Bunda " sahut Alfin yang kini tidak lagi bisa menahan tangis bahagianya.


" Ayah kita dapat cucu lagi " seru Wilna pada Banyu setelah melepas pelukannya pada Alfin.


" Iya Bunda, ayah tahu " sahut Banyu dengan garis bibir yang melengkung sempurna, dan bergantian, kini gilirannya yang merengkuh tubuh Alfin, " selamat nak. Ayah yakin kau akan jadi ayah yang hebat. Jaga baik-baik selama kau di beri kepercayaan ".


" Terimakasih Ayah. Aku hanya ingin jadi ayah yang hebat seperti Ayah " balas Alfin sesegukan.


" Apa kau tidak ingin sepertiku Al. Aku juga ayah yang baik " timpal Nathan mendekat.


" Ya seperti kau juga " sahut Alfin pasrah, dan pelukannya kini bergantian pada Nathan, " selamat Brother, aku benar benar bahagia untukmu, seharusnya kau mengatakan ini dari tadi " cercah Nathan.


" Biar semakin surprise Jo " balas Alfin tertawa, sambil menyeka sisa air mata haru di pipinya.


" Ceh, walau menyebalkan tapi sialnya rencanamu berhasil " ungkap Nathan ikut tertawa dan kembali memeluk erat tubuh saudaranya, " sekali lagi selamat brother, sekarang kita benar benar menjadi lelaki yang keren "


" Tentu, Welcome to Hot papa " balas Alfin lantang.