
Elin menarik nafas begitu dalam, sebelum membuka mata tertidurnya. Di pandangnya langit-langit kamar dan jendela yang masih tertutup gorden. Namun masih bisa di curi celanya oleh sinar matahari pagi.
Aroma mawar yang semerbak membuat bibirnya tersenyum dan tersadar oleh statusnya pagi ini. Dan garis bibirnya semakin melebar tak kalah melihat tangan yang melingkar si pinggang rampingnya.
Susah di jelaskan bagaimana suasana hatinya pagi ini. Yang pasti itu sebuah kebahagiaan yang luar biasa.
Tubuhnya yang membelakangi si pemilik tangan besar itu, kini perlahan berbalik lalu menatap lekat wajah yang masih tertidur dengan begitu pulas, " terimakasih Tuhan, karena ini bukan mimpi ", kata-kata itu terlontar mengingat bagaimana suasana kemarin sore. Yang bahkan saat hari ini di ingat, semuanya masih memilukan.
Di belainya lembut wajah yang sedikit memiliki bintik-bintik hitam yang nampak begitu tepat keberadaannya di wajah tampan lelaki yang saat ini sudah menjadi suaminya itu.
Sekejap ia tersadar oleh waktu. Lalu menoleh cepat pada jam weker yang di letakan di atas nakas, " oh Tuhan, kenapa tidak ada yang membangunkan aku ", erangnya sambil bergegas dari tempat tidur dan meninggalkan belaian tangannya pada wajah tampan Daniel.
Di tengah tergesa-gesanya, geraknya tertahan oleh tangan kirinya yang tiba-tib di tarik, bahkaan membuat tubuh kecilnya kembali terhempas di atas tempat tidur, " Morning wife " ucap serak Daniel sambil melayangkan kecupan di ujung kepalanya.
" morning husband " balasnya dan bibinya kembali melengkung menyadari manisnya ucapan yang baru ia lontarkan.
" kau sudah bangun ? " tanyanya, sambil berusaha bangun kembali. Namun tangan besar Daniel, tentu tidak akan membiarkan itu terjadi. Bahkan kini tubuhnya di rengkuh dengan semakin kuat.
" sayang, aku harus bangun, aku harus membuatkan sarapan untukmu " cercahnya sambil berusaha lolos dari pelukan yang semakin di pererat oleh Daniel.
" Aku tidak lapar " balas Daniel seenaknya, dengan bibir yang mengecup bergantian pada setiap lahan yang berada di tengkuk Elin.
Hembusan hangat dari nafas lelaki itu membuatnya begidik geli, bahkan membuatnya lupa seketika rencana semula, " sayang pleasa...", pintanya dengan suara yang sedikit mulai serak, " aku benar-benar harus bangun sekarang..." sambungnya dengan nafas yang mulai berat dari sebelumnya, " memangnya siapa yang akan marah kalau kau tidak bangun sekarang huh ? ", kata Daniel yang sedikit tersenyum sambil terus mencumbu tengkuk yang kini telah di tumbuhi bulu-bulu halus yang mulai berdiri.
Tidak ada lagi balasan dari bibir Elin, selain mata yang terpejam dan lenguhan nafas yang terdengar semakin memburu. Namun beberapa saat kemudian matanya kembali terbuka, dan itu bukan karena ia mengingat kembali tentang sarapan pagi, tapi kerena cumbuan di punggungnya yang kini berhenti.
Tubuhnya berbalik seketika, " mandilah sayang, ibu pasti sudah menunggu kita turun ", ucap Daniel tanpa rasa bersalah dengan menahan senyum.
Mata Elin menyipit. Ada sedikit kekesalan terpancar disana.
" Apa kau ingin mandi bersama ? " tanyanya lagi, sebelum sempat Elin mengutarakan umpatan yang ingin terlontar dari mulutnya.
" Tidak " sahutnya ketus, dan itu membuat bibir Daniel tersenyum lebar tanpa sepengetahuannya.
" Kalau begitu, aku mandi lebih dulu " ucap Daniel sambil berangsur bergerak ke sisi tepian ranjang yang berada disisi Elin.
Tapi tiba-tiba ia menghentika geraknya sesaat, lalu mencondongkan kepalanya kesisi telinga kiri Elin.
" Kita satu sama.. " bisiknya lembut, lalu tersenyum kemenangan ketika Elin menatap wajahnya. Dan tanpa rasa bersalah ia
terus berjalan menuju pintu kamar mandi.
Sementar Elin masih tertegun untuk mencerna kata-kata lelaki itu. Dan kemudian ia ikut tersenyum lebar, " rupanya dia kesal" gumamnya, bahkan kini ia nyaris tertawa, saat kepalanya kembali mengingat kejadian tengah malam tadi.
Dimana ia ingat betul kalau tadi malam mereka telah bercumbu, bahkan saat mengingatnya sekarang tubuhnya bereaksi.
Bibir mereka berpagut dengan nafas yang melenguh, tapi di saat itu juga tubuh lelahnya seperti tidak bis di ajak berkompromi. Begitu tubuhnya di baringkan di baringkan bersama Daniel yang sibuk mengecup leher jenjangnya, saat itu juga matanya seperti di sihir untuk terpejam dan kemudian ia tidak tahu lagi apa yang terjadi, hingga tadi terbangun.
" Hemmm ya " balasnya sambil bergegas bangun dan berjalan kearah Daniel, " ada apa ? " sambungnya ketika sudah berada begitu dekat. Namun masih memiliki sedikit jarak di antara mereka yang sengaja ia biarkan. Tapi Daniel tidak menjawab dan membuatnya bingung dengan kini mengikuti arah pandangan lelaki itu, " astaga " sergahnya sembari mendekap tubuhnya sendiri. Kini ia tersadar pada baju pemberian Hannah yang ia gunakan saat ini. Yang begitu tipis, bahkan sangat-sangat tipis dengan lingkaran dada yang begitu rendah. Ntah apa yang ada di dalam pikiran Hanna dan Vale saat membelikan pakaian itu sebagai hadiah pernikahan untuknya. Yang di perjelas di dalam Note yang tertulis harus di gunakan tadi malam.
Daniel tertawa melihat kepanikannya, " aku sudah melihatnya sepanjang malam sayang " ucapnya dengan kalimat yang begitu tega pada seseorang yang menahan malu setengah mati. Dan kalimat itu menimbulkan semburat warna merah pada wajah putih Elin yang kini tengah berusaha menormalkan kondisinya.
" Apa yang kau butuhkan,hmmm ? " tanyanya dengan tenang dan perlahan melepas dekapan tangannya dari tubuhnya sendiri, " maaf sayang bisakah kau menyiapkan pakaianku " pinta Daniel dengan begitu lembut. Namun sebenarnya bukan itu yang sedang ia inginkan.
Mendengar permintaan itu bibir Elin tersenyum, " tentu " sahutnya.
" Terimakasih istriku " ucap Daniel yang kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Dan Elin dengan cepat bergerak menuju koper milik Daniel, lalu mengambil beberapa pakaian yang akan di kenakan suaminya pagi ini. Dan ia berencana ingin memindahkan semua pakaian itu ke lemari pakaiannya.
Melakukan hal itu membuat garis bibirnya melengkung sempurna. Dirinya merasa begitu senang dan lucu bersamaan. Rasanya masih seperti mimpi meletakan pakaian suaminya ke dalam lemari pakaian. Sementara kemarin pakaiannya sendiri masih di rapikan oleh asisten rumah tangga di rumahnya. Dan masih seperti mimpi kalau saat ini ia sudah menjadi seorang istri seperti sahabat-sahabatnya.
" Klek " pintu kamar mandi kembali terbuka, membuatnya dengan cepat menoleh, " sudah selesai ? " tanyanya dengan matanya yang menemukan kepala Daniel di sela pintu, " aku butuh handuk " pinta lelaki itu.
" Huh ?,bukannya disana sudah di sediakan handuk " balasnya sedikit bingung. Tapi kepala Daniel menggeleng, melawan peenyataannya, " sebentar " titahnya sambil membuka pintu lemari pakaiannya yang lain.
Lalu tangannya bergerak menarik handuk di saat menemukan benda itu di antara tumpukan penyimpanan pakaian mandi, " ini " katanya sambil tersenyum, dengan Daniel yang ikut tersenyum. Namun ada yang berbeda dari senyumannya, membuat dahi Elin sedikit mengkerut heran.
Saat tinggal beberapa senti tubuh Elin dari jangkauan tangan Daniel. Seperti serigala yang ingin menangkap mangsanya lelaki itu menarik tangan Elin, " Daniel..... " teriak Elin histeris ketika menyadari rencana busuk suaminya, " sssttttt, jangan teriak, kata Ayah tadi malam jangan berteriak " kata Daniel tersenyum dan dengan polosnya Elin menangkup kedua bibir dengan tangannya, meloloskan dengan mudah untuk Daniel melancarkan niatnya untuk mendi bersama. Dimana rencana itu sudah di rencanakan sejak tadi ia meminta di siapkan pakaiannya.
Sementara di meja makan, semua orang terdiam ketika suara teriakan Elin terdengar, " bu, bukankah itu suara kakak ? " ujar seni kepada Mala.
Mala yang semula ikut terdiam, kembali melanjutkan pekerjaannya membantu asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan, " iya " jawab seadanya.
" Mungkin terjadi sesuatu pada kakak bu" sambung Seni terlihat panik.
" Kakakmu baik-baik saja " jawab Bimo, sebelum Mala menjawab, " mungkin ada sesuatu yang tengah membuatnya geli " sambungnya lagi, dengan mata yang saling memandang pada Mala. Bahkan Mala nyaris tersedak.
" Mungkin cicak, soalnya kakak sangat takut dengan cicak Yah " ujar Seni polos, dan Bimo mengangguk, " cicaknya pasti gede, soalnya bule " sambungnya sedikit tertawa.
"Ayaah " pekik Mala yang kini justru membuat Seni menatap heran, " memang ada cicak bule yah ? " tanyanya penasaran.
" Ada, itu buktinya kaka... "
" Ayah cukup " teriak Mala kembali memekik, " nak tolong bantu ibu bangunkan kak Tama ".
" Baik bu " kata Seni yang mulai ingin beranjak, " tidak usah " ucap Bimo yang membuatnya menghentikan langkahnya, " kakakmu pasti sudah bangun sejak tadi, bahkan mungkin ia tidak tidur sejak tadi malam " ujar Bimo sambil tersenyum.
" Ayah cukup " Peringat Mala sekali lagi, dan bersamaan Tama berjalan ke arah meja makan.
" Nah ini dia ? " kata Bimo kembali berbicara, " apa tidurmu nyenyak tadi malam ? " tambahnya sebelum Tama sampai ke meja makan, dan saat itu bola mata Mala telah membesar dengan sempurna menatap ke arahnya.
" Ayah cuma bertanya tidurnya nyenyak atau tidak buuuuk " .