
Sharen, tak beranjak dari pintu ruang kerja Elin. Dia berdiri di selanya yang sedikit di buka, demi memastikan kedatangan Elin.
Pagi ini, dia begitu bersemangat untuk datang ke kantor lebih awal, hanya untuk meniup balon-balon berwarna magentha yang dia siapkannya bersama Bimbim kemaren siang. Mereka menyiapkan kejutan kecil dalam ruangan itu, menyambut kembalinya sang pemilik meja yang sudah di tinggalkan beberapa bulan.
Setelah pernikahan Elin. Sharen, menjadi begitu akrab dengan teman kantor perempuan itu. Dia lebih banyak berada di ruangan kerja Elin, ketimbang ruang kerjanya sendiri. Bahkan, ia sering membawa pekerjaannya kesana. Berada di ruangan itu sangat menyenangkan. Mendengar candaan Bimbim dan menatap wajah serius David di hadapan laptop, jauh lebih berhasil membuatnya bersemangat bekerja. Dan beberapa hari belakangan, hubungannya bersama David memiliki kemajuan.
Lelaki itu, mulai lebih dulu tersenyum padanya. Menyapanya dan tiga hari yang lalu hatinya merekah oleh saduan Bimbim. " David mencarimu. Karena hari ini kau tidak muncul keruangan kami ", katanya memberitahu, ketika mereka berpapasan di lantai parkir. Tubuhnya yang membungkuk karena kelelahan duduk di depan komputer, langsung berdiri tegak saat itu. " Bim, aku sungguh akan mencekikmu, kalau ku tahu kau berbohong ", sergahnya tak yakin.
" David ini Sharen ", pekik lelaki itu tiba-tiba. Dan mata Sharen menemukan David di belakang tubuhnya, meski sedikit jauh. Ia berlari, untuk mendekap mulut Bimbim. " Tadi kau mencarinya kan ?. Ini dia David ", serunya lagi, sebelum tangannya sampai di bibir lelaki itu.
David tak menjawab apapun. Hanya tersenyum getir, dengan pipi yang memerah. Begitu pun pipi Sharen saat itu. Seharusnya dia tidak merasa malu, Tapi pipinya menghangat tanpa permisi, dan merona tanpa persetujuan.
Bimbim tergelak, sangat lucu menyaksikan dua orang yang saling malu-malu. Padahal, mereka sama-sama jatuh cinta.
" Dia datang ", pekiknya, saat dari kejauhan dia melihat bayangan tubuh Elin berjalan.
Bimbim mengambil posisinya, begitu pun Frans dan David. Dan Sharen bergabung di sebelah lelaki itu. Posisi, yang sangat kebetulan. Mereka saling melempar senyuman kaku. Dengan pipi Sharen yang sedikit merona. " fokus fokus ", sergah Bimbim sengaja, untuk menyadarkan mereka berdua, kalau Elin akan segera sampai, di tengah tubuh mereka yang berdiri kaku karena grogi.
Knop pintu bergerak. " surpriseee ", seru mereka bersamaan. Saat itu, Elin yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya terkejut. Tersentak oleh teriakan mereka, dan balon-balon yang memenuhi ruangan.
Balon dengan warna yang hampir sama dengan warna blazer yang ia gunakan. Dan serasi dengan warna mawar yang di berikan oleh Laurent. Mantranya benar-benar bekerja dengan baik hari ini. Warna merah muda benar-benar mewarnai harinya.
Tulisan Welcome back Elin, terpampang di ujung dinding ruangan. Dan Elin tertawa melihatnya. Wajahnya yang tertidur di atas meja kerja, terpampang disana.
Meja kerjanya juga di hiasi pernak-pernik berwana merah muda, sama dengan warna balon yang di biarkan berserakan di atas lantai dan di susun dengan cantik, di sudut dinding ruangan. " welcome back Nyonya Muda ", seru Bimbim, seraya menyemprotkan potongan potongan kecil kertas origami metalik. Dia tak sabar untuk memeluk tubuh istri Bossnya itu. Terakhir kali mereka berpisah di Bali, dan kini dia sudah begitu merindukannya.
Elin tidak bisa mengatakan apapun. Dia terlalu senang karena kejutan itu. Dan juga tidak menyangka. Kalau ke empat teman kerjanya, akan melakukan hal demikian untuknya. " Kau terkejut ", kata Bimbim setelah selesai memeluknya. " Sangat terkejut, sampai aku tidak bisa bicara ", sahutnya.
Sharen, menarik tubuh Bimbim dari hadapan Elin. Ia tidak bisa lagi sabar, untuk bergantian memeluk tubuh perempuan itu. " selamat datang kembali Elin ", ucapnya begitu senang, seraya merengkuh erat tubuh Elin. Hampir saja bunga yang di berikan Laurent, hancur karena pelukannya. Kalau saja, Elin tidak cepat mengangkat buket bunga itu ke atas. " terimakasih Sharen. Sungguh aku sangat senang dengan kejutan kalian, sampai aku tidak bisa mengucapkan apapun ", katanya. Sharen merengkuhnya semakin erat. " sangat menyenangkan karena kau telah kembali ", ucapnya dengan begitu tulus, lalu melepas pelukannya. Saat itu, David langsung menggantikan tempatnya. Dia tidak memeluk Elin, seperti yang lain. Hal itu masih canggung untuk di lakukan di antara mereka. Semua orang tahu, dia pernah menyukai perempuan itu. Perempuan yang sudah menjadi istri dari Bossnya sendiri. " selamat datang kembali, Elin ", katanya dengan tangan yang terulur ke hadapan perempuan itu. Elin menyambutnya dengan bersemangat. Dan mengamati wajahnya. " Kau terlihat lebih cerah sekarang ", tukasnya. Senyum David yang semula merekah, kini sedikit tersipu.
" Kau juga menyadarinya ", sergah Bimbim, dan Elin mengangguk. " Apa yang terjadi, selama aku tidak ada huh ? ". serunya. Bibir Bimbim ,bergerak ke arah Sharen. Dan Elin langsung tersenyum saat itu. " sudah ada kemajuan ? ".
" Lebih dari yang kau sangka ", balas Bimbim tertawa. Sharen berdelik padanya. dan David, melemparkan tatapan tajam. " Kau lihat Elin, mereka sama-sama malu ", sergahnya,
Kemudian dia berlari ke arah ujung ruangan, karena Sharen, sudah bersiap ingin melemparnya dengan binder tebal yang di ambil cepat, di atas meja Frans. " Sharen itu buku laporanku ", teriak Frans. " pinjam sebentar ", seru Sharen, seraya berlari mengejar Bimbim.
Elin tak berhenti tertawa. Ke empat orang itu benar-benar membuatnya senang. Bukan karena balon-balon yang berhamburan di lantai, tapi karena tingkah mereka.
" Selamat datang kembali, Elin ", kali ini Frans yang mengucapkannya. Lelaki itu, hampir saja terlupakan keberadaannya. Dia orang yang tak banyak bicara. Jadi perannya sedikit tersisihkan di banding Bimo dan Sharen. Dan selalu menjadi orang terakhir saat mengucapkan apapun. Tapi Frans, orang yang menyenangkan, dan orang yang disiplin. Elin, mencontoh sikap baik itu darinya. " terimakasih Frans ", balasnya.
Elin, membiarkan Bimbim di pukuli Sharen di ujung ruangan. Pekik gemulainya karena kesakitan, bergema di dalam ruangan itu. Sungguh, suara itu tidak membuat orang lain simpatik dan kasihan, justru membuat tertawa. Ia tergelak setiap kali Bimbim berteriak, begitu pun Frans yang pendiam. Bahkan David, juga tak berniat untuk menghentikannya.
" Berhenti Sharen. Kau menyakiti aku Sharen ".
" Kau pantas mendapatkannya ", sergah Sharen.
" Aku tidak menyakitimu ", kata Bimbim membela diri.
" Tapi kau membuat aku malu ".
Elin tak berhenti tertawa, oleh tingkah dua manusia itu. " sebagai ganti dari suprise ini. Makan siang nanti, aku akan mentraktir kalian ", serunya. Sharen menghentikan pukulannya di tubuh Bimbim. " Kau baik sekali Nyonya Muda. Dan aku tidak akan menolaknya ", balasnya tertawa.
" Aku juga ", sambung Bimbim, lalu Frans dan kemudian David. Lelaki itu benar-benar terlihat berbeda saat ini. Dia lebih ceria dan banyak bicara.
" Makan siang di restoran spahgetti di depan gendung ini saja, aku sudah senang ", kata sharen menimpali, dan Elin kembali menggeleng. " aku akan mentraktir kalian di kafeteria ", katanya memberitahu. dan saat itu, Bimbim dan Sharen langsung berteriak kecewa. Espektasinya, untuk makan di restoran mewah siang ini, hanya khayalan. dan Elin kembali tergelak, karena berhasil membuat dua manusia berisik itu bersorak kesal.
~
Meili, merenggangkan tubuhnya di ambang pintu ruang kelasnya. Lebih dari dua jam dia berada di dalam sana. Memperhatikan dosen menjelaskan materi yang sempat tertinggal selama keberadaannya di Indonesia. Sesekali konsentrasinya terbuyarkan oleh wajah Jerry yang sekilas hadir di pikirannya, dan saat itu, dia langsung tersenyum. Mengingat wajah Jerry selalu membuatnya senang.
Tak terasa jam pelajaran berakhir, dan Meili bersemangat untuk pulang. Lebih bersemangat, karena saat dia tiba di rumah nanti, tepat di waktu Jerry bangun tidur. Lalu mereka akan bertemu di balik panggilan Video Call. Saling bertukar kabar,dan berbagi cerita, tentang apa saja yang dia lakukan sepanjang hari ini. dan Saat sore waktu New York, dan itu berarti pagi di Indonesia. Waktunya Meili, yang menceritakan aktifitasnya pada Jerry. Apa saja yang dia lakukan hari itu, dan kemana saja dia pergi. Sedikit berlebihan memang, tapi mereka saling senang melakukannya. Jerry selalu mendengarkannya dengan seksama ketika dia berceloteh. Ntah itu dalam hal yang mudah. Misalnya, dia hanya menceritakan perihal buah apel di tangannya yang jatuh di lantai, lalu di ambil kembali, di usapnya, lalu di makannya. Jerry selalu menanggapi ceritanya dengan senang. " aku sama dengan perempuan lain ", serunya, dan Jerry tertawa.
Meili perempuan yang konyol. Sungguh, Jerry baru menyadarinya ketika mereka sering berbincang. Obrolan mereka tak pernah ada habisnya. Selalu saja, perempuan itu punya topik untuk di bicarakan. Ntah itu, sesuatu yang serius, atau hal yang sangat konyol. Lebih sering hal yang konyol. Tak sering adik Daniel Remkez itu menanyakan sesuatu hal yang tidak penting. Misalnya, menanyakan mimpi Jerry, yang saat itu baru bangun tidur. Ketika Jerry tengah menceritakan mimpi yang di alaminya tadi malam, tiba-tiba wajah perempuan itu cemberut, dan menghentikannya. " jangan di lanjutkan. Aku tidak bersemangat mendengarnya. Jika di mimpimu bukan aku ", katanya kesal. Jerry selalu tergelak saat-saat itu. Meili benar-benar perempuan yang unik dan berhasil membuatnya selalu rindu. Mendengar celotehannya, membuat Jerry selalu tak sabar untuk menelponnya setiap pulang kerja. dan terbangun dari tidur malamnya yang panjang.
Obrolan mereka terasa selalu singkat. Dan di hentikan oleh waktu Jerry harus berangkat ke kantor, atau Meili, yang sudah harus bersiap pergi ke kampus.
Pernah sekali, perempuan itu begitu manja. Tidak ingin panggilan mereka di akhiri. padahal, Jerry sudah harus berangkat bekerja. Jadilah, saat itu, Jerry membawa handphonenya kesana kemari dalam keadaan panggilan tersambung pada Meili. Lebih dari setengah hari, aktifitasnya di temani perempuan itu lewat panggilan. Meski di seberang sana perempuan itu tengah tertidur lelap.
Jerry tidak merasa risih, dia sungguh senang hari itu. Meski hanya menemaninya lewat virtual, tapi dia merasa perempuan itu ada di dekatnya.
Ia senang, saat tiba-tiba Meili memanggilnya dengan suara serak. Ketika sudah mendengar jawabannya, perempuan itu kembali tertidur. Terus begitu sampai berulang kali. Sampai tak sadar panggilan mereka terhubung lebih dari dua belas jam. Kalau saja handphone Meili , beterainya tidak habis, mungkin panggilan itu akan tersambung sampai dia terbangun, dan Jerry kembali ke apartemennya lagi. Lalu panggilan mereka mungkin akan tersambung lebih dari dua puluh empat jam.
Sekonyol itu memang, ketika jatuh cinta. Segala sesuatunya terasa indah. Terlebih saat rasa cinta itu saling terbalaskan, seperti mereka saat ini. Saling merindukan dan saling tak sabar untuk bertemu.
Kalau saja, setiap kali mereka sedang mengobrol dengan perasaan berbunga-bunga. Dan udara di dalam ruang tidur mereka bisa mengekspresikan perasaan mereka. Mungkin gelembung bentuk hati sudah membumbung di langit-langit kamar mereka saat itu, bahkan mungkin sampai membuat ruang itu sesak olehnya. Oleh hembusan nafas penuh cinta, yang di keluarkan dari dua insan yang saling kasmaran.
Meili melihat alroji di tangannya. Tak terasa hampir sepuluh jam dia berada di kampusnya hari ini. Menyelesaikan tugas-tugas yang harus segera di selesaikan, demi bisa untuk cepat kembali ke Indonesia. Meili sangat bersemangat melakukannya. Mencintai lelaki berdarah Indonesia itu, memberi efek yang baik untuknya. Setidaknya dalam hal pelajaran kuliahnya. Dia jadi bersemangat untuk cepat menyelesaikan sekolahnya itu, demi untuk segera menjadi Nyonya Jerry. Dia selalu tertawa geli ketika membayangkannya.
Langkah kakinya di percepat untuk segera sampai ke tempat mobilnya terparkir. Langit di tempatnya mulai gelap, dan itu berarti langit di tempat Jerry mulai terang, dan sebentar lagi pria itu terbangun dari tidur. Dan dia harus segera sampai di rumahnya.
Hubungan berjarak sudah sulit, lebih sulit lagi di tambah dengan perbedaan waktu seperti yang terjadi pada mereka. Matahari pagi mereka tak sama, begitu pun senja mereka. Begitu sulit untuk menyamakan waktu mereka. tapi itu lah cinta. Selalu ada pengorbanan, ntah mengorbankan waktu tidur Meili, atau mengorbankan waktu istirahat Jerry. Tapi mereka senang. Mereka senang melakukannya. Perbedaan waktu antara mereka, membuat hubungan itu semakin unik. Mereka selalu mempunyai topik pembicaraan. Di pagi Meili, ketika dia terbangun. Di mendengarkan cerita Jerry, tentang apa saja yang di lakukannya sepajang hari. dan sebaliknya, di paginya jerry, dia mendengarkan celotehan Meili, menceritakan apa saja yang sudah di lakukan perempuan itu sepanjang hari. Karena perbedaan waktu itu, obrolan mereka tidak pernah membosankan. Dan selalu bewarna.
Langkah cepat Meili, melambat. Melihat tiga orang yang datang dari arah berlawanan, membuat jantungnya berdebar. Lebih tepatnya pada satu, di antara tiga orang itu.
" Hai Meil. Kau sudah mau pulang ", seru Jack menyapa. Saudaranya, Jacob juga ada disana saat itu. Tapi lelaki itu seperti sengaja tidak melihat ke arahnya. " Ya Jack ", jawabnya singkat dan tersenyum getir.
" Hei, Apa kalian sedang bertengkar ! ", pekik Jack tiba-tiba. Brian ada disana. tapi saat itu, lelaki itu tampak acuh, bahkan tak melihat ke arah Meili sama sekali. " Jangan mencampuri urusan orang lain, Jack ", kata Jacob bersuara. Nadanya dingin. Dan ia, belum memandang sama sekali pada Meili.
Saat itu, Brian terus melanjutkan langkahnya. seperti tak terusik sedikit pun oleh kehadiran Meili yang baru saja dia lewati. Dia terus berjalan, meninggalkan Jack yang masih berdiri dan menatap kebingungan.
Brian, membuat Meili seperti tak terlihat.
Dahi Jack berkerut. Lelaki itu, memang tidak tahu apa-apa dengan apa yang sudah terjadi, antara kedua sahabatnya itu.
" Jack, come on ", seru Jacob, yang berjalan di sisi Brian.
Dahi Jack semakin berkerut. Sikap Jacob pada Meili, membuatnya semakin kebingungan. " Meil ?", panggilnya dan menatap penuh pertanyaan. Tapi saat itu, Jacob kembali menyeru namanya. Ia menghela. " kemana aku sampai tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara kita ", katanya menggumam.
" Aku pergi dulu Meil ", pamitnya pada Meili, sebelum ia beranjak menyusul langkah Jacob dan Brian. " aku tidak suka kondisi ini ", katanya bergumam dan Meili mendengarnya. Tenggorokannya tercekat saat itu.
" Bye Meil ". serunya berlalu.
" Bye Jack ". Balas Meili lemah. Ia menghela panjang setelah lelaki itu pergi. Suasana hatinya berubah seketika. Ia tidak bisa berdusta saat itu, hatinya terasa perih saat Brian mengacuhkan dirinya. Seolah mereka tak saling kenal. Seolah mereka tak pernah tertawa bersama. Dirinya memang bersalah, bahkan sangat bersalah, tapi sungguh. Dia sungguh berharap lelaki itu memaafkannya, dan mereka kembali berteman seperti dulu. Tapi saat apa yang terjadi tadi, sepertinya keinginan itu hanya sebuah angan. Brian terlihat tidak akan pernah bisa memaafkannya. Dan bukan hanya lelaki itu yang membuatnya sedih. Tapi, juga sikap Jacob. Lelaki itu terlihat membencinya. Padahal mereka berteman begitu akrab. Juga begitu akrab dengan Brian. Tapi sikap lelaki itu tak salah. Justru dia lah yang harus memang siap menerimanya. Setiap yang melalukan kesalahan, harus siap menanggung resikonya. Termasuk di benci orang lain. dan kini Meili menerima itu. Kesalahannya pada Brian, berdampak pada pertemannya. Jacob membencinya, dan dia harus menerima itu.
Air matanya tak sadar menetes, di tengah sinar senja yang semakin meredup. Ternyata kehilangan teman, sama menyakitkannya.