Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Boss Ku Suamiku


Elin terbangun saat mata hari sudah menghilang. Tubuhnya seperti remuk saat itu, tapi bibirnya tersenyum.


Tersenyum karena melihat tidur pulas lelaki di sampingnya, yang memeluknya begitu erat.


Di tatapnya dengan seksama setiap inci wajah itu. Dan di sentuhnya lembut setiap bagian yang dia inginkan. Tapi, sayangnya dia menginginkan semuanya, semua bagian pada wajah itu, bahkan tubuhnya.


Alis yang tebal, bulu mata lentik, hidung mancungnya, semuanya tak terlewatkan dari sentuhan tangan Elin. Dan ia berhenti tepat di bibir lelaki itu. Bibir yang terus ia kecup di sepanjang permainan mereka. Dan ia tersenyum ketika menemukan warna lipstiknya di ujung bibir lelaki itu.


Cup


Ia tak tahan untuk tak mengecup bibir lelaki itu. Sedikit egois. ia tak peduli jika hal itu akan membangunkannya. Terlalu menyenangkan memandang wajah pria itu.


Dan seketika Elin merasa beruntung, sangat beruntung.


Tidak ada yang kurang dari lelaki yang menikahinya. Wajahnya tampan. Romantis dan begitu mencintainya. Untuk kekayaannya, Elin melewatkan bagian itu. Hal itu tak perlu di ragukan lagi. Otak telminya tidak akan sanggup untuk menghitung jumlah harta lelaki itu. Ia tidak naif. Tapi sungguh , harta lelaki itu bukan menjadi alasannya, ada banyak penyebab mengapa dirinya begitu jatuh hati pada lelaki itu.


Perlahan, ia melepaskan pelukan tangan Daniel yang melingkar di tubuhnya. Lalu beranjak dari tempat tidur.


Sungguh ia menyukai, saat bergeliat di dalam pelukan lelaki itu. Tapi saat ini, ia harus mandi. Ia harus mencuci tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat.


Butuh waktu puluhan menit untuknya selesai mandi, " kenapa kamar mandi ini besar sekali ", katanya bergumam, dengan piyama mandi di tubuhnya, dan rambut yang terlilit handuk. Dan kemudian, ia terpaku ketika di hadapannya berdiri dua ruang walking closet. Dari tempatnya ia sudah bisa menebak, mana ruang bagiannya dan mana ruang bagian Daniel, " apa harus dua ruang besar ? " ucapnya tak habis pikir, bahkan lebih tak habis pikir lagi, ketika ia menyadari luas ruang tidur itu. Jangan tanyakan seberapa luasnya. Yang pasti sangat luas, sampai dari tempatnya kini, ia tak lagi melihat ranjang tempat tidurnya dan Daniel.


" Apa ruangan ini memang seluas ini ? " gumamnya lagi. Di dalam ingatannya, sepertinya dulu tak seluas itu, ia pernah masuk beberapa kali, jadi sedikit mengingat dengan baik setiap sudutnya.


Waktu itu, jarak ranjang tidur Daniel dan ruang Walking closetnya tidak sejauh ini, ia ingat betul. Daniel pernah memintanya untuk mengambil pakaiannya.


" Aku masih bisa membuat kamar tidur lagi di kamar tidur ini ", gumamnya dengan sedikit tertawa. Kemudian, ia melangkah menuju ruang pakaiannya. Ia sangat tidak sabar untuk tahu, seperti apa ruangan yang di siapkan khusus untuknya itu.


Dan ia terperanga, dan tubuhnya mematung, ketika tepat berada di ambang pintu ruang itu, " sepertinya aku tidak akan membeli pakaian lagi selama sepuluh tahun ", ucapnya, menatap pada ratusan pakaian yang tersusun, dengan sangat rapi dan dengan warna-warna yang dia sukai.


Semua barang yang ada disana. Hampir semua seleranya. Dan ia kembali tersenyum. Daniel memang terlalu mengetahui dirinya.


Sempat ia mengintari ruangan itu. Melihat satu- persatu di dalamnya. Dan sungguh saat itu, ia terlalu tidak mengerti. Mengapa Tuhan begitu sangat baik, memberikan seorang Daniel Remkez untuknya.


Pakaian, sepatu dan segala macam yang berada di ruang walking closet. Semuanya ia sukai, semua favoritnya. Ia menjadi terharu karena ternyata Daniel, sedetail itu mencintainya. Hingga mengetahui sekecil apapun yang ia sukai. Bahkan, Brand lisptik yang menjadi favoritnya ada disana.


Beberapa menit kemudian, ia sudah kembali ke tempat Daniel, dengan telah menggunakan pakaian. Dan lelaki itu masih tertidur pulas di atas tempat tidur.


" Apa dia begitu lelah ", gumamnya, dan sedikit tertawa karena pikiran kotor, sekelibat adegan erangan saat lelaki itu mencapai puncaknya, muncuk di otaknya.


Dan bersamaan handphonenya berbunyi. Benda itu masih berada di dalam tasnya waktu itu. Ia benar-benar melupakan keberadaan bendanya, karena ulang Daniel.


" Semua orang pasti menunggu kabarku ", gumamnya menyesal,dan bergegas mengambil benda pipihnya. Dan saat melihat pada layar benda itu, ia menemukan nama yang tak ia sangka-sangka akan menghubunginya. Bukan kedua orang tuanya. Bukan Green atau Amel, tapi Tama, adiknya.


Dan Elin tersenyum melihat itu, " kenapa sekarang dia menjadi begitu manis ", gumamnya sebelum menjawab panggilan laki-laki itu.


" Apa kau sudah merindukan aku huhh ", serunya, saat telepon mereka tersambung.


" Kau membuat orang khawatir ", ucap Tama di seberang. Elin terkesiap, " aku baik-baik saja ", katanya memberitahu.


" Ya, harusnya kau memberi kabar saat sudah tiba. Ibu dan Ayah menelponmu berapa kali. Bahkan teman-temanmu juga ".


" Benarkah ?, Aku sungguh tidak tahu ".


" Memangnya apa yang sedang kau lakukan sampai tak bisa memberi kabar huh ? "


Saat itu Elin tersenyum dan menoleh pada Daniel yang masih tertidur. Tapi tak mungkin ia menceritakan apa yang sudah ia lakukan sampai melupakan handphonenya, " aku tertidur Tama ", katanya, " katakan pada ibu jangan khawatir, aku baik-baik saja. Nanti aku akan menelepon mereka".


" Secepat yang kau bisa, kalau kau punya waktu. Mereka menunggu sekali kabarmu ", titah Tama, " Ibu dan Ayah tidak tertidur, karena belum mendengar kabarmu ".


" Kalau begitu cepat katakan aku baik-baik saja Gema, jadi mereka tak lagi khawatir ".


" Katakan saja sendiri ", sahut Tama sekenanya.


" Tamaaaa ", pekik Elin kesal, " lalu untuk apa kau menelponku sekarang ",


" Ya untuk tahu kabarmu. Memang hanya Ayah ibu dan teman-temanmu yang ingin tahu kabarmu huh. Kau memang selalu melewatkan aku ".


" Ceh ", decih Elin tertawa, " menggelikan sekali kata-katamu. Apa yang sedang kau inginkan huh, katakan cepat padaku ".


" Kau benar-benar meremehkan aku. Adikmu ini juga punya uang ", kata Tama membalas kesal. Elin tertawa, " tipu muslihat ", ucapnya.


" Baiklah jaga dirimu".


" Kau sudah ingin mematikan teleponnya ? ".


" Memangnya mau apa lagi. Aku sudah tahu kau masih hidup ", sahut Tama, Elin kembali kesal, " baiklah, jangan lagi menelponku ".


" Jangan mengaturku ".


Elin tergelak, " sebegitu rindunya kah kau denganku ".


" Aku tutup, Bye ", pungkas Tama dengan langsung mengakhiri obrolan mereka.


" Ceh, kenapa sekarang dia tidak lagi menyebalkan ", ucap Elin tertawa. Handphone yang masih di tangannya itu kembali berdering. Dan kali ini nama Green yang berada disana, " Hallo ", sapa Elin tertawa, pada panggilan video yang baru tersambung.


Dan ia semakin tertawa, ketika menyadari mata mereka.


" Dasar cengeng ", ucapnya.


" Matamu lebih sembab dari mataku ", kata Green tak terima, " darimana saja kau ?. Aku sudah menelponmu sejak tadi ".


" Benarkah ?, sungguh aku tidak mendengar telepon kalian ", kata Elin dengan menyesal.


" Itu mamamu ! ", ujar Green menunjuk kearah layar, dan setelahnya tubuh Naina kecil bergabung.


" Dari kau pergi, dia masih terus menangis ", kata Green bercerita. Elin tidak lagi tersenyum, hatinya kembali terenyuh saat melihat wajah sembab Naina, " mama akan cepat pulang ",katanya lirih.


" Janji ! ", kata gadis kecil Naina, suaranya serak. Sembari mengibas sisa air mata yang berlinang di pipinya, " hemmm, mama janji ", sahut Elin.


•••


Pagi ini, Elin terbangun lebih dulu. dan hari ini pagi pertamanya di New York.


Ia bergegas dari tempat tidurnya yang besar, Meninggalkan Daniel yang masih tertidur.


Lelaki itu terlihat begitu kelelahan.


Karena tadi malam, mereka kembali melakukannya lagi. Lagi dan lagi sampai di penghujung malam.


Ia bukan sudah melupakan kesedihannya, itu jelas belum terjadi. Ia sungguh belum terbiasa berada jauh kembali dari orang-orang terdekatnya, tapi ia harus berusaha bisa. Dan sepanjang malam Daniel berhasil membuat dia tak mengingatnya.


Elin menatap dirinya di cermin, setelah membasuh mukanya. Dan kemudian tersenyum, ia teringat pada kejadian tadi malam, setelah mereka melakukannya. Dan Daniel merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan, " maafkan aku", ucap lelaki itu dengan serak, dan Elin terkejut. Di tatapnya lelaki itu, dan ia mendapati mata yang sudah berair.


" Maafkan aku ", ulangnya lagi. Ia tidak menjawab, tapi lelaki itu langsung mengerti dengan kedua alisnya yang bertaut, serta tatapan tak mengertinya.


" Maaf karena tak menceritakannya dari dulu. Kau pasti akan kecewa padaku ", katanya lagi. Dan ia masih diam, dan berharap lelaki itu segera melanjutkan ucapannya.


Tapi kemudian, ia di buat terhenyak. Bukan kalimat yang ia dapatkan, tapi tangan lelaki itu.


Daniel memeluknya semakin erat dan menangis tersendat di sana. Demi sang Maha Besar, hampir saja ia tertawa saat itu. Wajah lelaki itu tak cocok dengan tangisannya, " ada apa ?, katakanlah ", ucapnya. Tapi Daniel masih belum bicara.


" Sungguh aku tidak akan marah ", tambahnya lagi.


Mata penuh air mata kini menatap padanya, " sungguh maafkan aku. Dan jangan membenciku ".


" Aku tidak akan pernah membencimu ", katanya langsung memotong. Daniel masih menatapnya saat itu, sembari menyeka matanya.


" Maaf karena aku... " katanya menjeda, dan terlihat sangat ragu untuk melanjutkan bicaranya.


" Katakanlah ", katanya kembali meyakinkan lelaki itu.


" Maafkan aku. Aku tidak menceritakan apa saja yang sudah terjadi antaraku dan... "


" Hannah ", kata Elin, yang langsung melanjutkan. Mata Daniel membesar, dan kemudian sinar matanya meredup.


" Kalian sudah pernah melakukannya ? ", kata Elin langsung bicara. Daniel terlihat menelan ludah saat itu, dan perlahan mengangguk.


Sejenak mereka menghening.


" Maafkan aku, sungguh maafkan aku. Aku tahu kau pasti sangat kecewa padaku. Maafkan aku sayang. Aku sangat merasa bersalah padamu, jangan hukum aku lebih dari ini lagi ", racau Daniel kembali menangis. Dan kembali memeluk Elin dengan begitu erat.


" Aku sudah mengetahuinya, dan aku juga tidak kecewa ", ucap Elin. Daniel menarik tubuhnya dari pelukan dan menatap dengan seksama wajah istrinya itu. Sejenak mereka kembali terdiam, dengan Daniel terus seperti itu.


" Sungguh aku tidak apa-apa ", kata Elin tersenyum, dan saat itu Daniel kembali merengkuhnya, " Terimakasih Tuhan ", erang lelaki itu.


" Kau terlalu mahir, Jadi aku bisa menebaknya ",


" Istrimu ini tidak begitu bodoh ", kata Elin melanjutkan.


" Kau sungguh tidak marah ? ", Kata Daniel memastikan. Dan ia menggeleng, " itu masa lalumu. Bukankah kau juga menerima masa laluku ? ".


Daniel mengangguk, " tentu, tapi kau sungguh tak kecewa ? ".


" Tidak, sungguh. Aku menerimanya. Dunia terlalu maju untuk mempermasalahkan hal seperti itu, dan culture kita berbeda ".


Daniel kembali merengkuh erat tubuh Elin, sampai perempuan itu benar-benar tenggelam dalam pelukannya, " ya Tuhan terimakasih, atas perempuan baik ini ", ucapnya.


" Kata Green dan Amel, mereka juga mengatakan tidak perlu mempermasalahkannya ".


Mendengar itu, Daniel kembali menarik tubuhnya dengan tatapan terkejut, " Green dan Amel tahu tentang itu ? ".


Dengan gampangnya Elin mengangguk, " mereka menanyakan tentang, bagaimana malam pertama mereka, dan aku pasti menceritakannya ".


" Kau menceritakannya sayang ? ", pekik Daniel tertahan, dan saat itu, ia menghela dalam nafasnya.


Dengan polosnya Elin kembali mengangguk, " kata mereka, aku mendapatkan pisang Cavendish. Jadi mereka sangat penasaran ".


" Pisang Cavendish ? " ulang Daniel,dan sejenak ia berpikir. dan Elin melanjutkan bicaranya, " jadi aku menceritakannya, saat itu mereka banyak bertanya, dan kemudian mereka menebak kalau kau sudah pernah melalukannya ", katanya berceloteh dan tiba-tiba Daniel tergelak " astaga, pisang cavendish ", gumamnya. Ia tertawa sampai matanya berair, " Apa tidak ada pisang yang lebih besar dari itu ", katanya lagi, dan Elin menantap heran.


" Yang kau rasakan lebih besar dari pisang cavendish ".


" Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu. Tapi saat itu, aku tidak ingin menyangkal ucapan Green ", katanya begitu polos.


Dan ia masih terus tersenyum di hadapan cermin, karena mengingat kalimat-kalimat itu. Dan dari balik benda itu, ia melihat bayangan Daniel, dengan mata kantuknya lelaki itu menghampirinya, lalu memeluknya, tidak begitu erat tapi sangat lembut, " morning ", ucapnya sambil melayangkan kecupan di punggungnya. Dengan nakalnya lelaki itu menyibak kain piyama di bagian itu.


" Sayang ", titahnya, dengan kembali membetulkan pakaiannya. Daniel tersenyum, " kau selalu membuatku bergairah ", ucapnya, dan dengan nakalnya, tangan besarnya meremas bokong Elin.


Elin menghela sambil menggeleng. Ia tidak habis pikir dengan ucapan lelaki itu, setelah sepanjang malam mereka terus melakukannya.


" Kau tidak sedang ingin bersiap ke kantor kan ? " tanya lelaki itu, dengan memandang penuh selidik.


" Memangnya kenapa kalau aku sudah kembali bekerja hari ini ? ".


Daniel terkesiap. Ia sungguh tak melihat pada ujung bibir Elin yang tertahan karena menahan senyum. Wajahnya serius, " kita belum membicarakan hal ini ", hardiknya.


" Apa harus persetujuanmu ? ", kata Elin sengaja. Pupil mata Daniel membesar, " sayang.., kau tidak sedang menguji suamimu kan. Tentu kita harus membicarakannya ".


" Beberapa hari ini, aku masih ingin kau di rumah ", sambungnya.


" Tapi aku sudah merindukan pekerjaanku ".


" Ini perintah suami sayang ".


" Tapi istrimu ini punya pekerjaan ".


" Kalau begitu ini perintah dari Bossmu ", sergah Daniel, " kau di beri ijin untuk menambah hari cutimu ", sambungnya. Elin mengulum bibirnya menahan senyum, " ternyata aku meniduri boss ku sendiri ".


Mendengar itu Daniel ikut tersenyum, " itu sebabnya kau di beri cuti lagi ", sambungnya.


Elin merapatkan tubuhnya. Di belainya lembut rambut halus pada rahang tegas lelaki itu, " Apa boleh aku menambah hari cutiku lagi ", katanya begitu manja.


Daniel menyeringai, " jangan memancingku ", tukasnya.


" Aku serius ".


" Sekali lagi pagi ini, kau bisa menginginkan berapa hari pun ", balas Daniel, nada suaranya mulai serak, dan nafasnya memburu.


" Berapa hari pun ", ulang Elin, dengan semakin merapatkan tubuhnya, bahkan bibirnya ke bibir lelaki itu, " berapa hari pun ", ulangnya lagi, dan Daniel mengangguk. Ia begitu tidak sabar untuk bibir Elin sampai di bibirnya.


" aku tidak mau ", seru Elin tiba-tiba, dan sekejap, tubuhnya lolos dari hadapan Daniel. Ia berlari menuju kamar mandi, lalu menutup rapat pintu ruang itu.


Daniel mengerang tertahan, " sayang kau membuatku kesal ". pekiknya.


" Maaf boss, karyawanmu ini masih lelah ", teriak Elin dari dalam kamar mandi. Dan Bibir Daniel menjadi tersenyum karena mendengar itu, " Istriku karyawanku ", gumamnya tak habis pikir.


" Boss ku suamiku ", gumam Elin di dalam kamar mandi. Dan ia tertawa setelah mengucapkan itu.