Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Bukan Kekasih tapi Tunangannya


" Aunty ? "


" Hmmm,, " sahut Meili sedikit tersentak. Suara halus Naina berhasil membuatnya terkejut, di tengah pikirannya yang melayang. Bahkan ia tak tahu, sejak kapan putri Green itu datang menghampirinya dan sudah berapa lama ia duduk disana, di kursi taman.


" Aunty kenapa termenung ? ".


Meili tersenyum hambar, " aunty tidak termenung Naina " katanya berkilah.


" Kenapa berbohong "


" Siapa berbohong ? "


" Aunty ", tunjuk putri Green pada Meili, "padahal Naina melihat sendiri aunty termenung " sambungnya. Meili menjadi tertawa mendengar celoteh gadis kecil itu. Di peluknya gemas, " kau kenapa begitu pintar huh " katanya geram.


" Ayo masuk aunty, langit sudah mendung " ajak Naina sambil menunjuk ke arah langit. Meili terperangah, menyadari dirinya juga tidak menyadari, kalau warna langit sudah berubah begitu gelap, " apa yang aku pikirkan ", katanya mengumpat dirinya sendiri.


Pintu masuk dari arah taman, terhubung dengan ruang dapur utama, yang setengah dari ruangan itu di tutup oleh lapisan kaca. jadi ketika berada di sana, apa saja yang terjadi di halaman belakang pasti akan terlihat jelas.


" Bunda, what are you doing ? " tanya Naina, sambil berjalan menghampiri Amel yang sedang berada di dapur utama. Perempuan itu mengangkat gelas berisi jus Kiwi di tangannya, " Naina mau ? " katanya sambil tertawa. Gadis kecil itu langsung menggeleng, " No bunda " balasnya, mata bulatnya jelas menolak mentah-mentah tawaran itu. Walau sebenarnya Amel juga hanya bergurau. Ia pun tahu, tidak ada satu pun menghuni rumah yang menyukai minuman favoritnya saat ini.


Meili ikut bergabung. Bahkan menarik kursi di sisi Amel.


" Apa yang kau pikirkan Meili ? " kata Amel, menoleh sejenak pada perempuan itu.


Meili yang memang masih dengan isi pikirannya yang menerawang, terkesiap. Sejenak mereka saling bertatapan, " tidak ada " sahut Meili.


" Hampir satu jam aku membuat jus ini disini. Dan selama itu aku memperhatikanmu dari sini " kata Amel, lalu kemudian menyesal jus berwarna hijau segar ke dalam mulutnya.


Meili hanya tersenyum kecut. Tidak ada kalimat yang tepat untuk bisa membuatnya berkilah, satu jam sangat cukup untuk membuat orang yang memperhatikan, mengetahui apa yang sedang terjadi di pandangannya.


Sesaat suasana menghening. Hanya suara mulut Amel menghirup jus yang berulang kali terdengar. Naina sudah pergi ke ruang bermainnya dan penghuni lain dari rumah itu sedang tidak ada disana, bahkan Green sudah pergi dari pagi hari. Hanya mereka berdua dan para pelayan yang tidak di hitung sebagai bagian dari penghuni rumah mewah itu.


" Apa Jerry sudah menghubungimu ? " tanya Amel tiba-tiba. Dan kalimat itu jelas berhasil membuat Meili kembali tersentak. Mereka kembali saling bertatapan sejenak, Amel menatap penasaran, dan Meili melemparkan tatapan terkejut.


" Apa kalian sedang bertengkar ? " tanyanya lagi.


Puluhan kata menggumpal di ujung lidah Meili. Sebenarnya saat itu, ia ingin bercerita tentang apa yang sudah terjadi dua malam yang lalu. Tapi lidahnya tidak bergerak, semuanya cukup rumit untuk di ceritakan.


" Nyonya " panggil seorang pelayan menghampiri.


Amel langsung menoleh, begitu pun Meili, meski ia tahu, itu bukan panggilan untuknya.


" Ya "singkat Amel menyahut.


" Ada tamu datang " kata pelayan memberitahu.


Meili terpengaruh dengan pemberitahuan itu, dan sangat penasaran dengan siapa yang bertamu. Ia ikut beranjak ketika Amel sudah berjalan.


" Dimana ? " tanya Amel pada pelayan.


" Di ruang tamu Nyonya "


" Apa itu Jerry ? " kata Amel menebak pada Meili. Pupil mata perempuan itu membesar mendengar nama lelaki itu di sebut, tapi ia tak cukup yakin untuk mengangguk, hanya mengangkat bahunya sesaat, lalu ikut berjalan tidak sabar ketika Amel sudah kembali berjalan menuju ruang tamu.


" Zahra " seru Amel tersenyum senang, mendapati perempuan itu duduk di kursi tamu, dan saat itu, Meili yang tadi ikut ke ruang tamu. Langsung menghentikan langkahnya. Disana jelas bukan seseorang yang ia harapkan.


" Meil " panggil Amel.


" Hemmm, ya ".


" Perkenalkan ini Zahra "


" Kita sudah berkenalan Mel " timpal Zahra.


Amel tertawa, sambil menepuk kecil pelipisnya," Oh ya aku lupa, kalian pasti sudah bertemu kemarin " katanya.


Meili terpaksa ikut bergabung. Melepaskan tubuhnya di kursi tamu, meski pikirannya kembali tidak disana.


" Aku hanya datang untuk memberikan file ini Mel " ujar Zahra, mengeluarkan amplop coklat dari tas jinjingnya, " itu laporan terakhir bulan ini " lanjutnya menjelaskan.


" Pak Alfin dan asistennya tidak di kantor. Aku tidak percaya untuk meninggalkannya begitu saja di meja beliau "


" Terimakasih Zahra " ucap Amel.


" Aku titip padamu ya Mel. Berikan nanti pada suamimu, beliau membutuhkannya ".


" Pasti "


" Apa kau sudah mau pergi ? " tanya Amel, saat melihat Zahra mulai beranjak dari duduknya,


" Ya, aku hanya datang untuk memberikan itu ".


" Tinggal lah sebentar lagi Za, kau harus menikmati teh Rosella buatan rumah ini " kata Amel merayu. Zahra tertawa, lalu menyerah untuk beranjak, " apa Green tidak ada di rumah ? ",


" Tidak, dia pergi bertemu dosennya hari ".


" Aku dengar dia sedang skripsi "


" Hemm " sahut Amel membenarkan, " sepertinya dia sedang konsultasi untuk materi skripsinya itu".


" Aku " tunjuk Amel pada dirinya sendiri, dan sedikit menarik nafas, " ya terpaksa harus cuti sementara. Padahal kemaren aku sudah menyelesaikan tugas akhir " katanya mengeluh.


" Bukannya orang hamil tetap bisa kuliah ? " ujar Zahra, mengambil cangkir teh yang baru saja di letakan oleh pelayan ke atas meja, lalu menyesap isi di dalamnya.


" Ya, tapi aku yang tidak bisa " sahut Amel, " kau tahu ?, Aku sudah bisa mengobrol seperti ini saja sudah luar biasa " jelasnya, Zahra tertawa mendengar itu, " Minggu depan aku sudah sidang " katanya.


" Kau juga sudah selesai ? " tanya Amel tak percaya.


" Ya, harus cepat selesai Mel. Mertuamu akan membunuhku kalau aku tidak cepat menyelesaikan " Zahra tertawa.


" Mertuaku tidak sejahat itu Za ".


" Aku hanya bercanda Mel "


" Memang aku sendiri yang ingin cepat selesai. Sangat melelahkan sekolah sambil bekerja "


Amel mengangguk, " itu pasti " katanya setuju, membayangkannya sudah membuat pinggangnya sakit, " aku saja menyesal, kenapa tidak cepat menyelesaikannya dari dulu. Akhirnya sekarang hamil dan pasti tertunda lagi " kata Amel kembali mengeluh.


" Kau mungkin akan sama selesainya dengan Rey dkk "


" Rey Dkk. Maksudmu mereka masih kuliah ? "


Zahra mengangguk.


" Belum selesai dari dulu ? " kali ini mata Amel ikut membesar, dan Zahra kembali mengangguk dengan tertawa, " untung saja kau tidak jadi berpacaran dengan Deni. Kau sungguh akan menyesalinya " pungkasnya, sementara Amel masih terperanga tak percaya.


" Apa mereka sengaja tidak ingin cepat selesai ? "


Zahra mengangkat bahu, " mereka tidak kekurangan uang untuk bekerja Mel ".


" Tapi tidak harus begitu Mel. Liat Jerry.. " Amel menggantung kalimatnya sesaat, melihat pada perempuan yang sejak tadi hanya diam. Dan ada reaksi disana.


" Dia sudah selesai, Cum laude lagi. Padahal Jerry di bawah angkatan mereka " sambungnya.


" Kau tidak bisa menyamakan Jerry dengan Rey DKK. Walau dia salah satu dari rombongan itu, tapi hidup dia jauh lebih terarah ".


" Lihat saja, dia sudah menjadi Stakeholder sukses sekarang " sambung Zahra, ada sepasang mata berbinar mengamati pembicaraan itu.


" Tunggu, bukankah dia kekasihnya Jerry " tukas Zahra pada Meili. Perempuan itu tersentak dari tatapannya, sedangkan Amel sudah tersenyum.


" Dia bukan lagi kekasihnya, tapi tunangannya Za " kata Amel menimpali, dan menahan tawa saat melirik ke arah Meili yang terlihat sedikit gelagapan.


Mata Zahra sedikit terbelalak mendengar kenyataan itu, lalu mengangguk-angguk," Anda beruntung mendapatkan Jerry Nona. Dia lelaki pekerja keras " katanya pada Meili, " ya walau dia lebih beruntung mendapatkan anda sih " sambungnya, sedikit lebih pelan. Dan Amel sudah tertawa.


Meili tidak berkata apapun, menanggapi kalimat-kalimat yang di tunjukan untuknya. Dan ia juga tak membantah saat di sebut menjadi tunangan lelaki yang sedang di bicarakan, sungguh tak ada niat sama sekali. Tanpa ia sadari, ia justru tersenyum saat itu. Meski sedikit tersimpul karena malu. Dan kemudian ia teringat dengan apa yang sedang terjadi.


Garis senyum tadi di tarik kembali, dan ia menghela saat itu.


~


Elin cukup kebingungan ingin melakukan apa lagi. Membalas semua pesan email dari kantor sudah ia bereskan. Menonton film juga sudah selesai. Ingin membersihkan kamar tidurnya, ruang itu sudah di bersihkan berulangkali. Bahkan beberapa menit sekali, ia terus memastikan tidak ada kotoran yang menghampiri tempat tidurnya. Ralat bukan tempat tidurnya saja. Tapi tempat tidurnya bersama Daniel.


Berapa kali ia ingin mencoba menghubungi ponsel suaminya, meminta ijin untuk pergi ke rumah keluarga Vernandes, karena hanya itu yang ada di pikiran untuk menghilangkan jenuhnya di tinggal lelaki itu. Tapi kemudian ia urung, suaminya pasti sangat sibuk, karena jika tidak, pasti dia sudah mendapat pesan dari lelaki itu sejak tadi.


Hampir sembilan jam berlalu, saat Daniel berpamitan pergi, untuk bertemu dengan klien bisnisnya di Indonesia.


Dan selama itu Elin kejenuhan. Ia tak bisa kemana-mana karena tak bisa meminta ijin untuk pergi, dan ia menyadari statusnya sekarang, yang tidak bisa sebebas dulu.


Tidak ada yang bisa di ajak mengobrol. Adik bungsunya sedang mengikuti ekstrakurikuler. Mala, berpamitan pergi arisan, sedangkan Bimo, sebelum Daniel pergi, dia sudah pergi lebih dulu bersama besannya, Reymond Remkez dan juga mertua Green. Mengajak kedua lelaki paruh baya itu melihat perkebunan tehnya, di Bogor. Lebih tepatnya Reymond yang memaksa untuk pergi kesana.


Sedangkan Tama, ntah kemana perginya lelaki Muda itu.


" Mba, tolong buatkan aku jus Alpukat " pinta Elin menghampiri perempuan setengah baya yang membantu di rumahnya. Lalu ia kembali menuju ruang keluarga, duduk disana sambil menonton acara tv, yang sebenarnya tidak ia sukai.


Ia melihat pada handphonenya beberapa kali. dan tidak sekali pun ada pesan yang masuk ke dalam benda itu, " apa dia sangat sibuk " katanya mulai menggerutu karena bosan.


Selang beberapa menit jus Alpukat pesanannya datang. Baru saja ia ingin menyesap minuman itu, tiba-tiba gagang telepon yang berada di sudut sofa besar di dalam ruang keluarga berbunyi.


Ia menunda, dan meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. Mendekat pada gagang telepon yang masih berdering, " Hallo ".


" Hallo, benarkah ini terhubung dengan rumah Ratama Deka ? "


Elin yang awalnya malas-malasan menjawab telepon, menjadi tersentak saat nama adiknya disebut, " ya saya kakaknya, ada apa ya ?, bisa saya tahu ini dari mana ? " tanyanya tidak sabar.


" Kantor polisi "


Sekejap mata Elin membesar mendengar jawaban itu, " kantor polisi " ulangnya, " apa yang terjadi, ada apa dengan adik saya pak ".


" Pihak keluarga diminta untuk datang kemari "


" Ya, ya saya akan ke sana pak "balas Elin yang langsung menutup telepon dan bergegas menuju kamarnya.


Berulang kali ia mencoba menghubungi Daniel, tapi tidak ada jawaban. Begitu pun Mala dan Bimo, tidak ada satu pun orang yang menjawab panggilannya. Dan ia tidak mungkin hanya diam menunggu.


Setelah berhasil memasangkan hoodie di tubuhnya, dengan membawa salah satu mobil yang tersisa di garasi, ia bergegas menuju kantor polisi. Ia bahkan tak sadar kalau hanya menggunakan celana tidur saat itu.