Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Pagi Hari Setelah Pesta


Hannah bangun dari tidurnya dengan kepala yang begitu berat dan tenggorokan yang terasa begitu kering.


Ia beranjak dari tempat tidur dengan mata mengantuk menuju kamar mandi di dalam kamar tidurnya.


" Astaga kenapa wajahku begitu kacau " gumamnya terkejut karena menatap riasan di wajah dan rambutnya yang sangat berantakan , " Aku benar benar di buat lupa diri " gumamnya lagi , lalu mencuci wajahnya supaya lebih segar.


Mata Hannah melebar saat melihat tubuh laki laki yang tertidur di sofa kamar tidurnya , " Kenapa dia ada sini ? " gumamnya begitu terkejut , pelan pelan ia melangkah menuju Mike yang masih tertidur tanpa bantal dan selimut.


" Apa yang terjadi tadi malam ? , kenapa dia bisa ada disini ? " katanya lagi , Mike terlihat melengkungkan tubuhnya , mengapit kedua tangannya di tengah paha yang terlipat.


Hannah melihat ke arah luar dan menemukan rintik rintik hujan mengenai kaca jendela kamarnya , " Apa dia kedinginan " gumamnya , lalu beranjak menuju tempat tidur dan menarik selimut tebal miliknya.


Sesaat Hannah tertegun saat melihat mangkuk besar berisikan air dan handuk di atas nakas , lalu kembali menoleh ke arah Mike yang masih tertidur.


" Apa semalam aku demam ? "


" Ceh " desisnya , saat menyadari kalau itu akan terjadi , tubuhnya akan langsung panas dengan demam tinggi bersamaan saat minuman alkohol masuk ke tubuhnya terlalu banyak.


" Apa dia yang merawatku ? " gumamnya menghela nafas , " Lagi lagi aku berhutang budi padanya " katanya lagi , lalu kembali menarik selimut di tangannya lalu membawanya menuju Mike dan menyelimuti tubuh laki laki itu.


" Kau masih saja peduli , setelah aku menyalahkan semuanya padamu " kata Hannah menatap wajah tidur Mike , lalu ia beranjak menuju pintu kamarnya dan keluar menuju dapur , ia harus mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang mulai terasa lapar.


****


Meili menggeliat , matanya mengercap menatap langit langit ruangan di tempat ia terbaring.


Kepalanya masih begitu berat namun ia tahu kalau sekarang dirinya bukan berada di kamar tidurnya , pelan pelan Meili memutar tubuhnya dan matanya membesar saat menemukan Brian tertidur begitu pulas di sampingnya.


" Oh my God " katanya sambil menyingkap selimut yang menutupi setengah tubuhnya , namun kemudian ia menghela nafas legah karena melihat dirinya masih menggunakan pakaian yang utuh.


" Ini dimana ? " katanya dengan alis yang berkerut , menatap ke segala ruangan yang tidak ia kenali.


" Brian , bangun " teriak Meili sambil menggoyangkan tubuh laki laki itu.


" Ada apa Meili , aku masih mengantuk " kata Brian tanpa membuka matanya.


" Bangun , jelaskan padaku dimana kita sekarang ? "


" Brian " teriak Meili karena laki laki itu terlihat tidak menggubris pertanyaannya.


Brian bangun dengan wajah yang kesal lalu menghela nafasnya , " Ini kamarku Nona Meili "


" Kenapa aku bisa ada disini ? "


Brian kembali menghela nafasnya , " Kalau tidak di sini lalu aku akan membawa tubuh mabukmu kemana ? " kata Brian membuat Meili terdiam , " lalu kenapa kau tidur di sampingku ? " .


Mendengar pertanyaan itu ujung bibir Brian sedikit terangkat , " Apa kau benar benar tidak ingat ? " tanyanya tersenyum.


" Cepat katakan "


" Ceh , ternyata kau benar benar tidak mengingat apapun ketika mabuk , membuatku begitu menyesal karena menahannya " lanjut Brian tertawa.


" Apa maksud Brian ? " tanya Meili semakin bingung bercampur penasaran.


" Lupakan , apa kau lapar ? "


" Tidak , jelaskan dulu kenapa kau bisa tidur di sampingku dan apa yang sudah terjadi antara kita ? " tanya Meili semakin penasaran.


" Tidak ada yang terjadi , makanya aku begitu menyesalinya , padahal kau sangat memaksa " jelas Brian begitu santai namun membuat Meili membulatkan sempurna kedua bola matanya.


" Jangan bercanda Brian "


" Kenapa aku harus bercanda , apa kau lupa , kalau menciumku , memelukku bahkan menyatakan perasaan cinta padaku "


" Itu tidak mungkin , kau sedang berkhayal " kata Meili mengelak , ia begitu tidak percaya kalau dirinya bisa melakukan hal yang sangat memalukan seperti itu.


" Terserah , tapi memang seperti itu yang terjadi , seharusnya aku abadikan supaya kau tidak mengelak seperti ini "


Brian mendekat pada Meili , " kau lihat ini " katanya menunjukan bibir yang sedikit terluka , " Ada apa dengan bibirmu ? " Tanya Meili begitu santai namun dengan jantung yang bedegub sangat cepat , " Ini bekas gigitanmu yang begitu gemas padaku , apa sekarang kau akan kembali mengelak "


Meili benar benar terdiam dengan wajah yang sudah memerah karena malu , " kenapa aku begitu liar " gumamnya , dengan merutuki ke bodohannya.


" Emmm.. dan ini " kata Brian yang kembali menunjukan bercak merah di leher putihnya , Meili hanya bisa memejamkan mata dengan menelan paksa ludahnya , harga dirinya sebagai Nona Muda keluarga Remkez benar benar tercoreng pagi ini.


" Kau tahu sangat sulit aku menahannya , dan sekarang aku menyesali karena ternyata kau tidak mengingatnya sama sekali "


" Stop , aku tidak ingin mendengarnya lagi " teriak Meili sambil menutup kedua telinganya.


" I love you to " ucap Brian tiba tiba di telinga Meili , lalu berjalan menuju kamar mandinya.


" Kau mengatakan apa tadi ? " tanya Meili memastikan bahwa kata " i love you " yang samar terdengar hanya kesalahan dari pendengarannya.


" I LOVE YOU TO " teriak Brian dari dalam kamar mandi , Meili kembali terdiam dengan wajah yang menghangat dan bersamaan dengan perasaan malu.


" Aku tidak bilang i love you "


" Itu kau sedang mengatakannya "


" Ceh , itu sangat lucu Brian " kata Meili memaksakan bibirnya tertawa , " itu jawaban dari pernyataanmu tadi malam , karena aku yakin jika aku menjawabnya tadi malam kau pasti tidak akan mengingatnya pagi ini " jelas Brian yang kembali masuk kedalam mandi.


" itu tidak mungkin " kata Meili yang kembali merutuki tingkah mabuknya.


" Kau bahkan mengulangnya lebih dari 100 kali Meili " sambung Brian , " diamlah " teriak Meili dan Brian terdengar tertawa dari dalam kamar mandi.


" Benar benar menyebalkan "


" Bagaimana kabar Elin dan yang lainnya " gumam Meili yang baru menyadari ke tiga teman pestanya tadi malam.


****


Sepasang manusia masih berlari kesana kemari dengan Elin yang terus mengejar Daniel yang hanya mengenakan handuk.


" Sayang berhenti , aku benar benar lelah " kata Daniel sambil mengatur nafasnya ,


" Tidak , ini pelajaran karena kau sudah menipuku " geram Elin yang merengkuh erat tubuh Daniel dan menggigit lengannya dengan begitu kuat.


" Aaaahhh " teriak Daniel dengan tubuh yang menggelinjang menahan rasa sakit bahkan wajahnya ikut memerah.


Elin terdiam saat sesuatu yang jatuh mengenai kakinya , di lepas gigitannya di lengan Daniel lalu pelan pelan matanya melihat ke bawah.


Blussshh " pipi Elin memerah , ia tidak lagi bisa berteriak saat melihat handuk Daniel yang melorot dan menyisakan celana dalam berlogo Calvin Klein berwarna putih , kemudian Daniel ikut menyadari namun dengan santai ia mengambil handuknya yang sudah berada di lantai dan melihat kearah Elin dengan tersenyum , " Apa kamu ingin mengulang kejadian panas kita tadi malam sayang " goda Daniel di telinga Elin , membuat wajah Elin memerah dengan sempurna.


Drrrrttt Drrrtttt " tidak lama terdengar getaran dan deringan dari handphone Elin yang masih tersimpan di dalam tasnya , matanya terkesiap lalu berjalan meninggalkan Daniel tanpa berani melihat kearah laki laki itu.


Daniel tersenyum begitu lebar sambil membenarkan kembali handuknya " Kenapa mengerjaimu begitu menyenangkan " gumamnya sambil tersenyum dengan menatap punggung Elin yang sudah berjalan menjauh.


Elin kembali kedalam kamar Daniel , mencari benda pipih miliknya yang terus berdering.


Ia terdiam sesaat , saat melihat nama Green di dalam layar handphonenya.


" Hay " sapanya dengan camera depan yang mengarah ke wajahnya.


" Kau benar benar sangat sibuk " geram Green dengan wajah begitu kesal , " Maaf tapi memang seperti itu " jawab Elin menyesal


" tapi kau tidak perlu khawatir sekarang kesibukanku sudah berakhir " lanjutnya tersenyum.


" Ada apa dengan matamu ? " tanya Green tiba tiba , " Dan wajahmu kenapa begitu merah ? " sambungnya.


" emm.. aku baru saja bangun tidur Green " jelas Elin berkilah.


" Benarkah ? , tapi kau terlihat seperti habis mabuk " kata Green membuat jantung Elin berdegub cepat , " Tidak , sungguh aku baru saja bangun tidur ".


" Kau tidak bisa membohongi aku Elin , aku sudah melihat wajahmu seperti ini lebih dari puluhan kali "


Elin terdiam , lidahnya terkunci untuk berkilah , ia sedikit lupa kalau Green manusia yang memiliki penglihatan paling jeli apalagi terhadap kedua sahabatnya , dia bisa mengetahui hanya dengan melihat.


" Ya aku sedikit berpesta tadi malam , merayakan keberhasilan tugas desainku , tapi aku tidak begitu mabuk , percayalah " jelas Elin dengan mata yang mulai berkaca kaca , ia begitu takut untuk menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


" Hay " sapa Amel yang datang bergabung.


" Hay " balas Elin.


" Kau lihat wajahnya , apa dia hanya terlihat sedikit mabuk " kata Green pada Amel dan Amel menajamkan tatapannya pada layar camera handphone Green , " Apa kau habis minum ? " tanya Amel dan Elin mengangguk ragu.


" Sedikit " katanya.


" Kau sedang dimana Elin ? " tanya Green yang baru menyadari kalau Elin tidak sedang berada di apartemennya.


Deg " jantung Elin semakin berdegub sangat cepat.


" Emmmm.. di apartemen temanku " jawab Elin berbohong karena sangat tidak mungkin untuk mengatakan kalau dirinya sedang berada di apartemen Daniel.


Tiba tiba mata Amel dan Green membulat sempurna dan menatap tidak berkedip ke arah Elin , membuat Elin ikut menoleh mengikuti arah mata Kedua sahabatnya , dan matanya ikut membulat sempurna bahkan nyaris keluar dari tempatnya saat melihat Daniel berjalan begitu santai dengan masih hanya menggunakan handuk.


" Eliiiiinn " teriak Amel dan Green bersamaan.


Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat selain menutup panggilan itu dengan cepat dan mengatur detak jantung yang tidak berhenti berpacu begitu cepat , dan yang harus ia pikirkan sekarang adalah , bagaimana ia harus menjelaskan pada ke dua sahabatnya tentang Daniel yang hanya mengenakan handuk.


" Danieeell " teriak Elin yang kembali menangis dan handphonenya kembali bedering dengan panggilan video call dari Green.


" Aku benar benar akan mati di tangan mereka " katanya lirih dengan tubuh yang sudah bergetar.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚