Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Persaanku Baik Baik Saja


" Waww " ucap Bimbim menatap tubuh Elin yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


" Berhenti melihatku seperti ini Bim " ucap Elin kesal dan segera diduduk di meja kerjanya , " bagaimana aku bisa berhenti menatapmu , kau terlihat sangat cantik Elin "


" Ceh , apa kau baru menyadarinya ? , duduklah di tempatmu Bim dan selesaikan pekerjaanmu " pintanya , namun sesaat matanya tertegun menatap kotak makanan yang tiba tiba berada di atas meja kerjanya.


" Punya siapa ini ? " tanyanya kepada semua orang.


" Oh lelaki menyebalkan itu membawanya untukmu " sahut Bimbim menunjuk David.


" Terimakasih tapi.. "


" Makanlah , kau belum menyentuh makananmu sejak tadi " ucap David tanpa melihat kearahnya , " aku juga belum makan tapi kau tidak membelikan apapun untukku " sambung Kasih membuat David terdiam.


" Apa kau menyukai Elin , David ? " sambung Bimo.


" Jangan gila Bim , itu sangat tidak mungkin kita baru saja bertemu " kata Elin yang membantah.


" Cinta tidak membutuhkan waktu "


" Ya Bimo benar , sejak kapan dia begitu perhatian pada orang lain dan selama ini dia tidak pernah melakukannya pada kami " sambung Kasih.


" Jangan membual , itu ucapan terimakasih karena dia telah membantumu " jelas David.


" Kau benar benar mencurigakan David " ucap Kasih yang tidak percaya dengan pembelaan laki laki itu , " bisakah kalian diam , aku harus fokus dengan pekerjaanku " ucapnya.


" Terimakasih David " ucap Elin dan laki laki itu hanya mengangguk tanpa melihat ke arahnya.


" Mari Kasih , kita bisa makan ini berdua " ajaknya.


" Ya , aku memang membeli itu untuk kalian berdua " ucap David menyambung , " benarkah tapi kau tidak mengatakan itu tadi " ucap Bimo menimpali.


" Bisa kau diam " bentak David kesal.


" Ayo Kas " ajak Elin lagi.


" Makanlah Nona , dia hanya membelikan itu untukmu bukan untukku " ujar Kasih yang sengaja menggoda David , namun laki laki itu terlihat tidak peduli dan menatap fokus pada layar komputer.


" Berhenti menggodanya Kasih , dia memang membelikan ini untuk kita , kau lihat ini sangat banyak " kata Elin membela , " Benarkah , tapi aku tetap meragukannya " sahut Kasih dengan menyunggingkan senyumannya.


****


Drrttt drrrttt " suara handphone yang tiba tiba berdering dari tas dalam tas Elin , ia menghentikan langkahnya saat sedang berjalan bersama ke-4 teman kerjanya menuju lantai Lobby , karena sekarang memang sudah jam waktunya mereka pulang.


" Kalian pulanglah , aku harus mengangkat teleponku dulu " ucapnya.


" Tidak , aku akan menunggumu " ucap Kasih.


" Tidak apa apa Kas aku hanya sebentar , kau tidak perlu menungguku "


" Sungguh ? " tanya Kasih dan Elin menganggukkan kepalanya sambil terus mencari benda yang terus berdering di dalam tasnya.


" Bye Elin " ucap Bimo dan Kasih bersamaan , dan David menatap sebentar ke arahnya lalu kemudian juga ikut pergi.


" Bye " sahutnya sambil melambaikan sebelah tangannya.


" Hay sayang " sapa Elin bersemangat setelah telepon itu tersambung , " Aku sudah berada di depan gedung kantormu " ucap Daniel dari seberang telepon.


" Benarkah ? , tunggu sebentar sayang , sekarang aku sedang berjalan keluar gedung " ucapnya dengan berjalan lebih cepat.


" Dimana mobilmu ? " tanyanya saat tak menemukan mobil sport berwarna putih milik Daniel.


" Range Rover di hadapanmu " ucap Daniel dari balik telepon dan bibir Elin langsung tersenyum saat menemukan mobil yang Daniel maksud.


" Hay sayang , apa kau mengganti mobilmu ? " tanyanya sambil masuk ke dalam mobil , " ada apa ? " tanyanya lagi saat melihat mata Daniel tak berkedip menatapnya , " Apa selama bekerja kau menggunakan pakaian ini ? " tanya Daniel , " emm.. iya " jawab Elin tanpa sadar , ia masih sibuk membenarkan posisi duduk.


" emmm.. maksudku iya , aku menggunakan ini tapi tadi tertutup oleh blazer " jelasnya lagi.


" Lalu sekarang dimana blazermu ? "


" Aku pinjamkan pada teman kantorku , pakaiannya basah dan aku merasa kasihan karena pakaian dalamnya menjadi menerawang "


" Apa ada yang salah ? " tanyanya lagi.


" Tidak , kau hanya terlihat sangat seksi dan aku begitu benci untuk membaginya "


" Ceh , tapi aku sudah menggunakan pakaian yang tertutup sayang , celana panjang persis seperti yang kamu mau "


" Terimakasih , tidak ada yang salah , yang salah karena aku begitu tidak rela kau menjadi pusat perhatian orang lain " jelas Daniel , " apa aku harus menggunakan sarung " ujar Elin tertawa.


" Jangan gila sayang " ujar Elin berdelik.


" Kau belum menjawab pertanyaanku , apa kau mengganti mobilmu ? "


" Tidak ini mobil temanku , apa kau tidak suka ? "


" Itu tidak mungkin , aku akan menyukai apa saja asal bersamamu " sahut Elin sambil melemparkan senyuman nakalnya pada Daniel.


" Shiitt , kau yang memulai " ucap Daniel menarik tubuh Elin dan segera menyergap bibir ranum oleh lipstik berwarna pink itu , " sayang hentikan , kita masih berada di depan gedung kantorku " ucap Elin yang dengan cepat menghentikan lumatan bibir Daniel dari bibirnya.


" Kau yang menggodaku " jawab Daniel tersenyum.


Drrrtttt drrrttt " Handphone Elin kembali berdering.


" Tunggu sebentar sayang dan jalankan saja mobilnya " ucapnya memberi perintah sambil merogoh isi tasnya untuk mencari benda pipih yang terus berdering.


" Siapa ? " tanya Daniel yang begitu penasaran .


" Meili " jawab Elin singkat , lalu segera menjawab panggilan itu.


" Ya Meil "


" Kau dimana Elin ? " tanya Meili dengan suara yang terdengar begitu panik , " Aku baru saja pulang dari kantor , ada apa Meil ? , kenapa kau terdengar begitu panik ? "


" Bisa kau ke kantor polisi sekarang ? "


" Ada apa , apa yang terjadi ? " tanyanya menjadi ikut panik sambil melirik ke arah Daniel yang kini juga sedang menatap kearahnya.


" Hannah sedang berada di kantor polisi "


" Jangan bercanda Meil "


" Tidak , aku tidak bercanda , aku baru saja tiba di sini setelah Vale dan Mike menghubungiku "


" Apa yang sebenarnya terjadi ? "


" Datanglah kemari , aku akan menjelaskannya padamu dan Hannah membutuhkan dukungan kita "


" Baiklah , jangan pergi kemanapun sampai aku tiba disana "


" Berhati hatilah kami menunggumu di sini " jawab Meili , lalu menutup panggilan itu.


" Ada apa ? " tanya Daniel.


" Ntahlah , tapi Meili mengatakan kalau sekarang Hannah sedang berada di kantor polisi "


" Bisakah kita .... " ucap Elin menggantung karena lelaki itu lebih dulu memutar arah mobilnya , sesaat Elin terdiam dengan menatap wajah Daniel yang terlihat begitu panik.


~


" Meili " panggil Daniel setelah tiba di kantor polisi dan berjalan begitu cepat menuju adiknya , " Kau bersamanya " ucap Meili menatap ke arah Elin yang baru saja tiba dari balik tubuh Daniel.


" Dimana Hannah ? " tanya Daniel begitu tidak sabar , " tenanglah Daniel dia masih berada di dalam sejak tadi dan kita harus menunggu di sini " jelas Meili lalu menatap sekilas pada wajah Elin.


" Duduklah " katanya lagi mempersilahkan kepada sepasang kekasih itu.


" Apa yang terjadi Vale ? " tanya Elin begitu lembut dan ia sangat mengerti kalau perempuan itu begitu gusar menunggu kabar Hannah , " ntahlah , aku belum mengerti kenapa tiba tiba dia di bawa kemari tapi yang pasti ini adalah ulah Caren " kata Vale mejelaskan.


" Siapa Caren ? " tanya Elin yang memang tidak tahu , " Mantan Managernya "


" Mantan " sambung Daniel mengulang , " ya Tuan , kami tidak lagi bekerja padanya dan mungkin karena ini Hannah di bawa kemari " katanya kembali menjelaskan.


Daniel sudah terlihat sibuk dengan benda pipih di tangannya dan terdengar sedang menghubungi seseorang dari balik telepon , " Hallo Reza , cari tahu sekarang apa yang sedang di rencanakan oleh Caren pada Hannah , dan juga tolong persiapkan pengacara terbaik untuk melawannya nanti " ucap Daniel berbicara di dalam sambungan telepon.


Mata Meili menatap ke arah Elin , lalu memegang begitu lembut tangan perempuan itu , mencoba memahami apa yang sedang perempuan itu rasakan , namun keadaan benar benar genting dan apa yang di lakukan Daniel memang sedang di butuhkan.


" Hannah tidak memiliki siapapun selain kita " ucapnya pada Elin mencoba menjelaskan bahwa kepanikan Daniel tidak lebih dari rasa kasihan karena ia pernah menjadi orang terdekat Hannah.


" Iya Meili aku tahu dan kita harus melakukan apapun untuk membantunya dan kau tidak perlu khawatir , perasaanku baik baik saja " ucap Elin tersenyum namun dengan mengela nafas begitu pelan.


" Terimakasih , kau memang wanita yang sangat baik " ucap Meili yang langsung memeluk tubuh Elin , " kau berlebihan Meili " katanya dengan terus tersenyum , namun matanya tidak berhenti menatap pada Daniel yang terlihat begitu gusar , ia masih terus berpikir positif bahwa tidak ada yang salah dari kepanikan lelaki itu , bagaimanapun Hannah pernah menjadi orang terdekatnya dan sangat wajar jika dia masih peduli karena memang tidak ada yang perempuan itu miliki selain mereka dan Daniel mantan kekasihnya , seperti itu yang terus ia pikirkan walau tidak bisa ia pungkiri kalau kini hatinya tidak bisa menepis rasa cemburu.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚