Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Katakan Kau Mencintaiku


PERHATIAN : BAGI YANG BERPUASA. SEBAIKNYA DI BACA SETELAH BERBUKA.


TERIMAKASIH🙏


Elin tersentak ketika pintu di besar di hadapannya terbuka. Ribuan tangkai mawar menyambutnya, membentuk gerbang-gerbang kecil dan tertata begitu cantik di sepanjang lorong, " kapan kau menyiapkan ini ?", tanyanya pada Daniel. Ia tak pernah menyangka, jika lelaki kerasa kepala itu akan begitu romantis.


" Tepatnya merencanakan ", kata lelaki itu menyahut, seraya menoleh pada Reza yang masih berdiri di belakang mereka.


Elin tersenyum dan kembali mengecup bibir lelaki itu, " terimakasih sayang", ucapnya begitu senang, bahkan lebih dari itu.


Bibirnya merekah, ketika kakinya mulai melangkah melewati ribuan tangkai mawar, dengan aromanya yang semerbak.


" aku merasa seperti berada di taman bunga", ujarnya dengan bibir yang masih terus tersenyum.


Ia memandang penuh teliti, setiap melewati gerbang-gerbang kecil yang terbuat dari kuntuman bunga mawar merah. Memandangnya dengan mata berbinar,dan saat itu berulang kali ia menoleh pada Daniel, dengan memberikan senyum manisnya, meski sembab di matanya belum memudar.


Sebuah jarak yang cukup panjang di lewati, untuk sampai ke pintu sesungguhnya dari Mansion besar itu. dan sepanjang itu, kuntumam bunga mawar terus berjejer, bahkan seperti membentuk lorong penuh bunga, " sepertinya kau menghabiskan semua bunga mawar di kota ini ", sergahnya pada Daniel, mendapati dirinya belum sampai berada di ujung tumpukan bunga itu.


" Ternyata Daniel sangat romantis", celetuk Meili dari belakang. Ntah sejak kapan perempuan itu sudah berada disana, bahkan Elin sendiri tak menyadari. Pandangannya terlalu fokus pada ribuan tangkai mawar.


" Jangan merusaknya Meili ", sergah Daniel kesal, dan perempuan itu segera menutup mulutnya, dan saat itu ia ikut tersenyum. Hatinya merasa senang, saat melihat Elin begitu senang. Sedikit mengerikan jika teringat kembali pada tangisan perempuan itu tadi malam. Bahkan Meili, akan siap menambah lorong penuh mawar itu, demi perempuan itu merasa senang, sesenang yang terlihat hari ini.


" Syukurlah", ucap malah, yang ikut merasa senang karena melihat Elin saat ini, melihat garis senyum kembali hadir di bibir perempuan itu. Bahkan demi untuk senyum itu, ia rela menunda waktu istirahatnya. Tetap berjalan di belakang, demi tidak menghancurkan indahnya kejutan Daniel.


Saat itu, semua orang kelelahan karena perjalanan yang panjang, begitu pun Meili dan Reymond, tapi mereka semua menunda segalanya, menunda untuk bertemu tempat tidur, menunda untuk bertemu hidangan lezat, dan menunda, untuk membersihkan diri, semua hanya demi Elin, demi perempuan itu merasa senang.


Bahkan Meili, masih sabar untuk tetap berada di belakang perempuan itu, yang berjalan begitu lamban karena memandangi ribuan tangkai mawar. Ia mengorbankan perasaannya sendiri,rasa gundah, rasa tidak sabar untuk segera memberitahukan kabar dirinya pada seseorang. Tapi untuk melakukan itu, handphonenya butuh di charger, dan Meili belum bisa melakukannya. Langkah kakinya masih harus tertunda untuk tetap berada di belakang tubuh Elin, meski sesungguhnya saat itu ia sudah ingin berlari menuju ruang tidurnya, menyalahkan handphonenya dan bertukar kabar sepanjang hari dengan seseorang yang sudah berhasil memberikan rasa rindu padanya.


Pintu sesungguhnya terbuka, dan saat itu ribuan tangkai bunga yang membentuk lorong berakhir, berganti dengan ribuan, bahkan jutaan kelopak mawar yang kini membentuk jalan kecil.


Bibir Elin benar-benar di buat merekah hari itu. Kejutan tak berhentinya ia dapatkan. Ia kembali tersenyum pada Daniel, saat mendapati jalanan dari kelopak mawar itu di tata sampai menuju lantai dua. Saat itu, ia sudah bisa menebak sampai kemana, arah taburan kelopak bunga itu.


" Mam, apa sekarang kita sudah boleh mendahului Elin ? ", tanya Meili berbisik. Viona membesarkan mata padanya, " huh !, saat ini aku menyesali, kenapa tinggal di rumah yang begitu besar ", gumamnya sedikit kesal, meski itu tak benar terjadi. Sesungguhnya ia masih sangat sabar untuk tetap berada di belakang, dan memperhatikan wajah bahagia Elin. Tapi rasa rindu seperti mendesaknya. Dan tepat di pintu kedua, kesabarannya jauh berkurang oleh rasa itu.


Daniel tidak meminta ijin untuk mengangkat tubuh Elin ke dalam gendongannya. Meski perbuatannya berhasil membuat perempuan itu terkejut, " Daniel ", pekik Elin dengan mata membesar. Pipinya merona saat menyadari Viona, Reymond, dan Meili berada di belakang mereka, sedangkan ia berada di dalam gendongan lelaki itu. Ia masih sangat malu untuk menunjukan kemesraannya.


Baru saja ia meminta untuk di turunkan. Tapi belum sempat bibirnya mengeluarkan kalimat itu, tubuhnya sudah di bawa oleh Daniel, untuk menyusuri ribuan kelopak mawar.


" Kau senang ? ", tanya lelaki itu.


" Sangat senang ", jawabnya, dan Daniel kembali mengecup bibirnya saat itu. Beruntungnya, Viona dan Reymond sudah berada jauh dari mereka, dan ia tak perlu merasa malu.


Begitu cepat langkah Daniel untuk mencapai lantai atas, lalu kini mereka, sudah berada di ambang pintu ruang tidur lelaki itu. Ruang yang hanya pernah di masuki Elin beberapa kali. Dan sampai disana jutaan kelopak mawar itu berakhir.


Viona tertawa, ketika Meili berlari untuk mencapai ruang tidurnya, setelah Daniel dan Elin telah sampai di ruang mereka sendiri. Ia tahu bagaimana tidak sabarnya perempuan itu, dan menahan diri untuk tidak berlari dari sejak tadi, " dia benar-benar jatuh cinta ", gumamnya, sambil memandangi tubuh Meili yang berlari di lantai dua, yang masih bisa dia lihat dari tempatnya berdiri saat ini.


" Kau juga harus istirahat ", ucap suara berat di sampingnya. Sejenak Viona terhenyak, ia sedikit terkejut, menyadari lelaki paruh baya itu berada bersamanya di rumah itu. Hal yang sulit terjadi selama ini.


Ia masih menatap tak percaya ketika tangan Reymond membawanya berjalan menuju ruang tidur mereka, " kau masih tetap disini ? ", tanyanya tanpa sadar. Dan setelahnya ia menyesali ucapannya itu. Dan Reymond sudah menatapnya, " kau mengusirku", sergah Reymond, dan tertawa setelah melihat wajah Viona yang panik, " tidak begitu ", katanya membela diri.


" Ayolah sayang, aku sudah lelah ", ucap Reymond.


Alis Viona bertaut saat itu, ia terlalu asing melihat wajah senang lelaki itu, bahkan ia hampir lupa, dan baru mengingatnya lagi saat ini.


" Kau sungguh akan tetap disini ? ", tanyanya sekali lagi, dan ia bertanya dengan kesadarannya kali ini.


Tawa Reymond memudar, " semua sudah berakhir", ucapnya, matanya menyiratkan hal yang begitu serius dari perkataannya. Dan Viona sudah terdiam saat itu. Ia mendengar sangat baik, apa yang baru saja di katakan oleh Reymond, tapi ia perlu mencerna ucapan itu. Mencernanya dengan sangat baik. Dan pandangannya terkesiap setelah menyadarinya. tapi saat itu, Reymond kembali menarik tubuhnya. Membawanya melangkah menuju ruang tidur mereka, dan sepanjang itu Viona tak lagi mengucapkan apapun, ia hanya terus bergerak mengikuti langkah Reymond, dan memandang tak percaya pada punggung besar lelaki itu. Ia bukan tak percaya dengan apa yang di katakan lelaki itu, tapi ia tak percaya, bahwa mereka akan kembali bergandengan, setelah puluhan tahun, hal itu tak pernah terjadi.


~


Lagi-lagi mata Elin di buat terkesiap, kali ini tidak ada ribuan tangkai bunga atau jutaan kelopak mawar. Hanya, ruang tidur yang di sulap begitu sangat cantik, sesuai keinginan. Ralat, bukan keinginan, perempuan itu tak pernah menginginkan hal ini, bahkan dia sendiri tidak tahu akan hal itu. Tapi semua yang berada di dalam ruang itu adalah sesuatu yang menjadi favoritnya.


Yang membuatnya takjub adalah, interior ruang itu berubah menjadi seratus delapan puluh derajat, dari interior ruang tidur seorang laki-laki, yang kini di rubah menjadi interior kamar tidur perempuan, tidak begitu perempuan. Tapi, ini terlihat jauh peminim untuk di tinggali oleh laki-laki dengan rahang yang berjambang.


" Kenapa kau merubahnya ? ", tanyanya heran.


" Demimu ", jawab singkat Daniel, nadanya tegas, tapi terasa begitu lembut di hati perempuan di hadapannya. Garis bibir Elin kembali merekah, " padahal kau tak perlu merubah apapun. Aku menyukai kamarmu yang dulu ".


" Aku harus merubahnya, aku harus membuat istriku betah dan senang berada di kamar tidur kita ", kata Daniel memotong ucapannya. Bibir Elin tak lagi bisa menyela kalimat apapun lagi. Ia terlalu senang, sampai lidahnya tercekat untuk bicara.


" Kau mau mencobanya ? " tanya Daniel, matanya memandang nakal.


Elin tetaplah Elin, perempuan telmi yang tidak bisa langsung mengerti ucapan orang lain, " huh ! " balasnya bingung. Dan Daniel langsung tertawa saat itu," kau selalu membuatku gemas", geramnya, yang tidak lagi berniat untuk memberi kode kalimat pada perempuan itu.


Segera di lumatnya tidak sabar bibir ranum Elin, dengan satu tangan bergerak menutup pintu ruang itu. Sementara Elin yang tidak siap dengan sergapan pada bibirnya, menjadi gelapan. Ia sempat menoleh keluar, memastikan tidak ada orang lain di sana, sebelum pintu itu akhirnya tertutup oleh tangan Daniel.


Ruang tidur berwarna peach metalik seolah menyihir sepasang pengantin baru di dalamnya. Daniel seperti begitu rakus untuk menerjang setiap jengkal tubuh Elin dengan kecupan, dan Elin tak ingin menolaknya. Sudah sepatutnya lelaki itu mendapatkan apa yang ada padanya, setelah semua kejutan yang ia berikan.


Mata mereka saling bertemu sesaat, sebelum kedua tangan Daniel meloloskan baju yang tertambat di tubuhnya. Kedua bibir tak berhenti bertaut, sampai dua tubuh itu terhempas di ranjang besar yang baru di letakan beberapa hari yang lalu. Dan sepanjang itu, bibir Elin tak berhenti melenguh. Ia seperti mendapatkan sensasi rasa seperti pertama kali melakukannya.


Ia terbuai oleh suasana ruangan, oleh sentuhan dan oleh aroma dari beberapa tangkai mawar yang di letakkan di setiap sudut ruang itu. Dan bersamaan angin menuju senja berhembus, seolah sengaja datang untuk menambah gairah mereka, memberi sensasi pada tubuh yang tidak lagi tertutup oleh sebenang kain pun.


Bibir Elin tak berhenti melenguh, Daniel memberikan rasa yang terlalu nikmat untuk di rasakannya. Tubuhnya tak berhenti tersentak, setiap kali lelaki itu ******* hangat area sensitifnya, dan setiap itu, justru ia ingin membenamkan lebih dalam wajah lelaki itu disana, dan beberapa detik kemudian ia kembali melenguh, melenguh dengan sangat panjang. Tapi Daniel seolah tak memberi jeda untuknya mengambil nafas. Di sergapnya bibir yang masih menganga, dan bersamaan ia menanamkan benda yang di milikinya ke dalam tubuh Elin, di tanamnya dengan sangat dalam,sampai membuat perempuan itu tersentak, dan kemudian nafasnya kembali melenguh.


Daniel menarik bibirnya dari *******, " Aku sangat mencintaimu sayang ", ucapnya dengan nafas tersengal, lalu mengecup puncak kepala Elin. Tapi ia tak memberi kesempatan untuk perempuan itu membalas ungkapannya, karena setelahnya, ia memompa lebih cepat tubuh perempuan itu, membiarkan suara nafasnya melenguh memenuhi penjuru ruang tidur mereka.


Ia bahkan tak berniat untuk membuat perempuan itu menahan suaranya, ia membiarkannya, membiarkan perempuan itu mengeluarkan suaranya, suara kenikmatan yang ia berikan. Ia menyukai hal itu, menyukai suara itu, menyukai mata sendu dan bibir yang terbuka, setiap kali ia menancapkan lebih dalam benda miliknya.


Ia menyukai segala yang ada pada perempuan itu. Setiap bagian tubuhnya, bentuk tubuhnya, dan tubuh kecilnya, semuanya membuatnya bergairah, membuatnya seperti tidak akan melakukannya lagi besok, ia seperti ingin menghabisi setiap bagian tubuh itu, dan tak menyisahkannya.


Tubuh Elin terlalu membuatnya bergairah.


Elin terbawa suasana, seluruh tubuhnya tidak berkerja dengan baik, selain indera perasa, yang merasakan hujaman kenikmatan. Telinganya seperti tuli oleh suara nafasnya sendiri, dan pikirannya seperti tak bekerja dengan benar, karena saat itu, ia tak memikirkan sedikit pun jika akan ada orang lain yang akan mendengar suara lenguhannya, suara desah nafasnya, dan suara hentakan kedua tubuh yang bertemu, setiap kali Daniel bergerak. Bahkan nyaris tak peduli jika pun memang ada yang mendengarnya.


Ia terlalu terlena oleh sentuhan Daniel, oleh hujamam Daniel pada tubuhnya. Dan ia terhinoptis oleh tatapan sendu penuh cinta dari mata biru milik lelaki itu.


Itu yang ia sukai setiap kali mereka melakukannya, lelaki itu selalu memandang matanya, selalu menatapnya penuh cinta. Hal itu membuatnya percaya, bahwa bukan hanya tubuhnya yang lelaki itu inginkan, tapi dirinya lah. Jiwa, cinta dan semua yang ada pada dirinya. dan lelaki itu selalu memastikan bahwa mereka mendapatkan yang sama.


" Katakan kau mencintaiku sayang ", pinta Daniel dengan nafas tersengal, dan bersamaan dengan gerakan yang semakin di percepat, " cepat katakan kau mencintaiku ", katanya lagi, seperti memaksa tapi Elin menyukainya. Di tengah tubuh yang di hentakan sangat cepat, Elin tersenyum, " aku sangat mencintaimu ", balasnya tersendat oleh desah nafas. Tapi kemudian, bersamaan mereka melenguh panjang. Daniel menghentakkan tubuhnya begitu kasar pada bagian terakhir itu, lalu menyergap kembali bibirnya, melumpatnya dengan tidak lembut, tapi sekali lagi Elin menyukai saat itu. Saat dada mereka bertemu di sela nafas yang tersengal, dengan peluh yang saling menyatuh, " i love you ", bisik lelaki itu tepat di telinganya, dengan nafas yang masih menderu. Matanya masih memandang penuh cinta, walau setelah apa yang ia capai, kini sudah ia dapatkan.


Elin memandangi wajah yang masih di penuhi peluh, hembusan nafas yang masih menderu, Di tengah mata yang sayup-sayup mulai terpejam, tapi saat itu bibirnya melengkung. Tersenyum begitu manis. Memperlihatkan, bahwa baru saja ia mendapatkan sesuatu yang membuatnya begitu bahagia, dan hati Elin menghangat melihat itu. Ia senang karena mengetahui, bahwa, bukan hanya kepuasan yang lelaki itu dapatkan darinya tapi juga kebahagiaan.