
Mata Elin tak berhenti memandang ke kiri dan ke kanan , bibirnya tersenyum tak kalah kembali menatap gedung-gedung menjulang tinggi di Jakarta , " padahal aku pergi beberapa tahun tapi tidak ada yang terlalu berubah dari kota ini " gumamnya sedikit tertawa.
" Ada yang berubah " sambung Amel.
" Apa ? "
" Presidennya " sahutnya enteng , membuat suasana di dalam mobil itu menjadi riuh oleh gelak tawa.
" Ah akhirnya kita bisa seperti ini lagi ya " kata Amel sambil menarik nafas dan garis bibir yang terbuka lebar.
" Terakhir kali kita melewati tempat ini seperti ini rasa sudah begitu lama ya " lanjutnya.
" Emm.. kalau tidak salah terakhir kali waktu kita SMA " sambung Elin ,
" ya kau benar setelah Green menikah rasanya kita hampir tidak pernah berada di suasana seperti ini , jalan-jalan bertiga seperti ini " ucap Amel dengan senyum yang sedikit memudar.
" Jangan seperti itulah , kalian membuat pernikahanku seperti bencana di persahabatan kita " kata Green yang kini bersuara dengan nada yang lemah dan tanpa emosi.
" Bukan , bukan seperti itu maksudku Green "
" Hanya saja waktu seperti cepat berlalu dan berganti , kadang keadaannya memungkinkan tapi waktunya lagi yang tidak tepat , begitu pula sebaliknya " jelas Amel.
Mendengar Kalimat itu Elin yang duduk di belakang langsung mendekat ke kursi depan lalu menatap dengan cermat pada sahabatnya itu , " kau benar-benar sudah dewasa Mel " ucapnya serius , namun itu terdengar begitu lucu oleh Green yang langsung tertawa begitu keras.
" Ternyata bukan hanya aku yang menyadari itu " katanya dengan masih terus tertawa.
" Ya ternyata semenjak menikah banyak perubahan darinya Green "
" heh , aku berbicara serius kenapa kalian berdua malah tertawa huh " protes Amel yang menjadi kesal.
" Tapi sumpah , aku juga sangat merindukan hal seperti ini " kata Green yang tiba-tiba membuat suasana riuh itu menjadi hening , " Amel benar kadang waktu dan keadaanlah yang sering berselisih membuat moment itu sulit untuk terulang lagi "
" Yah memang aku benar " kata Amel menimpali dengan menyombongkan dirinya.
" Ya andai saja aku tidak menikah lebih dulu , mungkin sekarang kita masih berada di kampus yang sama " ucap Green yang membuat kedua sahabatnya sedikit terhenyak.
" Hei apa yang kau katakan Greenindia , kau terdengar seperti sedang menyesali pernikahanmu " sambung Amel dengan nada sedikit meninggi , namun kemudian ia terdiam saat melihat Green menghela pelan nafasnya.
" Aku tidak sedang menyesali pernikahanku Mel , tapi kalau di pikir-pikir pasti ada banyak hal yang bisa aku lakukan kalau saja aku tidak menikah lebih dulu , setidaknya aku masih menikmati masa mudaku dan jika aku belum menikah kau pasti juga tidak akan menikah saat ini " katanya lagi membuat suasana itu tiba-tiba menghening.
" Terkadang sering sekali kalimat , andai saja dan kalau saja itu terbesit dalam kepala ku bahkan terkadang ada ketika aku juga iri melihatmu yang masih bisa sekolah dengan tenang Lin "
" Green " ucap Elin pelan sambil mengusap punggung sahabatnya itu.
" Aku juga sama " sambung Amel pelan.
" Ada terkadang waktu aku ingin memutar kembali semuanya , memilih untuk tidak menikah dan menikmati masa muda ku dengan baik , melanjutkan sekolah di tempat yang aku inginkan dan banyak hal yang mungkin bisa aku lakukan lagi jika aku tidak menikah "
" Akhirnya kita mengeluarkan uneg-uneg kita selama ini ya Mel , aku kira hanya aku yang pernah merasakan itu "
" Tidak aku juga , hanya saja aku tidak berani bercerita kepadamu karena aku takut kau tidak merasakan hal yang sama "
" Kalian terdengar seperti begitu tertekan " ucap Elin menatap sendu pada kedua sahabatnya.
" Bukan tertekan , hanya saja ketika kita bertemu dan berbicara kita lebih sering membahas urusan rumah tangga ketimbang membahas apa yang sedang kita rasakan , lebih sering bercerita tentang resep makanan , tugas kuliah yang belum selesai , bahkan rasanya sangat sedikit ada kesempatan untuk kami duduk berdua "
" Ya kau benar Green " sahut Amel sambil mengangguk.
" Padahal tinggal kita sangat dekat tapi terasa begitu jauh ketika ingin bercerita " lanjutnya dengan sedikit menghela nafas.
" Ya kau benar , lebih baik menyimpannya sendiri "
" Aku benar-benar tidak tahu kalau kalian merasakan hal seperti ini , aku kira kalian sudah begitu bahagia " ucap Elin yang menjadi sedih mendengar keluhan kedua sahabatnya.
" Kita bahagia Elin " sahut Green lemah dengan kembali tersenyum.
" Ya ini hanya keluhan-keluhan kecil yang tidak pernah di ungkapkan selama menjadi seorang istri karena dunianya memang benar-benar berbeda , ketika menikah kita seperti egois jika lebih mementingkan perasaan sendiri "
" Bahkan saat mengeluh seperti ini pun terasa seperti tidak bersyukur ya Mel " lanjutnya dan Amel dengan cepat mengangguk " Dunia seorang istri itu benar-benar berbeda " keluhnya dengan sedikit kembali menghela nafas.
" Ah kenapa kita menjadi curhat ya " kata Green yang akhirnya tertawa saat menyadari obrolan mereka.
" Apa kalian tahu selama ini justru aku yang ingin menjadi kalian " kata Elin tiba-tiba , membuat tawa Green langsung memudar dan Amel yang langsung menoleh ke arahnya , " hidup sendirian di tempat orang lain benar-benar tidak menyenangkan " sambungnya dengan bibir yang tersenyum tapi matanya mulai mengeluarkan cairan bening yang masih tertahan di pelupuk matanya.
" Liiinn... " panggil Green lembut.
" Sungguh , waktu baru tiba di New York hampir setiap malam aku menangis dan mengeluh kenapa aku tidak seperti kalian
" ucapnya sambil mengibas dengan cepat air mata yang sudah terjatuh.
" Astaga aku tidak menyangka kalau ternyata kita seperti ini " kata Amel sambil mengusap mata yang mulai berair , " kita hanya saling iri dengan keadaan masing-masing padahal kenyataannya tidak ada yang mudah menjadi kita ".
" Ya kau benar Amel , kita yang ingin menjadi Elin ternyata Elin malah ingin menjadi kita " tambah Green tertawa , namun dengan mata yang berkaca-kaca.
" Ternyata kita memang orang-orang yang tidak bersyukur " lanjut Green membuat ruang mobil itu kembali di penuhi oleh tawa.
" Huh " suara Amel menghela nafas begitu dalam.
" Tapi aku suka seperti ini , akhirnya kita bisa mengetahui apa yang masing-masing kita rasakan "
" Ya kau benar Mel , akhirnya kita tahu bahwa selama ini kita saling iri dengan kehidupan kita masing-masing "
" Padahal sangat tidak mudah menjadi aku " lanjut Elin dengan kalimat yang begitu dalam , namun ia mengucapkannya dengan tertawa , " huh , rasanya begitu bersyukur aku bisa melewati hari-hari itu dan sampai di hari ini " katanya lagi dengan kembali tersenyum teduh sambil kembali menatap pada jalanan kota Jakarta.
Green segera melihat pada kaca depan mobil untuk melihat seperti apa ekspresi wajah sahabatnya itu , " selama ini kau pasti begitu sulit " ucapnya lembut dan hanya seutas senyuman dari bibir Elin untuk ucapannya , " bahkan sangat sulit Green " balasnya begitu lirih.
" Bahkan kemarin aku masih menangis saat teringat masa-masa itu " lanjutnya yang semakin terdengar memilukan , " Maaf selama ini kami tidak terus berada di sampingmu lin " ucap amel yang ikut merasakan apa yang kini tengah di rasakan sahabatnya.
" dasar bodoh , bagaimana kalian bisa terus bersamaku kalau aku sendiri berada di New York dan kalian di Indonesia " protes Elin yang kembali tertawa.
" Ternyata dia masih sama seperti dulu Green "
" Ya masih begitu bodoh "
" Ceh " decih Amel , namun akhirnya ikut tertawa meski itu di sebabkan oleh kebodohannya sendiri.
" Jadi jangan lagi iri padaku , hidupku sangat menyedihkan dan aku yakin kalian tidak akan kuat menjadi aku " kata Elin yang kini benar-benar tertawa.
" Ceh , kau tertawa padahal itu terdengar sangat menyakitkan untuk kami " kata Amel sedikit kesal.
Elin kembali menarik nafasnya , " sebenarnya aku ingin sekali menangis dan memeluk kalian untuk meluapkan semua perasaanku selama ini "
" Bodoh kenapa kau tidak melakukannya "
" Tidak , aku tidak ingin lagi menangis dan membuat mataku sembab , malam ini malam pertungan ku dan di saat itu nanti aku tidak ingin terlihat jelek " katanya begitu polos membuat Green dan Amel kembali tertawa , " kau benar-benar masih sama seperti dulu " ucap Green.
" Ya masih begitu idiot dan polos " sambung Amel tertawa yang kini bergantian membuat Elin yang menjadi kesal.