Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Begitu Manis


"Tuan kita sudah sampai " kata Reza dengan tangan yang menepuk lembut pada pundak Daniel ,


mata Daniel menggercap saat Reza membangunkannya " sudah dimana kita Reza " tanya Daniel sambil mengucak kedua matanya ,


" Kita masih di bandara tuan , dan sebentar lagi mobil yang menjemput kita akan segera datang " jelas Reza , Daniel segera melihat jarum jam di tangannya.


" berarti di sana sudah mulai malam " gumam Daniel , karena di New York sedang berada di waktu pagi.


" Anda berbicara apa Tuan ? " tanya Reza yang tidak jelas dengan jelas perkataan Daniel.


" Tidak ada , emm.. Reza pukul berapa pertemuan kita nanti ? "


" Pukul 10 , anda masih punya waktu dua jam untuk kembali beristirahat Tuan " jelas Reza dan Daniel mengangguk mengerti.


****


drrtttt drrrtttt " handphone Nathan bergetar dengan suara deringan panggilan video call , sudah berulang kali deringan itu kembali terdengar.


Nathan tersenyum saat layar handphonenya memperlihatkan panggilan video dari Daniel.


" Kenapa tidak di angkat sayang ? " tanya Green yang melihat Nathan hanya tersenyum menatap layar handphonenya.


" Aku ingin melihat usahanya " sahut Nathan


" Maksudnya ? " tanya Green yang tidak mengerti , " nanti kamu pasti tahu sayang" sahut Nathan dengan senyum jahilnya.


~


" Eh anak anak bunda sudah pulang " kata Wilna berjalan menghampiri.


" Oma " teriak Naina yang sudah berlari menuju Wilna.


" Cucu oma habis dari mana ? " tanya Wilna pada Naina yang sudah berada di dalam gendongannya ,


" Habis kerumah om Gery " jawab Naina , Wilna sedikit terkejut mendengar jawaban polos Naina , dan matanya segera melihat kearah Green untuk meminta penjelasan pada menantu pertamanya.


 


" Iya bunda , tadi kita ziarah ke makam kak Gery karena besok Elin sudah harus kembali ke New York " jelas Green.


" Are you oke , nak ? " tanya Wilna yang menatap empati pada Elin.


" Oke bunda " sahut Elin dengan senyum yang begitu teduh , " sekarang kita makan , karena bunda sudah memasak begitu banyak untuk kamu " ujar Wilna dengan tangan kiri yang merangkul pundak Elin .


" Mel , sepertinya posisi kita sudah di geser olehEelin " kata Green bercanda.


" Kemarilah jika kalian juga ingin bunda rangkul " ujar Wilna tertawa,


drrrttt drrrttt " suara handphone Nathan kembali berdering.


" Jawab sayang , siapa tahu telepon kak Daniel penting " ujar Green sambil menyendokkan nasi pada piring Nathan.


" Ternyata usahanya cukup keras " gumam Nathan dengan tertawa kecil , dan kemudian menjawab panggilan Daniel.


" Sejak kapan , kau mulai posesif rem " kata Nathan tertawa saat panggilan video sudah tersambung pada Daniel ,


mata Elin melirik pada Nathan sebentar , kemudian melanjutkan kembali makannya , jantungnya sedikit bedegub saat Nathan menyebut nama Daniel , dan Elin masih cukup bingung kenapa perasaannya tiba tiba seperti ini , tidak ada yang spesial di antara mereka tapi Elin sudah merasakan kecewa saat Daniel pulang tanpa pamit padanya.


" Mana anakku ?, Aku merindukkannya jo " tanya Daniel di seberang yang terlihat sedang berada di dalam mobil.


" Benarkah kau merindukkan naina ?, Apa kau merindukan dia ? " goda Nathan yang langsung mengarahkan camera belakang handphonenya pada Elin ,


Elin terbatuk dengan wajah yang langsung memerah karena malu,


Daniel tertawa di seberang , merasa lucu melihat tingkah perempuan yang terlihat di balik layar handphonenya .


" Berikan air minum padanya jo " ucap Daniel.


" Kau sungguh perhatian pada Elin ya rem " timpal Alfin tertawa , Elin masih terus fokus pada makanannya tidak memperdulikan semua orang yang sedang menggodanya bersama Daniel.


" Berhenti mengoda kami , berikan handphone nya pada Naina , aku ingin berbicara pada putri cantikku "


" Baiklah " sahut Nathan tertawa kemudian memberikan handphonenya pada Naina yang sedang makan bersama Green.


" Hallo papa Daniel " sapa Naina gemas , sambil mengunyah makannya.


" Hallo nak , Naina sedang apa ? "


" Apa papa Daniel tidak lihat , Naina sedang makan papa " sahut Naina.


" Papamu hanya alibi " ujar Green pelan sambil tertawa.


" Apa papa Daniel merindukan Naina ? "


" Tentu nak , papa Daniel sangat rindu Naina , makanya pada Daniel ingin berbicara pada Naina"


Daniel terdiam dengan senyum yang tertahan karena pertanyaan Naina.


" Papa " panggil Naina lagi.


" ya , cantik "


" Kenapa papa tidak jawab ? "


" emm .. ya , papa juga rindu mama yin " jawab Daniel sambil menggaruk pangkal hidung yang sebenarnya tidak gatal , karena ia cukup malu mengatakannya.


" Semangat rem , aku sangat mendukung " teriak Alfin.


" Bunda juga " timpal Wilna tak kalah heboh.


" Kita lagi makan , bukan diskusi politik " ujar Elin karena risih.


" Mama yin , papa Daniel mau bicara " kata Naina sambil memberikan hape Nathan pada Elin , " papa Daniel , tidak ada mengatakan ingin bicara pada mama Naina " kata Elin.


" Tadi papa Daniel bilang rindu mama yin " jelas Naina begitu polos.


" Tapi papa Daniel tidak bilang ingin berbicara dengan mama , Naina " sahut elin, dan Daniel hanya terus menyimak di balik video dengan bibir yang terus tersenyum.


" Tadi papa Daniel ingin bicara dengan Naina , karena rindu dengan Naina , berarti kalau rindu dengan mama yin , berarti papa Daniel juga ingin bicara dengan mama yin juga , iya kan papa " jelas N.aina dengan begitu pintar


" Good job nak " ucap Green tertawa di ikuti semua orang di meja makan.


Elin hanya terdiam , tidak bisa lagi menyelah perkataan gadis kecil itu.


" Baiklah , berikan handphonenya pada mama " ucap Elin menyerah , sebelum menerima handphone Nathan , Elin berusaha mengatur ekspresi wajahnya terlebih dahulu karena sekarang ia cukup gugup untuk berbicara dengan Daniel.


" Hay " sapa Elin tersenyum saat layar handphone Nathan sudah berada tepat di hadapannya , dengan wajah Daniel yang terlihat begitu jelas di balik vidoe.


" Oh my god " batin Elin dengan kaki yang sudah bergetar karena nervous , wajah Daniel terlihat begitu sempurna di balik video , dengan bulu halus yang tertata rapi di wajah halusnya,


Elin menelan ludah menyembunyikan kegugupannya.


" Hay " balas Daniel di seberang dengan senyum yang ia buat sesantai mungkin.


" Apa keadaanmu sudah membaik ? "tanya Daniel.


" emm tentu , Tuan " sahut Elin yang tetap berusaha untuk membuat wajahnya terlihat biasa saja di hadapan Daniel , walau jantungnya sudah bergemuruh karena menatap wajah sempurna Daniel di balik video.


"Jangan lagi mabuk seperti itu jika sendiri "


" Kenapa ?"


" Karena tidak ada aku yang akan menjagamu nanti " jelas Daniel.


"blusshh " pipi Elin memerah seketika dan ia sudah tidak mampu lagi menyembunyikkannya.


" Kau cukup lucu Tuan Daniel , kita baru saja bertemu beberapa hari dan aku bisa menjaga diriku sendiri " sahut Elin sambil tertawa karena menyembunyikan rasa gugupnya.


" Iya , tapi berapa hari itu cukup berkesan untukku "ucap Daniel , yang membuat jantung Elin semakin ingin memberontak dari tempatnya .


" Oh tuhan , jantung please calm down " batin Elin.


" Pepet terus rem " teriak Alfin.


" Benarkah ? " tanya Elin , yang sudah tidak bisa lagi berbicara apapun karena merasa malu dengan perkataan Daniel.


" Iya Nona Merlinda " jelas Daniel dengan senyum yang begitu manis.


" emm , maaf panggilannya harusku tutup , aku sudah sampai di tempat tujuanku dan sampai bertemu lagi " pamit Daniel pada Elin , yang kemudian langsung menutup panggilan video mereka.


Setelah panggilan usai semua orang menjadi semakin riuh di meja makan , dan Elin hanya bisa diam dengan telinga yang sudah panas dengan kata godaan semua orang kepadanya dan Daniel.


~


" Oh my god , hampir saja jantungku lepas " ucap Daniel dengan tangan yang memegang pada dadanya , saat panggilan video telah selesai , dan itu alasan ia mengakhiri panggilan karena takut tidak mampu lagi menyembunyikan rasa nervousnya saat berbicara dengan Elin.


" Ada apa tuan  ? " tanya Reza yang berada di sebelah Daniel , dan sedari tadi ia terus mengamati tingkah Daniel yang begitu langkah , senyum dengan tangan sebelah kiri yang mengepal , yang berarti ia sedang merasakan gugup , dan Reza sangat tahu tentang kebiasaan bossnya itu.


" Tidak apa apa Reza " sahut Daniel dengan bibir yang ia lipat ke dalam.


" Kenapa dia begitu manis " gumam Daniel dengan bibir yang tersenyum gemas saat mengingat wajah Elin di balik video tadi.


Reza hanya menatap diam pada tingkah Daniel , sungguh untuk kali pertamanya Reza melihat wajah Daniel yang begitu semuringah seperti hari ini.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚