Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Satu Langkah


Sisa kesedihan masih menyelimuti. Suara riuh tidak begitu menggema di meja makan berukuran besar, padahal di tempati lebih dari sepuluh orang disana.


Setelah kepulangan tamu dari New York, keadaan disana jauh terlihat kontras. Jauh lebih sunyi. Ntah kepulangan orang-orang itu, atau memang karena suasana hati dari orang-orang itu sendiri.


Tidak ada sendau gurau berlebihan. Green menikmati makan malam itu dengan tenang, sembari menggendong tubuh putrinya yang sudah tertidur. Gadis kecil itu sedikit rewel malam ini dengan suhu tubuhnya sedikit panas. Mungkin karena ia terlalu lama terkena angin pantai tadi sore. Dan itu alasan terbesar Green, untuk tidak fokus menggoda sepasang pengantin baru. Setelah terakhir tadi sore, ia memergoki noda merah di leher Elin dan membuat pemiliknya pergi dengan wajah yang merona.


Sementara Nathan yang duduk di sisinya kini sibuk menghadap laptopnya, begitu pun Alfin.


Dua saudara itu di cecar oleh pekerjaan tanpa menunggu mereka kembali ke jakarta atau sampai mereka menyelesaikan makan malam ini.


Sedangkan Amel, perempuan itu memang tidak lagi seceria seperti sebelum kehamilannya. Bibirnya yang cerewet seperti sedang insyaf saat ini. Ia hanya sibuk mengunyah potongan buah di hadapannya dan minuman dingin, harus sangat dingin. Di gelasnya harus di penuhi tumpukan batu es, atau dia tidak akan menyentuh minuman itu. Atau kebalikannya, harus minuman panas yang sangat panas.


Kalau kata Naina. Bunda hanya mau minum air yang ada asapnya.


Begitu pun Daniel, ia juga sibuk dengan ipad di hadapannya. Dan beberapa menit sekali ia menyempatkan diri untuk menoleh, memastikan perempuan di sampingnya tidak menikmati makan malam dengan wajah cemberut. Dan setelah itu dia selalu merasa menjadi lelaki paling beruntung. Sepanjang itu, perempuan disisinya terus melemparkan senyum tanpa protes, dengan tangan yang siap bergerak menyuapkan kembali makanan ke dalam mulutnya, setiap kali ia selesai mengunyah dan menelan makanan itu.


Elin hanya menyimak kondisi di hadapannya, sesekali melihat ke arah kumpulan lelaki paruh baya yang tengah asik mengobrol. Meski personel mereka juga telah berkurang setelah kepulangan orang tuan Green dan Amel tadi sore. Dan juga Larry tadi pagi, lelaki paruh baya itu kini resmi menjadi bagian dari kumpulan orang tua itu. Kehidupan sosial yang berbeda tidak membuatnya tidak di terima disana. Reymond dan Banyu memintanya bergabung ketika mengetahui lelaki itu ada, meski pertama kali ia menolak, karena tak cukup percaya diri untuk bergabung di antara mereka.


Lalu kemudian melihat lagi ke kumpulan wanita paruh baya yang tengah asik membicarakan mutiara asli yang di hasilkan oleh laut Bali, yang mereka dapatkan tadi sore. Hanya Mala yang tidak begitu banyak menyambung, wanita paruh baya itu hanya tersenyum setiap kali Wilna menyebut mereka begitu beruntung dengan apa yang mereka temukan, dan hanya bicara ketika besannya, mengajaknya menimpali obrolan itu.


Memandang hal itu membuat Elin tersenyum, Ibunya memang terlalu sederhana untuk berada di antara dua Wanita paruh baya itu.


Ia sebenarnya tidak menyukai suasana ini. Terlalu sunyi untuk mereka yang tengah berkumpul, tapi setiap kali ia ingin memulai obrolan untuk membuat Green dan Amel berbicara, ia teringat kalau gadis kecil yang tertidur di dalam pelukan ibunya itu, tengah sakit dan pasti akan kembali rewel kalau nanti terbangun. Jadi Elin mengurungkan niatnya.


Matanya kini fokus menatap adik iparnya yang duduk di hadapannya. Mata biru gelap perempuan itu terlihat sendu, wajah cerahnya juga terlihat gusar. Dan ia seperti tidak bisa jauh dari benda pipih yang berulang kali berbunyi.


Elin menebak, mungkin itu terjadi karena ia tidak menemukan lelaki di samping perempuan itu.


" Meil ? "


" Hmmm ", Meili mendongak dari layar handphone.


" Kemana Jerry ? "


Perempuan itu terhenyak, lalu mengangkat bahunya, " aku juga tidak tahu ".


" Dia belum kembali dari tadi siang ? " kata Green menimpali dan Meili mengangguk. Dan saat itu Elin menyadari tebakannya salah. Adik iparnya tidak sedang bertukar pesan dengan teman sekolahnya itu dan Ia kembali melihat Meili sibuk dengan benda pipihnya, terlihat rumit. Bahkan kedua alisnya saling bertaut.


" Astaga maafkan aku Meili " ucap Alfin tiba-tiba. Semua orang menoleh, termasuk Amel, walau perempuan itu tengah sibuk menyesap juice kiwi di gelas yang ia pegang dengan kedua tangannya. Asap dingin mengepul di hadapan wajahnya yang pucat.


" Jerry bilang dia ada pekerjaan tiba-tiba. Sebenarnya dia ingin aku memberitahumu, tapi aku lupa " jelas Alfin, yang setelahnya tersenyum cengengesan.


" Kau ini " sergah Amel, sambil melayangkan pukulan kecil di lengannya.


" Aku lupa sayang "


Sementara Amel hanya diam, dengan tersenyum kaku. Elin melihat jelas sirat mata kehilangan disana. Tapi sepertinya benda pipih yang terus berbunyi mengalihkan pikiran itu.


Tubuh kecil Naina kini telah berpindah ke dalam gendongan Nathan. Dan semua orang tengah menikmati hidangan penutup, meski ketiga wanita paruh baya telah berpamitan pergi dari meja makan, sebelum hidangan itu datang.


Dan sebelum pergi Wilna mencoba untuk membawa cucu satu-satunya. Akan dua jika yang berada di dalam perut Amel sudah lahir.


Tapi gadis kecil itu langsung menangis, saat mengetahui bukan di dalam gendongan ibunya. " Biar dia disini saja bun " kata Green mengambil alih putrinya.


" Tapi kau akan capek nak " sahut Wilna, menatap khawatir.


" Ada aku Bunda. Kami akan bergantian setelah aku selesai " kata Nathan menimpali, sebelum istrinya sempat bicara.


Kecuali dengan mereka berdua, putri mereka benar-benar tidak sedang ingin dengan siapa pun, bahkan dengan pengasuhnya sendiri.


" Jangan terlalu lama disini " kata Wilna memperingati, sebelum akhirnya pergi dari meja makan , bersama Viona dan Mala.


" itu Jerry datang " seru Nathan. Semua orang menoleh tak terkecuali Meili. Bahkan perempuan itu menoleh lebih cepat dari semua orang yang ada di sana.


" Kemana saja kau ? " tukas Green, ketika Jerry semakin dekat, " Meili resah, karena kau tidak ada " sambungnya.


Pupil mata Meili membesar saat itu juga. Jerry yang baru saja menarik kursi dari sebelahnya langsung menoleh, " benarkah kau resah tanpa aku " katanya tersenyum. Hanya pipi yang semakin memerah, menanggapi pertanyaannya .


" Ya dia tidak tenang karena kau tidak ada ", kata Elin menimpali.


" Kau sepertinya sudah setuju bersaudara ipar denganku Lin " Balas Jerry tertawa, dan berhasil membuat Elin melempar tatapan tajam padanya, " tidak juga ", katanya malu.


Sedangkan Green sudah tertawa, dengan menahan untuk tidak mengeluarkan suara yang besar.


" Semua tergantung Meili " kata Elin lagi.


Dan saat itu Jerry kembali menoleh pada perempuan itu, " kau sudah makan ? " tanyanya pelan dan begitu lembut.


" Hmm.. " balas Meili mengangguk.


Jerry menggeleng, " belum, aku terlalu ingin cepat untuk sampai kemari ", katanya yang terdengar penuh intrik, tapi itu kenyataannya. Ia meninggalkan hidangan yang di sediakan setelah pertemuan dengan rekan bisnisnya. Melajukan mobil dengan cepat untuk sampai ke tempatnya sekarang.


Sesaat Meili hanya diam, meski ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang tersipu karena ucapan dan tatapan lelaki di sampingnya.


Tangan Daniel dan Meili bersamaan terangkat, melambai pada satu pelayan yang berdiri di pintu masuk tempat mereka.


Elin langsung menoleh pada suaminya itu, " kau butuh sesuatu sayang ? ".


Daniel menggeleng, " Bukankah Jerry belum makan, berarti kita harus memesan hidangan lagi " jelasnya. Semua orang tersenyum mendengar itu. dan sedikit memandang heran padanya. Padahal sejak tadi lelaki itu masih terus berkutat pada ipad di hadapannya dan hanya menoleh sebentar, ketika tunangan adiknya itu datang, tapi ternyata dia menyimak semua pembicaraan.


Jerry tentu tersenyum paling lebar saat itu. Menyadari calon kakak iparnya memperhatikannya, " terimakasih kakak ipar " ucapnya. Meski saat itu Daniel hanya menjawabnya dengan mengangguk. Sementara Meili segera menurunkan tangannya ketika menyadari ia kalah cepat dari kakaknya sendiri. Tapi ketika pelayan datang, justru dia orang yang pertama dituju.


" Kau ingin makan sesuatu ? " tanyanya malu-malu pada Jerry.


" Apa saja yang kau pesankan " sahut lelaki itu.


Pipi Meili benar-benar memerah saat itu. Dan beruntungnya terlihat samar oleh cahaya lilin kecil yang tersusun sepanjang meja makan, " kau mau sop kepiting ? " tanyanya lagi.


" Apa saja yang kau pesankan " kata Jerry kembali mengulang kalimat yang sama. Meili membalas sekilas tatapannya, lalu kembali membalikan lembaran isi buku menu di tangannya. Dan tidak lama pelayan pergi.


" Besok kalian jadi pulang ke jakarta " kata Jerry memulai pembicaraan.


Hampir semua orang mengangguk bersamaan, " Memangnya kau tidak ikut ? " tanya Alfin, sambil menutup laptop di hadapannya.


" Tidak kak, pekerjaanku disini benar-benar sudah menumpuk " sahutnya, dan bersamaan semua orang melihat ke arah Meili, yang kini melemparkan tatapan terkejut padanya.


" Aku lupa kalau kau bekerja disini " tukas Green, dan Jerry mengangguk.


" Jadi kau tidak akan ke jakarta lagi ? " timpal Amel. Nadanya lebih melengking, mungkin potong buah dan butiran batu es telah berhasil membuatnya lebih ber-energi.


Sepasang mata biru menunggu tidak sabar untuk jawaban itu. Namun, sesaat Jerry menghening, lalu kemudian menghela nafas, " doakan saja aku bisa mencuri waktu untuk pulang, walau hanya sehari " katanya dengan serius, lalu menoleh pada perempuan di sampingnya. Walau ternyata perempuan itu memalingkan cepat wajahnya.


" Proyek ? " tanya Daniel tiba-tiba. Jerry terkesiap dan kemudian mengangguk, " iya kak " sahutnya.


Green tertawa geli mendengar Jerry menjawab pertanyaan Daniel dengan nada yang sungkan.


" Berapa lama ? ".


Jerry menelan ludah, " ini sedang di tahap finis kak, makanya aku tidak bisa meninggalkannya lagi ".


" Setelah itu ? " tanya Daniel, yang kini menatap lebih serius, dan semua orang yang berada di meja makan, kini menatap fokus pada perbincangan dua lelaki itu.


" Sedang dalam pertimbangan. Impestor itu ingin memulai kontrak baru untuk proyek barunya disini " kata Jerry menjelaskan, ia menyembunyikan setengah mati kegugupannya saat itu. Bagaimana tidak, ia sedang di cecar pertanyaan oleh seorang pengusaha besar dan juga calon kakak iparnya. Jika adik lelaki itu mau menikah dengannya nanti.


" Jangan di sambung lagi kontraknya " ucap Daniel, matanya menatap serius dari sebelumnya, bahkan kini, ia sudah menggeser letak ipad di hadapannya.


dan bersamaan pelayan datang, membawakan hidangan yang di pesan oleh Meili.


Sedangkan Jerry masih diam, dengan kembali menelan ludah.


" Apa kau masih mempunyai kontrak proyek lain ? ".


" Ada beberapa yang sudah jalan, tapi hanya proyek kecil " sahut Jerry dengan sedikit tertawa, untuk tidak membuatnya terlalu gugup.


Daniel mengangguk-angguk, " jangan membuat kontrak baru lagi " katanya tegas. Semua orang benar-benar menyimak pembicaraan itu, tak terkecuali Meili.


Belum Jerry berbicara, Daniel sudah mulai menggerakkan kembali bibirnya, " aku akan mengalihkan proyek besar yang ada disini untuk kau tangani " katanya lagi.


Sekali lagi Jerry menelan ludah saat itu. Ia tidak siap untuk mengangguk dan juga tak cukup berani untuk menggeleng. Meski saat itu jauh di hatinya ia sungguh merasa sangat senang. Itu berarti suatu pertanda bahwa tempatnya naik satu langkah untuk lebih dekat berada di dalam keluarga konglomerat itu. Setidaknya di mata lelaki itu, dia bukan lagi orang asing lagi.


" Ya Rem. sudah sebaiknya memang proyek besarmu disini ada yang menangani secara langsung " kata Nathan menimpali dan Alfin ikut mengangguk.


" Apa ini tidak berlebihan kak ? " sahut Jerry memberanikan diri, " aku belum menjadi bagia... "


" Kau menyukai adikku ? " potong Daniel. Matanya menatap penuh tuntutan. Dan Meili langsung menoleh padanya saat itu.


" Tentu " sahut Jerry tanpa keraguan, " bahkan sangat.. " sambungnya dan ia tidak sungkan membalas kembali tatapan Daniel.


" Bagus, berarti tidak ada yang berlebihan " kata Daniel yang kembali menggeser ipad ke hadapannya.


Elin sedikit bergidik dengan sikap suaminya saat itu. Tatapan dan ucapannya penuh ketegasan.Berbeda jauh ketika dengannya, lembut dan sangat manja.


Ia memandang lekat dengan tangan yang menyentuh lembut lengan lelaki itu. Dan melayangkan senyuman manis,ketika lelaki itu menoleh padanya.


Sementara Jerry sudah tidak bisa bicara lagi di tempatnya. Yang kemudian ia sedikit tersentak, saat Meili menggeser hidangan makanan kehadapannya, " makanlah " pinta perempuan itu. Dan ia mengangguk.


Dan selang beberapa detik kemudian, handphone Meili berdering. Dengan masih menyantap makanannya Jerry menoleh padanya dan saat itu ia tepat mendapati Meili tengah menolak panggilannya. dan perempuan itu tersenyum hambar ketika menyadari tatapannya.