Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Cinderellin


Hannah baru saja selesai dari pemotretan dengan peluh yang bercucuran karena rasa panas dari lampu sorot yang meneranginya selama berjam jam.


" Nona handphone anda berdering " ucap asistennya seraya memberikan benda pipih milik Hannah.


" Meili " gumam Hannah saat melihat nama panggilang telepon di layar handphonenya.


" Ya Meili " jawabnya setelah panggilan itu tersambung.


" Kau dimana ? "


" Emmm.. aku baru saja selesai dari pekerjaanku , ada apa ? "


" Apa kau sibuk malam ini ? "


" Sepertinya tidak , ada apa Meili ? " tanya Hannah semakin penasaran.


" Datanglah ke tempat yang aku kirim lokasinya padamu "


" Malam ini aku mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan Elin disana , jadi sempatkan untuk datang dan kau bisa membawa temanmu " lanjut Meili yang langsung menjelaskan sebelum Hannah sempat untuk kembali bertanya.


" Aku akan datang dengan senang hati " sahut Hannah girang.


" Ya kau temannya , aku rasa dia akan kecewa kalau kau tidak ada "


" Secara tidak langsung kau sedang mengancamku Meili "


" Ternyata kau cukup pintar Hannah " kata Meili tertawa.


" Tentu , kebodohanku hanya menyianyiakan kakakmu "


" Sungguh , aku tidak mencoba mengungkitnya " ujar Meili yang tidak berhenti tertawa " Aku mendahului sebelummu " timpal Hannah ikut tertawa.


" Baiklah , sampai bertemu nanti malam " ucap Meili sambil bersiap menutup panggilan mereka.


" Oke Meili "


" Kau bisa membawa temanmu Hannah "


" Kau tahu kalau aku tidak memiliki teman Meili "


" kalau begitu bawa siapa saja yang dekat denganmu dan lebih baik jika itu laki laki " lanjut Meili tertawa " Apa kau sedang merencanakan pesta **** nanti malam " ujar Hannah tertawa.


" Aku rasa ucapanmu bisa aku pertimbangkan " kata Meili tertawa.


" Jangan gila Meili "


" Aku hanya bercanda " jelas Meili sambil berusaha menghentikan tawanya.


" Baiklah sampai bertemu nanti malam " ucapnya lagi.


" Aku pikir tidak buruk membuat pesta **** " ujar Hannah bercanda , " jangan memulai Hannah , kau tahu aku sangat bisa melakukannya "


" Baiklah baiklah , aku salah karena menantangmu " kata Hannah tertawa.


" tapi kau tidak perlu kecewa , karena aku sudah menyiapkan banyak pria tampan malam ini "


" Kau benar benar gila Meili "


" Kau akan melihat yang lebih gila lagi nanti malam " ucap Meili tertawa.


" Baiklah , aku tutup teleponnya , sampai bertemu lagi nanti " ucapnya lagi , seraya mengakhiri sambungan teleponnya bersama Hannah.


" Sepertinya aku memang membutuhkan pesta " ucap Hannah tersenyum dengan tangan yang masih memegang handphonenya , " Apa masih ada sesi pemotretan setelah ini ? " tanyanya pada salah satu orang yang bertugas menyiapkan segala kebutuhannya.


" Tidak Nona , ini sesi terakhir anda hari ini "


" Baguslah " ucap Hannah merasa legah , karena kepergiannya ke pesta nanti malam tidak akan terhalang oleh pekerjaan.


" Baiklah sampai bertemu lagi nanti " ucapnya lagi pada semua orang yang berada di sana , dan segera beranjak untuk pulang , mungkin dia membutuhkan persiapan yang lebih untuk kedatangannya di pesta Elin nanti malam.


****


Daniel masih terus memikirkan perkataan Meili , bahkan membuatnya begitu gusar , berulang kali ia mencoba untuk kembali mengaktifkan handphonenya , namun berulang kali juga niat itu ia batalkan.


" Kita menuju rumah utama " ucapnya pada sopir yang baru saja melajukan mobil yang membawanya.


" Baik Tuan "


Daniel kembali terdiam di dalam mobil , perasaannya menjadi begitu bimbang setelah pertengkarannya dengan Meili tadi sore , namun dia masih butuh waktu untuk berpikir atau kembali menenangkan hatinya , tidak mudah untuk merasa baik baik saja setelah kejadian di malam dua hari yang lalu ,


Meili benar ia memang pernah merasa kecewa , maka dari itu dirinya tidak ingin itu kembali terjadi lagi , dengan mengharapkan balasan cinta yang tidak pernah ada untuknya , setelah menyaksikan kesedihan Elin malam itu akhirnya membuatnya benar benar menyerah , bukan karena perasaan cintanya yang sudah hilang tapi memang ada sesuatu yang tidak bisa di paksakan , seperti perasaan Elin untuknya.


Perempuan itu terlihat masih begitu mencintai mantan kekasihnya , meski sudah tidak ada di dunia , tapi perasaannya tentu tidak mudah untuk berakhir dan Daniel menyadari tentang itu dan tidak mungkin untuk memaksakan diri untuk bertahan , Dan sekarang apa yang di lakukannnya sudah tepat , dengan menjauh mungkin semuanya akan kembali membaik , begitu pun dengan hatinya sedikit terluka.


" Tuan " ulangnya lagi.


" Emm.. ya , ada apa ?


" Kita sudah sampai di rumah utama Tuan " jelas sopirnya , Daniel terdiam sesaat kemudian keluar dari dalam mobil setelah pintu itu terbuka oleh pelayan dirumahnya.


" Selamat Malam Tuan " sapa semua pelayan yang di lewati Daniel menuju dalam rumahnya.


Rumah dengan ukuran begitu besar , dengan luas tanah lebih dari 4000M tentu bukan tempat tinggal yang biasa.


Memiliki pintu utama yang kokoh dengan ukiran yang di buat langsung oleh perancang terkenal kota New York , dan setelah melewati pintu besar itu Daniel harus berjalan di atas kolam ikan dengan lapisan kaca tebal serta hutan kecil dengan air mancur yang mengeluarkan bunyi percikan air yang membuat suasana semakin terasa menyejukan dan setelahnya barulah ia sampai di ruangan utama dengan hiasan lampu crystal berukuran besar.


Rumah itu memang terlalu besar untuk di huni tiga manusia , dan beruntungnya mereka di temani banyak pelayan yang sudah di tugas di setiap ruangnya masing masing dan untuk itu mereka harus memiliki lebih dari 50 orang pelayan.


" Selamat malam Nona Muda " ucap pelayan yang terdengar dari telinga Daniel.


" Kau mau pergi kemana dengan pakaian seperti ini Meili ? " teriak Viona.


" Pesta Mami , bukannya aku sudah mengatakannya tadi " kata Meili yang kembali memutar tubuhnya menghadap Viona , " Apa ini tidak terlalu terbuka "


" Tidak mam , ini bahkan terlihat biasa saja " ucap Meili sambil melihat kearah tubuhnya yang hanya menggunakan dress mini berwarna perak dengan belakang yang terbuka hingga ke pinggul , menyisakan berapa senti untuk menutup bokong hingga setengah pahanya.


" Jangan pulang larut Meili "


" Bahkan aku baru saja ingin mengatakan kalau malam ini aku tidak akan pulang mam " jawab Meili begitu santai.


" Tidak , mami akan menunggumu sampai kau kembali , jadi jangan mencoba untuk tidak pulang "


" Ayolah mam hanya malam ini dan aku sudah berjanji pada Elin untuk tidur di tempatnya " mohon Meili.


" Daniel kau dengar , adikmu sudah mulai membangkang " lapor Viona saat melihat anak sulungnya datang , padahal Daniel sudah berdiri sedari tadi di sana.


" Dia tidak akan peduli mami " ujar Meili sambil memalingkan wajahnya dari Daniel.


" Aku pergi mam , dan jangan menungguku " pamitnya lagi sambil beranjak dari hadapan Viona ,


dan melewati Daniel tanpa menyapa.


" Kau pulang ? , Apa sudah makan , mami akan meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam untukmu " ucap Viona seraya berjalan menghampiri Daniel yang masih diam mematung.


" Daniel " panggil Viona.


" Iya mam "


" Mami akan menyiapkan makan malam untukmu " jelasnya lagi.


" Tidak mam , aku sudah kenyang dan ingin segera beristirhat " kata Daniel yang memang terlihat begitu lelah.


" Baiklah , katakan jika kau menginginkan sesuatu " ucap Viona dan Daniel mengangguk sambil berjalan menuju kamar tidurnya.


" Oh ya mam , Apa Meili mengatakan ingin pergi kemana ? " tanyanya dengan kembali memutar tubuhnya menghadap Viona.


" Dia bilang akan pergi ke pesta bersama temannya " jelas Viona " Temannya ? "


" Ya , perempuan yang selalu kalian ceritakan , siapa namanya , oh ya Elin , mami selalu sulit mengucapkan nama perempuan itu " jelas Viona tertawa , berbeda dengan raut wajah Daniel yang tiba tiba berubah menjadi sedikit panik.


" Elin ? " ulangnya dan Viona mengangguk.


" Ada apa ? " tanya Viona dan Daniel menggelengkan kepalanya seraya kembali melanjutkan langkahnya.


" Ada apa dengan mereka berdua ? " gumam Viona yang menyadari kalau hubungan kakak beradik itu sedang tidak baik.


" Nona Muda " sapa pelayan pada perempuan yang masih berdiri di ujung lorong sambil mengintip.


" Kau mengejutkan aku " ucap Meili sambil mengelus dadanya.


" Maaf Nona "


" Pergilah "


" Permisi Nona " pamit pelayan meninggalkan Meili , ia kembali menguping pembicaraan Viona bersama Daniel dari balik tembok tempatnya berdiri sekarang.


" Baguslah , kau datang tepat waktu Daniel " ucap Meili tertawa.


" Aku pastikan setelah ini kau akan mengobrak abrik kota New York hanya untuk mencari Nona Merlinda , Ceh , sungguh memalukan punya kakak sepertimu " gumamnya lagi , lalu segera pergi dengan bibir yang terus tersenyum.


" Dan sekarang pekerjaanku menjadi lebih mudah , tidak lagi perlu membuat pancingan untuk membuat Daniel Remkez panik , dan sekarang saatnya menjemput Cinderellin " katanya tertawa sambil melanjukan mobilnya lebih cepat menuju apartemen Elin.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚