
Meili baru menyenderkan tubuhnya di kursi taman, setelah sepanjang siang, ia berkutat di dapur bersama Viona.
Opor Ayam, menjadi masakan pertama yang ia ingin perlajari hari ini. Masakan yang membuatnya pula tak berhenti menggerutu, karena bahan bumbunya yang begitu banyak, dan susah di cari di New York. Siapa yang akan menjual daun jeruk purut dan daun salam di kota modern ini, di tambah lagi daun kunyit. Tapi kata Viona, tiga daun itu yang akan membuat masakan opornya berbeda dan lebih enak.
Dia prustasi ketika tidak menemukan Tiga daun itu, di semua swalayan yang menjual bahan makanan dan sayuran, bahkan mencari santan kelapa sangat sulit di New York. Dan ia mengumpat tanpa henti, karena itu.
Bahkan hampir semua pelayan di rumah besar itu menjadi kelimpungan karenanya, termasuk Jamie.
Tapi itu sebelum, ia mengetahui kalau Ibunya telah menanam tumbuhan itu, di pojok perkebunan, pohon cerry di belakang Mansion mereka.
" Kenapa Mami, tidak mengatakannya dari tadi huh ", serunya kesal, saat Viona datang menghampirinya di dapur, dan menemukan wajah prustasinya di hadapan tumpukan bahan bumbu makanan itu, " kau tak mengatakan pada Mami ingin membuat Opor Ayam ", sergah Viona menahan tawa. Meili terdiam, dan menghela," aku pikir akan memberi kejutan ", balasnya lemah. Setelah dia berpikir, bahwa panduan dari internet, cukup bisa membuat usahanya membuat opornya, berhasil hari ini. Lalu meminta wanita itu mencicipinya setelah selesai.
Tapi semuanya mustahil. Membuat Opor Ayam di New York, Jauh lebih sulit dari terbang ke Indonesia, dan membeli semua bahan bumbu-bumbu itu disana, lalu kembali lagi ke New York.
Hampir saja ia berpikir seperti itu.
" Ayo Mam, tunjukan dimana kau menanam tumbuhan itu ", katanya tidak sabar, untuk berjalan menuju perkebunan cerry.
Viona berjalan dengan tersenyum. Hari ini dia di buat tak habis pikir oleh dua perempuan muda di rumahnya. Pertama oleh menantu kesayangannya, yang menghampirinya pagi sekali, demi untuk belajar membuat Sandwich seperti yang di buat olehnya. Dan keduanya saat ini. Putri satu-satunya yang tak pernah menyentuh dapur sama sekali. Tiba-tiba, berada disana untuk belajar memasak. Memasak makanan yang begitu sulit pula.
" Kenapa tiba-tiba kau ingin belajar memasak Opor Ayam ? ", tanyanya pada Meili, seraya mereka berjalan menuju tempat tumbuhan yang ia tanam, dari beberapa tahun silam. Tidak ada yang pernah hal tahu itu, kecuali para pelayan yang menemaninya berkebun.
Ia selalu berada di sana setelah sarapan pagi dan kembali sebelum matahari terbenam.
Berada disana membuatnya tenang. Memindahkan tumbuhan itu, dan menanamnya kembali, menjadi hal yang menyenangkan, dari pada ia berdiam di kamar tidur mewahnya, dan memikirkan kehidupan rumah tangganya bersama Reymond. Ia selalu ingin menyerah saat itu.
Tapi saat berada di kebun kecil yang ia ciptakan dari tanganny sendiri, ia menjadi lebih tenang, dan tidak begitu memikirkannya.
" Jerry menyukai Opor Ayam, dan aku juga ", kata Meili beralasan. Ia mengatakannya dengan sangat mudah, sampai Viona menatapnya dengan heran, lalu kemudian tersenyum," kau sudah menentukan pilihanmu ? ".
Meili tidak langsung menjawab, " sedang menuju hal itu ", katanya kemudian, dan pelan, " aku belum bicara pada Brian ", katanya lagi. Saat itu, ia menyadari tatapan Viona padanya, " tapi aku akan segera melakukannya Mam ", sambungnya, dan ia menatap pada Viona dengan serius saat mengatakan itu.
" Kau memilih Jerry ? ".
" Mam ", pekik Meili, " apa perlu kau menanyakan itu lagi ? ", katanya dengan berdelik, " memangnya apalagi alasan aku ingin belajar memasak makanan sulit ini. Brian tidak tahu opor, Mam ", sergahnya dan Viona langsung tertawa, " Kau sudah yakin ? ".
Meili terdiam sejenak, " jangan membuatku ragu mam ", balasnya lemah.
" Kalau begitu kau tidak bisa memilih ", tukas Viona, " kau tidak boleh ragu saat memilih ", katanya lagi.
" Lantas aku harus bagaimana Mam. Sebenarnya kau berada di pihak siapa ? ", pekiknya kesal.
" Tentu Jerry ", sahut Viona begitu jujur," tapi Mami, juga tidak ingin kau menyesal nanti. Jika kau ragu, lebih baik tidak dua-duanya ", sambungnya.
" Dia benar-benar tidak memberi kesempatan pada Brian ", kata Meili bergumam. Tapi, dia tidak merasa kecewa saat itu. Dan di sela langkah mereka, tiba-tiba Viona menggenggam tangannya, " Mami sungguh tidak ingin kau tertekan karena hal ini ", katanya menatap serius".
Meili terdiam, membalas tatapan Ibunya, " bagaimana kalau akhirnya itu, Brian ", ucapnya. Wanita paruh baya itu, terlihat tersentak sejenak, " kalau begitu, jangan memberi harapan pada Jerry ", ucapnya lagi. dan kali ini lebih serius, dari kalimat sebelumnya yang ia ucapkan.
Meili menghentikan langkahnya saat itu, tepat langkah mereka berada di hadapan, perkebunan kecil, di antara pohon cerry.
Viona sudah berjalan cepat ke arah tumbuhan-tumbuhan itu, sementara Meili masih memandang terkesiap pada apa yang ia lihat. Ia tidak pernah tahu ada kebun kecil itu di pekarangan Mansion mereka yang luas. Dan saat menemukannya, dialog terakhirnya bersama Viona terlupakan.
" Astaga Mam ", pekiknya girang, berjalan cepat menuju tempat dimana Viona telah berdiri, " ini seperti berada di kebun kecil belakang rumah kakek dulu ", ujarnya senang, seolah ia kembali pada masa kecilnya, ketika pulang ke Indonesia, " hanya kurang empang ? ", tambahnya lagi.
Viona tertawa mendengar itu, ucapan yang sangat kaku, ketika Meili menyebut kata Empang, " kau masih mengingat itu ? ", tanyanya.
" Hemm, empang ", kata Meili mengulang, dan Viona kembali tertawa.
" Harusnya kau juga membuat itu Mam. Tanah ini masih luas untuk membuat satu kolam ikan ".
" Menternak Lele, maksudmu ? ".
" hemm ", balas Meili mengangguk. Viona kembali tertawa saat itu juga, bahkan tergelak, " menternak ikan Lele di New York ", pungkasnya, dan ia tertawa tanpa henti. Merawat tumbuhan kunyit di tanah kota ini saja, sudah membuatnya kesulitan. Apa lagi menernak ikan Lele di bawah hujan salju, itu lebih mustahil.
" Apa yang lucu Mam ", tukas Meili kebingungan. Ia tidak menyadari ada yang salah dari ucapannya.
" Permintaanmu terlalu konyol ", kata Viona seraya menghela untuk tidak lagi tergelak, " apanya yang konyol, halaman kita bisa membuat puluhan kolam ikan, bahkan lebih ".
" Tidak semudah itu Meili ".
" Bukannya, tidak ada yang sulit dilakukan olehmu. Kau tinggal memerintahkan, dan itu terjadi ".
" Tidak semudah itu. Lele tidak hidup di New York ", kata Viona memberi tahu, kini tangannya bergerak pada tumbuhan kunyit, memetik lembaran daun itu, dan meletakkannya ke atas tempat yang sudah di siapkan oleh seorang pelayan yang mengikutinya. Sementara Meili, masih terdiam berpikir. Memikirkan ikan Lele yang tidak hidup Di New York, di pikirannya itu mustahil. Ikan hanya butuh air. Begitu dalam pikirannya.
" Kau harus tahu tumbuhan ini ", katanya lagi, saat Meili, sudah berada di sampingnya. " Ini tumbuhan kunyit ", katanya memberitahu, pada isi dari tumbuhan yang baru saja ia cabut dari tanah, " dan ini daunnya yang kau cari ", katanya memberitahu lagi.
" Apa aku harus tahu sedetail ini ? ", tanya Meili tak mengerti.
" Tentu, kalau kau benar menjadi istri Jerry, kau akan sering memasak opor ayam dan harus tahu dengan ini ", tukas Viona. Saat itu mata Meili kembali berbinar, seperti mendengar sesuatu yang begitu menarik. Dan itu bukan tentang tumbuhan di hadapannya, tapi nama seseorang yang menjadi alasan ia harus tahu, dengan tumbuhan itu.
Viona kemudian berpindah, pada bagian deretan tumbuhan lainnya, lalu mencabut kembali tumbuhan itu " ini Jahe ", katanya memperlihatkan isinya pada Meili, " apa ini juga bagian dari bumbu membuat opor Ayam ? ", tanyanya dan Viona mengangguk, " masukan sedikit saja ", katanya memberitahu, " tapi walau ini bukan dari bagian bumbu itu, kau juga tetap harus tahu ", sambungnya begitu tegas.
" Kenapa ? ", tanya Meili heran.
" Kau harus tahu kalau kau benar ingin menjadi istri Jerry ", tukas Viona.
" Apa hubungannya, Jahe dan menjadi istri Jerry ", kata Meili bergumam, tapi ia tetap mengikuti Viona, ketika wanita itu kembali berpindah, kebagian tumbuhan yang berbeda," ini lengkuas ", katanya memberitahunya lagi. Dahi Meili mengerenyit, " Ya Tuhan kenapa banyak sekali yang harus aku hafalkan. Dan kenapa bentuknya begitu sama Mam", katanya mengeluh. Viona kembali tertawa saat itu, " Itu sebabnya. Kau akan terlihat menjadi wanita yang menakjubkan, ketika bisa membedakan ketiga tumbuhan ini ", ucapnya. Dahi Meili semakin mengerenyit, " apa hubungannya dengan membuat takjub ", balasnya pelan, tapi telinga Viona masih mendengarnya, " tentu menakjubkan. Bahkan semenit lagi kau tidak akan bisa kembali membedakan tiga tumbuhan ini ", katanya membalas.
Meili mengangguk percaya, bahkan saat itu saja, ia tidak lagi teringat bagaimana bentuk kunyit, kalau bukan saja melihat pada keranjang kecil yang berada di tangan pelayan, " menikahi pria Indonesia, kau harus mengetahui ini ", tukas Viona.
Meili merasa terbebani oleh ucapan itu. Ia tidak menyangkah, sesulit itu untuk menjadi seorang istri pria Indonesia, " sekali pun lupa, aku tinggal mencari tahunya di internet Mam", sahutnya putus asa.
" Kalau begitu, kau tidak akan menjadi wanita menakjubkan ", timpal Viona, yang kini berjalan ke arah pohon salam, " Pohon apa lagi ini mam ", kata Meili kembali mengeluh. Ia mengeluh karena akan kembali harus mengingatnya, " daun salam ", sahut Viona singkat, sambil memetika lembaran daun itu. Dan Meili bergabung, " ini seperti daun biasa, kenapa begitu penting ", gumamnya heran.
" Dia akan membuat masakanmu menjadi lebih gurih dan aroma masakanmu menjadi lebih enak ", kata Viona kembali memberitahu, dan Meili mengendus lembaran daun itu, sampai menempel pada hidungnya, " tidak ada aroma ", ucapnya.
" Memang tidak begitu ada aroma, tapi saat berada dalam masakan, perannya menjadi sangat penting ".
Meili menghela mendengar kalimat kiasan dari Viona, seolah selembar daun itu, terdengar begitu berharga dari Mutiara yang di ambil dari dasar laut Bali, yang wanita itu miliki beberapa hari yang lalu. Tapi kemudian ia membenarkan, keraguannya. Nyatanya mendapatkan selembar daun salam di New York, lebih sulit dari menemukan mutiara dari dasar laut.
" apa aku juga harus mengingat ini ? ", tanyanya dan Viona mengangguk, " kenapa banyak sekali Mam ", katanya kembali mengeluh.
" Bahkan lebih banyak lagi yang harus kau tahu ", tukas Viona, yang kemudian berpindah pada tumbuhan yang batangnya dipenuhi dengan duri, " apalagi ini Mam ? ".
" Batang daun jeruk purut ? ", jelas singkat Viona, yang sudah bergerak memetik lembaran daun itu, dan Meili ikut bergabung, " hati-hati ", sergah Viona, belum usai kata-katanya, ujung jari Meili sudah berdarah oleh tusukan duri dari pohon jeruk, " sudah Mami bilang hati-hati", sergahnya begitu panik, mengambil ujung jari perempuan itu, dan menghisapnya.
" Mam ", pekik Meili terkejut. Tapi Viona tak memperdulikannya, " ayo kita kembali, tanganmu harus segera di beri obat ", sergahnya, setelah selesai menghentikan keluarnya darah dari ujung jari putrinya, " mam aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil ", ucap Meili, berharap kecemasan Viona merendah, dan itu berhasil.
" Kau yakin ?, apa itu tidak sakit ? ".
" Tidak lagi, karena Mami sudah mengobatinya ", sahutnya tersenyum, dan berbohongnya, nyatanya ujung jarinya itu masih terasa begitu perih.
Meili mengambil alih keranjang yang di penuhi oleh berbagai macam tumbuhan yang berhasil mereka dapatkan dari kebun ciptaan tangan Ibunya sendiri. Dan sebelum mereka pergi, Ia sangat girang, ketika menemukan buah tomat segar yang tergantung di pohon kecilnya, lalu buah-buah cabai yang ranum, " Mam, kau penanam terbaik ", soraknya memuji, sambil bergerak tidak sabar untuj memetik buah-buah segar itu.
" Meili, tanganmu akan terasa panas nanti ", pekik Viona, ketika tangannya memetik satu persatu buah cabai, dan ia tidak peduli.
Senyumnya merekah sambil memandang pada isi keranjang di tangannya, " menyenangkan sekali melakukan ini ", gumamnya senang.
" Aku tidak tahu, kapan kau membuat kebun ini Mam ? ", ujarnya pada Viona, " Karena kau tidak pernah tahu, kapan aku menghilang dari rumah ", Jawab Viona. Dan Meili terenyuh oleh jawaban itu. dan rasa bersalah menyeruak di hatinya. Selama ini, ia memang terlalu tidak memperhatikan ibunya.
" Sangat menyenangkan ketika berada disana ", ucap Viona, sambil menunjuk pada tempat kebun kecil yang sudah mereka tinggalkan beberapa langkah, Meili ikut menoleh.
" Mami menghabiskan pagi dan senja disana ", katanya lagi, dan Meili masih tidak bicara, " kau harus mencobanya, berkebun lebih menyenangkan, dari pada berada di sebuah toko pakaian ".
" Itu menurutmu, yang bisa membawa semua isi dalam tokoh itu kemari Mam. Tidak menurut semua orang ", potong Meili dan Viona tertawa, seraya mengangguk membenarkan, " tapi menyenangkan bukan ? ", katanya dan Meili mengangguk, " Elin harus tahu tentang ini, dia pasti akan menyukainya ", tukasnya.
" Aku rasa kau harus memikirkan saranku untuk membuat Empang disana, Mam ", katanya lagi, dan Viona menatap terkejut padanya, " menanam semua ini saja, hampir mustahil berhasil, sekarang kau meminta sesuatu yang lebih mustahil lagi". ucapnya.
" Kenapa mustahil ", sahut Meili, sambil kembali melihat pada isi dalam keranjang di tangannya, " tanah New York dengan Indonesia berbeda nak. Kau harusnya sudah tahu itu ", ucap Viona dan Meili terdiam berpikir, " lalu kenapa ini bisa ? ", tanyanya heran.
Viona kembali tersenyum, " mami mengekspor tanah subur Indonesia, kemari ", katanya memberitahu.
" Kau penipu muslihat mam ", serbu Meili dan Viona tertawa, " tapi kau mendapatkan hasilnya kan " , katanya.
" Kalau begitu tidak sulit menernak lele di disini " timpal Meili, dan mata Viona kembali membesar, " Ibumu tidak bisa mengekspor air tawar Indonesia kemari nak, dan juga mengatur iklim negara ini ", sergahnya.
" Ibumu belum sehebat itu ", katanya lagi dan Meili tergelak, " Ya ya ya, sehebat Wonder Women saja tidak bisa melakukannya ", katanya.
" Ayo Mam ", ajaknya tidak sabar, untuk kembali cepat sampai ke dapur mereka, setelah ia melihat ke alroji di tangannya, " sebentar lagi, Jerry sudah bangun Mam ", pekiknya, dengan berlarian. Viona kembali tersenyum, bahkan nyaris tertawa, ternyata putrinya selucu itu ketika jatuh cinta.
" Tuhan tolong tetapkan hatinya pada Jerry ", katanya sempat berdoa, sebelum langkah kakinya menyusul langkah Meili.
" Ayo cepat Mam ", seru perempuan itu, semakin tidak sabar, dan Viona tidak punya pilihan selain menurutinya.
Ia begitu senang hari ini, karena perannya menjadi Ibu, begitu di pentingkan oleh dua perempuan muda kesayangannya.