
" Hei, siapa yang sedang kau cari ? " seru Viona mengejutkan putrinya.
Meili yang memang sedang memandang kesana-kemari jelas tersentak oleh pertanyaan tiba-tiba ibu nya, " kenapa mengejutkan sih mi " cercahnya begitu kesal. Berbeda dengan Viona yang justru menjadi tertawa.
" Ada apa ini ? " timpal Wilna menghampiri.
" Mami menyebalkan Bunda. Tiba-tiba datang dan membuat orang terkejut " sahut Meili kesal, Dan dahi Wilna mengkerut melihat itu sambil memandang penuh tanya pada Viona yang justru semakin tersenyum, " bukan aku yang membuatnya terkejut tapi dia yang sedang termenung Wil " jelas Viona, membuat Meili yang mendengar kini berdelik ke arahnya.
" Sebenarnya apa yang sedang kau cari nak ? " kata Viona kembali bertanya, dengan bibir yang terlipat menahan senyum, " apa sih Mi, orang aku cuma duduk disini " sahutnya semakin kesal.
" Maaf aku terlambat " ucap seseorang bersamaan, memotong obrolan antara ibu dan anak itu.
Wilna sedikit bergeres dari tempatnya, seraya memutar tubuhnya untuk melihat ke arah siapa yang baru saja berbicara, dan itu membuat cukup ruang untuk Meili dan Viona juga ikut melihat, " nak Jerry " panggil Wilna dan Viona bersamaan.
" Aku belum terlalu terlambat kan ? " tanya Jerry penuh rasa bersalah.
Viona menggeleng sambil melirik ke arah putrinya yang kini sedikit menunduk dengan sorot mata yang jauh berbeda, " untuk kami tentu tidak, tapi untuk seseorang yang menunggu. Kau sudah sangat terlambat nak " katanya tersenyum. Begitu pun Wilna.
Blussh, wajah Meili merona seketika.
" Ah, aku lupa ada tamu yang harus aku sapa " pekik Viona sambil bergegas dan menatap penuh arti pada Wilna, " ah aku juga " sambung wanita paruh baya itu.
" Nak Jerry, bisa tolong temani Meili ? "
" Mam, aku sudah besar tidak perlu di temani " potong Meili. Namun tanpa berani melihat ke arah lelaki yang kini berdiri tidak jauh dari hadapannya.
" Baik Mam " timpal Jerry, membuat mata Meili sedikit melirik ke arahnya.
Bibir ranum Viona semakin merekah, " kau memang bisa di andalkan " katanya dengan tersenyum penuh arti, " kalau begitu kami tinggal ya " sambung Wilna dan Jerry mengangguk dengan pasti. Berbeda dengan Meili yang kini terdiam dengan wajah yang memerah oleh rona.
Suasana menghening seketika, ketika dua wanita paruh baya itu telah beranjak. Hanya suara hiruk pikuk tamu undangan dan suara lantunan musik jazz yang bergema di penjuru ruangan. Namun tidak merubah suasana canggung di antara dua manusia yang masih begitu kaku untuk bicara.
Jerry menarik nafas, dengan sesekali melirik pada perempuan yang kini diam mematung di dekatnya, " Apa acara ijab kobulnya sudah lama seselai ? " tanyanya memulai pembicaraan, dan Meili mengangguk tanpa melihat.
" Sial sekali aku terlambat Padahal moment itu yang sangat ingin aku lihat " racaunya begitu kesal.
" Siapa suruh kau tertidur " sahut Meili bergumam. Namun perkataannya masih terdengar jelas di telinga Jerry, membuatnya kini tersenyum, " ya, aku juga menyesali kenapa aku tertidur" ucapnya, lalu menjeda sesaat, " kau sangat cantik " sambungnya lagi, membuat Meili terhenyak sesaat. Ia memilih tidak menggubris pujian lelaki di dekatnya dengan mata yang kini memandang ke arah para tamu undangan. Namun pipinya yang merona tidak bisa menutupi bahwa pujian dari Jerry bukanlah kalimat yang biasa untuk jantungnya yang berdegub semakin cepat saat ini.
Green tersenyum sejenak melewati sepasang manusia yang kembali saling diam. Namun langkahnya kemudian berhenti dan melangkah mundur, lalu tersenyum penuh arti menatap bergantian pada Meili dan Jerry " sepertinya ada kemajuan " ucapnya, membuat mata Meili membesar, dan setelah mengucapkan itu dengan tanpa rasa bersalah ia kembali berlalu.
~
" Green " panggil Amel berteriak. Membuat langkah perempuan itu dengan cepat terhenti, " kau kira ini taman mini huh " cercahnya kesal seraya mendekat dan Amel tertawa sesaat, " kalau tidak berteriak kau tidak akan mendengar Green " sahutnya membela diri.
" Ada apa ? ".
" Elin belum kembali dari kamarnya ! " ucap Amel, wajahnya kini berubah menjadi begitu serius, " memang apa yang terjadi ? "
" Tidak ada, dia hanya pergi ke kamarnya untuk mengambil handphoneku yang tertinggal tapi aku menjadi sedikit tidak tenang Green, dia belum kembali sejak tadi " sambungnya dengan dengan sorot mata yang begitu cemas.
Green terdiam sejenak, " Biar aku susul " katanya sambil ingin beranjak. Namun langkahnya terhenti oleh tangan Amel yang menarik tangannya, " Kak Daniel sudah menyusulnya " katanya memberitahu.
" Ntahlah Green " jawabnya lemah, tapi aku benar benar tidak tenang karena dia belum kembali " sambungnya dengan mata yang menatap sendu.
" Kita tunggu sebentar lagi " ucap Green seraya melihat ke arah tangga.
" Apa yang terjadi ? " tanya hannah mendekat, ia seperti ikut merasakan kecemasan dua menantu keluarga Vernandes.
" Tidak ada, kita hanya tidak sabar menunggu Elin turun " sahut Green tersenyum hambar, dengan mata yang saling memandang pada Amel, " ya kita hanya tidak sabar menunggu Elin, Hannah " katanya membenarkan ucapan Green.
" Iya, kenapa dia begitu lama ya " timpal Hannah, " tapi bukannya Daniel sudah pergi menyusulnya " sambungnya dengan tersenyum.
" Apa mereka sudah begitu tidak sabar ya " kata Amel yang kini tertawa dan bersamaan jari telunjuk Green menoyor kepalanya " kau ini " cercahnya.
" Ya siapa tahu kan Green. Lagi pula tidak ada yang salah jika mere... "
" Tutup mulutmu Mel " seru Green menatap serius membuat Amel mendekap mulutnya. Namun tawanya belum berakhir.
" Itu mereka " seru Hannah sambil menunjuk ke arah tangga, dimana sepasang manusia kini saling bergandengan tengah berjalan.
" Liin. " seru Green dan Amel bersamaan, sembari berjalan cepat menghampiri mereka, " apa terjadi sesuatu ? " tanya Green tidak sabar.
Elin terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala, " tidak ada Green " sahutnya tersenyum canggung.
" ah syukurlah " ucap Amel yang langsung mendekap tubuh Elin, " kami menjadi cemas karena kalian belum kembali " sambungnya, berbeda dengan Green yang kini terdiam. Namun sorot matanya menatap lamat pada wajah Elin.
Dan Elin yang mengerti arti tatapan itu, hanya tersenyum, " i'm okay Green " serunya, dengan riasan mata yang sedikit luntur.
" Cek cek cek " suara tiba tiba dari balik mikrofon yang bergema. Green, Amel, Elin dan Daniel dengan cepat melihat ke arah suara berasal, begitu pun semua orang, " Apa yang mau mereka perbuat ? " gumam Green dengan mata yang membesar saat menemukan Nathan Dan Alfin kini tengah berada di atas panggung.
" Terimakasih kepada para tamu undangan yang telah meluangkan waktu untuk melihat kemari " ujar Alfin tertawa, membuat semua orang justru menjadi tertawa.
" Sebenarnya tidak ada yang begitu penting ingin kami sampaikan, jadi kalian bisa melanjutkan makan kalian tanpa harus tersedak karena suara kami " sambungnya, membuat suara gelak tawa semakin bergema di ruangan.
Di tengah hiruk pikuk, Green menyipitkan matanya, " apa yang sebenarnya mereka rencanakan " gumamnya.
" Kami dari Vernandes Brother's ingin mengucapkan selamat untuk pernikahan kedua sahabat kami " ucap Nathan di balik mikrofon.
" Kenapa aku melihat mereka seperti Upin dan Ipin ya " ujar Amel, dan spontan Elin tertawa, " maaf, tapi aku juga berpikir begitu " timpalnya di tengah suara yang bergema.
" Ya,tinggal kurang botaknya saja " sambung Green dengan nada sedikit kesal.
" Siapa Upin dan Ipin ? " tanya Daniel yang tidak mengerti.
" Kau tidak tahu ? " tanya balik Elin dan Daniel menggelengkan kepalanya, " nanti aku perlihatkan padamu, sekarang kita lihat dulu Upin dan Ipin di real life " katanya lagi dengan tertawa.
Hai Readers yang baik hati😍
mohon maaf karena sudah hiatus terlalu lama🙏 sebenarnya rencana mau update kembali tepat di awal bulan nanti, tapi karena hari ini hari spesial author dan ingin menyapa semua readers setia Merlinda, jadilah hari ini update😊
Semoga kalian dan keluarga sehat selalu dan sampai bertemu di episode selanjutnya, see you💚😘