
" Apa yang sudah terjadi ? " tanya Daniel pada kekasihnya setelah pelukan manis mereka baru saja berakhir , tangannya bergerak untuk menyelipkan anak anak rambut wanitanya ke sela telinga.
Dan Elin masih terdiam , lidahnya tercekat untuk menceritakan alasannya mengasingkan diri adalah karena masa lalunya yang baru saja di ungkit , " jangan di ceritakan kalau itu sebuah rahasia " ucap Daniel yang tersenyum teduh padanya , lalu pria itu bergerak untuk menggegam erat kedua tangan Elin , menggosoknya lembut dan meniupnya untuk memberikan kehangatan.
Bibir Elin melengkung sempurna bersama hati yang merasa begitu damai karena mendapat perlakuan yang begitu manis dari kekasihnya , " terimakasih " ucapnya lembut dan dan Daniel hanya membalasnya dengan memberikan senyum terbaiknya.
" Ayo kita makan , semua orang sudah menunggu " ajak Daniel yang kini sudah berdiri di hadapan Elin.
Perempuan itu menarik pelannya nafasnya sebelum akhirnya ikut berdiri dengan tangan yang tetap saling bergandengan pada tangan Daniel , " ternyata mawar itu di berikan untuk merayuku supaya ikut makan malam " ujarnya tersenyum penuh selidik pada kekasihnya.
" Pikiranmu terlalu berlebihan sayang , tanpa mawar itu pun kau pasti akan makan jika sudah lapar " ucap Daniel tertawa namun berhasil membuat wajah calon istrinya cemberut , " kau menyebalkan " kesalnya dan berjalan lebih cepat untuk mendahului langkah Daniel.
Cup " Daniel mengecup cepat pipi cubby Elin dan menyamakan langkah mereka , " jangan marah , kau pasti tahu kalau aku hanya bercanda , mawar itu terlalu sepele untuk benda yang aku buat untuk merayumu , kau bahkan tahu kalau duniaku pun sendiri akan aku berikan untuk mendapatkan hatimu " ucap lelaki itu , walau terdengar seperti sebuah gombalan namun matanya menyiratkan kejujuran atas ucapannya.
" Ceh " Elin berdecih dan tak mampu menahan bibirnya untuk tidak tersenyum , " darimana kau belajar merayu Daniel " hardiknya dan laki-laki itu hanya mengerutkan dahi dengan bahu yang terangkat.
" Aku bukan laki-laki yang bisa merayu " ucapnya dengan begitu percaya diri.
~
Semua orang seperti bersiap menyambut kedatangan Elin dan Daniel di meja makan tatkala langkah kaki mereka mulai terdengar , Amel merapikan dirinya yang sedikit berantakan setelah menangis , begitu pun Green , bahkan ia terlihat menarik nafasnya begitu dalam untuk memberanikan diri menyapa sahabat yang baru saja ia sakiti oleh ucapannya.
" Minta maaflah padanya nanti " ucap Nathan pelan dan Green mengangguk.
" Maafkan aku , kalian pasti sudah begitu lapar karena menungguku " ucap Elin yang membuat dirinya seperiang mungkin seperti biasa dirinya terlihat , " tidak , bahkan kami akan tetap sabar menunggu sampai tengah malam nanti " balas Alfin yang membuat semua orang tertawa , meski tawa itu terlihat sedikit canggung dari biasanya.
Nathan tiba-tiba beranjak dari duduknya yang berada di antara Green dan Amel , " duduklah disini Elin " pintanya sebelum bergerak menuju kursi yang berada di hadapannya tadi.
Elin terdiam sesaat , dan semua orang saling bertatapan namun dengan pikiran yang paham dengan apa maksud dari apa yang di lakukan oleh Nathan.
Meski sedikit canggung namun Elin tetap bergerak untuk duduk di antara kedua sahabatnya , " duduklah disini " ucap Green pada Elin sambil menepuk kursi di sisinya.
" Apa kau mau soup Asparagus Elin " tanya Amel menawarkan , " ini makanan yang enak saat cuaca dingin seperti ini " tambahnya sambil menyendok makanan itu ke dalam sebuah mangkuk , namun matanya begitu tidak berani untuk melihat kearah lawan bicaranya.
" dan nikmati bersama pasta " tambah Green sambil meletakan semangkuk pasta ke hadapan Elin , perempuan itu tersenyum dengan hidung yang mulai terasa perih dan sedikit memerah.
" Jangan seperti ini , kalian membuatku merasa bersalah " ucapnya dengan suara yang mulai bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca , mendengar itu Amel langsung menghentikan pergerakannya begitu pun Green lalu mereka memberanikan diri untuk melihat kearah Elin , " kamilah yang sudah bersalah padamu " ucap Amel yang langsung menangis dan memeluk Elin begitu erat.
" Maafkan kami Elin , kami sungguh tidak bermaksud melukaimu , sungguh " racaunya di dalam tangisan , sedangkan Green ia masih terdiam dengan tangan yang terus bergerak mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya , " sungguh maafkan kami " kalimat yang di ucapkan dengan begitu dalam pada Elin , dan seperti semestinya drama yang sering mereka lakukan , berpelukan lalu saling menangis sejadi-jadinya.
" Aku memang sedikit terluka, tapi itu tidak akan membuat aku membenci kalian " ucap Elin yang sudah menangis tersedu-tersedu.
Sementara tiga laki-laki yang berada di antara mereka hanya saling berpandangan dengan Nathan yang tersenyum , Daniel yang menyimak dengan sedikit terharu , lalu Alfin yang dengan santai menikmati makanannya , " perutku terlalu lapar untuk menunggu drama mereka selesai " ucapnya enteng sambil menikmati soup Asparagus yang berada di hadapannya.
Mendengar itu Daniel dan Nathan langsung tertawa , bahkan tawa Daniel terdengar paling keras hingga membuat Elin menyudahi tangisannya , " ini benar-benar drama " ucapnya di sela tawa.
" Drama terpanjang yang akan kau tonton sepanjang hidupmu " tambah Nathan , lalu tiga pria itu kembali tertawa secara bersamaan.
" Apa yang kalian katakan huh ? " ucap Green meninggi , namun dengan posisi yang masih berpelukan.
" Tidak kami tidak mengatakan apapun sayang , lanjutkan saja pelukan kalian tapi jangan sampai soup ini menjadi dingin karena tidak akan enak lagi untuk di nikmati " sahut Nathan yang kembali membuat Daniel dan Alfin tertawa namun berusaha untuk di tahan.
~
Jam baru saja menunjukkan pukul setengah sepuluh malam setelah mereka selesai dengan drama makan malamnya , dan malam ini ketiga sahabat itu memutuskan untuk tidur bersama karena dua hari lagi dua pasang manusia itu akan kembali ke Indonesia , " ah aku pasti akan merasa kesepian jika kalian sudah pulang nanti " . ucap Elin dengan wajah yang cemberut.
" Kau juga akan segera kembali ke Indonesia Elin , jadi kita akan segera kembali bertemu " balas Green yang baru saja selesai berganti pakaian dengan menggunakan piyama tidurnya , Elin masih cemberut walau ia akan segera kembali ke Indonesia dan segera berkumpul dengan orang-orang yang di cintainya , namun perpisahan tetaplah perpisahan dan ia sangat membenci hal itu.
" Tunggu , apa kalian sadar kalau sepanjang hari ini kita tidak melihat Meili " ujar Amel tiba-tiba dan Elin sedikit tersentak ketika nama perempuan itu di sebut dan menyadari kalau sepanjang hari ia memang tidak melihat perempuan itu , " kau benar " ucapnya dengan tangan yang bergerak cepat mengambil benda pipih yang berada di atas nakas tak jauh dari tempat ia berada.
Elin terlihat gusar saat berulang kali menerima pemberitahuan kalau nomor telepon calon adik iparnya itu sedang tidak aktif , " Meili dimana kamu " gumamnya khawatir.
" Apa kau tidak punya nomor teman temannya yang lain Elin ? " timpal Green mendekat dan ikut khawatir dengan keberadaan perempuan yang baru bertemu dengannya itu , " yang aku tahu dia hanya memiliki teman laki-laki dan aku tidak mungkin menyimpan kontak mereka Green ".
" Kau selalu berbicara yang tidak tepat " geram Green pada sahabat sekaligus adik iparnya itu.
" Apa yang salah dengan ucapanku " gumamnya pelan , membuat Elin sedikit tertawa sebelum akhirnya kembali gusar memikirkan keberadaan Meili sang calon adik iparnya.
" Hannah , Hannah mungkin tahu dimana Meili sekarang " ujar Elin tersadar dan kembali berkutat dengan benda pipihnya untuk mencari kontak wanita itu , " hallo Hannah , maaf telah menganggumu " ucapnya setelah telepon itu tersambung.
" Santai saja Elin , aku hanya sedang membaca buku , apa yang kau butuhkan ? " tanya perempuan itu sambil tertawa.
" Apa kau tahu dimana saja tempat Meili bermain , dia sudah pergi pagi-pagi sekali dan belum kembali sampai saat ini Hannah " jelasnya dengan nada yang semakin khawatir terlebih mengingat terakhir pembicaraan mereka tadi malam , dan Elin sedikit khawatir kalau perempuan itu terluka dengan perjodohan yang harus ia terima.
Di seberang telepon Hannah sedang berpikir keras , memikirkan dimana tempat yang sering di kunjungi oleh Meili , " Ken , iya dia pasti berada di sana Elin " .
" Dimana itu ? , aku seperti pernah mendengarnya "
" Tentu kau tahu , itu club yang pernah kita datangi sebelum akhirnya kau di seret pulang oleh Daniel"
" Oh astaga , tubuhku langsung merinding mengingat tentang itu Hannah " ujar Elin dengan tubuh yang bergidik dengan Hannah yang sudah tertawa di seberang , " jadi kita harus kesana ? "
" Tentu kalau kau ingin segera ingin menemukan Meili "
Elin terlihat berpikir sesaat , namun tidak ada pilihan lain selain datang ke tempat yang baru saja di sebutkan oleh temannya itu , " aku tidak mungkin mengajak Daniel untuk datang kesana kan Hannah ".
" Itu sama saja kau ingin membunuh Meili di tempat Elin "
" Lalu ? "
" Jemput aku dan kita pergi bersama "
" Kau benar , bersiaplah aku akan segera menjemputmu " ucapnya sebelum menutup sambungan telepon bersama Hannah.
" Bagaimana ? " tanya Green mendekat.
" Temani aku mencarinya " ajak Elin yang sudah beranjak dari tempat tidur , sementara Amel dan Green begitu bersemangat untuk ikut karena memang sudah begitu bosan jika harus menghabiskan sepanjang malam untuk hanya berada di dalam kamar.
" Tunggu " ucap Elin tiba-tiba , membuat kedua sahabatnya berhenti bergerak.
" Ada apa ? " tanya Amel.
" Kalian tidak mungkin pergi dengan baju tidur ini "
" Memang kemana kita akan pergi Elin , bukankah kita hanya berkeliling kota untuk mencari Meili "
" Kita akan masuk ke dalam club " jelas singkat Elin yang berhasil membuat mata Green dan Amel membesar secara bersamaan.
" Kau yakin ? " tanya Green.
" Iya Green , sepertinya Meili berada disana "
" Yeaaah " teriak senang Amel tiba-tiba , membuat Green dan Elin menatap terkejut kearahnya.
" Ini pasti akan sangat menyenangkan " tambahnya membuat dua sahabatnya semakin bingung.
" Apa yang ada dalam otakmu Amel , kita pergi untuk mencari Meili bukan untuk bersenang-senang "
" Tidak ada salahnya menyelam sambil minum air Green " ujarnya tersenyum lalu begitu bersemangat menuju lemari pakaiaannya.
" Kapan lagi kita akan menikmati club kota New York , dan jangan sia-siakan waktu kebersamaan kita bertiga " tambahnya , Elin hanya tersenyum , " Baiklah , tapi konsekuensinya harus di tanggung bertiga " sambung Elin dan Amel mengangguk dengan semangat.
" Kalian memang gila " ucap Green , namun tidak menolak untuk mengubah gayanya menjadi lebih modis dari pakaian tidur yang sedang ia gunakan saat ini.