Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Perkelahian Elin & Sharen


" Lin apa yang terjadi ? " cemas Kasih , saat perempuan itu kembali ke dalam ruangannya ,


" Tidak ada , kita hanya membicarakan masalah magangku " jelasnya dengan tersenyum.


" Syukurlah , kami pikir sudah terjadi sesuatu " tambah Bimo yang sejak tadi terus menyimak , begitu pun laki-laki yang hanya diam namun matanya tak lepas menatap perempuan yang baru saja datang , " ayo makan " ajak Kasih.


" Ayo , aku juga sudah lapar " sahut Elin dan semua orang langsung beranjak dari meja kerjanya , " emm.. apa dia sudah makan siang ya " gumamnya lagi , yang tiba-tiba teringat tentang kekasihnya.


" Kamu mengatakan apa Elin ? " tanya Bimo yang sedikit mendengar gumanan dari perempuan itu , " tidak , emm.. kalian pergi saja dulu , aku akan segera menyusul ? "


" Ada apa ? " tanya David , mendahului semua orang.


" Aku harus menelepon sebentar " jelasnya dan semua orang mengangguk mengerti , " kalau begitu aku akan menunggu " kata David lagi dan Elin segera menolaknya , " jangan " katanya sedikit berteriak, yang membuat orang sedikit terkejut.


" emm maksudku jangan menunggu " jelasnya.


" Baiklah , cepatlah menyusul " ujar Kasih yang memang sudah tidak bisa lagi menahan rasa lapar di perutnya.


" oke " sahut Elin , dengan tangan yang sudah sibuk membuka layar handphonenya.


" Kenapa teleponku tidak di jawab " gumamnya saat sambungan panggilan itu masih terus menyambung tanpa ada jawaban dari seberang telepon.


" Apa kau sudah makan ? , aku baru saja ingin makan siang bersama temanku di kantin kantor " tulisnya dalam pesan yang ia kirim pada Daniel , karena perutnya yang lapar tidak lagi bisa menunggu sampai lelaki itu menjawab teleponnya.


" Ah aku benar-benar sangat lapar " keluhnya dengan tangan yang memegang perut dan segera menyusul teman-temannya yang mungkin sekarang sudah menikmati makan siang mereka.


~


Daniel baru kembali ke dalam ruang kerja setelah melakukan meeting singkat bersama staff petinggi perusahaan cabang , dimana menjadi letak kantor kerjanya yang baru , " sudah waktunya makan siang anda tuan " ucap Reza memberitahu dan Daniel terlihat sudah sibuk dengan benda pipih yang baru saja ia jumpai setelah kesibukannya.


Bibirnya tersenyum , ntah apa yang membuatnya begitu senang bersama benda pipihnya itu , " Tuan " ulang Reza.


" Emm ya , ada apa ? "


" Ini sudah waktunya anda makan siang tuan "


" Makan siang " katanya mengulang ucapan Reza , " ya , saya akan meminta sekretaris anda menyiapkannya , atau anda ingin menikmati makan siang di luar Tuan ? "


Daniel masih belum menjawab , ia terlihat begitu sulit untuk menentukan pilihan yang begitu sepele , namun sesaat senyumnya kembali mengembang bahkan terlihat sedikit menakutkan karena lelaki itu bukan seseorang yang begitu murah senyum , " bagaimana kalau kita makan di kantin " ajaknya , yang benar benar membuat mata Reza membulat dengan sempurna , " kantin tuan " ulangnya dengan terbata-bata dan Daniel menganggukkan kepalanya , " kantin kantor ini tuan ? " tambahnya untuk memperjelas bahwa yang baru saja ia dengar tidak salah , " iya , kenapa kau begitu banyak bertanya huh "


" Bu..bukan seperti tuan , saya hanya sedikit terkejut "


" Kenapa harus terkejut , apa yang salah dengan saya ingin makan siang di kantin kantor saya sendiri "


" tidak ada yang salah tuan , hanya saja ini begitu langkah dan untuk pertama kalinya " jelas Reza tanp sadar dan segera menutup mulutnya ketika menyadari dirinya sudah salah bicara , " maaf tuan ".


" Apa kau masih akan tetap berdiri disitu Reza ? " ujar Daniel yang sudah beranjak dari duduknya , sedangkan Reza masih terdiam dengan raut wajah tidak percaya.


" Ayo " ajaknya tidak sabar dan Reza mengikutinya tanpa kembali banyak bertanya.


~


" Lin kami di sini " teriak Kasih sambil melambaikan tangannya, pada perempuan yang sedang berdiri dengan nampan makanan di tangannya , " apa dia tidak melihat kita " ujar Bimo bingung , padahal tempat mereka tidak begitu jauh dari perempuan itu , " dia lupa menggunakan kontak lensa matanya " jelas Kasih singkat dan kembali sibuk menikmati makanannya.


Brukkk " suara tubuh dan piring makanan yang jatuh di lantai , membuat semua mata melihat kearah suara , " Elin " teriak Kasih yang segera berlari menuju tempat dimana menjadi pusat tatapan semua orang , " kemarin dia yang jatuh , kau yang menolongnya dan sekarang kau yang jatuh lalu dia lagi yang menolong , kalian benar-benar seperti sahabat sejati " ujar perempuan yang terlihat begitu senang melihat Elin terjatuh di lantai bersama makanan yang berserakan.


" Kau " geram Elin yang langsung bangun dari lantai lalu menarik rambut Sharen , wanita yang telah membuatnya terjatuh , " awwww" teriak Sharen kesakitan dan tidak tinggal diam ,dia pun ikut membalas dengan menarik rambut Elin juga , membuat kantin menjadi semakin ramai dengan orang yang begitu penasaran pada berita karyawan magang dan anak petinggi perusahaan bertengkar ,


" Sharen lepaskan tanganmu " teriak David yang datang untuk menengahkan dua perempuan itu , " apa kau membelanya ? , dia yang pertama kali menarik rambutku " kata Sharen sambil terus meringis karena tangan Elin yang terus menarik rambutnya dengan begitu kuat , " kau yang sengaja menghadang kakimu , supaya dia terjatuh " kata David berteriak dan memang sudah curiga dengan rencana licik wanita itu , namun ia berpikir kalau Elin pasti sudah melihatnya , sebelum mengetahui kalau perempuan itu sedang tidak menggunakan softlens untuk mata minusnya , dan saat ia ingin mencegah ternyata yang di takutkan sudah terjadi.


"Ya aku memang sengaja , karena aku sangat membenci perempuan magang yang tidak tahu diri ini " teriak Sharen yang semakin kesal karena lelaki yang ia sukai di perusahaan itu sedang membela musuhnya , " awwww " teriaknya lagi karena tangan Elin semakin menarik kuat rambut wanita itu.


" Ada apa ini ? " teriak seseorang tiba-tiba , membuat semua orang yang sedang menonton perkelahian antar dua perempuan itu menjadi terkejut , bersamaan dengan kedatangan orang yang paling tidak di sangka akan mengijakkan kakinya di kantin karyawan.


" Elin , Elin lepaskan tanganmu , ada para petinggi perusahaan datang " bisik Kasih sambil berusaha melepas tangan perempuan itu dari rambut Sharen, " Lin , ada Daniel Remkez " tambahnya lagi dan berhasil membuat tangan Elin perlahan melepas cengkramannya , namun justru membuat kesempatan Sharen untuk mendorong tubuh perempuan itu yang akhirnya kembali terhempas di lantai , namun dengan cepat ia kembali berdiri , sambil menggelengkan pelan kepalanya pada laki-laki yang sekarang terlihat sangat marah , " Ayah , tolong pecat karyawan magang tidak tahu diri ini , dari pertama kali dia ada , dia sudah mengusikku bahkan tadi berani-beraninya dia menarik rambutku " kata Sharen mengaduh pada laki-laki paruh baya yang datang bersama Daniel Remkez yang pasti juga akan membelanya.


Daniel mengepalkan tangan dengan wajah yang semakin memerah karena begitu emosi saat melihat tubuh kekasihnya terhempas di lantai , namun setiap kali ia ingin bergerak dan berbicara perempuan itu selalu memberi kode untuk tetap diam , dan dia baik-baik saja.


" Kau lihat ayah tanganku terluka karena cakaran kukunya " tambah Sharen.


" Maaf pak tapi dia yang memulai , dia dengan sengaja menghadang kakinya supaya aku terjatuh " kata Elin membela diri , " tidak ayah, perempuan ini memang tidak tahu diri , baru bekerja disini sudah beraninya dia mencari masalah padaku "


" Siapa yang telah menerima perempuan liar ini disini " teriak Sam , yang tidak lain adalah ayah Sharen.


" Jaga bicaramu " teriak Daniel yang tak kalah lantang , membuat semua orang terdiam termasuk Sam dan Sharen , " siapa kau berani bicara seperti itu padanya , apa maksudmu mengatakan dia perempuan liar " tambahnya yang tidak lagi bisa menahan kesalnya pada perkataan ayah dan anak itu , Elin segera membesarkan matanya pada Reza meminta bantuan untuk menenangkan Daniel dan bersyukur Reza langsung mengerti.


" Tuan , tahan amarah anda atau semua orang akan mengetahui siapa nona Merlinda " ucap Reza begitu pelan , membuat mata Daniel kembali melihat kearah perempuan yang sekarang memberikan senyuman kalau dirinya sedang baik-baik saja ,


Daniel menghela nafas dengan begitu kasar , " tuan tapi perempuan ini telah melukai anak saya " kata Sam membela diri , " Mr.Sam hentikan , kalau kau tidak ingin melihat Tuan Daniel benar-benar marah " ucap Reza memperingati dan membuat lelaki paruh baya itu terdiam , " dia masuk di perusahaan ini atas seijin saya Mr.Sam , jadi apa kau ingin menentangnya " ucap Daniel dengan menatap tajam.


" tapi perempuan itu tidak pantas bekerja di perusahaan ini tuan " kata Sharen yang tidak ingin pertengkarannya bersama Elin berakhir begitu saja.


" Apa wewenangmu disini hingga membuat kau berani menentang pilihanku " kata Daniel , membuat perempuan itu benar-benar terdiam , " tuan ini tidak adil , dia telah melukai putriku " sambung Sam yang semakin tidak terima pada pembelaan Daniel terhadap perempuan yang sudah menyakiti anaknya , " tapi dia juga terluka tuan " timpal David tiba-tiba " anda lihat kedua lutut dan tangannya lecet akibat tersungkur di lantai dan itu karena anak anda yang sengaja menghadang kakinya supaya nona Elin terjatuh " tambahnya menjelaskan kronologi awal pertengkaran itu terjadi dan terlebih karena ia tidak terima jika perempuan yang ia sukai sedang di sudutkan hanya karena lawan pertengkarannya adalah anak petinggi di perusahaan itu.


Namun tanpa semua orang sadari ada rahang yang semakin mengeras bersama tangan yang semakin mengepal begitu kuat , melihat kekasihnya di bela oleh laki-laki lain dan tanpa lagi bisa menahan diri ia segera menarik tangan perempuan itu dan membawanya pergi dari hadapan semua orang yang sekarang sedang menatap terkejut pada mereka.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚