
" Kau lihat semua orang memuji hasil karyamu " ucap Viona tersenyum bangga , dan Elin membalasnya dengan ikut tersenyum bersama perasaan yang bercampur haru dan bangga pada dirinya sendiri.
" Dimana Daniel ? , kenapa dia belum juga datang " ucap Meili dan itu membuat semua orang ikut menyadari ketidak hadiran laki-laki itu disana.
" Apa dia mengatakan padamu tentang keberadaannya ? " tanya Reymon pada Elin ,dan perempuan itu menggelengkan kepalanya ," bahkan dia belum menghubungiku sejak tadi pagi " ucapnya dengan perasaan yang berubah menjadi sedih, karena menyadari ada yang kurang di hari mendebarkannya ini , bahkan ia sudah merasakan kekurangan itu sejak tadi , karena tidak hadirnya kedua sahabatnya disana , tapi ia mengerti itu hal yang mustahil , mengingat mereka terpisah oleh jarak yang jauh ,
namun Daniel , seharusnya laki-laki itu tidak mempunyai alasan untuk tidak berada disana saat ini , " mungkin ada sesuatu yang harus ia kerjakan " sambung Viona memberi ketenangan , dan membesarkan matanya saat melihat Meili kembali ingin membantah ucapannya , karena ia tahu itu hanya akan membuat Elin semakin sedih dan berpikir yang tidak-tidak tentang putranya.
" Aku akan ke depan panggung untuk melihat Hannah , apa kau ingin ikut ? " tanya Meili pada Elin , namun perempuan itu kembali menggelengkan kepala , " aku tak cukup percaya diri untuk berada disana "
" Kenapa ? , kau harus melihat bagaimana orang-orang menatap kagum pada karyamu "
" Jangan memaksanya Meili " timpal Viona , membuat perempuan itu akhirnya mengalah ," baiklah , aku dan Mike ke depan dan akan segera kembali " ucapnya , sebelum beranjak meninggalkan Elin bersama kedua orang tuanya.
" Daniel pasti sudah menyediakan tempat duduk untuk kalian berdua.. "
" Mami akan menemanimu disini " potong Viona langsung, membuat Elin tidak lagi berani melanjutkan bicaranya dan hanya bisa tersenyum kaku.
" Tapi aku penasaran , jadi sepertinya harus melihat ke depan " ucap Reymond , membuat Viona dan Elin tersenyum geli , " pergilah , aku disini bersama calon menantumu " kata Viona mengijinkan , dan Reymond mengangguk lalu ikut keluar dari dalam ruangan.
~
Hannah dan Vale sudah kembali ke dalam ruangan, dengan senyum yang merekah Hannah berjalan menghampiri Elin yang duduk tersenyum menyambut ke datangannya , " aku melihat semua orang menatap kagum pada pakaianmu " ucapnya begitu antusias dan memeluk erat tubuh Elin tanpa pamit terlebih dahulu.
" Aku benar-benar bangga padamu " sambungnya dan semakin merengkuh dengan gemas tubuh di hadapannya.
" Itu karena kau yang menggunakannya Hannah , bukan karena mengagumi hasil karyaku " kata Elin menyangkal ,
" ya mungkin itu benar , tapi aku juga sudah begitu paham untuk membedakan bagaimana arti tatapan kagum pada model atau pada pakaiannya " jelas Hannah , dan Elin memilih untuk tersenyum tanpa kembali ingin menyangkal ,dan ia belum cukup percaya diri untuk membenarkan pujian semua orang tentang hasil desainnya.
Vale melihat ke arah alroji di tangannya , " masih tersisa 27 menit lagi untuk babak pengumuman hasil vote peminat karya terbanyak " katanya memberitahukan pada semua orang.
Elin menarik nafasnya perlahan , " semoga tidak kosong " gumamnya , yang tak ingin berharap terlalu banyak , karena itu hanya akan membuat dirinya kecewa.
" Kau terlalu putus asa , menurutku minimal kita akan berada di urutan nomor tiga terbanyak " sambung Hannah begitu yakin dan Vale setuju dengan menganggukan kepalanya , " kau terlalu percaya diri Hannah " ucapnya tertawa , dengan perasaan cemas yang sudah tercampur oleh rasa kesal karena tidak ada kehadiran laki-laki yang ia cintai di sampingnya.
" Dimana orang lain ? " tanya Hannah yang baru menyadari tidak ada lagi orang lain kecuali Elin dan Viona disana , " Mereka sedang berada di kursi penonton , dan seharusnya memang sudah kembali " sahut Viona dan perempuan itu mengangguk mengerti , karena ia sendiri tidak bisa kemana-mana sampai hasil vote itu di tentukan.
Menit demi menit telah berlalu , dan ntah untuk ke berapa kalinya Elin melihat ke layar handphone yang tidak pernah berdering oleh kabar seseorang yang begitu ia tunggu , kecewa dan rasa cemas bercampur begitu saja , namun ia terus berusaha menutupinya di hadapan semua orang , hanya helaan nafas kecil yang ia keluarkan untuk meredam perasaan yang sedang berkecamuk.
" Jangan terlalu di pikirkan " ucap Viona tiba-tiba , karena melihat Elin yang terus gelisah.
" Ya tante Vio benar , jangan terlalu di pikirkan Elin , apapun hasilnya kau tetap yang terbaik dan kami bangga padamu " sambung Hannah memberi semangat , membuat bibir Elin melengkung oleh senyum yang ia paksakan.
Vale langsung beranjak dari duduknya saat suara microphone pembawa acara mulai terdengar dari balik panggung , " oh ini benar-benar mendebarkan " ucapnya tersenyum pada Elin dan perempuan itu hanya bisa tersenyum kaku dengan jantung yang berdetak tidak menentu , " kenapa semua orang pergi di saat seperti ini huh " gerutu Hannah kesal , dan ia langsung berinisiatif untuk memegang tangan Elin , " jangan terlalu cemas " ucapnya tersenyum , saat Elin menatapnya terkejut karena tangan yang tiba-tiba di genggam olehnya.
" Aku yakin kita akan masuk tiga besar " kata Vale begitu percaya diri.
Tak sadar Elin menggenggam tangan Hannah semakin erat , saat satu persatu hasil vote dari sepuluh besar terbanyak telah di bacakan , namun sampai angka ke empat nama perusahaan mereka belum juga di sebut , dan itu berhasil membuat Elin ke hilangan harapan dan ia benar-benar tidak lagi ingin berharap , karena sangat mustahil baginya berada di tahap tiga besar , "jangan berkecil hati , masih ada tiga nomor " ujar Hannah tersenyum.
" Aku tidak berharap lagi Hannah , tidak mungkin hasil karyaku berada di tiga besar " balasnya , dengan senyum hambar bersama tatapan yang menyiratkan kekecewaan.
" Tapi terlalu percaya diri juga tidak boleh Hannah " balasnya , membuat Hannah terdiam dan tidak lagi ingin menyela.
Dan secara bersamaan hasil terbanyak dalam urutan ke tiga sudah di sampaikan dan lagi-lagi nama perusahaan mereka tidak di sebut , hingga sampai pada hasil urutan nomor dua , " kau lihat , kita memang tidak ada harapan " ujar Elin tersenyum hambar , lalu bergerak menuju letak tasnya di atas soffa ," Vale tolong bantu aku melepas pakaian di tubuh Hannah " pintanya pelan dan suara yang sedikit bergetar.
Vale mengangguk dan berjalan mendekat pada Hannah yang terdiam mematung menatap kearah Elin , " maaf , mungkin aku tidak bekerja dengan baik " ucap Hannah lirih , ia begitu merasa bersalah saat menatap wajah kecewa Elin, walau perempuan itu masih menutupinya dengan sangat baik , " kau sudah bekerja keras Hannah , dan aku juga sangat bangga padamu " ucap Elin tersenyum dengan tangan yang bergerak perlahan membuka beberapa pernak pernik yang terpasang di tubuh sahabatnya itu , " kau pasti kecewa denganku ".
" Oh come on Hannah itu tidak mungkin , kita sudah sama-sama bekerja keras , dan kau yang bilang kalau kita patut bangga apapun hasilnya " tukas Elin yang kini bergantian memberi semangat dan tidak ingin perempuan itu terus merasa bersalah.
" Bisa kalian berdua diam " ucap Vale tiba-tiba dengan rambut yang ia sibak supaya pendengarannya tidak terhalang oleh apapun , " ada apa ? " tanya Hannah dan Elin bersamaan , karena mereka berdua tidak lagi peduli pada apa yang sedang di bicarakan oleh pembawa acara dari balik Microphone yang terus bergema di seluruh penjuru gedung tempat acara di selenggarakan.
" Diam dan dengarkan " ucap Vale meninggikan suaranya , dan dua perempuan itu menuruti dengan langsung diam dan ikut menyimak apa yang sedang di bicarakan.
" Kenapa pembawa acara selalu bertele-tele saat menyebut nama pemenangnya huh " gerutu Vale tidak sabar.
" Karena itu pasti bukan kita , jadi aku tidak berminat menunggunya " sambung Elin tertawa , lalu kembali bergerak untuk membereskan barang-barang yang masih berserakan di dalam ruangan , dan sementara menunda rencana untuk melepas pakaian di tubuh Hannah.
" Saya juga sangat tidak menyangka dengan hasil vote terbanyak malam ini , tapi saya juga setuju karena hasil karyanya sungguh luar biasa " ucap pembawa acara dari balik microphone , membuat jantung Hannah , Vale dan Viona yang sedang mendengarkan dengan serius menjadi berdebar tak menentu dan sedikit berharap kalau posisi itu mungkin saja di tempati oleh Elin.
" Ini benar-benar mendebarkan , dan aku tidak ingin berlama-lama membuat kalian penasaran , jadi tolong bantu aku menghitung mundur " pinta pembawa acara pada semua penonton dan orang-orang yang mungkin sekarang sedang menyaksikan siaran langsung dari balik televisi , karena acara Fashion show ini selalu menjadi acara yang di tunggu-tunggu setiap tahunnya oleh hampir semua penduduk America.
Tiga
Dua
Sa.... tu " dan saat itu tiba teriakan semua penonton langsung bergema di penjuru ruangan dan suara itu sampai di tempat Elin , membuat perempuan itu tersentak dan menghentikan seketika kesibukannya , " apa mereka sedang menonton acara bola " gerutunya kesal.
" Oh God , aku benar-benar kesal , kenapa tidak langsung di sebut lewat microphone " geram Hannah dan Vale , karena sekarang hasilnya sedang terpampang di layar monitor yang tidak bisa mereka lihat.
" Mohon kepada model dan perancang terbaik D.RMS untuk naik ke atas panggung " pinta pembawa acara dari balik suara microphone yang bergema.
Deg " jantung Elin seketika ingin lepas dari tempatnya saat mendengar nama perusahaan tempatnya bekerja di sebut , " nak kau dengar itu " teriak Viona yang langsung berhamburan untuk memeluk Elin yang sudah diam mematung.
" Penilaianku memang tidak pernah salah " ucap Vale tersenyum bangga , sedangkan Hannah ikut mematung karena masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Hei para juara , kalian di minta untuk naik ke atas panggung sekarang " kata Vale pada dua perempuan yang terlihat masih linglung.
" Come on " kata Vale yang kini berteriak , dan bergerak untuk membenarkan kembali pakaian Hannah yang tadi sempat ingin di buka.
" Nak , kalian sudah di tunggu semua orang " ucap Viona untuk menyadarkan Elin yang masih terdiam tidak percaya , " tidak ada yang mustahil di dunia ini " sambungnya sambil menuntun tubuh calon menantunya itu untuk bangun dari duduknya.
" Ingat apa yang mami katakan , angkat wajahmu dan perlihatkan pada semua orang kalau kau bangga dengan hasil pencapaianmu " ucapnya lagi , dan itu berhasil membuat mata Elin berbinar oleh air mata bahagia yang hampir menetes tanpa pamit.
" Jangan menangis riasanmu akan luntur ,sementara kau harus cantik di hadapan semua orang" ujar Viona yang langsung menepis air mata yang jatuh di wajah halus Elin ,bahkan tangannya terus bergerak untuk merapikan pakaian yang terlihat sedikit berantakan.
" Sekarang kau sudah siap " ucapnya tersenyum, dan dengan langkah ragu Elin melangkah menuju Hannah yang terlihat tidak banyak bicara karena masih ikut terkejut.
" Tolong perpidatolah seindah mungkin " ucap Vale tertawa dan mendorong tubuh dua perempuan itu untuk cepat berjalan menuju panggung , karena semua orang terdengar sudah tidak sabar menanti kehadiran mereka.