
"Morning Hannah , apa tidurmu nyenyak ? " ucap Elin tersenyum sambil merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.
" Morning " balas Hannah , Elin tertawa setelah melihat wajah Hannah dengan mata yang membengkak " ada apa ? " tanya Hannah dengan kedua mata yang begitu sulit untuk di buka.
" Kau lihat sendiri bagaimana wajahmu ? " kata Elin sambil menahan bibirnya untuk tertawa , Hannah beranjak dari tempat tidur menuju cermin besar yang berada di kamar Elin " kenapa aku begitu mengerikan ? " ucap Hanna setelah melihat kondisi wajahnya dengan mata yang membengkak.
" Ini sungguh memalukan " katanya lagi.
Elin masih tidak berhenti tertawa " jika ada orang yang melihatmu seperti ini , mereka akan mengira kalau kau sedang alergi riasan mata " ujar Elin , " itu lebih baik , dari pada mereka mengira kalau aku mengalami kegagalan operasi kelopak mata " sambung Hannah yang membuat bibir Elin tidak berhenti menganga.
Ting " satu pesan masuk kedalam handphone Elin yang ia di letakan di atas nakas.
Elin mengambil handphonenya dengan mata yang masih menatap lucu pada Hannah ,
dan senyumnya mengembang saat melihat nama contact yang mengirimkan pesan pada layar handphonenya.
" Morning " isi pesan masuk yang di baca Elin dengan jantung yang berdebar dan senyum yang tersipu.
" Morning , sudah bangun ? " balas Elin dan hanya hitungan detik pesan balasan kembali masuk " sudah , walau aku akui aku sangat merindukanmu tapi itu tidak akan membuatku sampai mengigau dan mengirim pesan padamu " balas Daniel , senyum Elin semakin mengembang saat melihat kata merindukan dari isi pesan.
" Apa kau sudah sarapan ? " balas Elin yang sebenarnya bingung ingin membalas apa pada pesan terakhir Daniel.
" Belum , sepertinya aku tidak butuh sarapan " balas Daniel.
" Kenapa , apa kau sakit ? "
" Tidak , karena aku sedang tidak lapar , tapi aku sedang rindu jadi yang aku butuhkan adalah kamu bukan makanan " balas Daniel yang membuat wajah Elin semakin bersemu merah.
Hannah menautkan kedua alisnya menatap tingkah Elin dari pantulan cermin di hadapannya.
" Itu tidak lucu Daniel "
" Aku memang tidak sedang bercanda " balas Daniel , Elin terdiam sambil menggigit ujung bibirnya dengan pikiran yang bingung harus bagaimana membalas pesan Daniel , ia cukup gengsi untuk mengatakan kalau ia juga rindu.
" Apa aku sedang di abaikan ? "
" kata daniel yang kembali mengirim pesan karena tidak kunjung menerima balasan dari Elin , sedangkan pesan sudah di buka dengan status yang masih online.
" Kau sangat tidak sabaran Tuan Daniel " balas Elin.
" Itu karena aku rindu , bahkan aku sangat kesal karena tidak bisa melihat wajahmu "
" Berhenti menggodaku " balasnya lagi.
" Aku cukup kecewa karena kau berpikir seperti itu , padahal aku begitu serius dengan ucapanku "
" Ya kau memang tidak akan mengerti karena hanya aku yang tahu bagaimana perasaan rindu ini " lanjut pesan Daniel.
" Mandilah , kalau kau tidak ingin terlambat pergi kerja " balas Elin.
" Bahkan sekarang aku sudah berada di meja kerjaku " balas Daniel, elin membesarkan matanya dan melihat ke arah jam dinding " apa dia anak yang begitu rajin ? " kata Elin karena jam masih menunjukkan pukul delapan pagi.
" Benarkah , baiklah lanjutkan pekerjaanmu dan jangan lupa untuk makan nanti " balasnya.
" Apa kau sedang sibuk ? "
" tidak , aku hanya harus bersiap untuk berangkat ke kampus dan menyiapkan sarapan " jelas Elin di dalam pesan yang masih terus berlanjut.
" Pergi dengan siapa ? " balas dDniel begitu cepat yang membuat Elin mengerutkan dahinya.
" Sendiri , kau pikir dengan siapa lagi "
" Benarkah , tapi hari itu aku melihatmu pergi bersama Mike " balas Daniel.
" Jangan lakukan lagi aku sungguh tidak menyukainya " lanjut pesan Daniel , Elin menganggukkan kepala karena rasa penasaran yang sudah terjawab " jJdi ini alasan dia mengabaikanku kemarin " gumam Elin.
" Akan aku usahakan " balas Elin yang sengaja menggoda Daniel.
" Please " balas Daniel cepat.
" Kalau bukan karena pekerjaan mungkin sekarang aku sudah berada di depan pintu apartemenmu " sambung pesan Daniel.
" Jangan lakukan itu " kata Elin sambil mengetik pesan dengan tersenyum.
" Maka berhentilah membuatku gelisah , aku sungguh tersiksa Elin jika harus membayangkan kau berada dalam satu mobil yang sama dengan Mike "
" Aku tidak akan melakukannya " balas Elin.
" Really ? "
" Ya , kau bisa memegang kata kataku " balas Elin.
" Baiklah , sekarang aku bisa bernafas legah "
" Kau cukup berlebihan Tuan "
" Terserah , tapi itu yang aku rasakan " balas Daniel , Elin tersenyum menatap layar handphone yang masih di penuhi dengan isi pesannya bersama Daniel " kenapa dia begitu tidak menyukai Mike , bukankah mereka saudara " gumam Elin.
" Apa kau sedang jatuh cinta ? " tanya Hannah yang begitu mengejutkan Elin , " emm.. apa yang kau katakan Hannah" ucap Elin begitu malu.
" Ceh , wajahmu memerah Elin " kata Hannah tertawa dan Elin langsung menyentuh bagian wajahnya.
" Siapa yang sudah membuat kau tersipu seperti ini , aku senang jika kau sudah kembali jatuh cinta Elin " ucap Hannah mendekat dan menyentuh tangan Elin begitu lembut.
" Jatuh cinta " kata Elin mengulang , tiga tahun berlalu dan selama itu pula ia tidak pernah peduli dengan dua kata yang memiliki arti begitu besar.
" ntahlah hannah , aku masih takut untuk mengatakan itu " ucap elin dengan mata yang menatap kosong.
" Apa kau bahagia saat bersamanya ? " tanya Hannah dan Elin mengangguk.
" Apa kau merasakan rindu saat dia tidak ada ? " tanyanya lagi dan Elin kembali mengangguk.
" Itu berarti kau sedang jatuh cinta Elin " kata Hannah menjelaskan.
" ya , tapi aku masih tidak yakin dengan perasaanku , dia tidak mungkin terlupakan Hannah " kata Elin dengan wajah menunduk dan Hannah mengerti siapa yang di maksud oleh Elin.
" Tentu dia tidak akan terlupakan , karena dia sudah memiliki tempatnya sendiri di hatimu tapi kau juga harus bangkit kembali Elin , membuka hatimu dan merasakan jatuh cinta lagi , walau dia tidak mungkin terlupakan tapi dia tidak lagi di sini , dia hanya akan menjadi cerita dari masalalumu , hanya karena kau belum yakin dengan perasaanmu bukan berarti kau harus mengabaikan orang yang tulus mencintaimu "
" Jangan lakukan itu Elin , jangan mengabaikan seseorang yang begitu tulus , aku tidak ingin kau merasakan apa yang aku rasakan , karena penyesalan sangat menyakitkan Elin " jelas Hannah yang kembali mengingat kesalahannya pada Daniel.
Elin menatap wajah sendu Hannah.
" Sekarang bantu aku untuk menyiapkan sarapan " pinta Elin mengalihkan percakapan mereka.
" Tentu , kau harus membiarkan aku menjadi kokinya " sahut Hannah tertawa dan mereka segera beranjak menuju dapur.
" Apa yang akan kau lakukan hari ini ? " tanya Hannah sambil mencari bahan makanan yang tersedia di dalam lemari pendingin.
" Berangkat ke kampus , hari ini aku harus menyerahkan hasil desainku " jelas Elin.
" Benarkah ? , padahal hari ini aku ingin mengajakmu jalan jalan " kata Hannah sedikit kecewa.
" Apa hari kau libur ? "
" Tidak , aku hanya meminta untuk mengosongkan jadwalku hari ini, karena aku tidak mungkin bekerja dengan mata seperti ini " jelas Hannah tertawa dan Elin ikut tertawa saat kembali melihat pada mata Hannah yang masih membengkak.
" Sebaiknya kau tetap di sini , jika semuanya berjalan lancar aku akan kembali sebelum sore dan kita bisa melanjutkan rencanamu "
" ide yang bagus " ucap Hannah tertawa.
" Jam berapa kau akan berangkat ? "
" Setengah 10 , jam 10 aku harus sudah berada di sana " jelasnya begitu enteng , Hannah melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan.
" Astaga Elin , kau harus segera mandi " teriak Hannah menunjuk ke arah jam , dan Elin menjadi ikut terkejut saat melihat jarum jam yang berputar begitu cepat .
" Lalu sarapannya bagaimana ? "tanya Elin yang panik.
" Serahkan padaku dan sekarang mandilah "
" Benarkah ? , kau sungguh tidak apa apa sendiri ? " tanya Elin tak enak.
" Apa kau takut dapurmu akan meledak ? " kata Hannah tertawa dan Elin dengan cepat menggelengkan kepalanya " maafkan aku Hannah " ucap elin sambil berlari menuju kamar mandi.
Hannah tertawa melihat tingkah Elin dan melanjutkan rencananya untuk membuat pancake sebagai menu sarapan mereka pagi ini.
Drrrtttt drrtttt " handphone di atas meja dapur berdering.
" dia meninggalkan handphonenya " gumam Hannah sambil melanjutkan kesibukannya.
" Apa itu panggilan penting ? " ucapnya lagi , karena mendengar suara handphone Elin kembali berdering.
ia hentikan aktifitas membuat pancakenya , kemudian berjalan menuju handphone yang masih berdering.
" Maaf karena sudah tidak sopan tapi mungkin ini panggilan penting " gumam Hannah sebelum mengambil benda pipih milik Elin.
Sesaat pandangannya tidak berkedip menatap layar handphone dengan nama kontak panggilan yang begitu ia kenal , bahkan ia masih mengingat dengan baik nomor yang tertera pada layar , bersama gambar profil yang sangat jelas ia kenali.
Ia masih berharap ini hanya kebetulan dan tetap meyakinkan pada dirinya sendiri , handphone yang sudah berada ditangan Hannah kembali berdering.
dan ia menarik nafas dengan tangan yang mulai bergetar ia menerima panggilan itu dan mengarahkan ketelinganya.
" Hallo " ucap seseorang di balik telepon dengan suara berat yang begitu ia kenal.
Test " air mata Hannah menetes , dugaannya salah semua tidak lagi hanya sekedar kebetulan
" maafkan aku yang tidak bisa menahan rasa rindu , rasanya sangat menyebalkan saat melihat tidak ada balasan pesan darimu " ucap Daniel yang terus berbicara di balik telepon.
Aiir mata Hannah semakin terjatuh tak tertahan , hatinya begitu perih saat mengetahui kenyataan bahwa seseorang yang sedang berbicara di balik telepon adalah Daniel , lelaki yang ia cintai , yang sekarang sedang mengatakan rindu pada sahabatnya sendiri.
" Hallo " ucap Daniel karena tidak mendengar jawaban dari Elin.
" Hannah apa ada yang menghubungiku ? " tanya Elin yang baru keluar dari kamar mandi dan membuat Hannah begitu terkejut lalu segera menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya.
" emm ya , maaf karena tidak sopan , aku pikir ini sangat penting karena handphonemu terus berdering "jelasnya dengan sedikit menjauhkan handphone Elin supaya suaranya tidak di dengar oleh Daniel.
" Terimakasih , ada apa dengan matamu " tanya Elin sambil mengambil benda pipih miliknya dari tangan Hannah dan melihat mata Hannah memerah.
" Sedikit perih karena asap kompor " kata Hannah berbohong.
Elin mengangguk , dan segera menjawab panggilan yang masih tersambung bersama Daniel.
" Ada apa ? " tanya Elin tersenyum.
" ya , aku baru saja selesai mandi , berhenti menggodaku Daniel " kata Elin yang terus tersenyum dengan panggilan teleponnya , Hannah tidak lagi mendengar apa yang di bicarakan oleh Elin bersama Daniel , namun senyum dari Elin membuat Hannah bisa
yakin bahwa laki laki itulah yang telah berhasil membuat temannya itu kembali merasakan jatuh cinta ,
air matanya kembali menetes , menyaksikan kebahagian namun nampak begitu menyakitkan untuk hatinya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚