Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kenapa Mereka Menggunakan Topeng?


Kijang telah lepas ke rimba, untuk apa menyesal dan meratapi diri. Salah dirinya sendiri, Irfan ceroboh dan terlalu iri, sehingga ia selalu memikirkan cara-cara licik untuk menjatuhkan keluarga Wizza, kakak tirinya.


Irfan semakin sakit kepala saat langkah dan rencananya terhalangi, benar yang dikatakan Hans saat itu, kalau mereka bisa mengawasi. Dendam yang sudah terlanjur mendalam, rencana yang telah disusun rapi, semuanya sirna.


“Kakek!” Frans cucu kesayangannya memanggil.


“Iya, Sayang.” Irfan menatap cucunya, memaksakan bibirnya untuk tersenyum, dikala hatinya terasa gundah.


“Kakek, besok malam adalah acara ulang tahun anak-anak itu, aku ingin memakai baju terbaik dengan perhiasan yang paling mewah!” Frans merengek.


“Iya, Kakek sudah persiapkan, Sayang. Kamu jangan khawatir!” Ia peluk cucunya ke dalam pangkuannya.


“Kabarnya ... acaranya megah Kek, banyak kolega dan teman-teman bisnis Kakek juga diundang oleh mereka!” ucap Frans sembari mengerucutkan bibirnya ke depan.


“Tenang saja, kamu akan tetap menjadi pusat utama orang-orang, kau cucuku yang paling tampan dan keren!” Irfan mengelus rambut Frans cucunya.


**


Hari ulang tahun sikembar pun datang.


Di Van De Utrecht Hotel, dekorasi siang dengan tema Doraemon, tirai-tirai berwarna biru silver, dengan bunga berwarna putih biru. Balon-balon tergantung disetiap sudut menambah cantiknya ruangan hotel itu. Kue-kue, minuman, permen, es dan coklat untuk cemilan anak-anak telah dipersiapkan juga.


Acara pun dimulai sore hari di lantai tiga. Anak-anak bersama para walinya, ada yang ditemani oleh orang tuanya, ada yang di kawal dengan pelayan dan bodygourd. Namun jika rekan bisnis Andrean dan Wizza, mereka sudah sejak tadi siang bersiap meramaikan acara.


Arhen, Ardhen dan Arsen berdiri dipentas di depan kue yang berukuran raksasa. Mereka menggunakan setelan jas berwarna hitam, dasi kupu-kupu berwarna navy serta topeng wajah mereka senada dengan warna dasinya, navy dicampur kuning keemasan.


Sakinah berdiri disamping mereka dengan dress berwarna navy juga, serta cadar yang berwarna senada dengan dressnya, begitu pula dengan Andrean yang memakai pakaian sama seperti sikembar, ia tengah berbincang dengan para kolega.


Acara dimulai oleh MC, mulai dari menyanyikan lagu, potong kue, sepatah kata dari Andrean dan Wizza. Foto-foto keluarga serta berfoto bersama para tamu undangan.


Acara pun berlangsung hingga malam datang.


Sebagian anak-anak sudah bisa pulang dengan membawa buah tangan. Tetapi yang lainnya masih menikmati pesta khusus yang dilanjutkan di lantai sembilan.


Mereka semua diajak ke lantai sembilan dengan tema spiderman, berwarna merah hitam. Di sana dipersiapkan acara makan-makan dan minum-minum sebagai pesta yang dipersembahkan oleh Andrean dan Wizza sebagai hari bahagia mereka atas bertambahnya umur sikembar.


Sebelum acara itu dimulai, mereka telah berganti pakaian kembali, setelan jas berwarna maroon dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam, sedangkan topeng berwarna merah keemasan. Sama dengan Andrean, ia juga memakai pakaian yang sama dengan sikembar, namun tanpa topeng.


Sikembar telah berjalan terlebih dahulu ke pentas, tangan mereka dipegang oleh Wizza dan Sekar, disamping kiri dan kanan. Lalu, ditengahnya adalah Arsen yang dipegang Arhen dan Ardhen. Kemudian di susul oleh Andrean yang menggenggam tangan Sakinah, bak pengantin baru, sangat mesra.


Sakinah berjalan anggun dengan gaun berwarna maroon, rok kembang, manik-maniknya berkerlip, hijabnya dipasang pendek dan disampul dileher. Kalung dengan permata diamon emerald bertengger dileher. Ia sangat cantik, walaupun wajahnya di tutup dengan cadar, aura cantiknya masih bisa terlihat dari matanya yang indah itu.


Setelah mereka semua berkumpul di atas, Wizza mulai meraih mic dari tangan MC.


“Hari ini, ketiga cucuku, Arsen, Arhen dan Ardhen sudah berumur 7 tahun. Aku sangat bahagia memiliki mereka, mari kita merayakannya!” Wizza kembali mengumumkan kebahagiaannya. Menaikkan segelas anggur yang ada ditangannya untuk memulai pesta.


Di ruangan ini, Irfan juga berdiri, ia menggenggam gelas yang telah berisi anggur. Menatap tiga anak laki-laki yang menggunakan topeng itu. Lalu, tersenyum kecut melihat Wizza mengangkat gelasnya.


‘Cih! Terlalu berlebihan!’ gumamnya mengejek dalam hati.


“Mari, Tuan!” ajak salah satu teman bisnisnya yang juga di undang oleh Wizza karena pria paruh baya itu juga berbisnis dengannya.


“Mari!” Irfan mengadukan gelas mereka. Tring! Hingga berbunyi, lalu ia meneguk anggur itu setengah.


“Kek!“Frans menarik ujung jas Irfan.


“Iya, Sayang.” jawabnya sedikit merunduk menatap Frans.


“Hm, baiklah, Tuan Irfan.” jawabnya.


Irfan berjalan ke arah sofa, membawa frans, lalu duduk di sana.


“Kenapa mereka menggunakan topeng, Kek?” tanya Frans menatap ke arah sikembar.


Ibu Frans mendekat, duduk disamping Frans. “Apa kamu mau pulang?” tanyanya pada Frans.


“Tidak!” jawabnya menggeleng. “aku ingin bersama dengan Kakek, aku akan pulang bersamanya nanti, iya 'kan Kek?” Frans menatap Irfan, meminta pembelaan.


Irfan mengangguk, “Biarlah dia bersamaku!” ucapnya. Kemudian Ibu Frans hanya memilih diam dan masih duduk setia di sana, menatap sekeliling. Ada suaminya diujung sana sedang mengobrol dengan rekan bisnis.


“Kek, kenapa tidak menjawab pertanyaanku tadi? Kenapa mereka menggunakan topeng?” Frans bertanya kembali.


“Itu ... karena cucu pertamanya buruk rupa dan cacat, sehingga mereka menutupinya dengan topeng!” jawabnya asal.


“Yang jelas, kamu, Frans, cucuku yang paling keren. Kakek akan membuatkan pesta yang lebih keren dan megah dari ini.” ucapnya menoel hidung Frans.


Ibu Frans hanya bisa mendesah mendengar mertuanya itu berbicara pada anaknya.


“Hahahaha! Aku tau itu, kek!” balas Frans tergelak dengan bangganya.


**


Tadi pagi, saat bangun tidur Arsen langsung memanggil penata rambut, meminta perias mewarnai rambut mereka bertiga dengan warna terkini, ashy platinum. (Kuning hambar, seperti rambut penyanyi korea boyband)


Warna rambut itu diusulkan oleh Arhen yang sangat suka dengan fashion dan styles! Ya, karena itu dunianya.


“Kenapa harus diwarnain sih rambutnya, Bang? Warna rambut kita 'kan sudah bagus! Jika kita mewarnainya sama, apakah nanti Mom bisa membedakan kita?” tanya Ardhen.


“Ckckck! Kau lucu sekali, Dik! Tentu saja Mom bisa membedakan, jelas-jelas wajah kita berbeda. Kau tidak lihat?! Wajah Abang walaupun tampan, tapi seram. Sedangkan wajahku tampan dan bersinar, kalau kamu...” Arhen menatap Ardhen.


“Wajahmu ayu seperti perempuan! Hahahaha!” ledek Arhen.


Ardhen cemberut, menyedekapkan tangannya di dada. “Baiklah, Kakak hanya bercanda, kamu juga tampan, kamu lembut seperti Mom, menenangkan hati.” Arhen memeluk Ardhen. Ardhen pun juga membalasnya dengan pelukan erat sembari tersenyum.


“Cih, lebay!” dengus Arsen.


Setelah mewarnai rambut, mereka memamerkan pada ibunya. Sakinah lama menatap ketiga putra kembarnya itu!


“Kenapa kalian mewarnai rambut?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.


“Biar bertambah keren dong, Mom!” jawab Arhen.


Sakinah diam dan masih menatap mereka bertiga.


“Agar tidak ada yang bisa menebak rupa kami, Mom.” jawab Arsen.


“Oh, begitu. Baiklah, tetapi kalian mewarnai dengan pewarna halal 'kan?” tanya Sakinah.


“Iya, Mom. Setelah acara, kami akan memotong rambut kami. Kami sengaja meminta agar 2 cm dibawahnya tidak diwarnai.” jelas Ardhen lemah lembut.


Sakinah tersenyum dan mengelus kepala putra-putranya.


...----------------...