Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Anak Genius itu Anakku (Ending)


Liburan sikembar pun sisa tiga hari lagi. Mereka harus kembali lagi ke Belanda. Mereka asik berfoto bersama, saling berbagi hadiah satu sama lain.


Namun, apa yang terjadi? Mereka harus buru-buru ke Batam bersama Pak RT dan Bu RT dikarenakan Shalsabilla kecelakaan dan harus dioperasi.


Mereka semua berangkat tergesa-gesa ke Bandara tanpa membawa oleh-oleh apapun, hanya sebatas oleh-oleh ala kadarnya karena buru-buru. Saat sampai di Bandara mereka langsung menuju jalan khusus, dimana jet pribadi Andrean terparkir.


Tak menunggu lama, kisaran 1 jam mereka telah sampai di Batam. Langsung menuju rumah sakit. Orangtua Jimi langsung memeluk besan mereka, kemudian memeluk Sakinah. Billa masih koma, anak yang baru dilahirkan dengan operasi sedang berada diruang inkubator bayi.


Bayi kecil itu ditemani dengan selang-selang yang melekat di tubuhnya, membuat semuanya menatap pilu.


Mereka saling berpelukan dan menangis. Sikembar pun juga menangis menatap Billa dari luar kaca. Hanya do'a tulus yang mereka lantunkan dalam hati dengan deraian air mata.


“Jimi bagaimana keadaannya?” tanya Ibu Billa. Lantas memutuskan pergi ke ruangan Jimi.


Jimi tampak tertidur, karena dosis obat. Satu kakinya terbungkus perban dan digantung di atas. Beberapa luka di lengan dan pipinya.


~~


Beberapa hari berlalu, akhirnya Billa sadar dari komanya, semuanya sangat bahagia, apalagi Jimi. Ia sampai menangis tersedu-sedu.


Orangtua Jimi meminta Billa di pindahkan satu ruangan dengan Jimi, agar mereka bisa saling menguatkan satu sama lain.


Untuk pertama kalinya Arsen yang terlebih dahulu memeluk dan mencium pipi Billa. “Hai, apa kau kesurupan? Ha... aku tahu, kau pasti takut kehilangan Miss 'kan?” goda Billa.


“Miss jangan berkata seperti itu, kamu adalah Ibu kedua kami!” Ardhen langsung memeluknya juga.


“Kami sangat sedih dan ketakutan saat kamu belum bangun, Miss.” Arhen juga memeluk Billa.


“Cup, cup, cup! Kesayangan Miss. Jangan khawatir! Lihat, sekarang Miss baik-baik saja 'kan?” ucapnya tersenyum.


Hari demi hari, kesehatan Billa dan Jimi membaik, sehingga mereka sudah bisa pulang, hanya perlu kontrol saja, dan juga bayi mungil mereka sudah keluar dari inkubator bayi, ia sudah mulai menyusu dengan susu bantu, karena air susu Billa belum keluar.


Sakinah sekeluarga pun juga tak bisa lama di Batam, karena sikembar harus kembali ke sekolah.


“Kinah, jangan berwajah lesu begitu, aku tak apa-apa. Ada Ibuku serta mertuaku.” Billa menyentuh punggung tangan Kinah.


“Tapi, Bil-”


“Tidak, Kinah. Aku dan kisahmu berbeda, aku ada suami, mertua dan Ibuku. Sedangkan keadaanmu saat itu, ibumu sudah tiada, orang kampung jahat padamu, kau tak ada suami dan mertua yang menjaga. Jadi, jangan merasa tak enak begitu. Kasihan anak-anak libur lama karena aku.” jelas Billa.


Akhirnya, dengan berat hati, Sakinah sekeluarga kembali ke Belanda.




Di Belanda.



Arhen menyimpan sebuah gelang di kotak pribadinya, ia kunci dan masukkan ke tempat khusus barang-barang mewah berharga miliknya. Gelang itu adalah hadiah dari gadis yang menolongnya waktu tenggelam.



“Hutang budi ini akan aku bayar suatu saat nanti, jika kita berjodoh, aku akan menjadi jodoh yang baik untukmu. Jika tidak, aku akan menjadi saudara yang melindungimu.” ucap Arhen.



“Apa Kak?” tanya Ardhen yang tiba-tiba muncul di belakang Arhen.



“Tidak apa-apa!” jawabnya ketus, lalu menutup tempat itu.



“Hm.”



“Sudah, ayo, keluar!” ajak Arhen merangkul Ardhen.



Hari demi hari terus berlalu, hingga Calista melahirkan, dua orang kakek yang menghabiskan waktu bahagianya bersama di Amerika pun akhirnya pulang ke Belanda karena mendengar berita bahagia itu.



Calista melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.



“Kak, dia mirip denganku!” kata Irfan memegang pipi gembul putra pertama Dedrick itu.



“Mirip dari mananya? Dia jelas mirip denganku!” Wizza tak bisa terima.



“Hei, hidungnya mancung kecil, lihat hidungmu lubangnya besar, kelingkingku bisa masuk, Kak ahahaha!” Irfan tertawa mengejek.



“Kulitnya putih, kau kan sawo matang!” Wizza tak pun balas mengejek.




Irfan menatap Arsen.



“Ya ampun, Kakek sampai lupa dengan cucu sulung Kakek!” Wizza langsung mencium Arsen.



Irfan mengerutkan keningnya.



“Hai, Kek!” sapa Arsen, ia tersenyum. Sedangkan Irfan menelan salivanya kasar. Memorinya mulai memutar beberapa kejadian ia bertemu dengan Arsen.



“Kak, aku ke toilet dulu!” pamit Irfan.



“Baiklah.” jawab Wizza.



Tak lama, Irfan keluar dari kamar mandi, ia mencuci wajah dan membilas rambutnya, ia ingin bertanya dan mengatakan sesuatu pada Wizza.



Saat keluar dari kamar mandi, Andrean telah berdiri santai di samping pintu.



“Astaga!” seru Irfan terkejut. “Maaf, kau menunggu ya?” Ia hendak pergi. Akan tetapi, Andrean mengiri langkahnya. “Kau tak ingin ke kamar mandi?” tanya Irfan menoleh pada Andrean.



“Tidak!” jawab Andrean.



Setengah jalan hampir sampai di kamar Calista, tampak Wizza sedang berbincang dengan Arhen dan Ardhen.



“Hai, Kek!” sapa Arhen dan Ardhen, kemudian mencium tangan Irfan.



“Pergilah, katanya kalian ingin melihat King, Kakek mau ngobrol dulu sama Papa.” Wizza mengelus kepala Arhen dan Ardhen lembut.



“Ok,” ucap Arhen dan Ardhen berlari-lari kecil ke kamar Calista, dimana sudah ada Arsen, Calista dan Dedrick di dalam. Sedangkan Sakinah berbincang dengan Ibu Calista di ruang belakang.



“Apa kau penasaran dengan Anak itu?” tanya Wizza.



Irfan mengangguk.



“**Anak genius itu anakku**.” sahut Andrean bangga.



Irfan menoleh pada Andrean.



“Arsen Elmo?”



“Arsen Elmo, Arsen Ares, Arsen Ryker Van Hallen. Dia adalah anakku.” jelas Andrean.



Irfan terkesiap, mulutnya ternganga, matanya membulat sempurna, ia menoleh pada Wizza minta penjelasan.



“Iya, dia anak genius itu. Cucu kita. Nanti, aku akan menceritakan semuanya. Sekarang, ayo kita kunjungi Roque dan Frans!” ajak Wizza merangkul Irfan.



“Hati-hati, Pa! Paman!” teriak Andrean melepas kepergian dua laki-laki tua yang tak lain ayah dan adik laki-laki ayahnya.



...\_\_\_\_ **Tamat** \_\_\_\_...