Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Roselia Diculik


Rayyan bolak balik sejak tadi menunggu Roselia yang pergi ke dalam toilet. Papa Rayyan tiba-tiba berkata ingin mengenal wanita yang disukai putranya. Jujur, sebenarnya selama ini Rayyan menaruh hati pada Roselia, berawal dari rasa nyaman sebagai sahabat, kemudian dia merasakan debaran tak biasa hari demi hari dia lalui bersama Roselia.


Dia bukan gadis cantik, tapi manis dan menyenangkan, Rayyan tak bisa lupa dengan senyumannya, tingkahnya, di samping Ros membuat Rayyan bahagia.


Rayyan memanggil nomor telepon Ros, nomor itu mendadak tidak aktiv. Perasaan Rayyan menjadi tidak enak karena sejak tadi ada dua orang yang memperhatikan dirinya. Rayyan berjalan mendekati dua orang itu, orang yang didekati itu malah berjalan dengan cepat.


“Hei, kalian!” Rayyan bersorak. Dua orang itu malah semakin mempercepat langkahnya.


“Hei, tunggu!” Bukannya berhenti, dua orang itu malah berlari. “Sial, jangan-jangan--- Oh no, tidak!” Rayyan berlari kencang, mengejar dua orang itu.


Terjadi adegan lari-larian beberapa menit, sehingga salah satunya bisa ditangkap oleh Rayyan. “Siapa kalian? Kenapa sejak tadi kalian membuntuti ku?” Rayyan mencengkram kerah bajunya.


“Maaf Tuan Muda, saya hanya pengawal rahasia yang ditugaskan Tuan Besar untuk menjaga Anda. Tidak bermaksud apa-apa. Mohon maafkan saya,” jawab pria yang kerah bajunya dicengkeram Rayyan.


“Lalu, kenapa kau lari?”


“Karena Tuan Muda mengejar, kata Tuan Besar, kami harus melindungi diam-diam, soalnya Tuan Muda tidak suka diikuti pengawal,” jelasnya lagi.


“Kalau begitu, kalian tahu aku datang kemari dengan siapa 'kan?” tanya Rayyan.


“Dengan teman kuliah Anda.”


“Ya sudah, pergi sana!” Rayyan melepaskan kerah baju pria itu dengan kasar. ‘Apa perasaanku aja ya? Kok lama banget sih dia di toilet?’ gumam Rayyan.


Rayyan kembali ke toilet, berdiri di sana cukup lama. Ada satu hal yang membuat Rayyan kecolongan. Kejadian tadi memang di sengaja untuk memancing Rayyan agar beranjak dari pintu toilet. Setelah Rayyan mengejar, Roselia yang telah pingsan langsung di bawa keluar menuju pintu lain.


Rayyan mengajak Roselia makan ke restoran, dia tak mengatakan pada Roselia jika ayahnya ingin berkenalan dengannya sebagai orang yang dia sukai, dia hanya membuat alasan akan mentraktir Roselia makan sebagai ucapan syukur dapat nilai IPK bagus, karena dia belum menyatakan rasa sukanya. Tadi saat hendak masuk restoran, ada seorang bocah berumur 10 tahun berlari mengejar ibunya, menabrak Roselia hingga baju dan tangannya kotor terkena tumpahan minuman anak itu.


Roselia pun pergi ke toilet restoran untuk membersihkan diri. Rupanya semuanya sudah di rencanakan dengan sangat sempurna. Toilet yang lain di rubah jadi rusak dan dirubah menjadi khusus pria, sampai Roselia masuk ke dalam toilet khusus yang sudah mereka siapkan jebakan. Toilet yang ada tiga orang wanita berpakaian cleaning servis pura-pura mengepel lantai. Nyatanya saat Roselia sibuk mencuci tangan, mulutnya malah dibekap dengan sapu tangan yang ada obat biusnya.


Rayyan yang menunggu di depan toilet pun sengaja dibuat konsentrasi terganggu dengan gerakan-gerakan dua orang yang mencurigakan, apalagi ponsel Roselia langsung dimatikan oleh tiga orang wanita yang ada di dalam kamar mandi.


Cukup lama Rayyan menunggu, hingga akhirnya masuk beberapa orang, dan mereka sudah keluar. Rayyan bertanya pada orang yang baru keluar, mereka mengatakan kosong, tak ada siapapun di dalam. Rayyan pun masuk, mengintip dengan cepat, benar-benar tak ada Roselia.


‘Apa dia langsung balik kampus? Gak mungkin 'kan, kalau dia balik duluan tanpa bilang aku?’ gumam Rayyan.


“Nak, ayo!” ajak Ayah Rayyan menepuk pundak putranya yang sejak tadi celingukan sana sini. Dua orang pria paruh baya, baru saja sampai, sejak tadi sudah memanggil Rayyan beberapakali, tetapi pemuda itu tak menjawab, malah melihat sana sini.


“Iya, Pa. Aku telfon Ros dulu, tadi dia ke toilet tapi belum keluar,” jawab Rayyan.


“Ok, Papa duluan duduk bareng Asisten Papa, di meja 14 ya!”


“Ok, Pa!”


Nomor tak aktiv, Rayyan pun mengirimkan pesan, dia berpikir, mungkin saja Ros habis baterai, sedang mencharger hpnya di suatu tempat mungkin. Dia pun duduk di meja 14 setelah mengirim pesan.


“Gadis itu belum selesai? Bagiamana kalau kita pesan dulu? Papa sudah lapar!”


“Iya, Pa.” Mereka pun melihat menu, Rayyan juga sudah menyebutkan menu yang disuka Roselia terlebih dahulu.


Roselia tak kunjung jua tiba, sampai makanan sudah tersaji, bahkan pesan itu belum di lihat. Masih centang satu.


***


Sakinah tersadar dari pingsannya, tangannya diikat ke belakang, kakinya juga, seluruh tubuh terikat di sebuah tiang kayu yang menggantung beberapa meter di atas permukaan. Kaki Sakinah hanya ada tempat berpijak. Matanya terbelalak sempurna, tergemang bukan main. Berdiri dalam ketinggian.


“Aku diculik?” Ini adalah penculikan Sakinah yang kedua, dia hanya pasrah dan berharap agar segera ditemukan. Padahal dia tak kemana-mana, penjagaan super ketat, tetapi masih saja bisa diculik oleh orang-orang yang berniat jahat.


Akan tetapi, perasaan Sakinah langsung menjadi tidak tenang, setelah melihat tiga anak yang diikat di tiang pondasi besi pile. Walaupun jauh di bawah, Sakinah masih bisa mengenali pakaian Jay dan Jamila, kerudung Jamila dan rambut hitam Jay.


“Ya Allah. Hamba mohon, semoga ini hanya mimpi. Anak-anak....” lirihnya. Jika dirinya yang dihadapkan dalam kesulitan ini, dia tidak mengapa, tapi tidak untuk anak-anak, dia sangat cemas. Itu bisa mempengaruhi mental mereka.


“Apakah salah satunya itu King?” gumam Sakinah setelah mempertajam pandangannya ke bawah. Naluri seorang ibu selalu lebih mencemaskan anaknya dari pada dirinya, padahal posisi dia berdiri terikat lebih mengerikan sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...