Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Butuh Bantuan


Roselia, sebuah nama yang teringat oleh Arsen. Gadis kecil berbadan gemuk yang memberikannya hadiah. Ia sedikit tertarik dengan gadis kecil itu.


Setelah mendapatkan hadiah dari gadis kecil gemuk itu, Arsen sempat memeriksa datanya. Mengetahui kalau Ibunya seorang Ilmuan Sains sedangkan ayahnya membuka bengkel. Dulunya, ia pernah menjadi HRD disebuah perusahaan. Namun ia mengalami musibah sehingga kakinya terluka, membuatnya pincang.


Roselia memiliki seorang kakak laki-laki yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Begitulah informasi yang di dapatkan Arsen.


Arsen mematikan laptopnya, keluar mencari Billa dan Jimi.


“Aku butuh bantuan Dad dan Miss.” ucap Arsen menghenyakkan pantatnya di sofa, duduk diantara sepasang suami istri itu.


“Apa?”


Arsen berbisik pada kedua orang itu. “Baiklah.” jawab mereka berdua.


“Lalu, kapan kita akan bertemu Kinah dan adik-adikmu? Miss sudah sangat rindu.”


“Siang ini, tetapi kita harus membeli sesuatu dulu.”


_____________


Siangnya, setelah berbelanja beberapa barang untuk keperluan serta barang-barang khusus untuk Arsen, mereka menuju ke Mansion keluarga besar Van Hallen.


Sakinah terkesiap saat mendengar penuturan Kepala Pelayan, ada yang mencarinya, ingin bertemu. Siapa? Ia sungguh tak kenal siapa-siapa di Negara Kincir Angin ini.


“Billa, Arsen!” pekiknya. Ia bergegas berlari kecil memeluk Arsen, kemudian Billa.


“Mari duduk, Billa, Jimi.”


“Mom rindu padamu.” bisik Sakinah pada Arsen, kemudian mengecup pipi Arsen penuh sayang.


Seorang Maid datang dengan berlari terburu-buru. Wanita itu lantas membungkuk hormat pada Kepala Pelayan, lalu mendekat ke arah Sakinah.


“Nyonya Muda, minuman dan makanan apa yang ingin anda suguhkan?” tanyanya.


Sakinah lama menatap Maid itu, menatap dari ujung kepalanya sampai bawah. “Kamu bisa bahasa Indonesia?” tanya Kinah.


“Bisa, Nyonya. Saya lulusan Sastra Indonesia.” jawabnya.


Sakinah masih menatap Maid yang memiliki warna rambut pirang itu. “Saya direkrut oleh Tuan David melalui beberapa test, Anda bisa percaya pada saya.” jelasnya lagi.


Namanya Clara, ia Maid baru, kemarin ia melihat Nani di hukum. Kabarnya karena wanita itu melakukan kesalahan pada Nyonya Muda, ia sampai dihukum berkali-kali, mulai dari hukuman Tuan David, Kepala Pelayan, Nyonya Sekar, Andrean, Dedrick dan para Tuan Muda.


Ia bergidik ngeri membayangkan, pasti Nyonya Muda itu sangat menyeramkan. Kata para pekerja, Nyonya itu seperti teror*s.


Clara mencuri pandang, terlihat wajah Sakinah sangat cantik, memakai hijab.


“Oh, baguslah kalau begitu. Aku jadi canggung karena tidak mengerti bahasa Inggris ataupun Belanda. Mohon bantuannya, nama kamu siapa?” tanya Kinah.


“Nama saya Clara, Nyonya.”


“Oh, salam kenal Clara, nama saya Sakinah. Kamu bisa bawakan minuman es lemon tea, susu hangat dan kopi, serta cemilan.” ujar Sakinah.


“Akan segera saya siapkan, mohon tunggu sebentar, Nyonya.” balas Clara.


Ia sedikit membungkuk dan tersenyum pada Kinah dan para tamu, lalu juga memberi hormat pada Kepala Pelayan yang masih setia memantau dari sudut ruangan itu.


Beberapa saat kemudian, Clara, Amy, Nani dan Maid lainnya tengah menghidangkan makanan dan minuman.


Sakinah terkejut melihat tangan Nani yang lebam, wajahnya juga. “Hei, kenapa ini?” tanya Sakinah menggenggam tangan Nani.


Sontak Maid itu ketakutan dan bersujud. “Het spijt me, Mevrouw.” ucapnya. (Maafkan aku, Nyonya.)


Sakinah terkejut dengan tindakan Maid itu. Clara menjelaskan apa yang dikatakan Kinah pada Nani, Maid itu menjawab dengan berbohong, jika tangannya terjatuh karena belajar main sepeda. Padahal itu adalah hukuman cambuk yang diberikan Dedrick dan Andrean. Lalu tamparan keras dari Kepala Pelayan atas perintah Arhen dan Ardhen.


Setelah mendengar penjelasan itu dari Clara sipenerjamah bahasa antara dirinya dan Nani, Sakinah menyuruh Nani beristirahat karena masih sakit.


Clara bernafas lega, sepertinya semua ini hanya kesalahpahaman. Sakinah bukanlah Nyonya yang jahat, namun ia hanya tak paham bahasa lain selain bahasa Indonesia.


“Terimakasih Clara, kalian semua bisa istirahat kembali.” ucap Sakinah ramah.


Ya, beberapa hari lalu. Sekar menasehati Sakinah, agar bersikap layaknya Nyonya dirumah ini. Ia merasa canggung dan segan awalnya, namun putra-putranya menjelaskan, jika ia tidak begitu, para Maid akan semena-mena menganggapnya remeh.


“Kenapa gak mengabariku kalau kalian akan datang?” tanya Sakinah.


“Surprize.” jawab Billa (Kejutan.)


“Oh, ya. Anak-anak mana?” tanya Billa kemudian.


“Baru hari ini diantar ke sekolah baru mereka oleh David.” sahut Kinah.


______________


Ardhen sedang memperkenalkan diri di depan kelas. Ia dimasukkan ke sekolah dasar tataboga.


“My name is Ardhen Ryker Van Hallen.” ucapnya menyebutkan nama barunya yang sudah dirubah semenjak Sakinah menikah dengan Andrean.


Terdengar suara bisik-bisik di belakang saat Ardhen memperkenalkan diri. Setelah perkenalan pendek itu, Guru menyuruh Ardhen kembali duduk.


Pelajaran yang ia pelajari sungguh berbeda dengan sekolah umum, apalagi dengan sekolah dasar tempat Ardhen sekolah di Indonesia kemarin. Di sini, ia hanya belajar tentang umum sedikit, lebih fokus pada tataboga.


Setelah menerima penjelasan, mereka langsung praktek diruangan.


Guru membagikan onions, garlic dan daun bawang. Dengan cekatan semua murid mengiris itu semua. memasak ikan dengan membuang tulangnya. Setelah masak, murid-murid menatanya secantik-cantiknya.


Inilah tempat yang sebenarnya. Disini Ardhen benar-benar mengasah kemampuannya bersama murid-murid lainnya yang juga menguasai bidang ini.


Bel berbunyi, tanda waktunya jam istirahat datang.


“Hai, kenalkan aku Abraham Holt. Ini teman-temanku.” Seorang anak laki-laki mengulurkan tangannya pada Ardhen.


Anak itu yang berbisik-bisik tadi saat Ardhen memperkenalkan diri.


“Aku Ardhen.” jawabnya menjabat uluran tangan itu.


“Kau keturunan Van Hallen?” tanyanya.


“Ya.” jawab Ardhen.


Anak itu langsung merangkul Ardhen. “Ayahku bekerja sama dengan keluarga Van Hallen, tentu kita akan berteman baik 'kan?”


“Mari, kita harus merayakan hari jadi teman kita, ayo kita bakar-bakar dikantin.” ajaknya.


Ardhen hanya ikut patuh. Jika bisa memilih, ia lebih suka sekolah di Indonesia, bersama dengan Kakak laki-lakinya Arhen dan Arsen.


Kini, ia terpisah, berbeda sekolah.


“Ayo!”


Murid-murid tampak mengambil bahan mentah, mereka sibuk membuat menu makanan sendiri untuk mereka. Ardhen terdiam, di kantin sekolahnya dulu, makanan sudah tersedia oleh pihak pengelola.


“Apa kau belum bisa memasak?” tanya Abraham saat melihat Ardhen hanya diam menatap tempat itu.


“Aku bisa.” sahut Ardhen.


“Jangan malu, jika kau tak bisa, katakan saja! Aku bisa membantumu. Aku bisa memasak daging, jangan khawatir.”


Abraham mengambil daging yang telah dibelah tipis-tipis. Ia melumurinya dengan bumbu jadi, lalu membakarnya, meracik kuah dari potongan bawang, irisan cabe, minyak zaitun, garam dan sedikit kecap.


“Apa aku juga bisa mencoba?” tanya Ardhen.


“Tentu.”


Ardhen mengambil potongan daging yang cukup tebal, ia mengiris sendiri sesuai seleranya. Tangan kecilnya yang lincah dengan sigap memotong wortel, kentang daun bawang dan bawang bombai.


Srek! Srek!


Daging yang telah ia potong, ia lumuri dengan bumbu jadi, ia goreng dengan sedikit mentega, setelah setengah matang ia masukkan bawang bombai dan daun bawang, irisan cabe dan bawang putih geprek. Lalu potongan kentang dan wortel.


Ia tuangkan sedikit minyak ikan dan minyak zaitun, bubuk jinten dan lada hitam, jahe dengan irisan besar, lalu sedikit air, garam dan penyedap rasa.


Wangi, sangat wangi. Abraham dan teman-temannya bertepuk tangan. “Wah kau hebat Ardhen, di dalam kelas yang bisa mahir memasak daging hanya aku dan Cleo.”


“Terimakasih. Kalian juga sangat luar biasa, ayo kita cicipi.”


Mereka pun saling mencicipi makanan satu sama lain, saling memberi saran dan dukungan.


Biasanya, Pujian selalu di peroleh oleh Abraham dan Cleo, kini pujian itu bertambah untuk Ardhen.


...***...