
Ardhen duduk merenung di ruangan kerjanya. Beberapa kejadian akhir-akhir ini membuatnya terus berpikir. Terlalu banyak orang mengatakan dia tidak peka dan tak berperasaan.
“Bagaimana mereka mengatakan aku tidak berperasaan? Kalau aku tidak punya Indra perasa yang kuat dan tajam, tentu saja aku tidak akan bisa menjadi chef muda yang bisa memiliki perusahaan makanan!” Tangannya memutar-mutar pena yang sedang ia pegang.
“Aku tega? Tega dari hal mana? Aku cukup baik, tidak menelantarkan orang susah yang kutemui? Apakah karena aku menolak cinta Rufia? Jadi, mereka pikir aku tega, karena itu aku memecatnya? Jelas-jelas dia yang ingin berhenti dan pergi dari Vend Beutique, berarti itu bukan salahku 'kan? Aku memang tidak suka padanya! Aku hanya suka sebatas teman, tidak lebih!” Ardhen mulai kesal dengan beberapa omongan akhir-akhir ini, bahkan sampai di sosmed.
Ya, Seiring berkembang dan terkenalnya Vend Beutique, begitu pula dengan para karyawannya juga banyak dikenali orang, salah satunya Rufia. Gadis cantik dengan rambut coklat yang selalu tersenyum ramah di meja resepsionis. Seperti nya ada pengagum dia yang sangat menyayangkan kepergian Rufia, sehingga ada postingan tak mengenakkan tentang Ardhen.
Di dalam postingan itu, mengatakan Ardhen adalah atasan yang buruk.
“Aku tidak peka dan tidak punya perasaan? Itu mulut gak tau tentang Tuhan kayaknya! Aku jelas-jelas punya hati, jadi bisa merasa lah! Rasa sakit, sedih, senang, aku tahu! Itu adalah pemberian Tuhan!” dengus Ardhen kesal sendiri.
Tiba-tiba lamunan itu buyar karena Cleo masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu.
“Dhen, gawat!” Cleo langsung memperlihatkan video dan beberapa berkas. “Ini gawat!” Wajah Cleo tampak menegang.
“Cleo Nathan! Tenanglah, ada apa sih?” Ardhen menatap temannya dengan kening berkerut, hatinya masih dalam keadaan tidak baik-baik saja. Lalu, Cleo datang tergesa-gesa mengatakan gawat.
“Ini, lihatlah!”
Ardhen melihat video yang berputar di hp Cleo, wajahnya tampak semakin kusut. Lalu, ia buka berkas yang di bawa Cleo tadi.
“Kenapa bisa begini?” Ardhen mulai tampak khawatir.
“Aku juga tidak tahu Dhen, perusahaan makanan kita diserang habis-habisan, ini tidak mungkin hanya perilaku pemuda-pemuda yang menyukai Rufia. Ini mustahil sampai membuat seperti ini!”
Ardhen langsung berdiri. “Kalau begitu, ayo, kita harus segera ke tempat produksi dan kemasan produk!” ajak Ardhen.
Ya, tiba-tiba tersebar video makanan mereka ada kecoak, rambut, dan ulat yang sudah kering. Perusahaan mereka di kritik dan ada pemberitahuan kalau perusahaan itu beberapa hari lagi akan di datangi oleh departemen kesehatan. Belum lagi, akhir-akhir ini data keuangan menjadi eror tiba-tiba.
Tak lama, mereka pun sampai di tempat produksi produk. Dia dan Cleo di sambut oleh manager, mereka di kawal berjalan melihat proses. Semuanya tampak berjalan dengan baik, higenis, bersih, dan bergizi.
‘Kenapa bisa?’ gumam Ardhen berpikir.
“Manager Wang, tolong selidiki lebih lanjut lagi dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini!” Cleo menatap manager itu tajam.
“Tentu Pak, saya akan bekerja lebih maksimal lagi!”
***
Di Perusahaan Antaman Wilzgold, Andrean terkejut saat menemukan perhiasan miliknya tercampur dengan bahan yang tidak berkualitas. Saat pemotongan batu mulia menggunakan laser, dia pecah berkeping-keping.
“Ada apa ini?” Andrean memperhatikan proses pembuatan perhiasan.
“Sepertinya ada kesalahan, ada zat yang mengenai batu mulia ini!” David meneliti batu mulia mentah yang belum diolah itu.
“Masih Pak. Pengawasan dan sistem jaringan sudah diperkuat. Penjagaan di luar dan dalam sudah diperketat,” jelasnya hormat.
“Hm,” Jujur saja, Andrean masih merasa ada yang tidak beres dalam dua bulan terakhir ini. Kurva jual beli dan sahamnya turun. Investasi nya sering tidak menguntungkan dan beberapa pihak pindah kubu. Dia berpikir awalnya berpindah pada putranya Arsen yang juga memiliki perusahaan perhiasan.
Sayangnya, Arsen pun juga menemuinya dua hari yang lalu, bahkan anak itu meminta bantuan.
“Hm, apa Kakak dan Alex bisa memecahkan masalah?” Andrean berpikir. Ya, Alex adalah salah satu orang hebat dalam dunia IT. Kelompoknya juga tak kalah cekatan. “Jika Alex dan Arsen bergabung menyelesaikan semua ini, tentu saja bisa 'kan, di tambah lagi Vindo juga sudah terlatih sejak kecil! Berend Elmo telah melatihnya menjadi kuat dan hebat!” gumam Andrean.
“Dav, sore ini apa agendaku?”
“Siang ini bertemu dengan klien, sedangkan sore jadwal Anda kosong, karena Anda ingin mengosongkan jadwal setiap hari Rabu dan Jum'at sore,” jelas David.
Andrean mengusap wajahnya. “Ah, iya, aku lupa!” Ia melirik jam-nya. “Kalau begitu, katakan pada Sekretaris, kita akan pergi ke perusahaan Wilzplants Groups untuk urusan perusahaan setelah bertemu dengan klien siang ini!”
“Baik Tuan!”
Di dalam mobil.
Andrean dan David sedang menuju perusahaan yang kini di pimpin oleh kakak laki-lakinya, Dedrick Ryker Van Hallen, setelah bertemu dengan klien tadi di kafetaria. “Berhenti di toko bunga dulu ya, aku tak ingin lupa. Kemungkinan kita akan selesai lama berbincang dengan Kakak, takutnya saat kita pulang, aku melupakannya,” pinta Andrean.
“Ya, Tuan Muda!” David pria yang sudah berumur kepala tiga itu, bahkan mendekati kepala empat, baru saja menikah enam bulan yang lalu.
David menghentikan mobilnya tepat di toko bunga. Andrean dan David turun. Sejenak Andrean melihat dan memilih bunga yang menurutnya cantik. Ia memilih bunga rose berwarna putih, kuning, dan merah diikat menjadi satu buket.
“Kau tidak membelinya juga untuk istrimu?”
“Tidak!” jawab David.
“Cih, dasar jomblo karatan. Kamu terlalu lama jomblo sehingga tidak tahu hal romantis. Menikah baru enam bulan, tapi terasa seperti 16 tahun, hambar. Berikanlah istrimu bunga, dia pasti senang!” Andrean mengejek David. Dia dan istrinya dijodohkan oleh Sakinah.
David menikahi wanita cantik nan baik dan ramah, lulusan S1 management ekonomi, tetapi memilih bekerja di mansion Sakinah karena tertarik pada Sakinah. Keduanya menyetujui pernikahan itu, walaupun sigadis jauh lebih muda dari pada David.
“Aku juga mau seperti ini!” ucap David kemudian, pada karyawan toko bunga yang melayani mereka.
“Cih! Apa kau sebodoh ini saat di atas ranjang? Bagaimana kau bisa memilih bunga yang sama seperti aku pilih?” Andrean menatap tak percaya pada asisten pribadinya yang terkenal pintar dan perfect itu.
David malah diam saja. “Hadeh, bunga yang akan kau berikan padanya, bunga pertama 'kan?” Andrean menatap David, laki-laki itu mengangguk. “Nah, kalau pertama itu, seharusnya setangkai bunga mawar merah! Kalau bunga seperti aku ini, sebatas pemberian biasa. Aku memberikan buket bunga setiap minggu pada istriku, jadi aku memilih berbagai macam, berbeda denganmu!” jelas Andrean.
“Makasih, Tuan Muda!” David menundukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Andrean.
Karyawan toko tersenyum. “Jadi, untuk Tuan ini bunga mawar merah setangkai?” tanyanya. David pun mengangguk menyetujui.
...----------------...