Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Makan Malam Spesial.


Terkejut? Ya, awalnya Sakinah terkejut saat dicium Andrean apalagi disaksikan perempuan pemain biola itu. Namun, ciuman mesra Andrean membuat ia melayang, sehingga ia membalas ciuman itu juga, lupa akan adanya manusia lain yang sedang bermain biola.


Perempuan pemain biola itu, sepertinya sudah sangat terbiasa bertemu dengan adegan seperti ini, mungkin karena memang itu profesinya.


Cukup lama ciuman hangat itu berlangsung, lipstik Sakinah bahkan sudah berantakan karena ulah Andrean. Pria itu malah tersenyum. “Aku suka melihat lipstikmu berlepotan seperti itu, Sayang, tak usah diperbaiki, kamu terlihat sangat seksi seperti ini.” bisik Andrean.


Sakinah mendengus, ia masih merapikan lipstiknya. Setelah merasa tak berlepotan lagi, Sakinah melihat wajah Andrean yang menatapnya tak berkedip.


“Pfft!” Sakinah tersenyum dengan menutup mulutnya, kemudian segera menghapus bekas lipstiknya yang pindah ke bibir Andrean berserakan.


Saat Sakinah menghapusnya malah Andrean memejamkan matanya, menikmati, perlahan ia buka dan menjilati jemari tangan Sakinah.


Sakinah mengernyit sambil tersenyum, expresi yang susah dijabarkan, antara geli, enak dan suka.


“Jangan mesum begini!” Sakinah menarik tangannya kembali. “Ayo, kita makan! 'Kan dansanya sudah selesai!” ajak Sakinah.


“Ok, My Lovely Wife!”


Mereka berjalan beberapa langkah, kemudian Andrean menarik kursi untuk Sakinah. Ya, tempat yang tak begitu luas, hanya gazebo khusus untuk sepasang saja.


Sakinah duduk, kemudian Andrean berbisik. “Sayang, kini aku hanya mesum padamu seorang.” Mendengar itu, wajah Sakinah memerah.


Andrean tersenyum. Ia menarik kursinya juga dan duduk. Kemudian tangannya menarik sebuah tali, tali panjang itu terbentang sepanjang kolam, saat ditarik ia mengeluarkan suara-suara karena gesekan kulit kerang-kerang kecil dan siput laut yang sudah dikeringkan digantung ditali itu berwarna-warni.


Andrean kembali menggenggam erat tangan Sakinah, mengecupnya bertubi-tubi sambil menatap wajah istrinya. Membuat Sakinah malu di tatap begitu dalam.


“Sayang, aku mencintaimu.“ ucap Andrean.


“Iya.” jawab Sakinah.


“Hanya iya saja?” Ia memanyunkan bibirnya ke depan.


“Sakinah tersenyum, kemudian membalas. “Juga!”


“Apanya yang juga?” protes Andrean.


“Hihihihi! Ya juga, juga mencintaimu. Aku mencintaimu suamiku tersayang.” Sakinah mengelus tangan Andrean yang menggenggam tangannya.


Andrean langsung berdiri dari duduknya, langsung mengecup kembali bibir Sakinah mendadak membuat wanita itu kelabakan, namun akhirnya menikmatinya juga.


“Kau sudah mengatakan mencintaiku. Jadi, hanya boleh memikirkanku seorang!” ucapnya setelah melepaskan pagutan bibir mereka.


“Hm, sikembar juga boleh, tapi memikirkanku harus lebih banyak.” gumamnya pelan.


“Iya, aku akan memikirkanmu setiap harinya, tapi selalu memikirkan sikembar setiap saat. Eh, ngomong-ngomong, kok sikembar belum nelfon ya? Apa mereka belum sampai? Atau gak ada signal di sana?” tanya Sakinah menatap Andrean.


“Sayang, kita lagi berkencan, masa mikirin sikembar lagi.” protes Andrean.


“Mereka itu anak kita, tentu saja dipikirkan.” sahut Sakinah.


“Iya, siapa yang tidak tahu jika sikembar anak kita,” berkata sambil manyun-manyun. “Mereka sudah sampai sejak tadi, mereka baik-baik aja, memang di sana sinyalnya dikunci. Nanti setelah kita makan, kita menelfon dan bahas mereka, ya. Aku ingin menghabiskan kencan kita hanya tentang kita berdua.” lanjutnya masih dengan manyun.


Sakinah terkekeh kecil, “Kemarilah, mendekat!” ucap Sakinah.


Andrean mendekatkan wajah mereka hingga sangat dekat. “Kenapa bibirnya manyun-manyun? Apa minta dikunyah?” ucap Sakinah bertanya sambil menggoda Andrean dengan menggigit bibir bawahnya. Lalu mengecup bibir Andrean sekilas.


“Sayang, kau menggodaku? Kau sudah nakal ya sekarang. Bagaimana kalau kita langsung pulang sekarang atau langsung ke hotel dekat sini?” ucap Andrea dengan mengedipkan matanya pada Sakinah.


“Enggak. Aku lapar, belum makan dari sore, nungguin makan malam kita ini!”


“Ekheem! Ekhem!” Beberapa kali seseorang berdehem. Bukan pemain biola, namun pemimpin wanita dari pembawa makanan.


Mereka berbaris berjalan di atas jembatan kecil itu menuju ke gazebo tempat Andrean dan Sakinah berada.


Mereka menghidangkan makan malam bertema cinta itu, semua lauk pauk dihias menjadi love. Sakinah berdecak kagum melihat ikan yang digoreng bisa berlekuk berbentuk love, ditengahnya diberi saus sambal berwarna merah dengan beberapa hiasan.


“Silahkan dinikmati Tuan, Nyonya. 1 jam lagi kami akan mengantarkan makanan penutupnya.” jelas pemimpin pembawa makanan itu.


Andrean menarik pinggang Sakinah, mendudukkan di pahanya. “Tentu saja, bahkan sebentar lagi dia bisa membuat makanan yang lebih hebat dari ini. Kamu harus percaya pada anak-anak kita yang keren itu.” Berkata lembut sembari mengelus pipi Sakinah.


“Baiklah, sekarang, ayo kita cicipi makan spesial ini.”


Sakinah hendak berdiri dan beranjak ke kursinya semula, namun dicegah oleh Andrean. “Tetaplah seperti ini Sayang, kapan lagi kamu makan sambil ku peluk? Jika sikembar pulang, mereka itu posesif, cemburuan.”


“Hehehehe. Sayang, itu semua karena kamu juga posesif dan cemburuan.” jawab Sakinah.


“Ish, enggaklah Sayang. Aku biasa aja cemburunya. Kalau cemburu itu kan wajar, tandanya cinta.” elak Andrean.


“Oh, ya. Berarti besok aku boleh jalan-jalan keluar sama Clara 'kan?”


“Gak boleh, bahaya!” tolak Andrean.


“Aku akan bawa banyak pengawal, juga akan ke toko yang menjalin bisnis dengan keluarga kita, langsung bertemu pemiliknya, jadi tak akan ada bahaya.”


“Tidak boleh!”


“Kenapa tidak boleh?”


“Kamu hendak belanja kue dan pakaian 'kan? Aku akan meminta David membelikannya untukmu besok atau kusuruh saja perancang busana dan koki hebat ke mansion!”


“Tapi, aku mau beli sendiri bersama Clara.”


“Pokoknya gak boleh, bahaya!”


“Bahaya apa lagi?!


“Pemiliki toko itu pria, jadi bahaya!”


Sakinah terkekeh, “Katanya gak cemburuan, tapi begini.” ejek Sakinah.


“Sayang, kamu... mengerjaiku?! Kamu nakal, ya?!” Andrean langsung mengecup bibir Sakinah sekilas.


“Nanti, sebelum tidur, aku akan menghukummu.” bisik Andrean.


Akhirnya mereka pun makan malam, lalu sejam kemudian mereka juga menghabiskan makanan penutup yang dihidangkan.


Setelahnya, mereka beranjak dari sana sambil berbimbing tangan. David yang menunggu di bawah sejak tadi juga sudah menghabiskan makanannya.


“Kita langsung pulang? Atau main ke pasar malam dulu?” tanya Andrean saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


“Ke pasar malam, aku belum pernah melihat pasar di sini.”


“David, telepon pengelola pasar malam, katakan aku ingin membawa istriku bermain ke sana!” perintah Andrean.


“Baik, Tuan Muda.”


Satu jam lebih diperjalanan, mereka pun akhirnya sampai. Sakinah menatap ke sekeliling.


“Sayang, tempatnya sudah tutup.”


“Bukan. Mari, masuk!” ajak Andrean.


Saat Andrean melangkah, beberapa pria berjas menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.


“Selamat malam Tuan, Nyonya Van Hallen. Selamat datang di wahana pasar malam berkah rezeki.” ucap salah satu diantara mereka berbahasa Belanda.


Beberapa saat, David dan mereka saling berbincang dalam bahasa Belanda, sedangkan Andrean hanya mengangguk, Sakinah hanya tersenyum.


“Sayang, berhentilah tersenyum, kau tak ingat, sekarang kau lupa memakai cadar, atau aku akan mencongkel mata para pria ini!” bisik Andrean.


Sejak tadi ia sudah kesal dengan beberapa orang yang menatap istrinya. Bukan salah Sakinah, tetapi salah dia sendiri. Tadi saat asik berdua di gazebo, ia ingin menikmati wajah istrinya, ia melepaskan kain penutup itu, membuangnya entah kemana.