Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Memilih Ibu


“Kau suka yang mana? Kau hanya perlu waktu 5 detik!” Perkataan itu yang terakhir diucapkan Johan, dan perkataan itu juga terngiang-ngiang di benak Arsen.


Dor! Teng! Sepertinya tembakan itu sengaja di tembak tidak tepat sasaran, seolah hanya mengancam Arsen, dengan menembak besi di belakang punggung Sakinah.


Mata Arsen membelalak. Roselia dan Han atau Ibunya? Pilihan yang berat, dua wanita yang sama-sama ada di dalam hatinya.


Dia melangkah satu langkah meragu ke depan, tepat ke arah Sakinah, pandangannya menoleh ke arah Roselia. Gadis itu tersenyum dengan deraian air mata, walau Arsen tak akan bisa melihat wajahnya dengan jelas karena jarak ketinggian.


Dor! Dor! Karena langkah meragu, hitungan detik pun terus berjalan, satu langkah satu tembakan dan 5 detik berlalu karena Arsen diam, Johan sama-sama menembak bagian bawah Sakinah dan Roselia.


Dengan terpaksa, Arsen berlari kencang, menekan perasaan nya yang meragu, dia memilih berlari sekencang-kencangnya, dengan hitungan detik, dia telah sampai di depan mesin yang berjalan otomatis. Dia dengan segera mengemudi alat itu dan meraih tubuh Sakinah dengan alat itu.


Dor! Dor! Tentu saja tembakan itu datang bertubi-tubi ke arah Roselia karena Arsen memilih Ibunya, dengan hitungan langkah Arsen, dan detik yang berlalu, darah segar tampak menetes dari atas kotak itu turun ke bawah karena peluru begitu banyak menembak ke arah kotak yang ada Hans dan Roselia.


Arsen bisa meraih tubuh Sakinah, tetapi Johan mengkhianati janjinya, sebenarnya ini sudah diperkirakan oleh Arsen, tapi setidaknya dia akan mencoba menyelamatkan wanita nomor satu di hidupnya, Ibu.


Johan menyuruh bawahannya mengepung Arsen dan membunuh dua orang itu. Dalam kesibukan saling mempertahankan nyawa agar menyelamatkan nyawa lainnya. Johan, dengan santai berlalu pergi, dia memerintahkan semua yang tinggal untuk menghabisi semuanya dan membakar bangunan ini.


Andrean dan Dedrick akhirnya bisa membuka ikat tiga anak kecil yang diikat di tiang pondasi pile, tapi sayangnya para pengawalnya sudah terkapar, tertembak satu persatu dan kena cahaya infrared. Belum lagi pengawal Johan bertambah banyak datang mengepungnya, seolah jumlah mereka tidak pernah habis.


Dedrick dan Andrean memeluk anak masing-masing, lalu kedua tangan Jay mereka pegang.


“Matikan!” perintah Johan. Infrared itu pun dimatikan perlahan.


“Lalu kotak itu!” titah Vindo lagi mengarahkan pada kotak Roselia dan Hans.


“Lakukan!” perintah Johan lagi. Dia berniat lepas dengan melirik dan memberi kode pada bawahannya.


Seseorang menurunkan kotak itu, Arsen memapah tubuh Sakinah yang telah lemah dan terluka, dia berjalan ke arah kotak yang sudah di turunkan, membuka kotak itu dan melihat Hans bersimbah darah memeluk Roselia, begitu juga Roselia memeluk kakak laki-lakinya yang juga bersimbah darah.


Deg! Jantung Arsen berdetak kuat, matanya tertuju pada satu tangan yang sudah mulai terkulai. Sebuah cahaya yang berkilau diantara genangan darah itu.


Vindo masih bernegosiasi untuk menyelamatkan Andrean dan Dedrick serta anak-anak lainnya. Barend Elmo dengan bahu yang masih diperban, langsung menggendong Jay.


“Kau harus selamat Nak, demi janjiku pada ayahmu, Jimi! Aku akan melindungi dirimu!” Barend langsung bergerak bersama Andrean dan Dedrick. Lalu, terjadilah tembak menembak, karena Johan pun juga terlepas dari tangan Vindo karena perutnya disiku oleh Johan, dan tulang paha sampingnya ditendang oleh bawahan Johan.


“Aarg!” Pistol Vindo terlepas. Johan melarikan diri, sedangkan anak buah Johan menembaki Vindo.


Vindo berguling-guling menyelamatkan diri. Anak buah yang dia bawa bersama Berend juga sudah bertindak dan menolong.


Syukur, saat semua sudah selesai di Lautan Kebebasan, dia langsung memeriksa email dari Arsen. Setelah itu, dia langsung menuju ke titik koordinat yang dikirim Arsen bersama pasukan dan pengawal yang tersisa untuk membantu Arsen.