Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Digendong


Di meja makan.


Semuanya sudah berkumpul, ada tambahan kursi untuk tamu dimeja makan karena ada Billa, Jimi dan Arsen. Biasanya hanya tersedia 7 buah kursi yang melingkar, sekarang 10 kursi yang melingkar dimeja makan yang besar itu.


Di atas meja semua makanan sudah tersaji dan disusun seapik mungkin oleh para Maid.


Sekar dan Wizza baru saja turun setelah selesai mandi, ia tak sempat menyapa Billa sekeluarga tadi.


“Hai tampan, lama tidak bertemu.” sapa Sekar pada Arsen.


“Hai, Nek. Senang berjumpa dengan Anda.”


“Kalian baru sampai ya, maaf tidak menjemput ke bandara. Tadi juga tidak sempat menyapa karena terburu-buru.” jelas Sekar.


“Tidak apa-apa Tante, kami juga tidak memberi kabar, ingin memberi kejutan pada Sakinah dan anak-anak.” balas Billa.


Perbincangan ringan pun berlangsung sambil makan. Sekeluarga Wizza masih mengira Arsen anak Jimi dan Billa.


Srek! Sakinah beradu tangan dengan Dedrick, saat mereka sama-sama mengambil tisu setelah makan. Ia bergegas menarik tangannya, membuat Dedrick terenyuh.


‘Apa dia begitu jijik denganku?’ gumamnya dalam hati.


Bukan hanya sekali ini saja, berkali-kali Sakinah menjaga jarak darinya, seolah ia sangat menjijikan. Kemarin ia masih ingat, saat Sakinah hampir jatuh, ia segera menyambut Sakinah. Wanita itu cepat berdiri, bergeser dan menjauh, mengucapkan terimakasih, lalu pergi, tak ada niat untuk berbincang, walaupun Dedrick sangat ingin berbincang dengannya.


Setelah Dedrick mengambil tisu, ia menghapus bibirnya. “Aku akan segera naik, ada yang harus dikerjakan.” ucapnya, “Papa naik dulu anak-anak.”


“Uk, Pu.” jawab Arhen dan Ardhen dengan kondisi mulut penuh berisi makanan.


“Hm, jangan bicara saat mulut berisi, nanti tersedak.” tegur Sakinah.


“Hm,” Mereka berdua mengangguk.


“Kalian menginap saja di sini, memangnya mau kemana? Jangan menyewa penginapan di luar. Mansion ini sangat luas, banyak kamar yang kosong.” tutur Sekar saat Billa menjawab akan menyewa hotel untuk mereka.


Billa menoleh pada Jimi, meminta bantuan menjawab pertanyaan Sekar mengenai tentang dimana mereka tinggal, soalnya Arsen sudah membeli apartemen.


“Terimakasih Tante, kami akan menginap di sini selama tiga hari.” jawab Jimi, membuat Billa melongo.


Andrean hanya diam saja, tak banyak bicara, hanya sibuk makan. Ya, sejak Sekar memarahinya, ia memang kembali lagi ke Mansion. Apalagi tadi, Dedrick beradu tangan dengan Sakinah saat mengambil tisu, membuat ia kesal.


Setelah selesai makan, Sekar mengajak Billa dan Sakinah mengobrol diruang Tv, Wizza mengobrol dengan Jimi di teras, sedangkan Andrean hendak masuk keruang kerja.


“Hai, Paman!” sapa Arsen.


“Hm?” Andrean menoleh. Entah kenapa saat melihat Arsen ia ingin menyentuh kepala anak itu. Ada perasaan yang sama saat ia melihat Arhen dan Ardhen.


“Paman mau kemana?” tanya Arsen. Andrean menjawab dengan menunjuk ruangan kerja.


“Aku ikut ya, Paman.”


Andrean sejenak berpikir dan terdiam. “Ikut saja.” jawabnya kemudian. Ia berpikir hanya anak-anak, pasti nanti juga bosan. Arhen dan Ardhen saja yang sudah diperiksa memiliki IQ 140 tidak pernah ingin masuk ke ruang kerja.


Andrean dan Arsen masuk. Ia langsung menghidupkan laptop, Arsen berdiri disampingnya.


Cukup lama. “Apa kau ngantuk atau bosan anak kecil?” tanya Andrean. Arsen menggeleng.


Andrean berdiri, ia mengambil sebuah laptop yang tidak tersimpan file penting apapun disana. Ia hidupkan laptop itu. “Nah kamu main sendiri aja ya, kamu pencet ini, setelah itu ini dan ini.” Andrean mengajarkan Arsen untuk membuka aplikasi game.


Arsen hanya mengangguk seperti anak bodoh, padahal dia sangat ahli. Andrean tak tau anak itulah yang telah menantangnya saat itu. Jika ia tahu apa yang akan ia lakukan? Mengajari anak itu bermain? Atau menantang kembali atas kekalahannya?


“Paman, bisa bantu, aku tak paham yang ini.” ucap Arsen setelah beberapa saat bermain, Andrean pus fokus mengajarkan Arsen ini dan itu.


Anak itu tak mendengarkan, ia memasang sesuatu di flashdisk yang terpasang di badan laptop Andrean.


“Nah, kau sudah paham?” tanya Andrean menoleh pada Arsen setelah fokus mengajarkan.


“Iya, makasih Paman.” ucap Arsen.


“Oh ya, Paman. Aku memberikan cincin permata biru pada Mom Kinah, dia sangat menyukainya. Apakah Paman juga mau memakainya?” Arsen menyodorkan cincin permata biru, permatanya persegi empat ditengahnya ada warna merah kehitaman.


“Aku pasangkan ditangan Paman ya.” ucap Arsen.


Andrean diam saja, ia begitu banyak perhiasan, untuk apa memiliki perhiasan dari anak kecil, begitulah pikirnya.


“Aku juga akan memberikan cincin yang sama pada Paman Dedrick, Arhen sangat menyukai Paman itu juga.”


Arsen tersenyum devil melihat reaksi Andrean. Selamat, kamu masuk dalam jebakan Batman kembali!


Setelah memasangkan cincin, Arsen berjalan-jalan dalam ruangan itu, meneliti ruangan, menempelkan wajahnya pada kaca jendela, melihat setiap sudut ruangan.


“Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Sebaiknya kau bergabunglah dengan Arhen dan Ardhen.” Andrean mencabut flashdisk, memasukkan ke dalam kantong celananya.


“Ayo!” Refleks ia menggendong Arsen.


Wajah Arsen memerah, malu, ia tidak suka digendong sebenarnya, biasanya hanya digendong Sakinah, jika ia sedang demam. Namun, ia tak bisa menolak gendongan Andrean, ia merasa nyaman dan senang, padahal jelas-jelas ia menyukai Dedrick.


Toktoktok! Terdengar suara ketukan pintu dikamar anak-anak.


Arhen membuka pintu, melihat Arsen digendong Andrean. Mulutnya ternganga, tak bisa dipercaya sedikit pun olehnya.


“Kamu bermainlah disini.” Andrean mengelus kepala Arsen lembut. Lalu ia berjalan hendak pergi.


“Papa!” Terdengar suara Ardhen memanggil, turun dari ranjangnya, berlari dan melompat ke arah Andrean.


“Adik juga mau digendong kayak Abang!” ucapnya bersungut-sungut.


Andrean terkesiap, tersungging senyuman kecil di bibirnya, kemudian ia gendong juga Ardhen.


“Bagaimana tadi disekolah? Apa teman-teman dan gurunya baik?” tanya Andrean sambil menggendong Ardhen.


“Iya, baik semua Papa. Adik dapat teman baru namanya Abraham Holt dari keluarga Holt. Katanya, Ayahnya bekerjasama dengan keluarga kita.” tutur Ardhen.


“Hm, Holt? Baiklah, jika ada apa-apa, bilang Papa saja ya.“ ucap Andrean lembut. Kemudian menurunkan Ardhen.


Setelah turun Ardhen tak melepaskan tangannya dari tengkuk Andrean. Cup! Satu buah kecupan mendarat di pipi Andrean.


“Makasih Papa.”


Andrean terdiam, sepertinya tumbuh ratusan bunga di jantung hatinya.


‘Apa ini? Apakah ini rasanya menjadi seorang ayah? Beginikah rasanya saat Kakak menggendong Arhen? Beginikah rasanya?’ Ia bermonolog dengan hatinya.


“Kalau begitu, Papa pergi dulu.” Andrean mengusap kepala Ardhen, lalu juga mengusap kepala Arhen. Wajah mereka berdua berbeda reaksi. Arhen dengan wajah kesal sedangkan Ardhen menyambut tangan itu tersenyum.


Setelah Andrean pergi.


“Apa-apaan yang aku lihat tadi? Adik dan Abang digendong olehnya? Apa kalian sudah berpihak pada Papa yang tidak baik itu? Dia berselingkuh dan mengkhianati Mom. Dia itu jahat!” seru Arhen.


Ia berjalan menghentakkan kakinya, duduk merajuk diatas ranjang, tangan berlipat di dada.


Ardhen dan Arhen duduk mengapit Arhen. “Maaf, Kak.” Hanya satu patah kata itu yang keluar dari bibir Ardhen.


“Bukankah aku sudah menyuruhmu mengikuti dan menilai mereka berdua, bukan berpihak pada salah satu. Kau harus ingat Arhen, ayah kandung kita adalah Andrean!” ucap Arsen, lalu anak laki-laki itu memilih tidur di ranjang, mengabaikan tatapan tajam Arhen.


“Apa maksud Abang?! Aku melakukan kesalahan?!” pekiknya.


...***...


Coretan kecil.


Hai ArLove 💓 Apa kabar? Semoga kalian sehat selalu ya. Mudah rezekinya.


Terimakasih saya ucapkan sebesar-besarnya, kalian telah membaca, like, komentar dan memberikan vote serta hadiah. Masih setia menunggu, membaca dari awal hingga akhir. Terimakasih banyak 💓🌹🙏


Mungkin ini sedikit membuat kalian berkecil hati. Beberapa hari ini saya akan sibuk, saya akan mengusahakan update 1 bab sehari. Semoga saja!


Beberapa bulan yang lalu saya hamil, lalu Corona virus datang menyapa saya, saya jadi keguguran. Alhamdulillah, saya kembali sehat setelah dirawat di RS dan isolasi mandiri 14 hari dirumah.


Saya harus pulang karena ada keperluan yang sangat penting. Untuk perjalanan jauh antar kota, biasanya saya menggunakan pesawat. Namun harus vaksin dll sebagai syaratnya.


Saya belum bisa vaksin, jadi saya memutuskan pulang dengan kapal. Ya, lagi, kendala pun vaksin. Kapal veri ataupun Roro syarat juga vaksin, tetapi saya harus pulang. Kemarin setelah saya sepanjang hari mencari informasi, saya diberitahukan bisa numpang dikapal sayur, cukup Anti-gen saja.


Biasanya dikapal biasa hanya 8 jam perjalanan, kalau kapal Roro bisa 16 jam, sedangkan kapal sayur bisa memakan waktu 24 jam. Jika ada razia, kemungkinan akan dilansir menggunakan bot. Jadi perjalanan saya cukup Panjang karena melakukan perjalanan yang ..... Hm, gitulah. Aku berharap Corona hilang dimuka bumi ini segera😭


Jadi maaf ya🙏 Semoga saya selamat sampai tujuan. Ya, perjalanan saya cukup panjang, karena berbelok-belok dan berhenti dibeberapa pulau. Belum lagi nyambung 3x travel😭 Entah bisa charger hp gak disana? Entahlah.


Jika seandainya bisa naik pesawat, dari bandara hang Nadim sampai ke bandara kampung saya hanya 1 jam, naik travel 3 jam sampai di depan rumah😭😭😭.


Sebelum berangkat, saya akan usaha update ArLove.💓💓