Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Tatapan Aneh


Arhen sedang dikerumuni teman-temannya, terutama anak-anak perempuan.


Setelah perkenalan diri yang singkat, pembelajaran pun berlangsung, dilanjutkan dengan latihan peran. Arhen mencuri perhatian semua orang dengan wajah imut dan tampannya serta bakat aktingnya, ia menjadi pameran utama sebagai pangeran.


Bukan hanya itu, namanya juga mencolok, Arhen Ryker Van Hallen, nama keturunan bangsawan terpandang.


Di sudut sana, terlihat seorang anak laki-laki yang tampan dengan potongan rambut ala Korea, Ia bernama Abbey Frans Hallen, cucu pertama Irfan. Biasanya ia yang akan mendapatkan peran utama itu.


Ia sangat kesal, gara-gara anak baru itu ia menjadi terasing. Teman-teman memuja Arhen, bukan dirinya lagi.


“Huh! Dasar anak baru, sombong sekali!” ucapnya.


Saat jam istirahat datang, ia mencoba menyandung kaki Arhen, tetapi anak laki-laki itu mengelak dan mengejeknya.


“Hei, anak kecil! Seperti ini belum apa-apa untukku, kau belum tau saja, bagaimana cara aku bermain dengan Kakak laki-laki ku. Aku tak akan pernah kalah dengan siapapun, kecuali dengan dirinya!” ucap Arhen sombong.


“Kau lihat saja nanti. Ini hanya drama kecil, saat drama besar aku lah pameran utama yang sebenarnya.” sinisnya.


“Peran di drama kecil saja tidak becus, bagaimana dengan drama besar? Tentu saja hanya bualanmu semata.” balas Arhen dengan senyum mengejek.


‘Huh! Aku sudah sering berargumen dengan Abang, tidak ada yang lebih pintar darinya berdebat. Apalah artinya kamu yang kecil ini bagiku!’ Arhen bergumam dalam hati, lalu memilih pergi dari kelompok anak-anak yang cemburu padanya itu.


“Hai, Lady.” sapa Arhen mengedipkan matanya pada anak-anak perempuan itu.


“Hai, Arhen.” jawab mereka malu-malu.


Arhen berjalan dengan gaya coolnya, rambutnya selalu ia rapikan. Beginilah Arhen, sangat style!


________________


“Mom pakai ini ya.” Arsen menyorongkan sebuah cincin permata biru dijari telunjuk Sakinah.


“Abang jual game Mom, jadi dapat uang, minta pilihkan sama Miss.” jelas Arsen.


“Uunchhh, so sweet. Aku juga mau punya anak semanis ini!” ucap Billa karena terharu melihat Arsen sangat manis pada Kinah.


“Untuk Miss juga ada kok, tapi Daddy yang kasih.” jawab Arsen polos.


Billa menoleh pada Jimi, suaminya itu hanya bisa mengulum senyum. Dasar anak kecil yang gak tau romantis, padahal Jimi mau kasih surprise pada istrinya.


“Benarkah Sayang? Ayo pasangkan!” pinta Billa, ia telah menjulurkan tangannya pada Jimi.


“Nanti saja.” jawab Jimi tersenyum, Billa pun juga tersenyum penuh makna.


Lama mengobrol, hingga hampir sore menjelang. Arhen dan Ardhen turun dari mobil.


Kepala Pelayan langsung menyongsong para Tuan Muda. Arhen dan Ardhen duduk di sofa, Maid membuka sepatunya, membuka jas sekolahnya.


“Kalian sudah pulang?” Arsen bertanya dengan tangan bersidekap di dada.


“Abang!” Arhen dan Ardhen terkesiap.


Mereka berdua langsung berlari memeluk anak laki-laki itu. “Kami sangat merindukanmu.”


Arhen mengecup pipi Arsen. “Menjijikan!” ucap Arsen. Arhen gak peduli, ia masih saja menciumi pipi Arsen. Ardhen hanya tersenyum-senyum sendiri melihatnya.


“Kau tak ingin mencium Abang juga?” tanya Arhen. Ardhen mengangguk.


“Nah, ciumlah!” Arhen melepaskan pelukannya yang erat, Ardhen mendekat. Cup! Satu kecupan di pipi Arsen. Lalu ia tersenyum malu.


“Kau lihat, Abang tak akan marah, dia juga sangat merindukan kita!” ucap Arhen sambil tersenyum lebar.


Pletak! Satu jitakan di kepala Arsen untuk Arhen.


“Abang! Nanti aku bisa bodoh, jika kau terus menjitak dan memukul kepalaku!” rungutnya.


Arsen berjalan pergi mengabaikan Arhen yang bersungut-sungut. Terukir senyuman kecil di bibir Kepala Pelayan melihat mereka, sudah sangat lama Mansion ini sepi. Semenjak kehadiran Arhen dan Ardhen, Mansion ini kembali bersuara.


“Miss, Daddy!” Arhen dan Ardhen berhamburan kedalam pelukan mereka. “Kami sangat merindukan kalian.”


“Miss! Jangan rusak tatanan rambutku! Ini adalah pesonaku!” sungut Arhen. Ia kembali merapikan rambutnya.


“Katanya rindu, kenapa tak suka Miss sentuh!” Billa berkata dengan pura-pura membuang wajah.


“Jangan ngambek, Cup. Sayaaaaaang Miss.” bujuk Arhen.


Mereka saling mengobrol ini dan itu melepas rindu, hingga malam pun datang.


Dedrick pulang lebih dahulu, kemudian di susul oleh Andrean.


Arhen dan Ardhen mencium punggung tangan kedua pria yang dipanggil Papa pertama dan Papa kedua itu atas perintah Sakinah.


“Kalian ngobrol dulu ya, Mom mau bantu Papa dulu.” Sakinah mengikuti langkah kaki Andrean yang masuk ke dalam kamar.


Setelah masuk ke dalam kamar, Andrean duduk melipat kakinya di sofa. Sakinah berdiri di sampingnya.


“Kamu mau mandi? Mau aku siapkan airnya?” tanya Sakinah.


“Kau bukan pembantu!”


“Iya, aku hanya ingin melayanimu.“ jawab Sakinah.


Andrean yang salah mengartikan kata melayani menatap sakinah dengan tatapan aneh.


“Kau ingin melayaniku?” tanyanya menunjuk dirinya.


“Iya.” jawab Sakinah serius.


“Kamu mau?” tanya Andrean sekali lagi.


“Hm, iya, apakah itu mengganggumu?”


Andrean berdiri, meraih pinggang Sakinah, membuat tubuh mereka merapat.


Deg! Sakinah terkejut. Ia tundukkan pandangannya, tangannya menekan dada Andrean, ia merasa tak nyaman. Bayang-bayang Andrean memperkosanya malam itu masih ada.


“Bukankah kau mengatakan ingin melayaniku? Kenapa sikapmu seperti ini?” Andrean menatap wajah tegang Sakinah.


“Kau tidak menyukainya? Jika kau tidak suka, maka jangan memaksa, aku juga tidak akan memaksamu. Aku masih mengingat isi kontrak itu, aku akan menepatinya, jadi jangan khawatir dan memancingku seperti ini lagi.”


“Jika kau masih memancingku seperti ini, aku tidak akan sungkan lagi.” ucap Andrean sembari membelai bibir Sakinah dengan jempolnya.


Sakinah mengangkat pandangannya ke atas, menatap polos pada Andrean. “Jadi aku tak usah melayanimu?”


“Hah?!” Andrean terkekeh sembari menggelengkan kepala, tangannya refleks melepas pinggang Sakinah.


“Kau barusan melakukannya lagi wanita? Masih berbicara begitu. Baiklah jika kau suka melayaniku.” Andrean langsung memangku Sakinah, membuat wanita itu terkesiap.


Andrean meletakkan tubuh Sakinah di ranjang. Membelai wajah Sakinah yang menggunakan hijab itu dengan lembut.


“Tung-tunggu!” Sakinah mendorong dada Andrean. “Biar aku jelaskan, maksudku melayanimu itu seperti membantu mandi, merapikan pakaian, bukan melakukan ini. Aku belum siap.”


“Bu-bukankah kamu bilang tidak akan melakukannya?” ucap Sakinah terbata karena cemas.


Andrean terdiam. ‘Sial, jadi dia hanya bermaksud begitu?’ umpatnya. Malu sekali!


“Oh, begitu.” Mengelus wajah itu dengan pura-pura tak peduli, untuk menutupi malu. “Lain kali jangan mengatakan hal yang membuat orang salah paham, seolah kau sangat menginginkan tubuhku.”


“A-aku tidak semesum itu sampai memikirkan itu, walaupun aku melihat tubuhmu lama, itu karena tubuhmu memang bagus, aku tidak berdosa menatapnya juga.”


“Eh?! Uppzz!” Sakinah menutup mulutnya. Keceplosan!


“Oh...“ Andrean menatap wajah Sakinah, terus menatap turun ke bawah dengan tatapan aneh.


...***...