Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kembali


Setelah 3 hari menginap di Mansion keluarga Van Hallen, Billa, Jimi dan Arsen kembali ke apartemen yang dibeli Arsen.


Jimi sedang menghubungi Kakak laki-laki Roselia, melakukan interview secara Video Call, beberapa pertanyaan telah disiapkan olehnya, Arsen dan Billa juga.


Pria itu bernama Hans, ia menjawab dengan baik dan benar. Cara menjawabnya tak tergesa-gesa, tampak tenang.


“Baiklah, tunggu beberapa saat. Kami akan segera menghubungi Anda kembali.” Jimi mematikan panggilan video itu.


“Bagaimana? Apa yang harus Daddy lakukan lagi?” tanya Jimi pada Arsen.


“Daddy pasti bisa sekali sebulan datang kesini kan? Sendiri atau bersama Miss?” Bukannya menjawab, Arsen malah mengajukan pertanyaan.


Jimi menoleh pada Billa, menatap istrinya, Billa mengangguk.


“Ya, Daddy akan berusaha. Walaupun begitu, Daddy dan Miss akan memberitahu Mom dan adik-adikmu. Dad tidak bisa meninggalkanmu disini sendirian.” tutur Jimi.


“Saya tidak sendirian Dad. Teman Dad sudah memilihkan pelayan, memilihkan satu pengawal pribadi, dia juga sudah memberikan kartu ini.” Arsen menunjukkan sebuah kartu berwarna gold dengan lambang ularnaga.


“Kartu apa ini, Honey?” tanya Billa menatap kartu itu. Ia ambil dan memperhatikannya dengan rinci.


“Tak ada apa-apa. Hanya kartu kelompok.” Jimi segera menarik kartu itu, wajahnya berubah serius.


“Jaga kartu ini baik-baik, jangan sampai hilang, apalagi jatuh pada orang yang salah.” tegas Jimi dengan wajah serius.


Arsen menatap Jimi, kemudian tersenyum kecil. “Tenang saja Dad.” jawabnya, ia raih kembali kartu berwarna gold itu, kemudian memasukkannya ke dalam tas.


___________________


2 Minggu kemudian,


Billa dan Jimi telah berpamitan dan kembali ke Indonesia. Ia menangis dan memeluk Arsen serta Kinah.


“Aku pasti akan sangat merindukan kalian.”


“Iya, kami juga pasti akan sangat merindukan kamu juga, sering-sering lah berkunjung kemari.” balas Kinah memeluknya, menepuk-nepuk punggung Billa pelan.


“Kalian hati-hati di sini, apalagi kamu anak pintar.” Billa mengusap kepala Arsen.


“Jangan khawatir Miss.” sahut Arsen.


**


Setelah kepergian Billa dan Jimi, Kinah dan Arsen pergi ke Apartemen Arsen bersama pengawal pribadi Arsen.


“Kamu meminta dibelikan ini pada Daddy dan Miss?” tanya Kinah menatap apartemen itu.


“Tidak Mom, Abang mengumpulkan beberapa uang sejak lama.” jawab Arsen.


“Tidak mungkin bisa membeli apartemen, bukankah kamu jual jasa online dengan melakukan distribusi perantara? Uang juga pasti dapatnya sedikit, lalu uang jajan dari penjualan kue yang kamu jual online juga tidak akan banyak dari pada Ardhen yang membuat kue itu sendiri.”


“Abang jual aplikasi Mom.”


“Aplikasi?” tanya Kinah.


“Maaf, Mom.” Arsen menunduk.


“Aplikasi apa?”


“Game, Mom.” jawabnya masih menunduk.


Sakinah memilih duduk, setidaknya ia ingin meredamkan isi kepalanya yang berdenyut. Baginya terlalu mustahil dan aneh jika berurusan dengan Arsen. Tetapi walaupun begitu, sebagai seorang ibu dia ingin yang terbaik untuk anaknya, tak ingin membatasi dan mengekang kepintaran Anaknya, di satu sisi ia khawatir kepintaran Arsen malah menjadi bahaya untuk tumbuh kembangnya anak itu.


“Sini, Mom mau lihat game itu!” Ia ulurkan tangannya pada Arsen.


Anak itu segera merogoh kantong celananya, mengeluarkan hp miliknya, membuka aplikasi dan memberikan pada Sakinah. Kemudian ia duduk disamping ibunya itu.


“Arbluefire?” Ia baca nama game itu, lalu menekan star.


“Apanya yang dijual di game ini? Maksudnya kamu jual akun dari aplikasi ini? Bukankah rugi? Berapa banyak kamu toup up?”


“Abang tidak pernah toup up, Mom.”


“Kalau tidak pernah toup up, akun seperti apa yang akan dijual, akun yang laku itu kalau levelnya sudah tinggi, sering toup up beli ini dan itu. Game ini bahkan buang-buang uang.” Sakinah mematikan permainan, memberikan hp Arsen kembali.


“Abang menjual gamenya, Mom.”


“Gamenya? Maksudnya?”


Sakinah tercenung. Apakah ia harus percaya? Anaknya yang masih berusia enam tahun itu bisa membuat aplikasi game? Benarkah itu? Ia tak mungkin mentertawakan keahlian anaknya, tentu seorang ibu harus memberi motivasi dan mendukung putranya. Apa yang harus ia lakukan?


“Kamu tidak berbohong 'kan?” tanya Sakinah menatap manik mata jernih Arsen.


“Tidak, Mom.”


Aaaahhhh! Sakinah menghela nafas panjang.


“Baiklah, Mom percaya padamu. Mom harap kamu hanya menjual game, tidak melakukan hal bahaya lainnya. Seperti ... jangan membobol sebuah data, itu adalah perbuatan buruk, mengerti?”


“Mengerti Mom.” jawabnya.


Sakinah melihat jam, “Sudah waktunya jam pulang Arhen dan Ardhen, Mom harus pulang dulu, besok pagi-pagi sekali Mom akan datang. Hm, mungkin Mom akan membawa seorang Maid, sepertinya dia bisa dipercaya. Mom merasa kurang percaya diri karena tidak bisa berbahasa Belanda mengantarmu ke sekolah besok.” ucap Kinah masih dengan berwibawa, ia tak ingin terlihat bodoh dalam bahasa didepan anak-anaknya.


“Jangan Mom, Abang belum bisa percaya pada siapapun. Mom datang saja sendiri, biar Abang yang menerjemahkan percakapan. Mom jangan khawatir.”


Arsen menggenggam tangan Ibunya itu, saat melihat ekspresi aneh Kinah.


“Baiklah.” jawab Kinah, ia kecup pipi Arsen penuh kasih.


______________


Sakinah telah kembali pulang, dijemput oleh supir keluarga Van Hallen.


“Clara apa anak-anak sudah pulang?” tanyanya pada Maid yang baru saja sampai menyusulnya.


“Belum Nyonya.” jawab Clara, ia membukakan pintu untuk masuk.


“Kalau Mama?”


“Nyonya besar pergi bersama rekan bisnisnya barusan, Nona.” sahut Clara kembali.


“Ya sudah, kamu lanjutkan saja urusanmu.”


“Urusan saya hanya melayani Nona seorang.” balas Clara.


“Hm?” Balasan itu tentu saja membuat Sakinah berpikir. “Kenapa tugasmu seperti itu? Aku bukan anak kecil yang harus dijaga dan dikawal.” protes Sakinah.


“Nyonya besar dan para Tuan Muda meminta begitu. Saya digaji untuk selalu berada disamping Nona.” jelas Clara.


“Ya sudah, kalau begitu terserah kamu saja.” Sakinah tak ingin berdebat.


Sakinah menghidupkan televisi, berbaring.


Rasanya sungguh membosankan, dia yang hidup bekerja keras tiada henti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama ini demi keperluan ketiga putranya, kini hanya makan dan rebahan.


“Rasanya badanku pegal-pegal.” gumam Sakinah, ia menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Meregangkan otot-otot tubuhnya.


“Kalau begitu biar saya pijit Nona.” tawar Clara.


“Tidak usah.” tolak Kinah.


“Saya sudah mendapatkan sertifikat dalam memijit, saya pernah les memijat selama tiga bulan, dijamin badan Nona akan lebih enakan. Izinkan saya menunjukkan keahlian.” Clara menawarkan kembali.


“Ya sudah, kalau kamu sudah berkata begitu, aku jadi tak enak hati menolaknya. Tolong ya, bagian leher dan punggungku terasa pegal, entah karena keseringan rebahan entah karena gak pernah kerja lagi setelah sampai di Belanda ini.”


“Iya Nona, tunggu sebentar, saya akan mengambil minyak urut buatan saya.” ucap Clara. Ia berlari dan bergegas kembali dengan botol yang berisi minyak dan rempahan.


Clara memulai memeriksa titik-titik tertentu.


“Sepertinya tidak ada yang bengkak atau keseleo, kalau begitu saya akan mengurut dengan sari bunga melati dan rose yang dicampur dengan serai dan minyak kelapa hijau.”


“Ok, urut aku di dalam kamar saja ya.” pinta Sakinah.


**


Setelah masuk ke dalam kamar, Sakinah membuka hijabnya, membuka pakaiannya, meninggalkan tangtop dan celana sot.


Clara lama terdiam, terpana melihat majikannya. Cantik, itu kata yang ingin ia ucapkan.


“Clara, kenapa masih diam di sana? Aku sudah siap.” ucap Sakinah membuyarkan lamunan Clara, ia sudah bersiap dan tidur menelungkup dimatras.


“Ah, I-Iya, Nona.”


...***...