Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Maukah Kau Menikah Denganku?


Di sebuah ruangan sempit, Roselia terikat disebuah kursi. Ia meronta hendak lepas, tapi simpulan di tubuhnya sangatlah erat dan kuat. Lalu, masuk satu orang wanita menggunakan topeng wajah, mengeluarkan hp, melakukan video. Setelahnya, berlalu pergi dari sana.


Roselia menatap ke sekeliling. Tak ada celah untuk dia melarikan diri. Dia benar-benar cemas dan khawatir. Selama ini, dia sudah menutupi jati dirinya, jika dia adik Hans, Asisten Arsen. Apartemen yang mereka tempati juga sangat aman, tak sembarangan yang bisa masuk ke sana. Apalagi setelah dia menyadari ada dua pengawal yang diletakkan kakak laki-lakinya untuk dirinya, padahal sebenarnya itu adalah perbuatan Arsen, Ros berpikir itu dilakukan Hans untuk dirinya.


Ros menangis, jika saja dia bisa selamat dari penculikan kali ini, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dia akan mengungkapkan perasaannya.


Beberapa hari yang lalu, masih teringat dibenak Roselia. Sore menjelang malam, Arsen datang ke apartemen dengan wajah tampan seperti biasa, namun matanya memerah dan bengkak, seperti seseorang yang baru selesai menangis.


“Silahkan masuk, Tuan Muda. Maaf, Kak Hans belum sampai di apartemen, saya akan membuatkan air minum dulu.”


“Tidak usah, aku datang untuk menemuimu!” jawab Arsen, dia telah duduk di sofa dengan gaya coolnya, seperti biasa.


“Menemuiku?” tanya Roselia memiringkan kepalanya.


“Iya,” Arsen langsung mengeluarkan kotak cincin, meletakkan di atas meja kaca di depan sofa. Roselia dan Arsen duduk saling berhadapan.


Arsen membuka kotak cincin itu, memperlihatkan cincin yang sangat cantik, ciri khas buatan Arsen, permata yang mungil, terlihat sederhana namun elegan dan sangat mahal. Ring di sekitar permata terdapat kabel kecil yang sudah dimodifikasi oleh Arsen bertahun-tahun lamanya. Kabel tipis dilapisi dengan serbuk emas, sehingga tak terlihat oleh mata, jika tidak menatapnya dengan sangat teliti.


“Aku membuat cincin ini sudah sejak lama, sejak aku pindah ke Belanda,” ujar Arsen, kemudian dia berdiri dan duduk di samping Roselia. Duduk sangat dekat, paha mereka yang tertutup pakaian nyaris beradu.


“Waktu kau memberikanku hadiah perpisahan saat itu? Apakah itu tulus dari hatimu?”


“Perpisahan?”


“Ya, apa kau lupa? Hmm? Jadi, benar hanya aku saja yang mengingatnya!” Arsen tersenyum miris.


“Maksudnya, waktu aku kasih hadiah flashdisk di Batam, ya?”


“Ya, memangnya kapan lagi kau kasih aku hadiah? Kalau aku sih sering memberikan kamu hadiah, tapi kamu tidak pernah mengucapkan terima kasih padaku!” sungut Arsen dengan wajah dingin.


“Aku selalu mengucapkan terimakasih,” balas Roselia tak terima.


“Kamu gak ikhlas!”


“Aku se-”


“Gak ikhlas!” potong Arsen dengan tatapan tajam, membuat Roselia berhenti berkata.


“Rupanya benar kata Arhen, hanya aku yang terlalu percaya diri, hanya aku sendiri yang punya perasaan, menyedihkan sekali aku!” Arsen berkata sendiri. Roselia diam mendengarkan, dia sungguh tak mengerti.


“Apa kau menyukai Rayyan?” Arsen menatap Roselia.


“Ya,”


“Ya? Kalian pacaran?” Arsen melotot, dadanya terasa ditimpa benda berat.


“Hah? Tidak, tidak, kami hanya berteman, Tuan Muda!” jelas Roselia menggoyangkan kedua tangannya.


“Sungguh? Tapi tadi kau bilang menyukai dia?” Wajah Arsen sedikit melunak dari tadi.


“Suka sebagai teman.”


“Oh, bagus. Kalau begitu, aku datang melamarmu, aku ingin menikah denganmu setelah kau tamat kuliah, sebentar lagi kau wisuda 'kan.” Arsen berkata dengan tegas secara langsung. Tak ada romantisnya sama sekali, sungguh! Manusia genius, tapi tidak genius dalam mengepresikan perasaannya, wajahnya masih datar dan dingin saat berkata seperti itu, padahal jantungnya sudah berdendang bertalu-talu.


“Sejak kau memberiku hadiah, aku tertarik padamu, hari demi hari aku suka dan merindukanmu, hingga aku sebesar ini, aku sangat menginginkan dirimu, aku ingin kau selalu di sisiku, aku cemburu kau bersama pria lain!” Saat mengatakan dirinya cemburu, barulah expresi wajah Arsen berubah, pipi dan daun telinga memerah.


“Ekhem, sejak itu, aku membuat cincin ini, cincin satu-satunya, khusus untukmu, Ros. Aku jatuh cinta padamu sejak saat dulu.” Arsen menatap Roselia serius. Kembali memakai mode wajah biasanya.


Deg! Deg! Deg! Dua manusia dengan debaran jantung yang sedang berdendang hebat.


“Ma-maksudnya Tuan Muda suka aku?”


“Iya, aku suka dan jatuh cinta padamu Ros, maukah kau menikah denganku?” Masih menggunakan wajah datar dan dingin.


Roselia menelan salivanya, dia tidak bisa berkata-kata, dia merasa sesak nafas, dengan secepat kilat dia langsung berdiri, lari masuk ke dalam kamar, meninggalkan Arsen sendirian di sofa.


Arsen terdiam, tentu saja dia merasa sedih. “Rupanya benar kata Arhen! Aku terlalu percaya diri!”


Arsen mengambil kotak cincin itu, berjalan menuju kamar Roselia yang tertutup rapat, berdiri di sebalik pintu.


“Ros, maaf, aku tidak akan memaksamu, aku hanya ingin mengatakan niatku. Aku tak bisa menutupi perasaan ku lagi, aku takut kau bersama Rayyan. Cincin ini ku letakkan di depan pintu, ini khusus untukmu. Jika kau menerima lamaranku, maka pakailah cincin ini.”


“Akan tetapi, jika kau masih belum bersedia, jangan paksakan dirimu untuk menyukai aku yang tak pantas ini,” ucap Arsen lesu. “Aku akan menunggu jawabanmu Ros. Kalau begitu aku pergi ya, aku tak akan mengganggu lagi!”


Di dalam kamar, Roselia memegang dadanya yang berdebar-debar, dia syok, malu dan senang. Setelah lama hening, dia membuka pintu, mengambil cincin itu, memeluknya.


Roselia meneteskan air matanya saat mengingat kejadian itu. “Jika benar Tuan Muda menyukai diriku, jika aku selamat, aku akan bersorak, mengatakan padanya, sejak dulu, aku yang lebih dulu menyukainya. Setiap bertemu aku selalu menjaga sikap karena dia atasan kakakku. Aku tak pernah berharap dia juga akan menyukaiku, aku hanya mencintai dirinya dalam diam. huhuhu! Tuhan aku menyesal, jika saja waktu itu bisa diputar, aku akan mengatakannya. Aku juga mencintaimu Tuan Muda.”


Kini, Roselia tak yakin keselamatan dirinya, dari yang terdengar ditelinganya, ada desiran ombak laut. Dia memang punya keterbatasan dalam melihat, sejak kecil memakai kacamata tebal, tetapi pendengarannya sangat bagus.


Masih dalam tangisan pilunya. Dia terkejut saat Kakak laki-lakinya di dorong masuk dengan kasar.


“Kakak?”


“Ros, kau tak apa?” tanya Hans, tangannya diborgol.


“Aku sudah datang, tolong lepaskan adikku, sesuai janjimu!” teriak Hans.


“Hahaha, B-o-d-o-h!” Pria berkulit hitam menggunakan topeng tertawa, mengatai dirinya bodoh dengan berjeda.


Ya, Hans memang tidak pandai dalam tipu menipu seperti ini, dia hanya memiliki kepintaran, berjibaku dalam dunia bisnis, hanya itu. Sedangkan hal-hal mengecoh seperti ini, biasanya ditangani oleh Arsen, Vindo, dan Berend. Bukan urusannya.


“Kau menipuku?” sorak Hans.


“Hahaha! Benar-benar bodoh, kau baru menyadarinya sekarang? Tak kusangka, Asisten Arsen Ryker Van Hallen hanya seorang pria bodoh yang mudah ditipu,” ejek pria berkulit hitam itu.


Hans tertunduk lemah, menyesal, tetapi tak mungkin dia tidak mengikuti dua klien palsu itu, jika adiknya dalam bahaya bukan?


“Semoga Tuan Muda segera sadar dan menemukan posisiku.” Hans berharap, pin kecil yang diberikan Arsen padanya masih berfungsi dengan baik. Pin yang tidak sempat diperiksa oleh mereka tadi. Pin yang berbeda dengan pin-pin yang dipakai pengawal lain, pin yang secara khusus yang diberikan Arsen untuk dirinya, pin berwarna hitam, menyerupai kancing jas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semoga terhibur.... update akan slow, mendekati lebaran ini... maaf🙏🌻