
Calista masih saja datang beberapa kali ke Mansion, alasannya mengambil berkas ketinggalan lah, membantu menyiapkan apapun yang bersangkutan dengan Dedrick dengan dalih dia adalah salah satu Sekretaris Dedrick di kantor lah. Ya, seolah alasannya dibuat-buat.
Anehnya, ia selalu datang setelah semuanya pergi, hingga hanya ada Sakinah dan para Maid di mansion.
Ia sering melakukan tindakan konyol dan membuat masalah, contohnya sekarang, ia meminta berkas Dedrick pada Sakinah yang tak tahu apa-apa tentang pekerjaan Dedrick ataupun suaminya Andrean.
“Dasar Bodoh! Untuk apa kau menjadi menantu keluarga Hallen, jika sebodoh ini!” Berkata dengan satu tangan menunjuk-nunjuk.
“Membuat malu keluarga besar Hallen saja!”
“Maaf Nona, sepertinya itu bukan tugas Nyonya Muda kami, wajar jika Beliau tidak tahu. Bukankah itu tugas Anda sebagai Sekretaris Tuan Muda Dedrick? Kenapa Anda melempar tugas itu pada Nyonya kami.” balas Clara berdiri di samping Sakinah.
“Apa yang kau tahu! Dasar Pelayan!” sorak Calista kesal, ia mendorong Clara.
Nani dan Maid Lainnya segera mendekat ke arah Sakinah, begitupula Kepala Pelayan.
“Nona Calista, Kami menghormati dan menghargai Anda, tetapi jika Anda berniat menyakiti Nyonya Muda kami lagi, silahkan Anda keluar dari Mansion ini!” tegur Kepala Pelayan.
“Aku datang kemari atas perintah Dedrick. Awas kalian! Aku akan mengadukan kalian berkelakuan buruk padaku kepada Dedrick!”
“Kapan aku menyuruhmu?” Terdengar suara tanya dari lantai atas.
Calista dan lainnya melihat ke atas, kearah sumber suara, disana tampak Dedrick yang masih memakai baju tidur menatap ke arah bawah, dimana posisi mereka semua berdiri.
“Ka-kamu masih di rumah?!” tanya Calista terbata.
Dedrick menatapnya tajam.
“Lain kali jangan biarkan dia masuk ke dalam Mansion ini!” ucap Dedrick, kemudian hendak berjalan pergi masuk ke dalam kamarnya.
“Dedrick! Tunggu!” Calista hendak berlari ke atas mengejar Dedrick namun di cegat oleh Kepala Pelayan.
“Maaf, Nona. Silahkan keluar.”
“Lepaskan aku!”
“Dedrick! Kau Pria tak punya hati dan perasaan! Selama ini aku menyukaimu, menunggumu sejak lama!” teriak Calista
“Kenapa kau tak pernah mengerti?!!” sambungnya masih berseru lantang.
Dedrick berhenti, memutar badannya. “Aku tak pernah memintamu.” jawabnya dingin, lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.
“Laki-laki tak punya perasaan! Kau tau? Aku dipaksa dan dijodohkan orangtuaku, mereka khawatir akan umurku yang semakin tua. Kenapa kau tau mengerti betapa aku sangat menyukaimu!” Ia masih berteriak menghadap ke atas.
“Dedrick, aku tak apa jika kau jadikan istri kedua, tak mengapa jika kau memiliki anak dengan wanita ini, aku masih bisa menerimanya! Tolong pertimbangkanlah aku.... ” Suara Calista yang meninggi perlahan berujar memelan.
Walaupun suara itu memelan, Dedrick masih bisa mendengarnya.
“Nona, silahkan keluar.” ucap Kepala Pelayan.
“Baiklah, kau senang? Kau menang, aku kalah....” ucapnya pada Sakinah lirih, lalu berlalu pergi.
_______________
Di Perusahaan.
Andrean sedang melakukan rapat kecil bersama yang lainnya, ia menggantikan Dedrick yang sedang kurang enak badan. Walaupun jabatannya hanya Manager Personalia, Ia selalu di bawa mengambil keputusan saat rapat bersama Wakil Direktur dan Sekretaris Dedrick jika mengenai tentang hubungan kerja bersama perusahaan Ibunya Antaman Wizgold.
“Kenapa bisa rancangan kalung Bu Sekar hampir mirip dengan perusahaan baru yang bersekutu dengan perusaahaan Tuan Irfan?” tanya Alex.
“Ya, saya pikir, pasti ini ada sesuatu.” balas David.
“Lalu, bagaimana langkah kita selanjutnya?” tanya yang lainnya.
Semua mata tertuju pada layar besar itu. Sebuah nama perusahaan yang baru mereka dengar, bahkan perusahaan itu adalah perusahaan yang pernah bangkrut dan sudah lama tidak beroperasi.
“Ini adalah perusahaan pengolahan biji kopi sebelumnya, pabriknya sudah lebih 15 tahun ditinggalkan oleh pemiliknya, baru 1 bulan ini perusahaan itu di hidupkan kembali, beralih fungsi menjadi pengolahan biji permata dan emas.” jelas David menunjuk titik-titik pada gambar.
“Apa itu masuk akal jika baru 1 bulan sudah bisa dikenal banyak orang?” protes Alex.
“Sepertinya mereka itu pengelola lama yang sudah sangat berpengalaman.” sambung yang lainnya.
Ya, sebuah kerangka kalung yang juga ikut mendaftar dalam ajang bergengsi jewerly. Ada 15 kerangka perhiasan kalung yang mendaftar. Even ini diadakan setiap satu kali tiga tahun. Salah satu perusahaan yang ikut serta adalah Antaman Wizgold, perusahaan yang dipimpin oleh Sekar, Nyonya Wizza. Lalu perusahaan Franxico Jwer yang dipimpin oleh Irfan dan Ar3S, perusahaan baru.
Perusahaan Ar3S yang banyak dikira orang adalah Ares, namun bacaan sebenarnya ArtreeS, artinya Tiga Ar putra Sakinah. Namun sayang, arti itu hanya bisa diketahui oleh Trio Ar, Arsen, Arhen dan Ardhen.
Selain mereka bertiga, juga ada Jimi, Barend dan Hans yang mengetahuinya.
Andrean lama menatap proposal David hingga ia teringat sesuatu. Beberapa hal janggal yang ia rasakan semenjak ia berpura-pura pingsan malam itu. Ada anak yang sangat mirip dengan anak teman istrinya.
“Aku ingin kalian berdua mengumpulkan semua informasi sesegera mungkin, jangan lewatkan apapun tentang info perusahaan ini, kalau perlu, rekrut orang kita untuk bekerja diperusahaan baru itu untuk memata-matai.” pinta Andrean menatap Alex dan David. Kemudian, ia memasukkan proposal ke dalam tasnya.
“Jadi untuk sementara rapat kita selesai. Tunggu informasi selanjutnya.” ucapnya. Lalu berdiri dan beranjak pergi.
Rapat pun selesai.
________
Arsen baru saja pulang sekolah, Ia di jemput oleh sopir dan dua pengawal yang siap sedia mendampinginya belajar sampai selesai.
“Antarkan aku ke restoran ini.” pinta Arsen menyodorkan sebuah kartu nama pada sopirnya.
“Baik, Tuan Muda.”
Beberapa saat Arsen pun sampai di alamat yang tertera.
“Abaaaaaaaang!” teriak Arhen dan Ardhen berlari menyambut dan memeluknya.
Arsen bersifat dingin dan mendorong kedua adik kembarnya. “Kalian lebay sekali!” dengusnya.
“Biarin!” balas Arhen, ia masih memeluk bahkan mencium pipi Arsen, sedangkan Ardhen hanya memeluk saja dan cengengesan.
“Menjijikkan!” Arsen mendorong wajah Arhen yang menciumi wajahnya.
“Aku sudah lapar!” ucapnya, lalu masuk terlebih dahulu ke ruangan VVIP.
Pelayan begitu ramah melayani mereka. Apalagi saat melihat mereka memiliki kartu VVIP khusus. Artinya mereka kolega pemiliki restoran ini.
Mereka duduk bertiga, sedangkan bodygord mereka duduk di ruangan terpisah dalam satu ruangan besar yang transparan dengan ruangan mereka. Ya, bisa dibilang, ruangan ini khusus dibuat, para bawahan bisa melihat apapun yang terjadi pada mereka karena ruangan mereka hanya berdinding kaca tebal yang polos tetapi bawahan mereka tidak bisa mendengar suara apapun karena kedap suara.
“Apa kalian sudah menemukan dan mendapatkan yang aku minta?” tanya Arsen pada kedua adik kembarnya.
“Tentu saja, Bang.” jawab mereka berdua kompak.
Arhen dan Ardhen membuka tas mereka masing-masing, memberikan file dalam bentuk ketikan dalam map merah dan satu buah flasdisk dari mereka masing-masing.
“Kamu suka, Bang?” tanya mereka berdua dengan senyum devil saat melihat Arsen fokus menatap file yang mereka sodorkan.
...***...
Hai-hai,
Terimakasih masih menunggu cerita saya, maaf lama tak update, ada halangan yang mendesak ditambah dengan saya kurang enak badan.
Makasih atas do'anya ArLove.