Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Mandi Sendiri


“Apakah mandi ini wajib?” tanya Andrean saat sudah berada di dalam kamar mandi bersama Sakinah.


“Tidak, hanya sunah karena kamu sudah muslim, bukan mualaf lagi. Ini hanya karena ... kamu bersedia hanya akan bersentuhan denganku saja 'kan?” Sakinah menatap Andrean dalam.


“Iya.”


“Mandi wajib ialah mandi yang dilaksanakan ketika seseorang baru saja memasuki agama Islam, setelah taubat dari kefasikan, ataupun setelah merasa melakukan dosa besar.” terang Sakinah


“Caranya membasahi sekujur tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki yang diawali dengan niat dan bersuci terlebih dahulu.” lanjutnya lagi.


“Pertama ayo baca niat, boleh secara lisan atau dalam hati.” pinta Sakinah, Andrean mengikutinya dengan patuh.


“Nawaitul ghusla lit taubati ‘an jami’idz dzunuubi lillaahi ta’aala.”


“Artinya: Sengaja aku niat mandi taubat dari segala dosa karena Allah.”


Andrean mengikuti bacaan itu.


“Tuangkan air pada kedua tangan seperti halnya mengambil air wudhu, kemudian membasuh kedua tangan sebanyak tiga kali.” jelas Sakinah mencontohkan. Andrean mengikuti.


“Lalu mencuci daerah ******** dengan tangan kiri.”


Hm? Wajah Andrean memerah, malu, namun masih ia ikuti.


“Menggosok badan dengan sabun menggunakan tangan kiri.”


“Lalu, berwudhu.” Sakinah mencontohkan cara berwudhu.


“Membasuh pergelangan tangan dan sela-sela rambut hingga kulit kepala dengan air. Lalu, mandi.”


“Aku keluar dulu, mandilah seperti biasa.” ujar Sakinah.


“Gak bantuin mandi? Upz!” Andrean menggigit bibir bawahnya karena keceplosan.


“Mau dibantuin?” tanya Sakinah tersenyum kecil. “Baiklah.” jawabnya.


Saat Sakinah hendak membantu mandi, Suara Arhen dari luar kamar terdengar memanggil-manggil.


“Mom!” teriaknya.


“Mom!” Lalu suara Ardhen juga.


“Iya Sayang.” sahut Sakinah.


Ardhen dan Arhen langsung masuk ke dalam kamar mandi.


‘Seharusnya tadi aku kunci pintu kamar dan kamar mandi ini.’ gumam Andrean. ‘Lain kali pasti akan aku kunci.’


Ya, biasanya kamar mereka pun tak dikunci, tak ada yang berani membuka. Namun sekarang ada Arhen dan Ardhen, mereka berdua akan membuka pintu kamar siapapun, bahkan pintu kamar Wizza dan Sekar serta Dedrick begitu saja jika ingin masuk.


Arhen menatap Andrean yang setengah telanj*ng, sedangkan Sakinah sedikit basah pakaiannya.


“Ada apa Mom? Apa ada yang rusak dikamar mandi ini? Kalau ada yang rusak tinggal bilang sama Grandma, gak musti di benerin sendiri. Apa Papa suruh-suruh Mom ya?” tuduh Arhen.


“Tidak Sayang. Mom cuma bantuin Papa.”


“Bantuin apa Mom?” tanya Ardhen.


Sakinah tersenyum kecil, kalau dia bilang bantuin Andrean mandi, itu lebih tidak mungkin, bantuin cara berwudhu, nanti wibawa suaminya hilang karena anak-anaknya sudah sangat mahir berwudhu sendiri.


Namun siapa sangka Andrean malah mengatakannya sendiri. “Bantuin papa mandi.” Entah dia keceplosan atau sengaja membuat putra-putranya marah.


“Sudah besar juga! Mandi sendiri sana!” Ardhen dan Arhen kompak berucap dengan ketus.


“Ayo keluar Mom, kami aja sudah lama gak dimandikan Mom, kami mandi sendiri.” Kedua anak laki-laki itu menarik paksa tangan Sakinah keluar.


Andrean tinggal sendirian sembari menggaruk-garuk kepalanya. Lalu melanjutkan mandi sendiri.


“Mom kenapa mau saja mandikan Papa?”


“Iya, apa Papa selalu mengerjai Mom begitu?”


Arhen dan Ardhen mencerocos.


“Tidak kok, Papa minta bantuan menggosok punggung aja, soalnya tangan Papa gak sampai, sudah lama punggungnya tidak ia gosok, sudah sangat gatal. Cuma sekali ini saja, tapi gak jadi karena kalian bawa Mom keluar.” jelas Sakinah.


“Biar aja, Papa pertama sih begitu, sering jahat.”


“Sekarang kami mau dimandikan Mom.”


“Iya, iya, Adik juga mau dimandikan.” sahut Ardhen.


“Ok, Mom.”


_____________________


Dedrick duduk santai di teras usai olahraga bersama Sikembar, ia meminum air perasan lemon dingin.


Handphonenya berbunyi, siapa lagi yang akan berani mengganggunya di hari libur begini di pagi hari kecuali Callista.


“Ada apa?”


“Aku tidak mau! Tut!” Ia langsung mematikan handphonenya.


Ya, Callista tak pernah jera mendekati Dedrick sedari dulu. Berbagai macam cara ia lakukan, tetap saja ditolak, bahkan ia sudah membuka seluruh pakaiannya, mengurung dirinya sendiri bersama Dedrick disebuah kamar, bukannya disentuh, malah dorongan kuat dengan kasar.


Gadis itu juga pernah memberikan obat perangsang pada Dedrick, namun dengan sigap pengawal rahasia Andrean menyelamatkan Dedrick sebelum Callista melakukan aksinya.


Saat itu Callista sempat marah pada Andrean, namun mengingat jika penyakit Dedrick kambuh kembali karena dinodai oleh dirinya dengan terpaksa begitu, Callista pun tak melakukannya lagi. Ia hanya memaksa dengan merayunya setiap saat, berharap bongkahan batu dalam hati Dedrick melunak untuknya.


“Dasar gadis gila, tak pernah menyerah, terserah kau saja!” Dedrick memaki handphonenya yang sudah mati itu.


Dedrick pun memilih pergi untuk mandi.


Tak lama Callista sampai di Mansion. Sakinah sudah turun terlebih dahulu, sedangkan anak-anak langsung masuk ke kamar Dedrick.


Untuk pertama kalinya, Callista bertemu dengan Sakinah. Ia tatap wanita berhijab itu, wajah cantiknya terekspos karena Sakinah tak memakai niqab saat berada di dalam Mansion, ia juga tidak tau jika ada tamu yang datang.


Sakinah tersenyum ramah, Callista malah melotot tak suka pada Sakinah yang dianggap sok akrab.


Beberapa saat mereka duduk saling diam.


“Mom!” Arhen berlari memanggil Sakinah, kemudian langsung duduk dipangkuan Ibunya itu.


“Hai, Tante.” sapa Arhen pada Callista.


Raut muka Callista bertambah buruk, apalagi melihat Dedrick dibelakang Arhen dengan menggendong seorang anak laki-laki yang memunggunginya.


“Dia Ibu anak ini?!” tanya Calista berdiri, berkacak pinggang, cemburu!


“Iya.” jawab Dedrick masih menggendong Ardhen. Anak laki-laki itu masih saja bermanja dalam pelukan Dedrick.


Ya, ia baru saja terjatuh karena berlarian dikamar, tanpa sengaja memecahkan sesuatu. Ia menjadi takut dan hendak menangis, segera Dedrick membujuk dan menggendongnya. Sedangkan Arhen menertawakannya, tetapi setelah melihat ada Callista, Arhen langsung berhenti mengejek adiknya, berlari ke pangkuan Sakinah.


“Kamu keterlaluan Dedrick, aku sudah menunggumu sejak kecil, tetapi kau malah dengan dia. Aku benci kamu, dasar wanita jahat!” tunjuknya pada Sakinah, lalu pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Cih! Dedrick mendecih.


“Papa, Tante Calis lucu ya. Jalannya kayak anak-anak.” ejek Arhen.


Dedrick hanya membalasnya dengan tersenyum.


“Ayo, katanya mau jalan-jalan.” Dedrick mengulurkan tangannya pada Arhen.


“Mom, Kakak sama Adik pergi sama Papa kedua dulu ya.” pamit Arhen.


“Iya, hati-hati.” Sakinah mencium pipi Arhen, lalu Ardhen yang berada dalam pelukan Dedrick.


“Kami pergi dulu, Kinah.” ucap Dedrick berpamitan pada Sakinah.


“Iya, Kakak Ipar.” jawab Sakinah tersenyum.


Dedrick dan anak-anak sampai di garasi mobil.


“Kalian mau pergi pakai mobil yang mana?” tanya Dedrick.


Kedua anak itu menatap mobil-mobil yang berjejer, kemudian memilih mobil berwarna merah menyala dengan atapnya terbuka.


“Ini saja Papa.”


“Kalau pakai ini, kita tidak bisa pergi ke keramaian, tidak aman.”


“Kita jalan-jalan ke resort Uncle Alex aja, Pa.” usul Arhen.


“Iya, 'kan ditempat Uncle Alex penjagaannya ketat, kita aman, jalan menuju kesana juga lengang.” sambung Ardhen.


“Baiklah.” Dedrick menggendong Arhen dan Ardhen bergantian memasukkan mereka ke dalam mobil.


...***...