
Malam hari.
Para Maid telah mendandani Sakinah sejak tadi. Entah siapa yang akan berkunjung ke Mansion, Sekar beberapa kali mengatakan jangan gugup dan tegakkan kepalamu saat berbicara dengan mereka, gunakan saja bahasa Indonesia, tak perlu memaksakan diri agar berbincang-bincang dengannya.
Ya, seperti itu penjelasan Sekar pada Sakinah.
Hampir 2 jam ia di dandani oleh para Maid, mereka semua sangat cepat belajar, bahkan sekarang mereka sudah bisa memakaikan hijab untuk Sakinah. Polesan make up dan perhiasan sudah sempurna di wajah cantiknya.
“Aku harus memakai ini, aku tak ingin dilihat siapapun kecuali kita sekeluarga.” ucap Sakinah menjelaskan pada mereka, membuat para Maid terharu karena mereka dianggap pantas melihat wajah Nona mereka, sedangkan para tamu tidak bisa melihat wajah Kinah.
Para Maid saling menatap, tentu saja mereka tak pandai memakaikan masker kain yang dipegang Sakinah.
“Nona, ini tidak cocok dengan pakaian Anda, sebaiknya memakai selendang, namun bagaimana caranya Anda makan?” jelas Clara meragu.
“Aku bisa melakukannya, kalian cukup mencarikan penutup yang cocok.” pinta Sakinah.
Akhirnya mereka memakaikan kain penutup yang senada dengan baju Kinah berwarna cream untuk menjadi cadar.
Arhen dan Ardhen telah duduk terlebih dahulu di tempatnya. Merka memakai pakaian kemeja dengan rapi.
Meja makan baru yang panjang, besar dan lebar, memuat belasan kursi. Entah sejak kapan para Pelayan mengganti meja dan kursi seperti itu, padahal sebelumnya tidak seperti ini.
Makanan telah tersaji penuh diatasnya, piring dan sendok, gelas dan beberapa bunga berwarna biru silver sebagai penghias dimeja itu.
Sakinah langsung menatap tamu, ada beberapa orang, lebih tepatnya Irfan dan istrinya, serta 3 orang anaknya, satu orang menantu dan 1 orang cucu.
Sakinah memilih duduk antara Ardhen dan Andrean, disamping Ardhen ada Arhen, lalu Dedrick dan Sekar berurutan. Sedangkan diseberang meja, para tamu saling berhadapan dengan mereka. Lalu Wizza juga saling berhadapan dengan Irfan di ujung dan pangkal meja.
“Senang berjumpa dengan Anda Kakak Ipar, maaf kami sedikit terlambat, terimakasih telah mengundang kami.” ucap Irfan tersenyum pada Sekar berbasa-basi.
Kedatangan mereka sekeluarga karena undangan terpaksa. Ya, antara Arhen dan cucu semata wayangnya terjadi pertengkaran di sekolah tadi pagi, hingga diselesaikan secara kekeluargaan. Yang ujung-ujungnya seperti ini.
“Dia istrimu Dedrick?” Irfan bertanya pada Dedrick.
Dedrick tak menjawab, ia hanya diam menatap Irfan. “Oh, maaf, apakah Paman salah? Di sini ada dua anak kecil, jadi ini wanita siapa?” tanya Irfan meralat perkataannya.
“Wanita ini istri saya, Paman.” jawab Andrean.
“Waaaah! Sungguh?!” seru Irfan tak percaya.
“Dan mereka berdua putra saya.” sambung Andrean lagi.
“Benarkah? Kapan kau menikah keponakanku yang tampan?” tanya Irfan masih tak percaya.
‘Kau kira aku akan percaya dengan kebohongan ini, jika yang disebelah anak nakal itu mungkin benar anakmu, tampak sangat mirip. Tetapi anak nakal itu sangat mirip dengan Dedrick, Ingin menipuku ya? Dengan cara menutupi jati diri anak itu sebagai anakmu, Andrean? Itu tidak akan terjadi, aku akan membuka kedok kalian!’ Irfan bergumam dan merencanakan sesuatu diotaknya.
“Iya. Aku sudah menikah dengannya 7 tahun yang lalu, tetapi dia meninggalkanku yang berprilaku buruk ini, baru satu bulan ini aku mengemis padanya, agar dia mau menerimaku. Akhirnya dia mau memaafkan dan menerimaku kembali, Paman.” tutur Andrean.
Irfan manggut-manggut, menatap Sakinah dengan wajah bercadarnya. Hanya mata wanita itu saja yang bisa ia lihat.
“Senang bertemu dengan kamu, aku Paman Andrean.” ucap Irfan memperkenalkan diri.
‘Cih! Seharusnya kau yang memperkenalkan diri terlebih dahulu padaku, Wanita Siluman!’ umpatnya dalam hati.
Sakinah hanya diam saja, ia tak mengerti dengan percakapan Belanda. Sikap itu membuat Irfan semakin murka.
‘Wanita Siluman, beraninya dia mengabaikan perkenalanku!’
Clara berbisik ditelinga Sakinah. Seketika mata Sakinah membulat. Ia tautkan kedua telapak tangannya ke depan dan sedikit menganggukan kepala serempak dengan tangannya yang bertaut.
“Maaf, saya tidak bisa berkata bahasa Belanda. Saya sangat senang bertemu dengan Paman, salam kenal, saya Sakinah istri Andrean.” balas Sakinah.
Clara menerjemahkan bahasa pada Irfan.
“Oh, jadi bagaimana kau berkomunikasi dengan istrimu Andrean?” tanyanya penuh selidik.
“Tentu saja saya bisa menguasai bahasa istri saya, Paman. Apakah Paman lupa, Ibu saya juga berasal dari daerah yang sama dengan istri saya.” balas Andrean tersenyum.
“Ah, iya, aku sampai lupa.”
“Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu, selagi masih panas.” balas Wizza, ia memulai mengambil piring. Mengabaikan pertanyaan Irfan.
‘Sombong sekali kau, lihat saja nanti!’
“Ah, iya, mari, Kak.” jawab Irfan.
Mereka pun makan, sesekali terlontar beberapa pertanyaan dari Irfan kembali yang hanya di balas oleh Dedrick dan Andrean, sesekali di balas oleh Sekar. Sedangkan anak-anak, menantu dan cucunya hanya diam saja.
Frans, cucu Irfan menatap tajam Arhen. Ia masih tak bisa terima perdamaian begitu saja. Ia masih sakit hati.
“Hei, apa kau tidak bisa membuka itu? Kenapa makan seperti itu? Apakah tidak susah?” tanya Irfan melihat Sakinah makan tanpa membuka cadarnya.
“Tidak, Paman. Saya sudah biasa melakukannya.” jawab Sakinah setelah Clara menerjemahkan bahasa.
Sebenarnya Sakinah baru belajar setelah ia menikah dengan Andrean, sejak putranya Arsen memintanya memakai niqab.
“Andrean apa kamu tidak merasa risih dengan pakaian istrimu? Paman merasa kasihan melihat dia makan kesusahan seperti itu.” Ia menatap Andrean, berharap pria itu terhasut.
“Tidak, Paman. Aku menyukai dia seperti itu.” jawab Andrean santai, sembari menyuap makanannya.
‘Sialaaan!!’
Setelah makan, mereka masih berbincang-bincang di ruang tamu.
“Frans bermainlah dengan Arhen dan Ardhen, supaya kalian lebih akrab.” ucap Irfan pada cucunya, Frans.
“Ayo, kemarilah ikut kami.” ajak Arhen dengan wajah masih angkuh. Ya itu pandangan Frans, padahal Arhen biasa saja memandangnya.
frans pun terpaksa mengikuti Arhen ke sebuah ruangan, banyak mainan di sana. Tiga orang Maid mengikuti mereka, mengeluarkan semua mainan, mobil-mobilan, robot dan lainnya.
“Silahkan dimainkan.” ucap Arhen.
Tak ada satupun diantara mereka yang memainkan mainan itu. Sama-sama masih berdiri, hingga Frans berucap.
“Apa kau sedang mengejekku?! Ini hanya mainan anak kecil!” sarkas Frans.
“Aku tidak mengejekmu, aku hanya menawarimu, jika kau tak suka, gampang, kau tinggal bilang tidak, kenapa harus emosi begitu!”
“Kalau bukan mengejek, apalagi maksudmu? Jelas-jelas kita sekolah ditempat yang sama, apa disana kita diajarkan main mobil-mobilan?!”
“Maaf, maafkan Kakak saya Kak Frans.” ucap Ardhen menengahi. Berdiri diantara Frans dan Arhen yang saling menatap tajam.
“Dia tidak bermaksud seperti itu. Aku terkadang mengajak Kakak menemaniku main mobil-mobilan dan masak-masak, terkadang aku juga menemani Kakakku bermain drama. Kalau kakak suka akting, bagaimana kita bermain peran aja.” usul Ardhen.
“Baiklah, itu ide bagus.” jawab Frans akhirnya.
Ardhen mengambil buku cerita sikancil di rak mainan paling atas. “Nah, ayo kita peran cerita ini.”
“Di sini ada monyet, kancil dan lebah. Aku akan jadi lebah.” ucap Ardhen. “Kakak mau jadi apa?” tanya Ardhen pada Frans.
Frans lihat gambar, menurutnya monyetlah yang paling kuat dan berkuasa, maklum Frans belum pernah mendengar cerita sikancil yang pintar.
“Aku akan jadi monyet.” ucapnya bangga.
“Kau yakin?” tanya Arhen.
“Tentu saja!”
“Jangan menyesal.”
Frans kembali menatap gambar di dalam cerita itu. Ia sangat yakin. “Ya, aku memilih monyet.”
“Baiklah, aku akan menjadi kancil.” ucap Arhen terkekeh menatap Ardhen.
‘Aduh, apakah akan terjadi pertengkaran lagi?’ gumam Ardhen dalam hati.